
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Ketika kereta kuda milik Silbi Aya tiba dengan kawalan enam pemuda kekar berpakaian seragam jingga, plus Arek Niam sebagai sais permanen, pintu gerbang Sarang Tombak Iblis sudah terbuka lebar-lebar. Para pengawal jaga berseragam merah dan bertombak kayu yang berjaga di gerbang itu segera berbaris dan membungkuk hormat.
“Sembah hormat kami, Ketua!” ucap mereka serentak, padahal Silbi Aya belum resmi ditetapkan sebagai Ketua Kelompok Tombak iblis, baru calon.
Kereta kuda dan pengawalannya bergerak masuk ke halaman yang tadi malam telah mereka masuki.
Tidak seperti semalam, kali ini di halaman besar itu telah berbaris puluhan anggota pengawal Kelompok Tombak Iblis.
“Sembah hormat kami, Ketua!” teriak satu orang tiba-tiba ketika kereta kuda itu berhenti tidak jauh dari barisan anggota pengawal yang berseragam merah sama dan bertombak sama.
“Sembah hormat kami, Ketua!” seru pasukan itu sembari membungkuk hormat.
Silbi Aya bergerak keluar dari bilik kereta kudanya setelah seorang pengawalnya membukakan pintu. Ketika wanita cantik itu keluar, sembulan dadanya yang seterang fajar tampak menguasai panggung. Silbi Aya yang kali ini mengenakan pakaian serba merah, memang mengenakan baju yang bagian dadanya terbuka lebar, memberi pemandangan pagi yang begitu indah.
Sementara itu, Wakil Ketua Rajabali Gali bersama empat pemimpin penanggung bidang muncul dari dalam, keluar untuk menyambut calon ketua baru.
Dari suasana Sarang Tombak Iblis yang sangat bersahabat atas kedatangan Silbi Aya, seolah-olah menjadi pertanda besar bahwa orang-orang Tombak Iblis sangat welcome jika wanita cantik itu menjadi pemimpin yang baru.
“Hormat kami kepada Tetua Silbi Aya,” ucap Rajabali Gali sembari membungkuk menghormat, diikuti okeh keempat penanggung bidang, yaitu Penanggung Bidang Pembunuhan dan Penculikan Gendong Taji, Penanggung Bidang Rumah Tangga Kitil Sembur, Penanggung Bidang Keamanan Bewok Serambut, dan Penanggung Bidang Pemburu Pelanggan Kerincing Goda.
Satu penanggung yang tidak hadir, yaitu Penanggung Bidang Pengiriman Cantik Gelap. Dia dalam tugas pengiriman enam wanita muda yang diculik ke wilayah Kerajaan Ringkik. Ketika gurunya bertarung di Kolam Merah, dia dalam tugas pengiriman.
Dari enam pengawalnya, dua orang tetap mengawal Silbi Aya ikut masuk ke gedung.
Di aula yang semalam, kondisinya tidak jauh berbeda. Kali ini penerangan tidak pakai lampu minyak lagi. Para pendekar yang duduk di bentangan karpet-karpet putih lebih banyak dari yang kemarin, bahkan dua kali lipat.
Berbeda dengan yang di luar, mereka yang ada di dalam aula tidak mengucapkan kata penghormatan. Namun, itu bukan berarti mereka menolak kehadiran Silbi Aya. Biasanya para pendekar kelas menengah ke atas, memiliki gengsi yang lebih tinggi. Berbeda dengan Rajabali Gali dan keempat penanggung bidang yang sudah memiliki kepentingan khusus.
“Aku tidak menyangka jika anggota pendekar Tombak Iblis sebanyak ini,” komentar Silbi Aya.
“Setelah kematian Guru, aku segera mengirim kabar dan memanggil mereka semua pulang tadi malam, bahkan Penanggung Bidang Pengiriman Cantik Gelap sedang bertugas melakukan pengiriman ke Kotakayu Darabisu,” kata Rajabali Gali.
“Jadi kau sudah jelaskan kepada mereka tentang garis besar yang akan kita sepakati?” tanya Silbi Aya sambil terus berjalan melewati tengah-tengah barisan duduk para pendekar berpakaian merah-merah itu.
“Sudah. Kami terpecah....”
__ADS_1
“Oh ya?” kejut Silbi Aya memotong kata-kata Rajabali Gali.
“Mereka yang menolak hanya sebagian kecil. Mereka akan menyatakan diri keluar dari Kelompok Tombak Iblis ketika Tetua resmi kami angkat sebagai ketua,” jelas Rajabali Gali.
“Apakah itu tidak membahayakan kelompok ini?” tanya Silbi Aya.
“Tidak. Mereka tidak akan menuntut apa pun, kecuali kebebasan,” jawab Rajabali Gali.
Semasuknya di ruang yang sama tadi malam, ternyata di dekat meja yang tadi malam mereka pakai ada satu meja dan kursi yang lain. Di atas meja itu telah ada tumpukan daun lontar, pena bulu unggas dan sewadah tinta.
Kitil Sembur akan melakukan pencatatan segala hal yang akan mereka sepakati.
Perundingan pun dimulai antara Silbi Aya dan Rajabali Gali. Sesekali Rajabali Gali minta pendapat dari keempat penanggung bidang. Rupanya Rajabali Gali bertindak sebagai pemimpin yang mengedepankan musyawarah.
Poin-poin yang disepakati kedua belah pihak dicatat oleh Kitil Sembur di lembaran lontar. Namun, sebelum poin-poin penting disepakati, Rajabali Gali lebih dulu mengajukan permintaan khusus agar ketiga penanggung bidang lainnya juga diberi hadiah istimewa juga seperti yang tadi malam disepakati.
Silbi Aya menyanggupi. Kesepakatan khusus itu juga ditulis dalam kesepakan rahasia yang hanyak boleh diketahui oleh mereka.
Yang terakhir adalah membuat surat pengangkatan dan penetapan Silbi Aya sebagai Ketua Kelompok Tombak Iblis dengan Rajabali Gali sebagai Wakil Ketua. Setelah surat itu diberi stempel kelompok, Bewok Serambut segera pergi keluar dan berteriak kepada puluhan pendekar yang menunggu.
“Tetua Silbi Aya resmi diangkat sebagai ketua baru!” teriak Bewok Serambut.
“Selamat! Jaya setinggi langit, seteguh gunung, seluas samudera untuk Ketua Silbi Aya!” teriak semua anggota pendekar, kecuali yang sudah berencana keluar dari kelompok.
“Sembah hormat kepada Ketua Baru!” teriak Taring Goreng lagi.
“Hormat, Ketua!” teriak mereka serentak sambil turun bersujud.
Setelah itu, dari dalam ruangan perundingan berjalan keluar Silbi Aya yang begitu cantik didampingi oleh Rajabali Gali yang sudah tua. Sementara puluhan pendekar itu tetap dalam kondisi bersujud, termasuk Taring Goreng.
Ada sebanyak tujuh orang pendekar yang tetap duduk bersila, tidak bersujud. Dua wajah di antaranya adalah Aruk Cantik dan Tuleb Cantik.
Silbi Aya diarahkan untuk naik ke sebuah batu bertangga dan berdiri di atasnya dengan menghadap ke arah khalayak yang bersujud.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Silbi Aya.
Maka semua pendekar yang bersujud segera bangun dan kembali duduk tegak bersila.
“Mohon maaf, Tetua!” seru Aruk Cantik setelah itu. Dia berkata dengan lantang. “Aku dan keenam temanku, resmi menyatakan keluar dari Kelompok Tombak Iblis. Dengan meninggalkan Tombak Iblis ini....”
__ADS_1
Aruk Cantik lalu melepas pengait rantai tombak besi pendek di pinggangnya dan meletakkan tombak di atas karpet di depannya. Hal yang sama dilakukan oleh Tuleb Cantik dan lima pendekar lainnya.
“Maka kami resmi memutus segala hubungan dengan Kelompok Tombak Iblis!” kata Aruk Cantik yang bertindak sebagai juru bicara dari kelompok yang memilih keluar.
“Baik, aku hargai keputusan yang kalian ambil. Kalian bertujuh bisa mengambil upah kalian untuk satu bulan kepada Kitil Sembur,” kata Silbi Aya bijak. Lalu serunya kepada semua yang ada, “Sebagai kemurahan hati ketua baru kalian, aku akan memberi kalian hadiah sebesar pembayaran satu bulan tanpa mengurangi kerja kalian bulan ini!”
“Terima kasih, Ketua!” ucap sebagian besar dari mereka sambil menjura hormat.
“Hahaha!” mereka lalu tertawa senang.
“Bawa masuk peti kepeng!” seru Silbi Aya bertenaga dalam, membuat perintahnya terdengar jelas oleh pengawalnya yang menunggu di kereta kuda.
Keempat pengawal bertubuh kekar yang ada di luar segera mengambil peti-peti kayu tertutup di dalam bilik kereta kuda. Ada empat peti besar yang mereka angkat dan bawa masuk ke aula.
“Selain itu, bagi pendekar lelaki yang senang dengan perempuan, aku beri hadiah satu kesempatan untuk bermalam di Istana Awan tanpa bayaran perempun dan kamarnya!” seru Silbi Aya lagi.
“Siuuu!” sorak para pendekar lelaki kegirangan, di saat para pendekar wanita terkejut.
Brak! Brak! Brak!
Peti-peti yang diangkut diturunkan di depan tangga batu tempat ketua baru berdiri. Peti-peti itu langsung dibuka. Maka terlihatlah kilauan kepeng perak yang memenuhi keempat peti tersebut, membuat mata para pendekar itu berbinar-binar.
Pada saat itu, dari luar berjalan masuk sesosok nenek berjubah biru gelap yang membawa sebatang tombak besi yang lebih tinggi dari kepalanya. Yang namanya nenek, wajahnya sudah pasti keriput dan rambutnya sudah pasti uban, bahkan semuanya putih. Nenek bermata sipit itu terlihat memiliki bibir imut dikarenakan sudah tidak bergigi lagi.
“Ratu Tombak Siluman!” sebut banyak pendekar saat mengenali si nenek.
Tuk tuk tuk!
Terdengar jelas suara pangkal tombak yang ikut berjalan mengiringi langkah kaki si nenek yang masih gagah.
Nenek itu didampingi oleh seorang lelaki separuh baya bertubuh besar. Dia berpakaian putih lengan pendek dari bahan yang tebal. Sabuk besarnya kasar, terbuat dari kulit buaya air. Lelaki berkumis tebal ala Mas Adam itu bermodel rambut pendek seperti jebolan akademi militer. Dia menyandang dua tombak pendek di punggungnya yang saling menyilang. Lelaki itu bernama Luyut Tumul yang berjuluk Pendekar Tombak Buta, anak tertua Ratu Tombak Siluman.
“Rupanya ada ketua baru yang tidak ada hubungannya dengan pendekar tombak!” seru Ratu Tombak Siluman selagi dia masih berjalan mendekati deretan peti kepeng. (RH)
********************
Baca Juga!
__ADS_1