
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Kedigdayaan Alma Fatara dalam membantai Kelompok 13 Buah Kematian sehingga tinggal menyisakan beberapa anggota, itupun dalam kondisi cacat permanen, membuat Alma Fatara seketika terkenal di seantero Kotabatu Niwakmaya.
Dalam pertarungan di gapura batu dua, Alma Fatara tinggal menyisakan Kates Kematian yang menderita kaki kanan teramputasi. Itu akan menjadi cacatnya yang permanen.
Sementara untuk Alpukat Berbisa dan Jengkol Setan yang sebelumnya telah menderita luka bakar hampir seratus persen, Alma Fatara tidak ganggu gugat, meski sebelumnya dia menuntut kedatangan keduanya juga di lokasi pertarungan.
Yang lebih menghebohkan, gadis yang mengaku paling cantik selautan itu menantang Raja Tombak Iblis, guru sekaligus Ketua Kelompok Tombak Iblis.
“Kekasihku, kau sungguh dahsyat, sedahsyat kecantikanmu!” puji Rubi Salangka dengan mata berbinar-binar.
“Eeeh! Jangan terlalu dekat-dekat, Alma butuh udara segar!” kata Manila Sari sambil menghalangi Rubi Salangka dengan rentangan pedangnya agar pemuda tampan itu tidak begitu dekat kepada Alma. Manila Sari sudah seperti bodyguard saja yang sedang mengamankan seorang mega idol.
“Aku ini segar. Kau lihat rambutku saja sudah membuatmu merasa segar,” kata Rubi Salangka.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
“Sepertinya aku juga akan menjadi pemujamu, Alma. Hahaha!” kata Geladak Badak yang mendekati Alma pula.
“Eh eh eh! Ini sudah tua, tapi masih genit!” hardik Manila Sari galak kepada pria separuh baya itu.
“Siapa bilang aku sudah tua? Aku juga tidak genit. Wanita saja mengagumi kecantikan dan kesaktian Alma, apalagi lelaki sepertiku,” bantah Geladak Badak. “Bahkan aku mengagumi dirimu, Nisanak, meski kau ternyata segalak kucing tetanggaku.”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar pertengkaran mulut mereka.
“Pokoknya, kau sangat hebat Alma. Kau bahkan bisa melayang di udara. Aku saja yang sakti tidak bisa melakukannya,” puji Rubi Salangka lagi.
“Itu berarti kau tidak sakti, Rubi,” celetuk Manila Sari.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan Geladak Badak.
“Setelah ini kita akan ke mana, Alma?” tanya Manila Sari serius.
“Ke peniduran. Besok aku akan bertarung melawan orang sakti, jadi aku harus makan dan istirahat yang banyak,” jawab Alma Fatara.
“Nanti sore aku akan bertarung melawan Laris Manis di Kolam Merah. Aku juga butuh istirahat yang banyak. Kita tidur bersama saja, Alma,” kata Rubi Salangka.
Pak!
Terkejut Rubi Salangka saat belakang kepalanya ditepak oleh Geladak Badak.
“Beraninya kau berkata kurang ajar pada gadis yang bisa membunuhmu dengan mudah!” hardik pendekar berjubah bolong-bolong itu.
__ADS_1
Tus tus!
“Aw aw!” pekik Rubi Salangka sambil memajukan bokongnya dua kali karena terkejut.
Rubi Salangka segera memegangi bokongnya dan menengok ke belakang.
“Siapa yang menyukai bokongku?” tanya Rubi Salangka sambil mencari-cari orang yang ada di belakang, kalau-kalau saja ada pendekar yang memang jatuh hati kepada bokongnya.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil berjalan menuju ke kudanya ditambatkan.
Manila Sari mengikuti Alma Fatara. Keduanya segera naik ke kuda.
“Alma, datanglah saat aku bertarung di Kolam Merah. Kehadiranmu akan sangat membuatku bersemangat!” kata Rubi Salangka setengah berteriak.
“Baik,” jawab Alma Fatara sembari tersenyum manis karena tidak menampakkan gigi ompongnya.
“Aku pasti akan menyaksikanmu bertarung dengan wanita hamil, Rubi,” kata Geladak Badak kepada Rubi.
“Aku tidak butuh kehadiranmu!” ketus Rubi Salangka lalu berjalan pergi meninggalkan Geladak Badak.
Alma Fatara dan Manila Sari kembali ke Peniduran Dewi Mimpi. Kedatangan Alma Fatara usai pertarungan besarnya, membuat dia menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang ada di peniduran. Rembetan berita lewat bibir memang lebih cepat dari pada rembetan api di atas air.
Namun, Alma Fatara sudah biasa menjadi artis dadakan, meski tidak ada fans yang minta tanda tangan. Jadi, tatapan dan bisikan orang-orang tidak membuatnya gede rasa atau membusung dada.
Selain kemenangan yang didapat oleh Alma Fatara, dia juga mendapat luka dalam, tetapi tidak begitu berbahaya. Yang jelas, Alma Fatara harus melakukan terapi Bola Hitam. Ketika nanti dia bertarung melawan Raja Tombak Iblis, dia harus dalam kondisi prima tanpa luka sedikit pun atau punya beban pikiran memikirkan orang ganteng.
Alma Fatara lalu mengetuk pintu kamar Manila Sari, tetapi tidak ada respon dari dalam. Alma Fatara lalu menilik tanda-tanda kehidupan di dalam kamar. Ternyata, tidak ada tanda kehidupan di dalam kamar.
Alma Fatara lalu menggerakkan satu ujung Benang Darah Dewa mengulur masuk ke dalam lubang kunci. Di dalam lubang itulah Benang Darah Dewa bekerja seperti senjata seorang pakar maling.
Cklek!
Terdengar suara kunci pintu terbuka. Alma Fatara mendorong pintu kamar sehingga terbuka. Dilihatnya kamar tersebut kosong dari manusia, bahkan sebuntut tikus pun tidak terlihat.
Alma Fatara kembali menutup pintu. Ia lalu pergi menuju ke pancuran yang dimiliki oleh Peniduran Dewi Mimpi.
Pancuran itu terletak di bagian bawah, masuk ke sebuah ruangan dalam batu. Pancuran itu seperti tempat orang untuk berwudu. Pada dinding batu ada lubang-lubang kecil yang berderet dan mengeluarkan air seperti kencing berdirinya kaum lelaki. Ternyata ada air mengalir di dalam batu.
Di situ, Alma Fatara seorang diri. Dia tidak bermaksud mandi atau berwudu, tetapi ia hanya mencuci wajah agar kesegarannya lebih segar sesegar kesegaran.
Alma Fatara yang sudah sembuh dari luka dalamnya, pergi menuju ke bagian depan peniduran. Di sana dia mengitarkan pandangan, termasuk menengok ke dalam pemakanan. Namun, dia tidak menemukan keberadaan Manila Sari.
“Alma!” panggil seorang lelaki dari salah satu meja di peniduran.
Alma memandang kepada lelaki berjubah biru yang lehernya terlilit rantai. Dia adalah Geladak Badak yang populer dengan julukan Pendekar Rantai Dedemit. Lelaki separuh baya itu sedang makan bersama Bambu Jangking, pendekar kurus yang suka membawa bambu hitam yang lebih tinggi dari tubuhnya. Bambu itu diberdirikan tegak lurus tanpa sandaran atau dipegang.
__ADS_1
Sembari tersenyum, Alma Fatara berjalan menuju ke meja Geladak Badak dan Bambu Jangking.
“Apakah kalian mengajakku makan?” tanya Alma Fatara.
“Silakan memesan, Alma. Bambu Jangking akan membayarkan makananmu,” kata Geladak Badak.
“Uhhuk!” batuk Bambu Jangking karena tersedak makanan mendengar perkataan Geladak Badak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi Bambu Jangking.
“Uangku terbatas, Badak,” kata Bambu Jangking sambil mengerenyit sebab sakit di tenggorokannya. Dia lalu segera minum.
“Tidak usah, Paman. Terima kasih. Aku sedang mencari Manila Sari yang cantik,” kata Alma Fatara.
“Aku tidak melihatnya,” kata Geladak Badak.
“Aku juga,” ucap Bambu Jangking pula.
“Baiklah jika demikian. Aku akan ke luar untuk mencarinya,” kata Alma Fatara.
“Alma, apakah kau akan pergi menonton Pendekar Pengawin di Kolam Merah?” tanya Geladak Badak.
“Iya,” jawab Alma Fatara.
“Pergi bersama kami saja,” ajak Geladak Badak.
“Baik, aku tunggu kalian berdua di luar,” kata Alma Fatara.
Alma Fatara lalu pergi meninggalkan kedua kenalan barunya itu. Dia menuju ke ruang depan peniduran lalu pergi ke luar.
“Kakang Alus Pisan, apakah kau melihat Manila Sari temanku?” tanya Alma kepada juru aman bertubuh tinggi besar berotot, tetapi berhati lembut.
“Tadi aku lihat dia keluar seorang diri membawa pedang,” jawab Alus Pisan.
“Terima kasih, Kakang,” ucap Alma Fatara.
Alus Pisan hanya mengangguk sembari tersenyum ramah dengan hati yang berkembang-kembang.
Alma pergi ke luar. Dia langsung pergi mendekati remaja kekasih kuda yang bernama Kunthul.
“Kunthul, apakah kau melihat temanku yang cantiknya dua kali?”
“Kakak Manila Sari sedang memberi makan kudanya di kampung kuda di belakang,” jawab Kunthul.
“Oh, kau sudah berkenalan dengan Manila Sari?” tanya Alma sembari tersenyum.
__ADS_1
“Hehehe!” kekeh Kunthul sedikit malu-malu kuda. Lalu ajaknya, “Ayo, Kak!”
Alma Fatara lalu pergi mengikuti Kunthul menuju kampung kuda, yaitu tempat kuda-kuda para pelanggang peniduran di tempatkan. (RH)