
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Perhatian semua orang tertuju kepada dua adegan pertarungan, yaitu antara Panglima Ragum Pangkuawan melawan Panglima Tebing Gali dan Roro Wiro melawan Peri Tamak.
Khusus Peri Tamak, dia menjadi nyawa bagi keenam rekan lainnya. Sementara Peri Mayang sudah aman dalam genggaman Bungkuk Gila.
Adapun medan tarung dikurung oleh pengepungan pasukan. Sementara warga yang terkurung di dalam kubah sinar biru duduk bersila dengan rapi, mereka menjadi penonton istimewa karena tidak perlu beli tiket di perang tiket.
Seperti ketika melawan wujud ular Mbah Hitam, Panglima Tebing Gali memulai pertarungan dengan kedua tangan yang bersinar biru. Sementara Panglima Ragum Pangkuawan bertarung dengan jari-jari yang menyala merah.
Pertarungan langsung berjalan dengan ritme cepat. Ragum Pangkuawan menjadikan kesepuluh jari bersinarnya sebagai penangkis dari keganasan tangan bersinar biru. Setiap kali terjadi pertemuan, selalu berbunyi ces ces ces.
Ragum Pangkuawan berusaha selalu menghindarkan kulitnya dari serangan tangan Tebing Gali. Sebaliknya demikian, Tebing Gali berusaha menghindarkan anggota tubuhnya yang lain dari jari-jari Ragum Pangkuawan.
Setelah pemanasan selama tiga ratus detik, Ragum Pangkuawan mulai meningkatkan level pertarungan.
Dalam peralihan itu, Ragum Pangkuawan hanya melakukan penghindaran sambil melangkah mundur-mundur. Kedua tangannya yang disimpan di bawah telah beralih bersinar hijau.
Pada satu ketika, tinju bersinar biru melesat cepat mengincar dada Ragum Pangkuawan. Setelah menghindar sejak tadi, kali ini Ragum Pangkuawan mundur sambil melancarkan tinju kanannya yang diselimuti oleh sinar hijau dari ilmu Pukulan Mutiara Hijau.
Bogk!
Suara berdentum terdengar ketika tinju kedua panglima bertemu. Hasilnya, Ragum Pangkuawan mundur dua tindak dengan langkah cepat. Berbeda dengan Tebing Gali yang harus terlempar ke belakang, lalu jatuh terjengkang.
“Uhhukh!” Tebing Gali batuk satu kali. Meski sekali, tapi langsung berhadiah darah kental. Itu tanda bahwa Tebing Gali sudah terluka dalam.
Sebagai seorang pemimpin pasukan, malu jika baru bertarung saja sudah terluka. Maka dia buru-buru bangkit.
Karena ilmunya sudah kalah, maka Tebing Gali ganti kesaktian. Dia lalu melakukan gerakan tangan bertenaga dalam yang berujung bersinar merahnya telapak tangan kirinya.
Ragum Pangkuawan tidak mau menunggu. Dia melangkah maju hendak kembali melancarka tinju dari Pukulan Mutiara Hijau. Namun, Ragum Pangkuawan cepat melompat mundur dengan kedua telapak tangan bersinar hijau.
Set set set...!
Ces ces ces...!
Seperti pesulap yang sedang melesatkan kartu-kartunya dengan gesekan tangan kanan pada tangan kiri, Tebing Gali melesatkan sinar-sinar merah tipis menyerang Ragum Pangkuawan bertubi-tubi. Serangan itulah yang membuat Ragum Pangkuawan cepat melompat mundur, sambil kedua telapak tangannya menangkis sinar-sinar merah itu.
Sinar merah tipis yang ditangkis oleh kedua telapak tangan Ragum Pangkuawan yang bersinar hijau, musnah tanpa memberi efek. Sementara sinar merah tipis yang tidak sempat dia tangkis, dia elaki dengan memindahkan badannya.
__ADS_1
Blar blar blar!
“Aak! Aaa! Akk!”
Beberapa sinar merah tipis yang Ragum Pangkuawan hindari, justru lolos melesat dan menghantam kubah sinar biru yang melindungi warga ibu kota kadipaten. Terciptalah ledakan keras, tapi tidak sampai menghancurkan kubah sinar milik Bungkuk Gila.
Ledakan itu sukses membuat puluhan warga yang ada di dalam kubah sinar menjerit ketakutan, meski mereka hanya dibuat terguncang perasaannya. Ki Kocol bahkan menjerit sambil memeluk Muning yang juga memeluknya karena takut.
“Hahaha!” tawa pelan Bungkuk Gila sambil terus menggenggam jari-jemari Peri Mayang. Sebenarnya itu pemandangan yang membuat mata tidak nyaman. Namun, seperti itulah kegilaan tokoh sakti bernama Bungkuk Gila.
Melihat serangannya tidak berguna dengan baik, Tebing Gali pun meningkatkan serangannya, tapi tetap dengan ilmu yang sama.
Set set set...!
Des des des...!
Tebing Gali merentangkan tangannya. Dari kedua tangan yang bersinar merah itu berlesatan sinar-sinar merah tipis seperti tadi. Kali ini tanpa digesek-gesek oleh tangan kanan untuk melesatkan serangan, tetapi melesat sendiri dari kedua telapak tangan.
Jadi ada dua rentetan yang berlesatan seperti tembakan senapan serbu.
Jelas, Ragum Pangkuawan juga meningkatkan ilmu pertahanannya. Dia tidak menangkis lagi dengan telapak tangannya, tapi dia memunculkan lapisan sinar ungu bening di depan tubuhnya. Sinar ungu itu memantulbalikkan semua sinar merah yang menyerangnya.
“Kurang sambal!” maki Tebing Gali terkejut dan kelabakan sendiri.
“Ta-ta-tameng Balas Nya-nya-nyawa!” sebut Gagap Ayu juga, tapi terlambat.
Ilmu Tameng Balas Nyawa adalah ilmu pertahanan yang dimiliki oleh Alma Fatara. Meski terkejut, tetapi kemudian Alma Fatara tidak heran, karena Ragum Pangkuawan adalah saudara seperguruan Wiwi Kunai, guru perempuan Alma.
Sementara Tebing Gali tidak bisa menghindari pantulan sinar-sinar energinya yang kembali kepadanya. Dia hanya memperkuat ketahanannya dengan pengerahan tenaga sakti dalam menahan agresi kesaktiannya sendiri.
Blar blar blar...!
Tubuh Tebing Gali diselimuti oleh ledakan energi sinar merah, sampai-sampai wujudnya nyaris tenggelam. Kuatnya pertahanan Tebing Gali membuatnya tidak tergeser dari tempat berpijaknya.
Pada akhirnya, pertunjukan seperti petasan orang kawin itu berhenti.
Terlihatlah Tebing Gali berdiri dengan pakaian yang hancur compang-camping dan berdarah-darah. Tebing Gali mengalami pendarahan parah, tetapi bukan pendarahan ibu hamil. Kulitnya menderita pecah-pecah seperti tanah kemarau, sehingga banyak darah yang mengalir keluar.
“Aaak...!” jerit panjang Tebing Gali menahan rasa sakit dan perih yang begitu mendera. “Hiaaat!”
Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Tebing Gali melakukan gerakan tangan bertenaga dalam lagi. Tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
Set! Blus blus!
“Akh! Akh!” jerit dua orang prajurit yang berada dalam barisan pengepungan.
Ternyata, gerakan yang dilakukan Tebing Gali adalah gerakan pemanggil sebuah tombak baja. Tombak itu melesat dari dalam rumah Adipati Patok Anggara, menjebol dinding kayu, lalu menusuk tembus dua tubuh prajurit kadipaten, lalu melesat menyerang Ragum Pangkuawan dengan warna yang telah berubah merah oleh darah.
Deng!
Lagi-lagi Ragum Pangkuawan mengandalkan ilmu Tameng Balas Nyawa. Lapisan perisai sinar ungu itu menahan laju tombak baja sehingga terpental dan melesat balik ke arah prajurit yang mengepung.
Set! Ting!
Namun, tiba-tiba ada lesatan segaris sinar putih dari arah lain dan menabrak tombak yang lebih besar, sebelum mengenai prajurit yang sudah membayangkan alam kubur.
Benturan itu membuat tombak terpental ke samping dan jatuh ke tanah bersama sebatang anak panah yang sudah tidak bersinar putih. Panah itu dilesatkan oleh Panglima Tampang Garang yang sejak tadi juga sudah siap dengan busur saktinya.
“Aaak!” jerit Tebing Gali yang semakin kesakitan karena lukanya. Dia sudah jatuh berlutut. Sepertinya tombak baja tadi adalah upaya terakhirnya untuk menyerang.
Set!
Ragum Pangkuawan menerbangkan keris peraknya dari pinggang belakang. Keris itu melesat terbang memutar sejenak di udara.
Melihat itu, Tebing Gali cepat berusaha menyalakan tangan kanannya dengan sinar biru, tapi dengan risiko darah kian banyak keluar dari tubuhnya.
Set! Bsers!
Bersamaan melesatnya keris perak milik Ragum Pangkuawan, Tebing Gali melesatkan sinar biru di tangannya menyongsong keris yang hendak membunuhnya.
Bsers! Tseb!
“Akrr!”
Sinar biru itu ambyar ketika diterabas oleh keris perak yang terus melesat menusuk leher Tebing Gali.
Ragum Pangkuawan menarik kembali kerisnya dengan satu gerakan tangan, membuat kerisnya melesat mundur dan ditangkap oleh tangannya.
Tebing Gali tumbang dengan nyawa yang sudah pergi traveling. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Istrinya dibawa pergi oleh kelompok pembunuh di hari pernikahan. Mampukah Rugi Sabuntel si pendekar gendut mengambil kembali wanita miliknya? Ataukah akan terjadi hal buruk kepada istri cantiknya? Hanya di novel "Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar".
__ADS_1