
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Siapa kau, yang di atas?!” teriak Putri Manila Sari sambil menunjuk sosok di atap gapura, tapi tetap waspada terhadap Ning Ana yang kesakitan di sisi depan.
“Kak Alma! Hidungku ingusan! Balaskan dendamku, bunuh tikus bandot itu sampai mati!” teriak Ning Ana benar-benar marah.
“Itu bukan ingus, pasti itu darah. Hidungmu pasti berdarah. Kencang sekali wajahmu kena hantam,” kata sosok gelap di atap gapura yang tidak lain adalah Alma Fatara. Dia tidak menanggapi perintah bunuh kepadanya.
“Hah! Berdarah?” kejut Ning Ana.
Seketika dia panik dan mengusap area hidung dan mulutnya yang mengeluarkan cairan. Dia lalu cepat berlari pergi.
“Mau ke mana kau, Ana?” tanya Alma Fatara.
“Mau melihat ingus atau darah!” jawab Ning Ana berteriak sambil berlari menuju ke area yang memiliki penerangan obor.
Di gapura itu, mereka memang gelap-gelapan.
“Hei, siapa kau?” tanya Alma Fatara, tetap berjongkok di atap gapura seperti orang buang hajat.
“Aku yang harusnya bertanya kepadamu, Nisanak,” tandas Putri Manila Sari. “Siapa kau sehingga menyusup di dalam Istana?”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil berdiri gagah. Lalu katanya, “Perkenalkan, aku adalah Dewi Gigi, Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Namaku Alma Fatara, gadis laut paling cantik di lautan. Hahaha!”
“Panglima Perang? Mana pasukanmu jika kau seorang panglima perang?” tanya sang putri.
“Tidak aku bawa,” jawab Alma Fatara.
Gadis yang baru saja menjebol benteng Istana itu lalu melompat mundur dan melayang turun. Disebut melayang karena dia turun tanpa suara kaki menghantam tanah. Turunnya sehalus rambut kumis.
Kini Putri Manila dan Alma Fatara berseberangan ambang gapura. Namun, mereka tidak bisa melihat tampang lawan bicara masing-masing lantaran gelap.
“Aku sudah memperkenalkan diri. Katakan siapa dirimu dengan jujur. Jangan menjadi wanita tikus yang takut jujur, agar aku bisa tahu kau adalah lawan atau kawan,” kat Alma Fatara.
“Lancang kau menyebutku tikus, Panglima!” tukas Putri Manila Sari. “Aku bukan tikus, aku adalah Putri Manila Sari, putri dari Pangeran Bugar Bawah. Jangan lari kau nanti jika berhadapan dengan Gusti Prabu Marapata!”
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa.
“Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu!” bentak Putri Manila Sari.
“Putri Manilasari yang kata Nenek Warna Mekararum secantik diriku. Hmmm!” ucap Alma Fatara lalu manggut-manggut.
“Hah! Nenek Warna Mekararum?” sebut Putri Manila Sari terkejut. “Kau kenal dengan mendiang Gusti Ratu Warna?”
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lagi. “Selama satu purnama ini aku mendampingi nenekmu. Pasti aku kenal dengan Gusti Ratu.”
“Satu purnama ini?” sebut ulang Putri Manila Sari tidak mengerti.
“Kak Alma, dia membuatku berdarah! Akan aku cincang dia dengan pisau terbangku!” teriak Ning Ana yang tiba-tiba muncul berlari mendekat, sepertinya dia sudah melihat bahwa cairan yang keluar dari hidungnya adalah darah, bukan ingus.
Set!
Ketika Ning Ana sudah sampai pada posisi jarak yang cukup dekat, dia melemparkan sebuah pisau kepada Putri Manila Sari.
Tap!
Namun, dengan mudahnya Alma Fatara menangkap pisau itu dengan dua jarinya karena melintas di sisinya.
“Kenapa kau menolong Tikus Bandot dari kematian, Kak Alma? Dia layak mati seperti Panglima Sirup Bantalan!” teriak Ning Ana begitu marah sambil terus berlari melewati posisi Alma dan siap menyerang Putri Manila Sari dengan pisau merah yang lain.
Ning Ana dan Garam Sakti pernah berguru di Perguruan Pisau Merah beberapa pekan lamanya, sehingga ia pun dibekali pisau-pisau, tapi tidak beracun seperti yang lain.
“Eeeh! Gusti Putri itu teman, cucunya Gusti Ratu,” kata Alma Fatara sambil menyambar belakang baju Ning Ana, membuatnya seketika tertahan dan tertarik, lalu jatuh terduduk di tanah.
“Akk!” pekik Ning Ana yang batal sampai kepada Putri Manila Sari.
Alma Fatara pun melepaskan tangannya dari baju Ning Ana.
“Hah! Cucu Gusti Ratu Warna?” tanya Ning Ana yang terkejut.
Tiba-tiba Alma Fatara menyalakan tangan kanannya dengan sinar emas yang menyilaukan mata. Sinar itu membuat Putri Manila Sari terkejut dan menyipitkan matanya karena silau sekali.
Tempat itu langsung menjadi terang benderang oleh sinar tersebut. Dengan demikian, Alma Fatara dan Ning Ana bisa melihat dengan jalas sosok dan wajah Putri Manila Sari. Sebaliknya, Manila Sari tidak bisa melihat dengan jelas wajah Alma Fatara, tetapi bisa melihat wajah Ning Ana yang saat itu jelek karena belepotan darah.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara karena melihat wajah Ning Ana yang seperti siluman perempuan baru selesai makan orok.
Tindakan Alma Fatara yang menyalakan sinar dari kesaktian Pukulan Bandar Emas itu, ternyata dilihat oleh serombongan prajurit.
Melihat ada rombongan prajurit yang datang dari kejauhan, Alma Fatara cepat memadamkan ilmunya. Sontak tempat itu kembali gelap gulita.
Ketiga gadis cantik jelita itu cepat memandang ke arah rombongan prajurit yang membawa beberapa obor. Pada rombongan itu, ada kereta kuda yang dikawal seorang perwira berkuda dan belasan prajurit yang berlari mengikuti.
Melihat rombongan itu menuju ke jalan gapura, Putri Manila Sari cepat berlari dan bersembunyi di balik tanaman yang tidak jauh dari gapura. Sementara Alma Fatara dan Ning Ana tetap berdiri di tempatnya.
“Eh, Tikus .... Eh putrinya bersembunyi,” ucap Ning Ana. Lalu tanyanya kepada Alma, “Kak Alma, kita tidak bersembunyi juga?”
“Tidak perlu, nanti kecantikan kita tidak diketahui oleh pasukan Istana. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu tertawa enteng.
“Hihihi!” tawa Ning Ana.
__ADS_1
Ternyata benar, Alma Fatara dan Ning Ana bergeming, mereka tidak ke mana-mana meski rombongan itu sudah mendekat.
Rombongan itu dipimpin oleh Panglima Rakean yang bersama Pasukan Keamanan Istananya mengawal kereta kuda Putra Mahkota, Pangeran Jakirwogo.
Seiring mendekatnya rombongan yang membawa obor penerangan itu, sosok Alma Fatara dan Ning Ana terlihat samar.
Keberadaan dua sosok perempuan yang menghadang di gapura, membuat Panglima Rakean menghentikan laju rombongannya.
“Berhenti!” seru Panglima Rakean, lalu memberi tanda kepada pasukannya.
Belasan prajurit Pasukan Keamanan Istana segera berlari maju dan memasang sikat siap tempur di depan Alma Fatara dan Ning Ana. Panglima Rakean sendiri telah menggenggam tongkat besinya.
“Eh, Paman! Kita belum kenalan, tapi sudah main siap tarung saja,” kata Alma Fatara.
“Benar. Belum juga menikah, tapi sudah main masuk saja,” timpal Ning Ana pula.
“Hahahak!” Alma Fatara tertawa terbahak di saat para prajurit yang ingin tertawa menahan tawanya. Dia lalu menepak kepala Ning Ana dan berkata, “Apa hubungannya situasi ini dengan orang kawin?”
“Aku tadi bilang ‘seperti’, Kak Alma,” kilah Ning Ana sambil mengerenyit karena wajahnya memang masih berdenyut bekas hantaman.
“Eh iya, kau benar. Hahaha!” kata Alma membenarkan.
Panglima Rakean dan pasukannya dibuat dongkol dengan dagelan kedua gadis itu.
“Siapa kalian?” tanya Panglima Rakean.
“Aku Dewi Gigi, Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Namaku Alma Fatara, gadis laut yang paling cantik di lautan!” seru Alma Fatara bangga, membuat Panglima Rakean terkejut.
“Coba kalau Kak Alma bilang yang tercantik sejagad, aku protes, karena aku lebih cantik. Hihihi!” kata Ning Ana lalu tertawa.
“Hahaha!” tawa Alma.
“Panglimanya di sini, tapi mana pasukannya?” sindir Ning Ana.
“Hahaha!” Alma kembali tertawa. “Pasukannya aku tinggal berperang sendiri. Saku bajuku tidak muat bawa mereka semua. Hahaha!”
“Hihihi!”
Alma Fatara dan Ning Ana saling tertawa karena merasa lucu sendiri.
“Jika Pendekar adalah Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani, kita di pihak yang sama. Aku Panglima Rakean, Kepala Pasukan Keamanan Istana ....”
“Bohong!” teriak satu suara wanita dari kegelapan, dari sisi tanaman.
Teriakan itu mengejutkan semuanya. Mereka menengok ke sumber suara.
__ADS_1
Sosok Putri Manila Sari tiba-tiba berlari keluar menunjukkan diri, padahal belum disuruh.
“Bohong! Pasukan Keamanan Istana adalah orang-orangnya Senopati Gending Suro yang ingin mencelakai Keluarga Kerajaan!” teriak Putri Manila Sari sambil menunjuk dengan berani kepada Panglima Rakean yang masih duduk di atas kudanya. (RH)