Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 29: Duet Bola dan Benang


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Melihat badan Salak Gempur tumbang dengan kepala yang menggelinding, semakin marah dan dendamlah ketujuh anggota Buah Kematian.


Sempatnya mereka berhenti, itu memberi Alma Fatara waktu sejenak untuk bersiap dengan strategi tarung berikutnya.


Kemarahan yang semakin membakar membuat para pendekar Buah Kematian tidak mau terpaku hanya memandangi kematian Salak Gempur yang tragis. Mereka segera bahu-membahu menyerang Alma Fatara dari jarak jauh.


“Jeruk Pangantar Maut!” teriak Sawo Ganteng berkomando. Dia yang mangambil alih kepemimpinan yang sebelumnya dipegang olah mendiang Salak Gempur.


Sus sus susu!


Dua orang lebih dulu melepaskan ilmu Jeruk Pengantar Maut. Dua bola sinar jingga melesat bersamaan menyerang Alma Fatara.


“Jiaaak!” jerit Alma Fatara berakal-akalan sambil berlari cepat ke samping menghindari dua sinar jeruk itu.


Melihat Alma Fatara berlari menghindar, maka kelima pendekar buah lainnya juga melesatkan ilmu Jeruk Pengantar Maut.


Alma Fatara berlari seperti seorang sprinter memutari arena tarung. Sementara bola-bola sinar melintas di belakang tubuhnya karena gagal mengenai target.


Blus blus bulus!


Bola-bola sinar itu berpecahan pada ujung lesatannya yang membuat cemas para anggota pengawal Kelompok Tombak Iblis, yang berdiri memagari area pertarungan dengan badan dan tombak mereka.


Sus sus susu ...!


Gagal pada serangan Jeruk Pengantar Maut yang awal, Sawo Ganteng dkk kembali melesatkan ilmu yang sama. Sebab, untuk mengenai target, hanya masalah kesempatan dan kejituan menyasarkan lemparannya.


“Hahaha ...!” tawa Alma Fatara sambil terus berlari kencang menghindari tembakan-tembakan sinar jeruk itu.


Hingga Alma Fatara berlari cepat hampir satu putaran lingkaran besar yang mengelilingi gapura batu, tidak ada satu pun tembakan yang berhasil mengenainya. Adegan itu membuat tegang para penonton, mereka takut jika gadis cantik itu terkena tembakan. Namun di sisi lain, Alma justru menikmati serangan itu.


Melihat sendiri tembakan agresi ilmu Jeruk Pengantar Maut gagal, maka ketujuh Buah Kematian berinisiatif maju melesat mendekati target.


Set! Blar!


Sus sus susu!


Bsorss!


Sawo Ganteng lebih dulu mendekati posisi Alma Fatara yang terus melintas. Dia melesatkan Tombak Iblis yang bersinar merah menyilaukan. Namun, lagi-lagi Alma Fatara hanya menghindar dengan terus berlari. Tombak itu menusuk ruang kosong di belakang Alma lalu meledakkan sinar merah.


Karena Alma berlari dengan cepat menjauhi serangan, ledakan itu tidak memberi efek kepada Alma. Dia terus saja berlari seperti sedang melaksanakan hukuman sekolah.


Sementara Kates Kematian, Belimbing Maut, Nanas Neraka, dan Jambu Pembunuh mendekat sambil masih mengandalkan ilmu Jeruk Pengantar Maut. Namun, lagi-lagi Alma Fatara terlalu gesit untuk ditimpuk. Keempat bola sinar jingga itu tidak ada yang mengenai sasaran, padahal jarak lempar sudah lebih dekat.


Berbeda dengan Ceremai Algojo dan Mangga Duda. Mereka berdua memilih berkelebat dan menghadang Alma Fatara dari arah depan.


Ceremai Algojo menghadang dengan melepas ilmu pamungkas, yaitu Lurus Menuju Kematian. Segaris sinar cokelat bening tebal dan lurus melesat menyongsong kedatangan Alma. Namun, Alma terlalu cepat menghindar dengan melompat bersalto di udara, membuat sinar panjang itu justru menyasar Nanas Neraka dan Belimbing Maut, memaksa keduanya juga cepat menghindar demi keselamatan.


Set! Dak!

__ADS_1


“Uhk!” keluh Mangga Duda.


Di saat Alma Fatara bersalto di udara itu, Mangga Duda melesatkan Tombak Iblis yang pastinya akan sulit dielaki oleh Alma. Atau, jika Alma bisa mengelak, ledakan sinar merah akan mendorong tubuhnya di udara yang nantinya akan menjadi serbuah pendekar Buah Kematian lainnya.


Namun, Mangga Dua harus terkejut. Lesatan Tombak Iblis tiba-tiba tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Sementara tubuh Alma bisa bersalto lagi, padahal dia belum mendarat dan kakinya tidak terlihat menjejak sesuatu sebagai landasan untuk bersalto.


Keanehan itu semata-mata karena Benang Darah Dewa.


Tubuh Alma bersalto dan mengapakkan tungkai kaki kanannya ke kepala Mangga Duda.


Karena tangan kanannya memegang rantai ekor tombaknya, Mangga Duda terpaksa memasang batang tangan kirinya di atas kepala untuk menangkis.


Kuatnya hantaman kaki Alma, membuat Mangga Duda jatuh terlutut satu kaki dan mengeluh.


Setelah mendaratkan serangannya, Alma Fatara menginjak bahu Mangga Duda untuk dijadikan pijakan melompat jauh ke belakang lawannya.


Alangkah terkejutnya Mangga Duda karena seiring lompatan Alma itu, Tombak Iblisnya yang masih tertahan di udara bergerak membalik arah menghadap kepadanya.


Set! Tseb! Blar!


Setelah itu, si tombak melesat sangat cepat seperti ada yang menarik, bukan mendorong. Tombak itu telak menancap di dada Mangga Duda yang dalam posisi berlutut. Ledakan langsung terjadi yang membongkar dada Mangga Duda.


“Mangga Dudaaa!” pekik beberapa rekan melihat kematian Mangga Duda.


Di saat semua anggota Kelompok Tombak Iblis dilanda keterkejutan melihat kematian Mangga Duda, Alma Fatara berkelebat ke bawah gapura batu. Keenam pendekar Buah Kematian segera mengejar bersama tanpa mengindahkan tubuh Mangga Duda yang tergeletak dengan raga mengenaskan.


Bruss! Sess! Ctar!


Seset seset!


Dari pergesekan itu, terjadi ledakan sinar biru yang kemudian melesatkan lebih dua puluh sinar biru berekor yang menyambut kedatangan keenam pendekar Buah Kematian.


Keenam pendekar buah itu terkejut karena tidak menyangka serangan akan seramai dan secepat itu. Buru-buru mereka semua berlompatan tinggi ke udara menghindari serangan Bola Hitam.


Set!


“Aaak!” jerit Kates Kematian ketika kakinya terlambat naik nol koma sekian detik.


Di saat kelima rekannya bisa menghindar, kaki kanan Kates Kematian masih sempat tersambar satu sinar biru berekor yang sifatnya sangat tajam.


Bsorss bsorss bsorss!


Kelima pendekar buah yang lolos dari serangan Bola Hitam kompak melesatkan ilmu Lurus Menuju Kematian. Maka lima sinar panjang cokelat bening melesat bersamaan.


Tidak mungkin bagi Alma Fatara untuk beradu sakti. Dia yang sudah kembali menggenggam Bola Hitam, memilih melompat mundur jauh.


Bluar bluar ...!


Kelima ujung sinar cokelat itu meledakkan tanah dengan kuatnya. Daya ledak gabungan dari lima kesaktian menimbulkan gelombang kejut yang dahsyat.


Tempat itu seolah-olah terguncang. Sementara Alma Fatara terdorong keras.


Namun hebatnya Alma Fatara, meski tubuhnya terpental tidak terkendali, tetapi dia mendarat dengan kedua ujung Benang Darah Dewa yang bisa sekeras baja, lalu menggenjotnya yang membuat tubuhnya naik tinggi ke udara tinggi.

__ADS_1


Set!


Ctar! Swuarss!


Dari puncak lompatannya di udara, Alma Fatara melempar Bola Hitam lurus ke bawah dan menghantam permukaan tanah. Tercipta ledakan singkat lalu kemudian menyebarkan lautan api biru yang menyambut pendaratan kaki-kaki Sawo Ganteng dan keempat rekannya.


Ini pertama kalinya Bola Hitam menciptakan lautan api biru yang luas. Sekedar informasi, itu terjadi karena Bola Hitam menghantam tanah batu. Area itu memang terdiri dari tanah dan batu raksasa.


Kates Kematian yang terkapar dengan kaki sudah hilang satu, buru-buru mengesot menjauhi api yang sampai ke dekatnya. Banyak darah yang mengalir dari potongan kakinya.


Swess!


Sambil tubuhnya turun menuju ke lautan api biru, Alma Fatara menangkap Bola Hitam yang kembali dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan melesatkan satu sinar emas menyilaukan mata ke arah lawan, yang saat itu pada mengudara menghindari lautan api biru.


Sinar Pukulan Bandar Emas menargetkan Belimbing Maut. Posisi di udara membuat Belimbing Maut tidak bisa mengelak, kecuali beradu kesaktian atau menamengi diri.


Set! Bluar!


“Huakr!” pekik keras Belimbing Maut.


Belimbing Maut memilih beradu sakti dengan melesatkan Tombak Iblis menusuk sinar emas yang membuat mata menyipit rapat. Pertemuan ilmu dan senjata sakti itu menimbulkan ledakan dahsyat dan berefek kuat kepada kedua pendekar.


Tubuh Belimbing Maut terpental deras jauh keluar dari atas lautan api dan jatuh di dekat kaki para anggota pengawal Kelompok Tombak Besi. Sementara Alma Fatara yang masih di udara terlempar sejauh dua tombak dan jatuh masih di lautan api biru.


Namun, tubuh Alma Fatara berhenti dan tertahan di udara, tepat di atas lidah-lidah api. Alma Fatara terlihat melayang, padahal sebenarnya tubuhnya ditopang oleh dua kaki Benang Darah Dewa.


“Hoekh!” Sementara Belimbing Maut muntah darah banyak.


Keempat pendekar buah yang mengudara menghindari lautan api, justru kembali turun ke lautan api karena lompatan yang mereka pilih adalah ke atas ketika menghindar.


“Aaak!” jerit Ceremai Algojo yang mendarat lebih dulu di lautan api tanpa upaya lain.


Tinggi api yang setinggi pinggang, seketika membakar pakaian Ceremai Algojo. Sambil menjerit kepanasan, Ceremai Algojo melompat jauh dan berlari di udara, kemudian mendarat di luar lautan api dalam kondisi api sudah membakar seluruh tubuhnya.


Para anggota pengawal segera berdatangan mengerumuni Ceremai Algojo untuk membantu memadamkan api di tubuhnya.


Bsorss bsorss bsorss!


Blar blar blar!


Sementara Sawo Ganteng, Nanas Neraka dan Jambu Pembunuh mencoba menghindari api dengan melesatkan ilmu Lurus Menuju Kematian.


Tiga sinar cokelat melesat cepat menghantam tanah berbatu yang menimbulkan tiga ledakan. Selain menghancurkan tanah berbatu yang menciptakan kubangan batu yang lebar, tubuh ketiga pendekar buah itu terlempar lurus ke atas, kembali mengudara.


Bzets bzets!


Set set!


Di saat tubuh Sawo Ganteng, Nanas Neraka dan Jambu Pembunuh terlempar kembali ke udara, itu membuat mereka menjadi target empuk Alma Fatara.


Alma Fatara yang berdiri melayang di atas lautan api, melesatkan dua sinar kuning tipis dari ilmu Sabit Murka. Targetnya hanya satu orang, yaitu Jambu Pembunuh.


Dalam kondisi tubuh terlempar melambung tanpa terkendali, Jambu Pembunuh tidak bisa mengeluarkan ilmu perisai atau menangkis dengan tombak besinya. Maka tak ayal lagi, dua sinar Sabit Murka menebas tubuh Jambu Pembunuh tanpa kendala.

__ADS_1


Tubuh Jambu Pembunuh terpotong di udara menjadi tiga bagian. Jelas itu langsung membunuh Jambu Pembunuh tanpa jeritan perpisahan lagi.


Rajabali Gali dan seluruh anak buahnya hanya bisa terkejut terus-menerus menyaksikan satu demi satu pendekar Buah Kematian bergururan, hanya di tangan seorang pendekar wanita yang itupun berusia belia. (RH)


__ADS_2