
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Sebagai orang yang pernah sehari-harinya selalu mengurusi kuda, trio gendut sangat cekatan dalam memasang pelana-pelana pada punggung kuda. Mereka pun bisa memastikan bahwa kuda-kuda yang mereka periksa layak berlari jauh.
Pasukan Genggam Jagad memang sangat memerlukan kuda untuk lebih cepat sampai ke Kerajaan Singayam yang sedang dilanda perang saudara. Meski demikian, mereka pun tidak bisa secepat kuda balap karena di dalam pasukan ada juga orang sakit.
“Bagaimana jika Cantik Kuku Hijau kita tinggal saja, Gusti Ratu?” usul Anjengan pada saat mereka melakukan musyawarah terbatas.
“Tidak. Karena jika kau berada pada posisi Cantik Kuku Hijau, kau pun pasti tidak mau ditinggalkan. Jika kita tinggalkan, belum tentu dia akan menemukan tabib sebaik Tabib Bocah,” kata Alma Fatara.
Itulah alasan kemanusiaan Alma Fatara memilih mempertahankan Cantik Kuku Hijau, pendekar wanita golongan hitam yang sedang menderita patah tulang yang sangat serius.
Tidak ada seorang pun dari Pasukan Genggam Jagad yang berjalan kaki. Semuanya kebagian kuda, kecuali tabib Belik Ludah dan Cantik Kuku Hijau yang naik pedati. Pasukan itu memiliki lima buah pedati untuk mengangkut berbagai macam perbekalan dan kebutuhan perkemahan.
Ada satu kereta kuda berbilik tertutup yang semula diperuntukkan Ratu Siluman Alma Fatara. Namun, Alma lebih memilih berbaur bersama pasukannya dengan sama-sama berkuda. Kereta kuda itu akhirnya kosong dan hanya dipakai jika ada keperluan khusus, seperti anggota wanita yang ingin berganti pakaian, atau ada anggota yang kelelahan.
Alma Fatara bahkan mempersilakan Penombak Manis memakai bilik kereta, jika ingin berhubungan intim dengan Juling Jitu. Namun dengan syarat, tidak ada jejak yang tertinggal di dalam bilik. Meski ada izin itu, Juling Jitu dan Penombak Manis tidak berani mengambil peluang tersebut.
Ketika semua personel sudah menaiki kuda masing-masing dalam kondisi perut sudah terisi penuh, Adipati Gantisempa datang tergesa-gesa menghampiri kuda Pangeran Sugang Laksama. Dia datang dengan menuntun dua ekor kuda yang ditunggangi oleh kedua putrinya, yang sebelumnya gagal diajukan kepada sang putra mahkota.
“Gusti Pangeran, Kerajaan sedang berperang. Sebagai bakti hamba kepada negara, izinkanlah kedua putri hamba ikut memberi sumbangsih kepada Kerajaan. Mereka bisa membantu di barisan belakang, dapur atau membantu ketabiban. Meski keduanya bukan tabib, tapi mereka pernah belajar merawat orang terluka,” ujar Adipati Gantisempa.
Saat itu, istri Adipati hanya memandang dari kejauhan. Dia sudah rela hati melepas kedua putrinya untuk berkontribusi dalam perjuangan menyelamatkan Kerajaan Singayam dari para pengkhianat.
“Siapa nama kedua putri Paman?” justru Alma Fatara yang langsung merespon. Otak pintarnya bisa dengan cepat menangkap niatan tersembunyi di balik pengajuan sang adipati.
Ketika Adipati Gantisempa dan keluarganya disidang oleh Pangeran Sugang Laksama di dalam rumah, Alma Fatara mendengar upaya Adipati untuk mempersembahkan kedua putrinya kepada Putra Mahkota.
“Mpit Kenanga dan Mpit Kemangi, Gusti Ratu,” jawab Adipati Gantisempa.
“Kedua putrimu diterima untuk membantu Tabib di dalam pasukan,” kata Alma Fatara. Keputusannya memang tidak bisa dibantah oleh Sugang Laksama.
“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Adipati Gantisempa.
“Bukankah kau akan memimpin tiga ratus prajurit pasukanmu, Adipati?” tanya Sugang Laksama untuk lebih memastikan.
“Benar, Gusti. Hamba yang akan memimpin langsung pasukan hamba,” jawab Adipati Gantisempa.
“Baiklah. Aku tunggu kehadiranmu di Kadipaten Sengat,” kata Sugang Laksama.
“Baik, Gusti,” ucap Adipati Gantisempa.
__ADS_1
Rencananya, tiga ratus prajurit dari pasukan kadipaten akan menyusul karena mereka berjalan kaki. Pasukan itu akan dipimpin langsung oleh Adipati Gantisempa.
“Belik Ludah!” teriak Alma Fatara.
“Aku, Gusti Ratu!” sahut bocah gemuk hitam berambut kribo dari atas salah satu pedati. Dia bangun berdiri.
“Panggil kedua gadis cantikmu ini. Mereka jadi bawahanmu!” seru Alma Fatara seraya tersenyum kepada bocah ajaib itu.
“Hahaha! Sini, Cantik! Sini, Cantik!” teriak Belik Ludah girang sambil melompat-lompat kecil di atas pedati dengan mengangkat kedua tangannya.
“Hei, Tabib Bocah! Jangan belajar genit!” hardik Panglima Besar.
Seketika Tabib Bocah berhenti berjingkrak dengan raut mengenaskan. Wajahnya diam dengan mata melirak-lirik.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat ekspresi Belik Ludah yang langsung diam menciut, seperti keong dicolek.
“Hahaha!” tawa pasukan mengikuti junjungannya tertawa.
Belik Ludah hanya tersenyum getir ditertawakan seperti itu. Dia melihat Anjengan juga menertawainya setelah menjatuhkan mentalnya.
Mpit Kenanga dan Mpit Kemangi lalu menjalankan kudanya pergi ke dekat posisi rombongan pedati.
“Namaku Belik Ludah. Aku Tabib Bocah. Aku atasan kalian. Hehehe!” kata Belik Ludah memperkenalkan diri kepada kedua gadis cantik putri Adipati sambil cengengesan.
“Namaku Mpit Kemangi,” kata Mpit Kemangi pula memperkenalkan diri.
“Hehehe!” Belik Ludah semakin terkekeh senang. Ia lalu kembali duduk dengan tenang di pedati. Mendapat dua pembantu cantik jelas seperti mendapat hadiah di saat sunatan.
Di sisinya ada pendekar wanita berdada cantik yang terbaring terikat menyatu dengan rakitan bambu. Penyatuan rakitan bambu itu bertujuan menjaga tulang-tulang tubuh Cantik Kuku Hijau yang patah tidak banyak bergerak oleh guncangan.
“Panglima Besar, kita berangkat,” kata Alma Fatara kepada Panglima Besar Pasukan Genggam Jagad, yaitu Ajengan si Dewi Laut.
“Pasukaaan, siapa kita?!” teriak Panglima Besar Anjengan kepada pasukannya yang sudah berbaris teratur. Dia mengangkat tinggi tangannya yang memegang pedang pusaka.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad sambil menghentakkan tangan kanan ke langit.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi berkomando.
“Hua hua hua!” sambut pasukan.
“Wik wik wik wik wik!” pekik Anjengan seperti berbahasa cinta.
“Wik wik wik wik wik!” pekik pasukan pula.
__ADS_1
“Berangkaaat!” teriak Anjengan penuh semangat.
“Hea hea!” gebah pasukan, tapi pelan-pelan saja.
Adipati Gantisempa dan orang-orangnya hanya terkesiap mendengar keseruan dan berisiknya pasukan pendekar itu.
Pasukan Genggam Jagad pun bergerak lebih gagah dengan duduk di atas kuda. Wajah-wajah mereka terangkat, seolah-olah menunjukkan kebanggaan mereka sebagai pasukan yang mungkin tidak terkalahkan.
Pasukan bergerak meninggalkan kediaman sang adipati. Mereka bergerak menuju arah barat untuk menuju ke Kadipaten Sengat.
Orang yang berkuda di bagian paling depan pasukan adalah Penombak Manis yang didampingi oleh dua lelaki pembawa bendera.
Jabatannya sebagai Panglima Mata Dewa membuat Penombak Manis harus di depan, karena dia memiliki kemampuan melihat jarak jauh dan sangat detail. Posisinya untuk mengetahui kemungkinan adanya serangan dari depan atau upaya penyergapan tersembunyi.
Dua lelaki pembawa bendera yang mengapitnya adalah Gede Angin dan Juling Jitu.
Gede Angin memang bertugas sebagai pembawa bendera hitam Kerajaan Siluman.
Adapun Juling Jitu untuk sementara ditugaskan menjadi pembawa bendera Kerajaan Singayam. Bendera itu warna kuning dengan gambar kepala ayam jago yang sedang berkokok.
Di belakang ketiganya adalah pasukan Sayap Panah Pelangi, sepuluh pendekar wanita cantik berpakaian warna-warni bersenjatakan panah.
Jadi, jika rombongan itu dilihat dari sisi depan, maka akan terlihat menarik dan unik. Menarik karena keberadaan wajah-wajah cantik Senyumi Awan dan kesembilan rekannya, dan unik karena Gede Angin yang besar botak berposisi dikelilingi oleh wanita cantik, kecuali Penombak Manis yang berhidung pesek.
Di belakang pasukan Sayap Panah Pelangi berjalan kuda Pangeran Sugang Laksama, Panglima Ragum Pangkuawan dan Panglima Riring Belanga.
Di belakang barisan Putra Mahkota ada lima wanita cantik yang merupakan Lima Dewi Purnama yang diketuai oleh Gagap Ayu. Mereka lima pendekar yang bertugas melindungi sang ratu.
Di belakang Lima Dewi Purnama barulah kuda Alma Fatara sebagai Ratu Siluman. Di sisi kanannya adalah Mbah Hitam yang gantengnya hanya luntur ketika berubah menjadi sosok ular besar. Sebagai tangan kanan, dia pelindung nomor satu bagi sang ratu.
Di sisi kiri Alma berkuda Kembang Bulan yang kini menjabat Pembawa Pedang Ratu. Gadis cantik jelita itu membawa Pedang Sepuluh Siluman yang memiliki kesaktian tinggi, pedang yang diambil Alma dari Tengkorak Pedang Siluman sebagai harta rampasan.
Di belakang Alma Fatara ada para panglima. Yang pertama Panglima Besar Pasukan Genggam Jagad Anjengan. Yang kedua Panglima Laut Pasukan Genggam Jagad Cucum Mili yang kini akrab dengan julukan Putri Angin Merah. Yang ketiga Panglima Sayap Pelangi Nining Pelangi. Yang keempat Panglima Sayap Laba-Laba Arung Seto. Yang kelima Panglima Sayap Panah Pelangi Tampang Garang. Dan yang keenam Ketua Sayap Beres-Beres Kalang Kabut.
Di belakang barisan para pemimpin pasukan itu berjalan Geranda sebagai Bendahara Kerajaan Siluman. Bersamanya ada tiga Ireng, yaitu Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau. Ketiga pendekar berbadan besar itu berjuluk Tiga Penjaga Emas Kerajaan Siluman.
Barulah di belakang pengurus kepeng itu berjalan kereta kuda yang disaisi oleh Gempar Gendut.
Setelah itu ada lima pedati kuda yang disaisi oleh Betok, Kungkang, Jungkrik, Jenggot Sejenggut, dan Kumis Kalong. Mereka semua anggota Sayap Beres-Beres. Di salah satu pedati itu ada Tabib Bocah bersama Cantik Kuku Hijau yang diiringi oleh kuda Mpit Kenanga dan Mpit Kemangi.
Barulah setelah itu barisan Pasukan Sayap Pelangi yang personelnya adalah pendekar wanita semua.
Yang paling belakang adalah Pasukan Sayap Laba-Laba yang personelnya pendekar lelaki semua. (RH)
__ADS_1