Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 34: Menyergap Pasukan Khusus


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Lima puluh pasukan berkuda berlari cepat mengejar pergerakan bayangan hitam yang juga cepat. Bayangan hitam itu tidak lain adalah Alma Fatara yang sedang menggendong anak perempuan, bukan anak monyet.


Sementara pasukan pelari yang awalnya berlari di belakang pasukan berkuda, memilih berhenti berlari karena tidak mungkin mereka mengikuti pasukan berkuda yang berlari kencang, terlebih pasukan berkuda itu justru berbelok mengejar penampakan yang entah manusia atau setan, sebab sosok itu muncul dari dalam kegelapan.


Banyaknya obor yang dibawa oleh pasukan berkuda, masih belum bisa melihat jelas sosok yang masih jauh dari jangkauan kuda mereka, terlebih sosok itu berlari kencang seperti setan sungguhan.


Sementara itu di atas benteng Istana, Panglima Belut Ireng memerintahkan pasukan panah belalangnya bersiaga ketika melihat pasukan berkuda di depan sana melakukan manuver. Panglima Belut Ireng dan pasukannya tidak begitu bisa melihat keberadaan satu sosok hitam di dalam keremangan cahaya obor.


“Heah heah!” Komandan Sikut Karam dan pasukan khususnya menggebah kencang kuda-kudanya mengejar Alma Fatara yang kini memilih menjauhi pasukan berkuda, alias kabur.


Namun ternyata, Alma Fatara yang menggendong Ning Ana di punggungnya, memilih kabur karena ingin memancing pasukan berkuda lewat dekat dengan area gelap di mana ada sebagian Pasukan Pembebas Jintamani bersembunyi.


“Apa itu?” pekik Komandan Sikut Karam terkejut, ketika cahaya api obor-obor mereka menerangi samar-samar sesuatu yang membuat merinding di dalam kegelapan.


Penampakan yang pasukan itu lihat adalah barisan sosok yang sangat jelas sedang menarik senar busur.


“Panah!”


“Panah!”


“Panah!”


Tiba-tiba terdengar tiga kali seruan tiga jenis suara yang berbeda dari jauh.


Set set set ...!


Setelah tiga komando dari area kegelapan itu, penampakan barisan pasukan panah yang bersembunyi di dalam kegelapan melepaskan anak-anak panahnya.


Maka, hujan panah pun melesat di angkasa yang gelap. Hujan panah itu nyaris tidak terlihat karena gelap.


“Awas serangan panaaah!” teriak Komandan Sikut Karam memperingatkan pasukan berkudanya.


Ceb ceb ceb ...!


“Akk! Akh! Akk ...!”


Seperti sekawanan serigala di dalam kegelapan yang menyerang anak kecil pembawa obor, seperti itulah perumpamaannya. Para prajurit berkuda hanya bisa terkejut tanpa bisa melakukan hal banyak karena mereka tidak bisa melihat jelas hujan panah yang terjadi.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Pasukan Pembebas Jintamani menggunakan taktik seperti itu. Ternyata setelah beberapa kali, taktik itu masih sukses memakan korban banyak dari kubu musuh.


Para prajurit itu hanya bisa terkejut di atas keterkejutan, ketika panah-panah tahu-tahu menancap di tubuh mereka, bahkan di tubuh kuda-kuda mereka. Banyak prajurit yang jatuh terkena panah, banyak pula kuda yang jatuh tersungkur oleh tusukan anak panah.


“Menjauh dari serangaaan! Munduuur!” teriak Komandan Sikut Karam yang lolos dari serangan panah. Dia pun mempelopori memacu kudanya berbalik arah kembali menuju benteng, sekaligus mengejar Alma Fatara yang terus berlari menuju benteng yang tinggi.


“Seraaang!” teriak satu suara wanita menggelegar dari dalam kegelapan.


“Seraaang!” teriak satu suara lelaki pula dari posisi yang hampir sama.


Pasukan pelari dari Pasukan Khusus yang berhenti karena bingung, terkejut berjemaah mendengar komando yang terdengar tidak terlalu jauh dari posisi mereka.


“Seraaang!” teriak ratusan orang serempak sambil terdengar suara lari kaki yang banyak di dalam kegelapan sisi kanan Pasukan Khusus.


Semua prajurit Pasukan Khusus yang telah mencabut pedang di tangan kanan dan memegang obor di tangan kiri, berdiri tegang menghadap ke arah kanan, di mana sumber suara ratusan orang itu muncul.


Tidak sampai lima tarikan napas ketegangan, ratusan orang prajurit muncul berlari kencang dari dalam kegelapan. Mereka bisa terlihat setelah mendekati sumber cahaya.


“Peraaang!” teriak seorang pajrit Pasukan Khusus memberi komando rekan-rekannya untuk menghadapi serangan.


Pasukan Khusus memiliki kepercayaan diri tinggi karena kwalitas kemiliteran mereka lebih unggul dibandingkan prajurit biasa.


“Seraaang!” teriak seratus lima puluh prajurit yang semuanya berpedang, tetapi sebagian memegang obor dan sebagian lagi memegang tameng.


Zerzzz!


“Aak! Panaaas!” teriak seorang prajurit Pasukan Khusus, ketika tiba-tiba dari ratusan pasukan musuh yang datang melesat selarik sinar hijau panjang, lalu mengenai dan membakar tubuhnya.


Selarik sinar hijau itu dilesatkan oleh Keris Petir Api milik Garam Sakti.


Satu serangan pembuka dari pasukan yang dipimpin oleh Adipati Lalang Lengir dan Adipaksa itu, cukup mengejutkan Pasukan Khusus. Tidak hanya serangan sinar hijau yang kemudian menyerang kali kedua dan mendapatkan korban kedua, serangan jenis lain pun datang dari kubu Pasukan Pembebas Jintamani.


“Apa itu?!” pekik para prajurit Pasukan Khusus yang berlari maju saat melihat puluhan telapak tangan pasukan musuh menyala merah seperti lampu neon.


Sess sess sess ...!


Tiba-tiba dari hentakkan tangan-tangan murid Perguruan Pisau Merah berlesatan puluhan sinar merah berwujud pisau.


Jus jus jus ...!


“Akh! Akh! Akh ...!”

__ADS_1


Para prajurit Pasukan Khusus berjeritan dengan tubuh terlempar ke belakang ketika tubuh-tubuh mereka dijebol oleh sinar-sinar merah berwujud pisau.


Jangankan prajurit yang tubuhnya langsung terkena ilmu Pisau Penghancur, para prajurit yang berlindung dengan tamengnya saja masih kejebolan dan tubuhnya jebol pula, memberi kerusakan pada kulit, daging dan tulang. Banyak prajurit khusus yang langsung bertewasan.


Serangan pra pertemuan fisik itu cukup membantu Pasukan Pembebas Jintamani dalam mengurangi lawan.


Brak! Tang ting tong! Bak bik buk!


“Akk! Akh! Akk ...!


Akhirnya dua pasukan berbeda jumlah itu saling bertemu fisik. Adipati Lalang Lengir yang didampingi oleh dua pengawal tampan dan gagahnya, ikut langsung bertempur dalam perang. Dia bersama pasukan kadipatennya dari elemen prajurit yang juga bersenjata tombak, pedang, dan tameng.


Sementara itu, Adipaksa memimpin pasukan murid-murid Perguruan Pisau Merah yang memiliki kwalitas lebih tinggi dari pasukan prajurit biasa.


Garam Sakti pun terjun langsung dengan bersenjata keris pusakanya.


Saling tabrak tameng terjadi, saling bacok pedang, saling tendang dan pukul. Pasukan perguruan bertarung dengan senjata pisau beracun yang bisa diterbangkan dan bisa dipakai langsung.


Pertemuan dua pasukan itu langsung memakan korban dari kedua belah pihak. Para prajurit tumbang susul-bersusulan, baik yang langsung mati atau yang sebatas terluka.


Jumlah Pasukan Khusus kalah jauh dari jumlah pasukan Adipati Lalang Lengir dan pasukan pimpinan Adipaksa.


Melihat pasukan pelarinya mendapat serangan, Komandan Sikut Karam terkejut. Ia pun membatalkan niatnya untuk mundur dan memilih pergi untuk membantu pasukannya karena jelas mereka kalah jumlah.


“Bantu pasukan kitaaa!” teriak Komandan Sikut Karam sambil membelokkan kembali kudanya menuju spot pertarungan bersosoh antara Pasukan Khusus dan Pasukan Pembebas Jintamani.


Ada sebanyak sekitar tiga puluh prajurit berkuda yang selamat dari penyergapan pasukan panah yang sebelumnya terjadi. Mereka mengikuti ke mana kuda komandan mereka pergi.


“Pasukan tombak, serang pasukan berkuda!” teriak satu suara lelaki lantang dan membahana. Dari jenis suaranya, itu bukan suara seorang penyanyi, tapi itu suara milik Panglima Pulung Seket.


“Majuuu!” teriak Pajrit Gandul Kulon, sahabat Pajrit Kukus Asmara.


Dia memimpin seratus pasukan tombak bersama satu kepala prajurit lain.


Drap drap drap ...!


Pajrit Gandul Kulon dan pasukannya muncul keluar dari dalam area yang gelap dengan berlari kencang membawa tombak masing-masing. Mereka muncul dari arah samping pasukan berkuda yang akan mereka potong lintasannya.


Ketika posisi pasukan tombak tinggal beberapa tombak dari pasukan kuda yang akan melintas, Pajrit Gandul Kulon dan rekannya segera berkomando.


“Lempar tombaaak!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2