
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Para prajurit Pasukan Tanduk Kemenangan menggiring belasan warga lelaki dan perempuan secara kasar.
“Ayo cepat!” bentak seorang prajurit sambil menendang bokong seorang warga lelaki.
“Aduh duh!” pekik warga berusia setengah abad plus satu tahun itu dengan tubuh terdorong ke depan yang justru memeluk seorang warga perempuan, lalu mengajaknya tersungkur bersama.
“Aw! Apa-apaan kau ini, Ki Kocol?!” pekik wanita berusia tiga puluhan tahun itu sambil buru-buru mendorong wajah lelaki yang bernama Ki Kocol.
“Prajurit itu yang menendangku, Muning!” kata Ki Kocol pula kesal campur marah, plus campur senang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Bangun! Bangun!” bentak si prajurit sambil menyodok-nyodok bokong Ki Kocol dan Muning dengan ekor tombaknya.
“Hei, Prajurit! Jangan kurang ajar!” teriak wanita yang bernama Muning nekat marah.
“Eh eh eh! Kau berani kepada kami, hah?!” Si prajurit membentak Muning sambil menjambak rambut wanita itu.
“Aaak!” jerit Muning kesakitan.
“Kalau kau seperti ini saja sudah kesakitan, jangan cari penyakit!” desis prajurit itu sambil mendekatkan napas baunya sangat dekat ke wajah Muning yang hanya mengerenyit menangis.
Prajurit itu lalu mendorong Muning hingga kembali terjatuh.
Ki Kocol segera membantu Muning untuk bangkit berdiri.
“Jangan melawan, Muning,” bisik Ki Kocol. “Jangan takut, aku akan melindungimu.”
Muning tidak peduli dengan kata-kata Ki Kocol. Dia terus terisak karena diperlakukan seperti itu. Sementara warga yang lain tidak berani berbuat apa-apa. mereka tidak mau disakiti lebih sakit.
Pada akhirnya, mereka tiba di depan rumah Adipati Patok Anggara. Di sana sudah berkumpul lebih dua puluh warga lain. Rombongan warga yang baru tiba diperintahkan bergabung dengan warga lainnya. Mereka semua disuruh berjongkok atau duduk di tanah.
Tempat itu sudah dijaga oleh banyak prajurit. Separuh pasukan berkumpul dan berbaris di tempat itu.
“Apakah masih ada?!” tanya Gambira dengan berteriak kepada para prajurit yang ditugaskan mengumpulkan kembali warga yang ada.
Tidak jauh di belakang Gambira berdiri Panglima Tebing Gali dan kesepuluh pendekar wanitanya.
“Sudah habis, Gusti!” jawab satu prajurit yang memimpin tugas pengumpulan warga.
“Mana Ki Paling?” tanya Gambira lagi. Dia kenal dengan warga kaya itu karena dialah pemimpin dari warga ibu kota tersebut.
Ki Paling tidak menyahut. Warga yang dikumpulkan pun saling menengok mencari muka Ki Paling yang telah menghilang.
__ADS_1
“Sini!” bentak Gambira sambil maju dan menarik tangan satu orang lelaki muda kurus.
Itu bukan tarikan mesra, tetapi tarikan yang kasar menyakitkan.
“Ampun, Gusti! Jangan bunuh aku!” teriak si pemuda kurus ketakutan.
Sing!
Gambira mencabut pedangnya dari sarung. Maksudnya sarung pedang, bukan sarung Gambira karena dia tidak memakai sarung. Semoga bisa dipahami.
“Aaa...!” jerit pemuda itu histeris sangat ketakutan dan berusaha lari, tapi tangannya dicekal keras oleh Gambira.
Akhirnya pemuda itu jatuh tergeletak di tanah sambil meronta-ronta. Satu tangannya seolah-olah terangkut di gunung batu.
Seeet! Seb!
“Ekk!” erang tertahan Gambira ketika satu anak panah yang melesat dari jauh tahu-tahu telah menancap tembus di lehernya. Anak panah itu datang dari samping.
“Aaa...!” pekik para warga perempuan terkejut ngeri seiring tumbangnya tubuh Gambira yang bersimbah darah.
“Aaa!” jerit pemuda kurus sambil buru-buru berlari kabur karena tangannya sudah lepas.
Tsuk!
“Aak!” jerit si pemuda karena ditusuk oleh tombak prajurit yang menghalangi upaya kaburnya.
“Biar aku yang urus!” teriak salah satu anggota Peri-Peri Pengisap yang bernama Peri Genang, lalu dengan cepat berlari dan lepas landas berlari di udara menuju ke arah selatan.
Melihat kematian tangan kanannya, murkalah Panglima Tebing Gali.
“Keparat lacuuur! Rupanya musuh sudah menyusup masuk sangat dekat!” maki Panglima Tebing. “Dua regu panah, kejar!”
Maka dua regu pasukan panah segera berlari keluar dari barisan. Satu regu itu sebanyak dua puluh lima prajurit yang dipimpin oleh seorang pajrit atau kepala prajurit.
Set!
“Aaak!” jerit prajurit yang baru saja membunuh pemuda kurus warga ibu kota itu, saat sebatang anak panah melesat dari arah utara dan menusuk tembus dadanya.
“Pasukaaan! Kejar ke utara!” teriak Panglima Tebing Gali semakin marah.
Maka dua regu pasukan tombak dan satu dua regu pasukan panah segera berlari kencang ke arah utara.
“Peri Nila!” sebut Peri Tamak.
Maka wanita cantik berjerawat irit berpakaian kuning segera berkelebat pergi menyusul para prajurit. Ia paham saat namanya disebut oleh pemimpinnya.
__ADS_1
“Tugiyo!” panggil Panglima Tebing Gali.
“Hamba, Gusti Panglima!” sahut seorang perwira sambil berlari dari jauh datang menghadap.
“Kerahkan semua pasukan dan sisir semua daerah di ibu kota ini!” perintah Panglima Tebing Gali.
“Siap, Gusti!” sahut Tugiyo yang berpangkat komandan.
Tugiyo lalu pergi dan memobilisasi pasukannya dalam skala besar.
Setelah itu, tidak ada serangan panah lagi di saat sebagian pasukan bergerak pergi dan sebagian kecil tetap bersiaga tegang di tempat itu sambil mengawasi sekeliling.
Tooot!
“Aaa!” pekik terkejut sejumlah warga perempuan.
Di saat mereka ketakutan dan tegang, tiba-tiba ada suara kentut yang besar lagi panjang, seperti suara terompet tanduk perang.
“Hahaha...!” tawa seorang kakek bungkuk yang duduk di tengah-tengah sejumlah warga perempuan.
Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu Bungkuk Gila telah muncul di tengah-tengah warga yang berkumpul dalam ketakutan.
“Aaa...!” jerit para warga itu ketakutan plus marah sambil memukuli Bungkuk Gila ramai-ramai yang hanya terus tertawa, tanpa terpengaruh oleh pukulan yang justru membnuatnya senang.
Heranlah para warga lelaki, karena mereka tidak mengenal kakek itu dan sangat aneh. Aneh karena tahu-tahu muncul di tengah-tengah warga perempuan dan terlihat tidak terganggu dengan kondisi dikelilingi prajurit.
Panglima Tebing Gali dan kedelapan pendekar Peri-Peri Pengisap langsung bisa menerka, kakek bungkuk yang kentut sembarangan itu adalah seorang pendekar sakti. Namun, itu bukan hal yang perlu ditakutkan karena Panglima Tebing Gali dan Peri-Peri Pengisap juga merasa orang sakti.
“Panah semuanya!” perintah Panglima Tebing Gali yang seketika mengejutkan semua warga dan menghentikan kaum perempuan yang memukuli Bungkuk Gila.
Bungkuk Gila mendadak berhenti tertawa, ikut terkejut mendengar perintah itu.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila lagi kemudian, di saat para prajurit panah memasang busurnya dengan anak panah. Dia berdiri, sehingga terlihat lebih tinggi dari seluruh warga, meski dia bungkuk.
Set set set...!
Maka puluhan anak panah dilepaskan oleh pasukan panah yang masih ada di tempat itu.
Jeg! Zing!
Seiring panah-panah dilepaskan, Bungkuk Gila menjejakkan kaki kanannya ke tanah. Saat itu juga, semua warga itu, termasuk Bungkuk Gila, telah dikurung oleh satu kuba sinar biru muda yang besar.
Kubah sinar itu langsung ditusuki oleh puluhan anak panah tersebut. Hasilnya, tidak ada satu pun anak panah yang bisa tembus. Semuanya berguguran jatuh ke tanah di luar kurungan kubah sinar.
Terbeliak Panglima Tebing Gali melihat kondisi itu.
__ADS_1
Brus!
Sang panglima tiba-tiba menggenggam sebatang tombak sinar warna merah berapi. Sepertinya dia akan mencoba menghancurkan kubah sinar pertahanan itu dengan ilmu Tombak Penusuk Dunia. (RH)