Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 17: Gerbang Sarang Betina


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Dihabisinya Pasukan Berkuda Satu milik Tebar Kembang dan Wakil Panglima Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu bersama sebagian besar pasukannya, seketika menjadi berita besar dan menggemparkan. Bukan hanya berita besar di kalangan penguasa dan jajarannya, juga di kalangan warga biasa.


Di salah satu titik jalan yang menjadi tempat pertempuran antara Alma drr (dan rekan-rekan) dengan pasukan penguasa dan pengusaha, bergelimpangan puluhan mayat yang kemudian segera diurus oleh satu pasukan pemerintah.


Sementara itu, Alma drr sudah meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke penangkaran Betina Ranjang. Mereka mengikuti langkah Cantik Gelap. Namun, mereka menghadapi halangan.


Dengan masing-masing memegang tali kudanya, Alma Fatara, Bungkuk Gila, Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam, Geladak Badak, dan Cantik Gelap kini sedang berdiri berderet satu garis menghadap ke alam bebas. Namun, terlihat mereka sedang berhadapan dengan sesuatu. Itu diketahui dari obrolan mereka.


“Pagar gaib ini sangat kuat. Jika aku paksakan untuk menghancurkannya, aku akan terluka,” kata Bungkuk Gila.


“Jangan, Kek. Aku tidak mau mengobatimu!” cegah Alma Fatara cepat.


“Jadi bagaimana, Guru?” tanya Lingkar Dalam.


“Aku ada usul,” kata Geladak Badak yang kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Luka dalamnya bisa dikatakan sembuh enam puluh persen setelah mendapatkan cara pengobatan aneh yang sangat menyakitkan.


“Apa? Jangan macam-macam usulanmu, Badak!” kata Bungkuk Gila.


“Tenang saja, Tetua. Kau pasti akan suka dengan usulanku. Hehehe!” kata Geladak Badak.


“Apa? Katakan!” kata Bungkuk Gila tidak sabar.


“Bukankah Tebar Kembang itu pemilik Sarang Betina Ranjang yang terkenal itu. Kita buat kekacauan di sana saja dengan alasan mencari adikmu, Lingkar.”


“Hahaha! Aku sangat setuju, daripada membuang tenaga untuk pagar gaib ini, lebih baik kita membuat kacau di Sarang Betina Ranjang. Hahaha!” kata Bungkuk Gila sembari tertawa antusias.


“Apa itu Sarang Betina Ranjang?” tanya Alma Fatara.


“Nanti kau akan tahu, Cucuku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila lalu tertawa lagi, seolah-olah Sarang Betina Ranjang begitu membuatnya gembira.


Karena Bungkuk Gila sudah bicara seperti itu, maka Geladak Badak tidak menjelaskan pula. Sementara Lingkar Dalam, Arguna dan Manila Sari tidak tahu tentang Betina Ranjang. Meski Lingkar Dalam merupakan pribumi di Negeri Sembunyi, tetapi wawasannya belum sampai kepada wilayah Kerajaan Ringkik.


Mereka lalu naik ke punggung kuda masing-masing. Mereka beralih arah dan meninggalkan wilayah itu. Mereka menuju ke arah utara. Bungkuk Gila berkuda bersama Cantik Gelap. Ini berkuda benaran, bukan kuda-kudaan.


Ternyata Kotakayu Darabisu luas. Mereka masih harus melewati daerah-daerah berpohon dan beberapa kumpulan rumah warga yang rata-rata model panggung.


Salah satu ciri utama sebuah kotakayu adalah berudara dingin dan sejuk karena dia seperti hutan berkota, hutan yang memiliki banyak permukiman. Termasuk Sarang Betina Ranjang yang dikelilingi oleh lingkungan berpohon-pohon besar.


Tanpa hambatan ketika mereka tiba di depan gerbang Sarang Betina Ranjang. Gerbang kayu besar dan berukir warna ungu itu biasa-biasa saja dengan seninya, tidak ada kesan seronok yang ditampilkan, meski itu adalah gerbang tempat pelacuran ternama.


Selain Alma Fatara drr yang datang, ada juga beberapa orang lelaki yang keluar dengan berkuda. Orang yang keluar adalah pelanggan yang sudah paripurna menyalurkan hasrat birahinya.


Di gerbang itu ada sepuluh prajurit berseragam ungu bersenjatakan pedang.


Keberadaan tiga orang wanita menjadi tanda bahwa rombongan berkuda yang datang bukan bermaksud untuk menunggangi Betina Ranjang, tetapi untuk maksud yang lain. Karena itulah, enam dari penjaga segera menghadang keenam kuda tersebut.


“Siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?” tanya satu prajurit yang bertindak sebagai juru bicara.


“Kami mencari gadis yang bernama Lilia Seharum!” jawab Lingkar Dalam to the point.


“Siapa itu Lilia Seharum? Tidak ada perempuan yang datang ke sini!” tandas si prajurit tidak kalah nada suaranya.


“Tidak ada perempuan yang datang ke sini, tapi yang dipiara banyak. Hahaha!” kata Geladak Badak, membuat para prajurit itu menunjukkan ekspresi tidak bersahabat.


“Majikanmu Tebar Kembang telah menculik adikku untuk dijadikan wanita perahan, dia harus membebaskannya, atau tempat ini kami ratakan dengan tanah!” seru Lingkar Dalam mulai emosi.

__ADS_1


“Kalian jangan mencari masalah di sini. Cari mati itu namanya!” bentak si prajurit.


“Kami tidak tidak mencari Mati, kami tidak kenal dengan Mati. Kami mencari gadis cantik yang bernama Lilia Seharum!” kata Arguna yang mulai gusar pula dengan kegarangan prajurit itu.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar perkataan Arguna.


Di saat mereka berdebat, lalu lalang tamu Sarang Betina Ranjang tetap mengalir. Perdebatan itu juga mengundang kedatangan sejumlah prajurit dan pendekar mendekat ke gerbang. Untuk sementara mereka memantau dari belakang dan sisi dalam gerbang.


“Lebih baik kalian laporkan kedatangan kami kepada pemimpin kalian. Jika Lilia Seharum tidak kalian serahkan, maka kami akan menggeledah tempat ini,” ujar Alma Fatara.


“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila. Lalu tiba-tiba ....


Clap!


Tiba-tiba Bungkuk Gila hilang begitu saja bersama Cantik Gelap dari punggung kudanya. Hal itu mengejutkan para prajurit di depan dan yang ada di dalam. Para personel keamanan yang ada di bagian dalam segera mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari sosok Bungkuk Gila. Mereka langsung menduga kuat bahwa kakek dan wanita yang satu kuda bersamanya telah menyusup masuk.


Namun, mereka tidak menemukan Bungkuk Gila dan Cantik Gelap.


“Lihat, kakekku sudah masuk lebih dulu. Jika ternyata kakekku menemukan Lilia Seharum, sedangkan kalian tidak juga mengakui, maka jangan salahkan jika kami membumihanguskan tempat ini!” seru Alma Fatara mengancam, padahal Bungkuk Gila tidak mengenal Lilia Seharum sedikit pun. Lalu serunya kepada Lingkar Dalam, “Kakang Lingkar, lihat matahari!”


“Aku sudah lihat!” sahut Lingkar Dalam yang mendongak memandang langit.


“Apakah mataharinya masih ada di langit?” tanya Alma Fatara iseng.


“Masih!” jawab Lingkar Dalam kencang pula.


“Ada apa dengan matahari?” tanya Manila Sari.


“Tidak ada apa-apa. Hanya memastikan apakah mataharinya masih di langit atau sudah jatuh menuju ke sini,” jawab Alma seenaknya.


“Hahaha!” Meledak tawa Geladak Badak dan Arguna mendengar guyonan Alma Fatara, yang membuat jengkel Lingkar Dalam dan Manila Sari.


“Topkor, pergi lapor kepada Kubil Gersang!” suruh prajurit juru bicara kepada rekannya yang bernama Topkor.


Para prajurit keamanan Sarang Betina Ranjang semakin bertambah jumlahnya, setelah kabar terjadinya ketegangan di gerbang menyebar cepat di kalangan pasukan keamanan.


Sementara Alma drr tetap menunggu di atas kudanya.


“Alma, ke mana Guru Bungkuk?” tanya Manila Sari.


“Dia pasti sudah masuk dan mengintip orang berkuda.” Justru Geladak Badak yang menjawab.


“Apa serunya mengintip orang berkuda?” tanya Manila Sari.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara, Lingkar Dalam dan Geladak Badak mendengar keluguan Manila Sari.


“Bungkuk Gila sepertinya salah ajak perempuan. Seharusnya dia mengajak Putri Manila untuk mengintip, bukan mengajak perempuan yang mati rasa,” kata Geladak Badak.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan Lingkar Dalam.


“Kenapa kau tertawa, Lingkar Dalam. Adikmu sedang menjadi kuda betina di dalam!” hardik Geladak Badak kepada Lingkar Dalam.


Terdiamlah Lingkar Dalam secara tiba-tiba. Dia berubah menjadi gelisah. Dia jelas cemas. Jika adiknya sudah berhari-hari di tempat itu, jelas sangat sulit untuk mendapatkan adiknya dalam kondisi tidak apa-apa.


“Hahaha! Tertawa atau marah tidak akan mengubah hasil, Kakang. Terima saja nasib apa yang telah menimpa Kakak Lilia Seharum,” kata Alma Fatara menertawakan sikap Lingkar Dalam.


“Jangan seperti itu, Alma. Aku sudah kehilangan ayah dan ibuku, aku juga tidak mau kehilangan adikku,” kata Lingkar Dalam sedih.


“Aku yakin, jika Pangeran Arguna sudah melihat kecantikan Kakak Lilia, dia pasti akan memilih menetap di Kampung Siluman,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Eeeh, aku sudah punya calon yang bernama Ning Ara, Alma,” kata Arguna.


“Hmm, aku ragu kau akan setia, Pangeran,” kata Alma Fatara sembari tersenyum lebar, memperlihatkan ompongnya.


“Hahahak! Gadis cantik itu ompooong!” teriak seorang prajurit yang mendadak tertawa sambil menunjuk Alma Fatara yang ada tiga tombak di depannya.


“Hahaha!” tawa banyak prajurit.


“Hahaha!” Edannya Alma Fatara, dia justru tertawa kencang karena ditertawakan. Alma sebenarnya tertawa karena lucu melihat reaksi para prajurit itu.


Sreeet!


Tiba-tiba para prajurit itu berhenti tertawa mendadak saat mendengar suara pergerakan rantai yang banyak, tapi tidak berwujud. Suasana seketika hening dan tegang melanda perasaaan para prajurit itu, terutama mereka yang berhadapan dengan rombongan Alma. Sangat jelas bahwa suara rantai itu berasal dari rombongan kuda Alma.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma setelah dia juga berhenti sebentar. “Mereka berhenti tertawa mendadak. Untung mereka tidak mati mendadak!”


“Hahaha!” Keempat rekan Alma jadi tertawa pula.


“Kurang ajar kalian!” teriak prajurit juru bicara. “Kalian jangan membuat kami marah jika masih sayang nyawa.”


“Aku tidak sayang nyawa, Kakang. Aku hanya sayang kau. Hahaha!” timpal Alma Fatara.


Deg!


Terhentak jantung si prajurit mendapat kalimat cinta seperti itu dari seorang gadis sejelita Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa para prajurit dan pendekar lain heboh menertawakan rekan mereka seorang.


“Cie cieee! Ada gadis yang sayang! Hahaha!” goda rekan di sebelahnya sambil memukul belakang kepala si juru bicara, membuatnya nyaris terjungkal ke depan.


Melihat tingkah kedua prajurit itu, meledaklah tawa Alma Fatara dan keempat temannya.


“Hahahak!”


“Diam! Diam! Diam!” teriak prajurit juru bicara kesal dan salah tingkah.


Sing!


Ujung-ujungnya, prajurit juru bicara itu mencabut pedangnya seperti Tuan Takur Sing mencabut pedang.


“Kau perlu aku beri pelajaran, Perempuan Ingusan!” teriak si prajurit juru bicara marah, lalu maju hendak menusuk kuda Alma Fatara demi menutupi malunya.


Tus!


“Akk!” pekik si prajurit mendadak berubah gerakan menjadi berhenti dan cepat-cepat memegangi bokongnya. Pedangnya jadi turun.


Dia melihat ke belakangnya, terutama kepada rekan-rekannya.


“Siapa yang menusuk pantatkuuu?!” teriak si prajurir juru bicara kepada rekan-rekannya. Dia begitu geram.


Terdiam rekan-rekan prajurit karena mereka merasa tidak menusuk pantat si juru bicara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara drr.


Sreeetr!


Tiba-tiba kembali terdengar suara rantai yang banyak tapi tidak terlihat.


“Wuah!” pekik terkejut prajurit juru bicara sambil buru-buru melompat mundur sejauh-jauhnya menjauhi rombongan kuda.

__ADS_1


“Hahaha!” Alma Fatara kembali tertawa menertawakan tingkah para prajurit yang kaget seperti kucing mendengar suara tikus.


Alangkah gusarnya para prajurit itu karena sedang dipermainkan oleh Alma Fatara dan rekan-rekannya. Namun, mnereka tidak mau memulai keributan tanpa ada perintah dari yang di atas. (RH)


__ADS_2