Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 21: Jawaban Tebar Kembang


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Baling Bangba alias Raja Betina yang menjadi direktur di Sarang Betina Ranjang berjalan gagah berwibawa dan penuh ketenangan ke area gerbang.


Dia dikawal bersama empat orang pendekar. Salah duanya sudah muncul sebelumnya, yaitu Lidah Untung dan Lirik Lirik Yo yang tetap berpenampilan cantik dengan hidung peseknya.


Dua pendekar lainnya adalah dua lelaki berusia empat puluhan tahun, sedikit lebih tua dari Baling Bangba. Yang satu berbaju putih, yang satu lagi berbaju putih. Sama-sama putih. Yang satu berkumis dan bersenjata cambuk, yang satu berjenggot bersenjata cambuk. Sama-sama nyambuk. Yang bercambuk merah bernama Guru Cambuk Merah dan yang bercambuk kuning bernama Guru Cambuk Emas.


Kedua Guru Cambuk itulah yang menjadi guru para pendekar keamanan yang bersenjata cambuk di penangkaran Betina Ranjang.


Pasukan Sarang Betina Ranjang yang memenuhi area gerbang yang sudah hancur segera membuka formasi, memberi jalan bagi kelima orang sakti mereka.


Pada saat yang sama, seekor kuda datang berlari kencang dari arah lain. Itu tidak lain adalah Ehajusus, Wakil Panglima yang tadi diutus menghadap ke penguasa Kotakayu Darabisu.


“Panglima Kirat Ipok, silakan buka pengepungan kalian!” seru Baling Bangba yang sudah berhenti beberapa tombak di belakang pengepungan prajurit pemerintah. Dia dengan Panglima Kirat Ipok memang berseberangan arah yang dipisahkan oleh kawah dan formasi pengepungan.


“Sebentar, Pendekar!” sahut Panglima Kirat Ipok sambil mengangkat satu tangannya ke arah Raja Betina yang ganteng dan gagah.


Kirat Ipok lalu menengok kepada wakilnya.


Ehajusus lalu merapatkan kudanya kepada kuda junjungannya. Dia mengulurkan wajahnya lebih dekat kepada wajah sang panglima.


“Menteri Bonggol setuju!” bisik Ehajusus nyaris tidak terdengar, karena dia sadar bahwa di tempat itu banyak orang sakti yang bisa dengan mudah mencuri dengar sekalimat bisikan.


Kirat Ipok mengangguk.


“Pasukan, mundur!” teriak Kirat Ipok kepada pasukannya.


Maka dengan enteng hati pasukan itu bubar diri secara teratur karena mereka memang sudah lulus pelajaran baris-berbaris.


Mendengar perintah Panglima Kirat Ipok memundurkan pasukannya, Baling Bangba hanya menaikkan satu alisnya sebagai reaksi karena bukan itu yang dia harapkan. Dia hanya meminta pasukan itu membuka agar dia bisa bertatap muka dengan musuh yang datang.


Dengan bubarnya Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu, maka Baling Bangba dengan leluasa bisa melihat Alma Fatara dan keempat rekannya. Demikian pula sebaliknya.


“Hmm!” gumam Baling Bangba sambil bermanggut-manggut saat melihat sosok Alma Fatara yang cantik jelita dan masih belia.


“Hmm!” gumam Alma Fatara pula sambil ikut manggut-manggut pula.


Sementara itu, pasukan pemerintah tidak sungguh-sungguh meninggalkan tempat itu. Mereka ditempatkan pada area yang cukup jauh dan aman dari zona ketegangan. Panglima dan wakilnya memilih untuk mengamati apa yang akan terjadi.


“Apakah kau yang bernama Raja Betina, Kakang?” tanya Alma Fatara lebih dulu.


“Benar,” jawab Baling Bangba tenang sembari tersenyum tipis.


“Aku kira kau perempuan,” kata Alma Fatara.


“Raja itu lelaki, Cantik,” kata Baling Bangba datar.


“Tapi betina itu perempuan, Kakang!” debat Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa pendek Baling Bangba santai, menunjukkan pembawaannya yang low profile.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara juga ikut terbawa santai, menunjukkan gigi ompongnya.


“Eek! Hehehek!” pekik Lidah Untung lalu tertawa termehek-mehek sambil menunjuk Alma Fatara.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Baling Bangba dan kedua Guru Cambuk.


“Jangan terpedaya oleh kelucuan ompongnya dan kemudaannya, dia itu seperti anak siluman,” kata Lirik Lirik Yo yang tidak ikut tertawa.


“Hahaha!” Alma Fatara kian tertawa disebut “Anak Siluman”. “Aku bukan anak siluman, Kakak, tapi Ratu Siluman. Hahaha!”


“Hahaha!” tawa Baling Bangba lebih panjang, di saat para anak buah mereka masih tegang.


“Jadi, jawaban apa yang Kakang ingin berikan kepadaku? Jawaban itu akan menentukan nasib leher pemimpin pasukan ini,” tanya Alma Fatara yang masuk ke tahapan serius.


Pucat dan berkeringat dinginlah Kubil Gersang. Kedatangan Baling Bangba dengan empat pendekar sakti memberi tanda bahwa Tebar Kembang tidak ingin memenuhi tuntutan Alma Fatara.


“Aku membawa pertanyaan dan jawaban dari Majikan Tebar Kembang,” jawab Baling Bangba. “Jawaban dari pertanyaan Majikan Tebar Kembang menentukan jawaban apa yang akan aku berikan kepadamu.... Nisanak siapa?”


“Aku Dewi Gigi. Namaku Alma Fatara, gadis paling cantik di lautan! Hahaha!” seru Alma Fatara lebih keras dan jumawa.


“Hahaha!” tawa rendah sebagian orang.


“Sepertinya kau suka berseloroh, Dewi. Kau sangat tidak cocok untuk jadi Betina Ranjang di....”


“Orang yang berani menyentuh kulitku saja aku potong tangannya, apalagi berani menyentuh kesucianku, bisa-bisa aku potong ... hmm....”


“Potong buntutnya! Hahaha!” teriak Geladak Badak tiba-tiba melanjutkan kata-kata Alma, lalu tertawa.


“Manusia tidak punya buntut, Paman Badak!” hardik Alma Fatara.


“Perempuan tidak punya, tapi lelaki punya buntut depan. Bukankah demikian, Raja Betina?” sangkal Geladak Badak, lalu bertanya kepada Baling Bangba.


Raja Betina hanya tersenyum irit.


“Hahaha!” tawa banyak orang, terutama Alma Fatara yang memahami gurauan mesum Geladak Badak.


“Benar,” jawab Alma Fatara mantap.


“Sungguh hebat,” puji Baling Bangba.


“Lalu apa jawaban Tebar Kembang untukku?” tanya Alma Fatara.


Saat itu, Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam dan Geladak Badak dalam kondisi tegang. Sebab, bisa saja setelah jawaban dari Tebar Kembang disampaikan, pertarungan besar akan langsung terjadi.


Dan yang paling tegang adalah Kubil Gersang yang masih terjerat oleh Benang Darah Dewa. Para anak buah Kubil Gersang pun tegang karena mengkhawatirkan nasib pemimpin mereka.


“Dengarkan jawaban dari Majikan Tebar Kembang. Karena kau adalah pembunuh ayahnya, maka urusan dendam dengan Kampung Siluman dianggap selesai. Lilia Seharum dan empat wanita lainnya akan dibebaskan dari Sarang Betina Ranjang. Namun dengan syarat yang harus kau penuhi, Dewi,” ujar Baling Bangba.


Kubil Gersang dan Lingkar Dalam yang awalnya lega, kembali tegang.


“Katakan, Kakang Raja. Tidak usah malu-malu,” kata Alma Fatara seraya tersenyum rapat.


“Kau harus mati di sini, Dewi. Jika kau sudah mati, barulah Lilia Seharum dan empat wanita lainnya dibebaskan. Selama kau masih hidup, mereka akan tetap di Sarang Betina Ranjang,” ujar Baling Bangba.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pendek. “Itu sama saja kalian minta dihancurkan sehancur-hancurnya lebih dulu baru mau membebaskan Kakak Lilia Seharum. Baiklah jika Tebar Kembang memilih cara itu. Aku setuju!”


Set!


“Kepala Kibuuul!” teriak terkejut para prajurit dan pendekar personel keamanan Sarang Betina Ranjang, saat mereka melihat tahu-tahu kepala Kubil Gersang menggelinding ke dasar kawah kering meninggalkan lehernya.


Alma Fatara dengan dingin melaksanakan ancamannya mengeksekusi Kepala Juru Aman Sarang Betina Ranjang.

__ADS_1


Baling Bangba dan keempat pendekar lainnya hanya diam melihat eksekusi yang tidak terlihat alat eksekusinya. Namun, sorot mata mereka telah berubah tajam, tapi tidak menusuk perasaan Alma Fatara.


“Menjadi seorang pendekar itu terkadang harus tegas dan kejam, Kakang. Sekarang urusan kalian hanya dengan aku,” kata Alma Fatara.


Dia lalu melompat terbang dan mendarat di bibir kawah, berseberangan posisi dengan Baling Bangba dan pasukannya.


“Paman Badak, Kakang Lingkar, Kakang Arguna, Manila, silakan mundur,” kata Alma Fatara kepada rekan-rekannya.


Keempat rekan Alma Fatara patuh. Mereka pun mundur meninggalkan Alma Fatara sebagaimana yang telah disepakati tadi. Mereka memilih memantau dari area yang aman, sama seperti Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu.


Kini tinggallah Alma Fatara seorang diri menghadapi musuh.


“Alma cucuku! Aku sudah membebaskan Lilia Seharum yang sangat cantik ini!” teriak satu suara kakek-kakek tiba-tiba, mengejutkan orang-orang yang mengerti permasalahan.


Teriakan itu jelas datang dari sisi dalam Sarang Betina Ranjang, tetapi mereka tidak menemukan sosok orang yang berteriak. Mereka sudah menengok ke sana dan ke mari, tetapi tahu-tahu....


“Bagaimana Kakek tahu bahwa ini adalah Kakak Lilia Seharum? Bukankah Kakek tidak kenal?” tanya Alma Fatara kepada Kakek Bungkuk yang tahu-tahu sudah berdiri di sisi Alma Fatara bersama Cantik Gelap dan Lilia Seharum.


Lilia Seharum yang benar-benar adalah Lilia Seharum, kondisinya lemah dan kuyup oleh keringat. Kulitnya pun memerah karena terpanggang di dalam kamar siksaan yang telah dihancurkan oleh Bungkuk Gila.


Terkejut Baling Bangba karena dia merasa kecolongan.


“Meski aku tua dan gila, tapi aku tidak tolol, Alma. Aku intip semua kamar, sampai kamar kakus dan kamar penyiksaan aku intipi. Karena Lilia Seharum sedang disiksa di kamar panas, aku tanya nama dan asalnya. Ternyata jodoh. Hahaha!” jawab Bungkuk Gila berujung tawa jumawa.


“Adik Liliaaa!” teriak Lingkar Dalam yang terkejut sekaligus gembira melihat keberadaan adiknya.


Lilia Seharum cepat menengok.


“Kakang! Hiks hiks hiks!” pekik Lilia Seharum terkejut saat melihat kakaknya datang berlari mendekat. Dia pun menangis.


“Adiiik!” pekik Lingkar Dalam sambil memeluk adik semata wayangnya.


“Kakaaang!” sebut Lilia Seharum sembari menangis haru.


Pertemuan mengharukan itu menularkan rasa sedih bagi mereka yang masih memiliki kelembutan di hatinya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan melihat adegan itu. Dia hanya bahagia, tanpa sedikit pun berniat ikut menangis. Menangis bukanlah karakternya.


“Ayo kita menjauh, Adik!” ajak Lingkar Dalam.


“Lalu bagaimana dengan Sawini dan yang lainnya?” tanya Lilia Seharum, merujuk kepada empat gadis Kampung Siluman lainnya yang bernasib sama dengan dirinya.


“Alma akan menyelamatkan mereka,” kata Lingkar Dalam.


“Menjauhlah, Kakak. Empat gadis lainnyan pasti akan kami bebaskan juga,” kata Alma Fatara.


Maka, Lingkar Dalam dan Lilia Seharum segera pergi menjauh. Terlihat Arguna begitu antusias memandangi Lilia Seharum. Memang, ada rasa penasaran yang tinggi di hati Arguna tentang kecantikan Lilia Seharum.


“Apakah kita akan bertarung, Alma?” tanya Bungkuk Gila.


“Tebar Kembang ingin membunuhku, Kek,” kata Alma.


“Bah! Mau mati dia. Orang itu pasti belum berkaca di sumur, dia tidak tahu bahwa bayangannya sudah tidak ada di dalam air karena sudah mengubur dirinya sendiri. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.


“Hah! Bisa seperti itu, Kek?” tanya Alma Fatara mulai meladeni lawakan Bungkuk Gila.


“Hanya Tebar Kembang saja yang seperti itu,” jawab Bungkuk Gila.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


Obrolan kocak antara Alma Fatara dan Bungkuk Gila mulai membuat kesal Baling Bangba dan para anak buahnya. (RH)


__ADS_2