
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
“Almaaa! Huuu...!”
Sebanyak empat gadis datang kepada Alma Fatara dan memelukinya bersama deraian air mata. Seperti Seleb Tubles yang punya slogan “berdengkulaaan”, keempat gadis itu memeluki Alma dengan erat dan haru.
Dengan dikumpulkannya para Betina Ranjang beserta para lelaki hidung blasternya, empat gadis dari Kampung Siluman segera mengenali Alma Fatara dan berani mendatanginya. Keempatnya sudah tidak perawan lagi.
Dari lima gadis Kampung Siluman yang dijadikan Betina Ranjang sejak beberapa hari yang lalu, memang hanya Lilia Seharum yang berani memberontak dengan imbalan hukuman.
Kini di sore itu, seluruh Betina Ranjang, para pelanggan, dan personel keamanan berkumpul di halaman berumput halus. Mereka menghadap ke arah di mana posisi Alma Fatara berdiri, yaitu di atap bangunan kayu yang menjadi kantor utama dari Sarang Betina Ranjang.
“Raja Betina sudah aku bunuh, sekarang akulah pemilik dan penguasa tempat ini!” seru Alma Fatara kepada khalayak. Lalu dengan bangganya dia memperkenalkan diri, “Aku Dewi Gigi. Namaku Alma Fatara, gadis yang paling cantik di lautan. Hahaha!”
“Hahaha!” tawa orang banyak.
Selain khalayak merasa lucu dengan identitas Alma Fatara, mereka juga menertawakan keompongan Alma Fatara. Ketidakpunyaan dendam atau sengketa dengan Alma Fatara, membuat para Betina Ranjang dan pelanggan hidung blaster mudah tertawa, berbeda dengan pasukan keamanan yang meski patuh, tetapi mereka punya dendam kepada Alma.
“Tempat ini akan aku hancurkan menjadi rata dengan tanah. Jadi, semua wanita kuda betina di tempat ini aku bebaskan!” seru Alma.
“Yeee!” sorak para wanita cantik-cantik.
“Aaa! Kita bebaaas!” jerit seorang Betina Ranjang histeris karena terharunya.
“Kita bebas! Kita bebas!” teriak Betina Ranjang yang lain begitu gembira lalu berpelukan dengan sesama Betina Ranjang sambil melompat jingkrak-jingkrak seperti kuda betina.
“Huuu! Setelah sepuluh tahun aku menjadi betina. Huuu!” ratap seorang Betina Ranjang berusia matang.
Ramailah suara pekik dan tawa kegembiraan puluhan wanita yang berstatus Betina Ranjang. Berbagai ekspresi yang mereka perlihatkan sebagai respon dari pengumuman bersejarah itu. Ada yang tertawa girang, berpelukan, kalem-kalem saja, hingga menangis terharu.
Namun, tidak bagi para pelanggan, terutama yang hasratnya belum tersalurkan pada hari itu.
“Sekarang kalian semua pergi! Kosongkan tempat ini! Sebelum hari gelap, tempat ini akan musnah!” teriak Alma Fatara keras sebagai final dari rapat umumnya.
Sweast! Bluar!
Tiba-tiba Alma Fatara meleasatkan sinar emas menyilaukan mata ke sebuah bangunan kayu kosong yang cukup dekat dari lokasi.
Ledakan hebat terjadi yang menghacurkan bangunan kayu itu berkeping-keping seperti dihantam rudal sungguhan. Bukan hanya bangunan yang hancur mengerikan, tetapi tanahnya juga menjadi kawah kering yang besar.
“Aaa! Lariii! Aku tidak mau mati!”
Para Betina Ranjang pun jadi panik kocar-kacir lalu ngacir beramai-ramai menuju jalan keluar. Mereka yang semuanya wanita biasa itu jadi sangat ketakutan. Para pelanggan hidung blaster juga ikut berlarian. Jika dia lelaki sederhana apa adanya, dia akan berlari panik. Namun jika dia dari kalangan pendekar, akan terlihat dia hanya berjalan kesal.
Pasukan keamaan Sarang Betina Ranjang pun bubar. Mereka semua bergerak menuju keluar dan akan meninggalkan tempat itu.
“Jangan sampai ada yang tertinggal di tempat ini, karena aku tidak akan menjamin nyawanya!” seru Alma Fatara.
Terlihat sangat gaduh pergerakan manusia itu. Mereka berebut jalan keluar seperti orang takut kehabisan sembako gratis. Jalan yang lebar menjadi sempit karena berebut. Bahkan ada Betina Ranjang yang jatuh lalu terinjak-injak dan mati. Risiko berebut jalan.
Tinggallah Alma Fatara dan rekan-rekannya di tempat itu. Mereka sudah berkumpul kembali.
“Kakak Lilia Seharum dan yang lainnya sudah kita selamatkan, Kakang Lingkar dan yang lainnya kembalilah ke Kampung Siluman, sebelum hari benar-benar gelap. Urusan nyawa Tebar Kembang serahkan kepadaku dan Kakek Bungkuk,” ujar Alma Fatara.
__ADS_1
“Hehehe!” kekeh Bungkuk Gila.
“Tapi kami ingin berguru terus kepada Guru,” kata Manila Sari.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila terbahak. “Pulanglah kalian, nanti aku dan cucu cantikku ini akan menyusul pulang. Aku sebenarnya ingin menjadi guru kalian, tapi aku ini guru yang genit. Hahaha!”
“Jika begitu, aku saja yang Guru jadikan murid, Manila jangan,” kata Arguna.
“Hahaha! Tenang saja, kalian bertiga akan aku jadikan murid. Aku hanya mesum kepada lawan, tidak kepada murid sendiri. Nanti aku akan mengajar kalian di Kampung Siluman, agar tidak ada yang berani macam-macam kepada Kampung Siluman lagi,” kata Bungkuk Gila.
“Terima kasih, Guru!” ucap Lingkar Dalam dan Arguna sambil cepat turun berlutut menghormat di depan kaki Bungkuk Gila yang kemudian hanya tertawa-tawa jumawa.
“Benar, Guru? Kau berjanji tidak akan mencabuliku jika aku menjadi muridmu?” tanya Manila Sari antusias.
“Aku ini aslinya bukan lelaki cabul. Aku hanya berpura-pura cabul,” tandas Bungkuk Gila.
“Aku bersedia menjadi muridmu, Guru,” ucap Manila Sari lalu turun berlutut ikut kakaknya.
“Aku juga, Guru. Tolong ajari aku,” ucap Lilia Seharum setelah ikut turun berlutut.
“Aku juga, Guru,” ucap gadis Kampung Siluman lainnya.
Akhirnya semua gadis Kampung Siluman itu berlutut semua.
“Hahaha! Aku sangat senang jika punya banyak murid perempuan, apa lagi cantik-cantik,” kata Bungkuk Gila sembari tertawa senang.
“Bukankah Kakek berjanji tidak akan mencabuli murid sendiri? Kenapa tertawa Kakek sepertinya begitu licik?” tanya Alma Fatara.
“Memang apa yang salah dengan tertawaku? Iya, aku berjanji,” kata Bungkuk Gila jadi gelagapan.
“Hahaha!” tawa terbahak Geladak Badak, yang kemudian mereka tertawa bersama.
“Fukrr!”
Tiba-tiba Alma Fatara menyemburkan darah lewat mulutnya, lalu jatuh terlutut.
“Cucuku!” sebut Bungkuk Gila terkejut.
“Alma!” sebut yang lainnya terkejut dan cemas.
“Tidak apa-apa, Kek,” ucap Alma cepat. Memang, sejak tadi dia menahan luka dalamnya agar terlihat sangat sakti di mata publik.
Dengan agak mengeluarkan tenaga, Alma Fatara kembali bangkit berdiri.
“Kalian segeralah kembali. Hari semakin gelap!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Alma,” ucap Lingkar Dalam mewakili yang lain.
Lingkar Dalam, Arguna, Manila Sari, Geladak Badak, Lilia Seharum dan empat gadis mantan Betina Ranjang berpamitan dan pergi. Tinggallah Alma Fatara, Bungkuk Gila, Cantik Gelap dan Lirik Lirik Yo bertahan di tempat yang kini sepi itu.
“Kakek, tolong jaga aku sebentar. Aku mau mengobati diriku sendiri,” kata Alma Fatara.
“Kau tidak mau aku obati, Alma?” tanya Bungkuk Gila.
“Tidak, aku tidak mau dicabuli olehmu,” jawab Alma Fatara.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara juga.
Alma lalu pergi masuk ke sebuah ruangan. Di ruangan itu, Alma Fatara merebahkan diri begitu saja di lantai papan. Dia melakukan pengobatan Bola Hitam.
Sementara di luar, Bungkuk Gila berjaga sambil bercengkrama dengan kedua wanita pelayan setianya. Sesekali tawanya meledak.
Setelah berlalu satu putaran jam, seiring hari mulai gelap dengan langit masih memutih, Alma Fatara sudah selesai pengobatan. Kondisinya sudah kembali baik. Luka dalamnya sudah sirna setelah muntah tiga kali.
Ketika keluar ruangan, Alma Fatara melihat Bungkuk Gila sedang tertidur, sementara kedua pelayan setianya tanpa henti memijit-mijit paha dan lengannya.
Alma Fatara membiarkannya. Dia lalu berkelebat menuju ke area tengah Sarang Betina Ranjang.
Di sana, Alma Fatara mengeluarkan Bola Hitam dalam kondisi terbagi dua di kedua genggaman. Dia lalu merentangkan kedua tangannya dan mulai berputar dengan satu kaki menjadi poros tumpuan, seperti putaran tubuh penari balet.
Dari dua genggaman tangan Alma muncul sinar biru terang. Putaran tubuh Alma makin lama semakin kencang. Angin kencang mulai muncul dari putaran tubuh Alma Fatara yang tanpa henti.
Karena sudah dua kali pernah menggunakan kesaktian Bola Hitam yang satu ini, Alma Fatara semakin menguasai cara mengaktifkan Angin Tujuh Langit, angin yang digunakan untuk menghancurkan sebuah pasukan.
Wusss!
Tidak berapa lama muncullah pusaran angin yang bisa dilihat keberadaannya oleh mata telanjang. Sebenarnya bukan anginnya yang terlihat, tetapi partikel-partikel yang diterbangkannya mengikuti arus putaran angin.
Seeerr! Pletak pletak!
Suara gemuruh dedaunan yang tergoyang-goyang angin mulai bising terdengar. Dedaunan yang lebih dulu terisap mengudara di langit lepas. Suara atap-atap bangunan yang terbongkar mulai berteriak mengamuk.
Suara bising yang terjadi, di tambah angin yang sudah bertiup kencang ke area sekitar, membuat Bungkuk Gila bangun dengan terkejut, seperti terbangun dari mimpi digigit sepuluh Betina Ranjang. Dia melihat ke sekitar dengan serius dan waspada. Dia sudah melihat ada tornado di area tengah tempat itu, tapi dia tidak melihat keberadaan Alma.
“Apa yang terjadi?” tanyanya sambil bangkit berdiri. Sementara kedua pelayan setianya tetap saja memijiti kakinya.
Dengan tanpa perasaan, Bungkuk Gila berjalan cepat masuk ke dalam ruangan tempat Alma Fatara tadi mengobati diri, membuat tangan kedua wanita itu tertarik dan keduanya jatuh terbaring di lantai.
“Alma!” panggil Bungkuk Gila.
Tidak menemukan Alma Fatara di dalam, kecuali kotoran dari muntahannya, Bungkuk Gila segera menghilang. Tahu-tahu dia muncul di pucuk atap sebuah bangunan yang sebagian atapnya sudah terbongkar oleh angin.
Dari atas atap itu, dia bisa melihat Alma Fatara sedang berputar seperti gangsing di ujung bawah angin tornado yang semakin tinggi dan kencang. Dedaunan dari pepohonan di tempat itu sudah memenuhi bagian atas angin tornado tersebut.
Tiba-tiba Alma Fatara keluar dari dalam angin, sementara angin berputar secara mandiri. Alma keluar dan merapikan rambutnya.
“Cucu Cantikku! Apa yang kau lakukan?!” teriak Bungkuk Gila bertanya.
Alma Fatara menengok ke arah posisi Bungkuk Gila.
“Menghancurkan tempat itu!” teriak Alma.
Dia tidak tertarik oleh daya isap angin di saat papan-papan dan balok kayu satu per satu tertarik terbang, lepas dari pasaknya.
Wusss!
Alma Fatara mengibaskan tangan kanannya. Dengan begitu, angin tornado itu berjalan menabrak bangunan kayu yang kemudian dibuatnya hancur dan terbang tinggi.
“Dasar gadis gila!” maki Bungkuk Gila lalu cepat menghilang.
__ADS_1
Dia muncul di dekat kedua wanita bonekanya dan mengajaknya pergi keluar dari Sarang Betina Ranjang. (RH)