Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 19: Tuntutan Alma


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Kepala Juru Aman Kubil Gersang sudah melesat di atas kawah kering menuju kepada Alma Fatara, yang baru saja menghancurkan area gerbang Sarang Betina Ranjang itu. Alma Fatara memilih menunggu sampainya serangan.


“Seraaang!” teriak para pendekar dan prajurit berseragam ungu bergerak maju beramai-ramai menyerang Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam dan Geladak Badak.


Mereka tidak lagi menghiraukan rekan-rekannya yang sudah menjadi mayat dan terluka sebelumnya oleh kedahsyatan Pukulan Bandar Emas.


“Aku tidak akan mati sebelum membebaskan adikku! Hiaaat!” teriak Lingkar Dalam sambil berlari maju pula dengan kedua kesaktian di tangannya, yakni Tali Cekik Nyawa dan Genggam Petir, padahal dia sudah menderita luka dalam usai terkena pukulan jarak jauh Kubil Gersang barusan.


“Hiaaat!” teriak Manila Sari dan Arguna bersamaan sambil menyongsong kedatangan para personel keamanan Sarang Betina Ranjang.


Sreeet!


Tidak tanggung-tanggung, Geladak Badak langsung main Rantai Dedemit yang segera memakan korban nyawa.


Alma Fatara membiarkan serangan pedang Kubil Gersang datang karena dia telah menyiapkan perangkap.


Tek!


“Huakhr!” jerit Kubil Gersang dengan tubuh terlempar ke belakang ketika tusukan pedangnya ditahan oleh Alma dengan telapak terbuka, sampai-sampai banyak darah yang tersembur keluar dari mulutnya.


Di saat Kubil Gersang terlempar lemas dan jatuh ke dinding kawah tanah yang kering, Alma Fatar langsung melesat mengejar tubuh lelaki yang baru menjadi korban ilmu Tapak Rambat Daya.


Set!


“Ekr!” erang Kubil Gersang kian terkejut, ketika merasakan ada lilitan benang yang sangat tajam di lehernya. Ia bahkan merasakan kulitnya teriris sedikit.


Seketika Kubil Gersang tidak berani bergerak. Alma Fatara telah berdiri di dekatnya dengan jari memegang dua sisi Benang Darah Dewa yang telah menjerat lehernya.


“Perintahkan pasukanmu mundur, Kakang. Atau, lehermu putus!” perintah Alma Fatara sambil mengendorkan sedikit Benang Darah Dewa, tapi tidak membuat Kubil Gersang aman.


“Munduuur!” teriak Kubil Gersang kencang, yang didengar oleh semua pasukannya.


Pasukan yang sedang bertarung mengeroyok rekan-rekan Alma Fatara berhenti sejenak dan menengok. Mereka bisa melihat Kepala Juru Aman dalam kondisi tersandar di dinding kawah dan dalam kondisi menyerah di dekat kaki Alma Fatara.


Melihat kondisi itu, buru-buru pasukan prajurit dan pendekar segera mundur, satu tindakan yang tidak mereka sukai karena sejumlah rekan mereka sudah tewas.

__ADS_1


Namun, pergerakan mundur pasukan Sarang Betina Ranjang menyelamatkan Lingkar Dalam, Arguna dan Manila Sari yang saat itu sudah dikepung oleh para pendekar yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari prajurit berseragam ungu.


Berbeda dengan Geladak Badak yang memiliki Rantai Dedemit, yang banyak membunuh prajurit tanpa disentuh langsung.


Karena kemampuan Lingkar Dalam, Arguna dan Manila Sari yang tidak mumpuni untuk menghadapi keroyokan para pendekar tingkat menengah, Alma Fatara langsung menyandera Kubil Gersang.


Ternyata pasukan keamanan Sarang Betina Ranjang tidak mundur total, tetapi mereka mundur dengan beralih berdiri di separuh bibir kawah tanah, mengepung posisi Alma Fatara dan Kubil Gersang.


“Hei! Mau apa kalian?” tanya Alma Fatara kepada para pendekar itu. “Apakah kalian ingin melihat kepala pemimpin kalian menggelinding? Ayo mundur!”


“Mundur! Mundur!” teriak Kubil Gersang cemas kepada para anak buahnya. Mulutnya penuh darah.


Para pendekar yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu bergerak mundur, menjauhi bibir kawah.


“Aku hanya minta nyawa Tebar Kembang dan gadis-gadis Kampung Siluman dibebaskan. Maka urusan selesai dan tidak akan banyak korban dari kalian. Namun, jika kalian ngotot melawan, tadi kami sudah membunuh dua pasukan Tebar Kembang yang lain di tengah jalan. Sekarang Kakang bisa lihat sendiri, berapa banyak dari kalian sudah menjadi mayat. Namun, jika kalian masih menginginkan lebih banyak mayat, akan aku turuti. Akan aku mulai dari kepala Kakang. Aku hanya minta Kakang kirim utusan ke Tebar Kembang untuk menyampaikan permintaanku. Jika ditolak, aku anggap Tebar Kembang dan seluruh orang-orangnya wajib mati. Bagaimana, Kakang?” tutur Alma Fatara.


“Baik, aku akan mengirim utusan ke Raja Betina, penguasa Sarang Betina Ranjang,” jawab Kubil Gersang.


“Aku ingin disampaikan kepada Tebar Kembang, bukan kepada yang lain!” tandas Alma Fatara.


“Tidak bisa, harus lewat Raja Betina, orang kepercayaan Majikan Tebar Kembang yang memimpin Sarang Betina ini,” bantah Kubil Gersang.


“Lokngot!” teriak Kubil Gersang memanggil satu nama.


Seorang lelaki berpakaian biru gelap segera datang ke pinggir kawah.


“Aku, Kepala!” sahut pendekar berambut gondrong bersenjata pedang itu.


“Laksanakan perintah gadis ini!” perintah Kubil Gersang.


“Temui Raja Betina dan sampaikan bahwa pendekar dari Kampung Siluman meminta nyawa Tebar Kembang. Dan bebaskan gadis-gadis Kampung Siluman yang ditawan di sini. Jika permintaanku ditolak, Tebar Kembang dan semua orang-orangnya aku anggap wajib mati. Jika permintaanku ditolak, maka leher pemimpin kalian ini akan langsung aku penggal,” ujar Alma Fatara.


“Cepat pergi!” perintah Kubil Gersang.


“Baik!”


Pendekar yang bernama Lokngot segera berbalik dan berkelebat pergi masuk ke kawasan Sarang Betina Ranjang.

__ADS_1


Setelah itu terciptalah masa tunggu dengan leher Kubil Gersang tetap menjadi sandera. Kepala keamanan itu tetap harus terbaring di dinding kawah dalam kondisi terluka parah setelah terkena kedahsyatan ilmu Tapak Rambat Daya. Darah pun sudah ada yang mengalir keluar dari kulit leher yang tersayat oleh ketajaman Benang Darah Dewa.


Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam dan Geladak Badak mendekat ke posisi Alma Fatara.


“Kakang, Manila Sari, kalian akan sulit jika terus memaksakan bertarung dengan lawan dari kalangan pendekar sebanyak ini. Aku sarankan kalian mundur, serahkan urusan nyawa Tebar Kembang dan kebebasan Kakak Lilia Seharum kepadaku dan Kakek Bungkuk,” saran Alma Fatara kepada rekan-rekannya.


“Aku tidak bisa tenang jika tidak terlibat langsung untuk membebaskan adikku,” kata Lingkar Dalam.


“Kakang sudah dalam kondisi terluka dalam. Jika memaksa, bukannya menolong, tetapi justru celaka!” tandas Alma Fatara.


“Benar, lebih baik kita mundur, Lingkar. Kita harus sadar diri bahwa kemampuan kita tidak bisa berbuat banyak jika harus menghadapi para pendekar tingkatan seperti ini,” kata Geladak Badak. Sebenarnya dia juga merasa berat jika harus memaksa bertarung, meski dia memiliki Rantai Dedemit.


“Baiklah, kami akan pergi,” kata Lingkar Dalam setuju.


Drap drap drap...!


Namun, belum juga mereka bergerak, tiba-tiba terdengar suara lari orang banyak. Seiring itu, muncul ratusan prajurit berseragam biru-biru yang berlari cepat dan teratur. Dalam waktu singkat mereka telah mengepung area kawah kering tempat Alma dan rekan-rekan berada.


Pasukan berjumlah sekitar tiga ratus nyawa itu melakukan pengepungan dengan lingkaran empat baris tebalnya. Pasukan panah adalah lapisan paling dalam, setelahnya pasukan tombak. Pasukan itu adalah Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu.


Di belakang pasukan pemerintah itu ada seorang punggawa berkuda seorang diri. Pakaianya lebih berhias dibandingkan mendiang Wakil Panglima Tejo. Lelaki gagah itu berusia separuh baya.


Jika Tejo adalah Wakil Panglima, maka lelaki berkuda itu adalah Panglima Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu. Namanya Panglima Kirat Ipok.


Pengepungan itu membuat Lingkar Dalam, Arguna dan Manila Sari kembali bersikap siap tarung dengan tangan berlistrik ungu.


Sreeet!


Suara rantai tanpa wujud pun terdengar. Geladak Badak siap juga untuk bertarung.


“Pasukan Pemerintah jangan ikut campur!” seru Alma Fatara lebih dulu.


“Kalian telah membunuh Wakil Panglima Tejo dan pasukannya. Bagaimana bisa tidak ikut campur. Justru kedatangan kami untuk menangkap kalian!” seru Panglima Kirat Ipok yang berusia lebih separuh baya, tapi masih terlihat gagah.


“Kami membunuh karena kami ingin dibunuh. Kami membunuh karena keluarga kami dibunuh. Jangan sampai aku membantai pasukan pemerintah yang tidak bersalah, Paman!” seru Alma Fatara.


“Sombong sekali kau, Wanita Muda!” kata Panglima Kirat Ipok.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara. “Jika aku bisa membantai pasukan Kerajaan Ringkik seorang diri di Kampung Siluman, tentunya aku layak menyombongkan diri.”


“Apa?” kejut Kirat Ipok yang pikirannya langsung teringat cerita pasukan Kerajaan Ringkik yang jumlahnya ribuan prajurit habis dibantai dalam sekejap oleh seorang pendekar wanita Kampung Siluman. (RH)


__ADS_2