
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Macan Batu! Perempuan itu yang telah membunuh Macan Elang dan Macan Beringas!” teriak Macan Brewok kepada saudara seperguruannya yang sedang terdesak oleh Ki Tonjok Gila.
Trak!
Macan Brewok sedang menangkap bacokan pedang Komandan Gebuk Sewu dengan cakar-cakarnya yang bersinar hijau. Saling adu tenaga pun terjadi.
“Iya. Aku tidak bisa meninggalkan setan gorong-gorong ini!” teriak Macan Batu pula
“Keparat Ayam, kau menyebutku setan gorong-gorong! Rasakan Gebukan Gilaku!” teriak Ki Tonjok Gila.
Lelaki pendek dan kekar itu bergerak sangat cepat menyerbu Macan Batu dengan gebukan tangan yang beritme cepat seperti orang yang membabi buta, seolah-olah asal gebuk seperti sedang memukuli maling pacar.
Buk buk buk ...!
Gerak gebuk yang sangat cepat, seperti seorang penggebuk profesional, membuat Macan Batu kelabakan dan berusaha melindungi wajahnya dari gebukan. Namun, gebukan seperti seribu tangan itu tidak hanya mengincar wajah, tetapi juga mengincar anggota tubuh mana saja yang bisa di gebuk.
Ki Tonjok Gila yang memiliki ilmu tonjok hebat di masa lalu, sudah tidak bisa menggunakan ilmu itu karena rusaknya pergelangan tangannya. Namun, dia masih memiliki beberapa ilmu hebat yang tidak mengandalkan kepalan tinju, salah satunya adalah Gebukan Gila yang mengandalkan kedua batang tangan.
Bret bret!
Buk buk!
“Hugk!” keluh Macan Batu ketika wajahnya mendapat dua hantaman yang membuatnya terjajar sempoyongan nyaris jatuh.
Itu terjadi ketika dalam kondisi dihujani gebukan tanpa jeda, Macan Batu membalas dengan cakaran sinar hijau ke dada Ki Tonjok Gila. Dengan demikian, wajah Macan Batu terbuka dari pertahanan.
Ternyata Ki Tonjok Gila kebal oleh cakaran, hanya bajunya yang robek parah. Saat itu pula, dua gebukan menghantam wajah Macan Batu.
Melihat lawannya nyaris jatuh, Ki Tonjok Gila tidak memberi ruang bagi Macan Batu untuk bisa bernapas lega dan mencoba menjauh. Pendekar yang baru bebas dari penjara itu cepat mendera Macan Batu dengan gebukan yang cepatnya seperti tanpa bayangan.
Macan Batu kembali membentengi dirinya dengan kedua tangannya dan pengerahan tenaga dalam.
Buk buk!
“Jiaaakk ...!” jerit tinggi dan panjang Macan Batu sehingga terdengar histeris, ketika dua gebukan Ki Tonjok Gila menyasar ke bawah perut.
Alangkah terkejutnya Macan Brewok mendengar jerit kehancuran Macan Batu.
Bolehlah Macan Batu tahan digebuki dengan pukulan-pukulan bertenaga dalam pada tubuhnya. Namun, jika keperkasaannya yang digebuk sampai pecah, itu lebih sakit dari kematian.
Macan Batu berjongkok sambil pegangi anunya. Wajahnya sudah bersimbah air mata penyesalan menjadi seorang lelaki. Sangat sakit. Sangat sakit. Percayalah, itu sangat sakit. Bukan hanya sakit, tapi juga membuat seluruh tubuh kehilangan tenaga dan semangat hidup.
“Terimalah kematianmu, Macan Ayaaam!” teriak Ki Tonjok Gila sambil menendangkan ilmu pamungkasnya yang bernama Sepak Getir Nyawa.
Dengan kaki kanan menyala kuning, lelaki pendek itu melakukan free kick, seperti gaya tendangan si anak pejabat di negeri masa depan.
Sementara itu Macan Batu sudah tidak berdaya dalam posisi jongkoknya.
Dakr!
__ADS_1
Laksana pesepak bola profesional, Ki Tonjok Gila menendang kepala Macan Batu yang tidak bisa menolak. Terdengar suara tulang pecah.
“Macan Batuuu!” teriak Macan Brewok histeris karena dia hanya bisa menyaksikan saudara seperguruannya tanpa bisa menolong.
Tubuh Macan Batu terpental satu tombak lalu terguling-guling dengan wajah yang sudah berlumur darah. Macan Batu mati saat itu juga dengan kepala yang pecah.
“Aku bunuh kau, Cebooong!” teriak Macan Brewok begitu dendam sambil berkelebat menuju ke posisi Ki Tonjok Gila.
“Jangan kabur, Maung!” teriak Komandan Gebuk Sewu pula sambil ikut berkelebat dan membacokkan pedangnya.
Ketika Macan Brewok mendarat tidak jauh dari Ki Tonjok Gila, Gebuk Sewu justru datang menyerangnya dengan bacokan-bacokan.
Trak trak trak!
Dengan kuku-kuku panjang dan kuatnya, Macan Brewok menangkis agresi pedang Gebuk Sewu yang sejak tadi sulit dia kalahkan.
Zerzzz!
“Aaakk!” jerit Gebuk Sewu saat tiba-tiba lima cakaran Macan Brewok menjalarkan sinar kuning melalui pedang yang ditangkisnya.
Gebuk Sewu mengejang dalam posisi berdirinya.
“Heaaat!” pekik Ki Tonjok Gila yang telah melompat dengan tendangan melesat deras kepada Brewok.
Macan yang tinggal satu itu menghentikan setrumannya kepada Gebuk Sewu, lalu cepat beralih menangkap kaki Ki Tonjok Gila dengan cengkeramannya.
Beg!
Kerasnya hantaman tendangan yang ditangkap itu, membuat Macan Brewok terdorong beberapa tindak. Sambil termundur langkahnya, Macan Brewok mencakar kaki yang ditangkap.
Karena ilmu kebal itulah, membuat Macan Batu tidak begitu berdaya untuk melukai Ki Tonjok Gila.
Tap! Set!
“Akh!” jerit tertahan Macan Brewok ketika tiba-tiba Ki Tonjok Gila telah memegang pedang dan membacok tangannya tanpa sempat menghindar.
Macan Brewok sontak melepaskan kaki Ki Tonjok Gila dan cepat bergerak mundur menciptakan jarak. Tangan Macan Brewok yang terkena bacokan pedang adalah yang kanan. Luka sayatannya cukup dalam hingga ke tulang dan langsung mengeluarkan banyak darah.
Sebelumnya, ketika posisi Ki Tonjok Gila ditarik satu kakinyan oleh Macan Brewok, Komandan Gebuk Sewu yang berdiri lemas usai disetrum, dengan gerakan lemah melemparkan pedangnya kepada Ki Tonjok Gila. Aksi bagi senjata itu ternyata luput dari perhatian Macan Brewok yang fokus kepada kaki lawan.
Jadi itu hal mengejutkan bagi Macan Brewok ketika Ki Tonjok Gila tahu-tahu membacokkan pedang, padahal tadi dia tidak bersenjata.
Luka itu membuat tangan kanan Macan Brewok sulit untuk dipakai bertarung karena lemah dan sangat sakit.
Ki Tonjok Gila kembali melempar pedang di tanganya kepada Gebuk Sewu yang masih menenangkan diri setelah kena setrum. Dia tidak biasa memakai senjata.
“Rasakan Gebukan Gilaku!” teriak Ki Tonjok Gila sambil melesat maju sangat cepat kepada lawan.
Macan Brewok sampai terkejut mendapati lawannya tahu-tahu sudah sampai kepadanya dengan hujan gebukan yang membadak buta.
Bak bik buk! Bak bik buk!
Gebukan dua tangan yang bertenaga dalam tinggi dengan ritme sprint itu membuat Macan Brewok kelabakan. Merasa tidak betah digebuki sebrutal itu, Macan Brewok mencoba melompat mundur menjauhi Ki Tonjok Gila.
__ADS_1
Namun, Ki Tonjok Gila sepeti pasangan besi berani. Baru saja pasangannya menjauh, dia langsung menempel kembali.
Bret bret bret ...!
Macan Brewok menyambut dengan tiga cakaran tangan kiri yang beritme cepat pula. Lagi-lagi dia harus terkejut karena cakarannya yang sudah berenergi sakti tetap tidak bisa merobek kulit tubuh Ki Tonjok Gila, hanya pakaiannya yang semakin robek tidak karuan.
Terlukanya tangan kanannya membuat Macan Brewok kewalahan untuk membendung gebukan yang memang gila.
Zerzzz!
“Aaak!” Kali ini Ki Tonjok Gila menjerit dengan gebukan yang terhenti, ketika cakaran tangan kiri Macan Brewok mengeluarkan sinar kuning yang menjalar menyetrum tubuhnya.
Ternyata, kebal cakaran dan senjata tajam tidak membuat pendekar bertubuh pendek itu kebal sengatan. Meski demikian, daya tahan tubuh Ki Tonjok Gila terhadap setruman tersebut lebih tinggi dari orang biasa semodel Komandan Gebuk Sewu.
Tseb!
“Akhr!” jerit Macan Brewok dengan mulut ternganga lebar dan mata mendelik merah.
Di saat sedang asik-asiknya menyetrum, tiba-tiba Macan Brewok merasakan punggungnya ditusuk begitu sakit. Hal itu membuat setrumannya berhenti dan Ki Tonjok Gila bebas.
Ketika sang macan melihat ke bawah, dilihatnya seujung pedang berlumur darah muncul keluar dari dalam perutnya. Sambil mengerang kesakitan dan mulut mengeluarkan darah kental, Macan Brewaok bergerak pelan menengok ke belakangnya.
Baru saja Macan Brewok melihat sosok orang yang menikamnya dari belakang, Komandan Gebuk Sewu menarik cabut pedang yang menembus tubuh sang macan.
“Cu-cu-curaaang,” sebut Macan Brewok lirih dengan tubuh yang gontai dalam berdiri.
“Tidak ada kecurangan dalam peperangan. Semua muslihat dianggap taktik perang,” kata Gebuk Sewu memberi kuliah sebaris kalimat.
“Rasakan Sepak Getir Nyawaku! Hiaaat!” teriak Ki Tonjok Gila yang melompat sambil mengibaskan kaki kanannya yang telah menyala kuning.
Dakr!
Tendangan itu menghantam kepala Macan Brewok yang sudah sekarat. Terdengar suara tengkorak kepala yang pecah, seiring terbantingnya sang macan ke samping. Matilah Macan Brewok dengan kepala yang juga berdarah banyak.
“Hahaha! Tersisa satu, Paman,” kata Alma Fatara kepada Senopati Gending Suro yang melihat tinggal pertarungan antara Gampar Seblak melawan Emak Lutung.
“Siapa kau sebenarnya, Nisanak?” tanya Gending Suro.
“Aku Dewi Gigi, Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Namaku Alma Fatara, perempuan paling cantik di lautan. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu tertawa jumawa.
“Hahaha!” tawa para prajurit mendengar gaya Alma.
“Hihihi! Dadanya (gayanya) sudah seperti gamis (gadis) paling cantik penjahat (sejagat)!” tawa Ayu Wicara lalu meneriaki Alma.
“Hahaha! Diam kau, Ayu Cantik!” tawa Alma Fatara lalu menghardik Ayu Wicara sambil menunjuknya agak jauh di samping.
“Langsung bunuh saja, Kak Alma! Jangan sisakan kakinya, potong lidahnya, remas bokongnya, tarik jenggotnya!” teriak Ning Ana barbar, membuat para prajurit dewasa di belakangnya terbeliak mendengarnya.
“Hei, Anak Kutu, diiam kau! Aku sedang serius ingin bertarung!” hardik Alma Fatara.
Terdiamlah Ning Ana dengan bibir bengkak yang semakin manyun.
“Hihihi!” tawa Ayu Wicara.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Debur Angkara yang berdiri di sisinya. (RH)