Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 41: Raja Tombak Buto


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


Bses bses!


Raja Tombak Iblis mengangkat kedua tangannya yang kemudian memerah dan terus memerah tambah terang mengeluarkan sinar.


Alma Fatara membiarkan lawannya mengeluarkan kesaktiannya yang lebih tinggi.


Tiga tarikan napas kemudian, pada kedua tangan Raja Tombak Iblis telah tergenggam dua tombak pendek bersinar merah menyilaukan. Kakek berambut putih itu sudah mengeluarkan Tombak Iblis.


“Tombak Iblisnya pasti lebih hebat dari milik anak buahnya,” pikir Alma Fatara. Karena itu Alma mau menjajal kekuatan ilmu tombak lawannya itu.


Bzets bzets!


Tas tas!


Alma Fatara dengan santai mengayunkan tangan kanannya sebanyak dua kali. Dua sinar kuning tipis berbentuk sabit besar melesat menyerang Raja Tombak Iblis.


Si kakek pun dengan santai menangkis kedua sinar tajam itu menggunakan tombak sinar di tangannya. Hasilnya, seolah-olah kekuatan ilmu Sabit Murka tidak ada apa-apanya. Terbukti benturan itu tidak memberi efek apa-apa bagi Raja Tombak Iblis. Bisa disimpulkan bahwa ilmu Sabit Murka tidak bekerja terhadap Tombak Iblis master ini.


“Waktunya membunuhmu, Bocah Ingus!” teriak Raja Tombak Iblis lalu tiba-tiba melesat maju dengan satu tombak dilesatkan kepada Alma.


Set!


“Jangan mendekatiku, Kakek Ganteng! Bahaya!” teriak Alma Fatara pula sambil melesat lurus mundur menjauh, membuat tombak yang dilesatkan mengejar cepat di depannya.


Ini memang lucu. Biasanya kalau mengejar itu posisinya di belakang. Kali ini malah di depan. Dunia memang sudah terbalik.


Set!


Dalam kondisi seperti itu, dua ujung Benang Darah Dewa keluar dan melilit tombak sinar merah. Ternyata tombak sinar itu sekeras tombak besi dan bisa diikat. Dengan demikian, Tombak Iblis bisa ditarik keluar dari lintasan lalu diambil kendalinya oleh kekuatan Benang Darah Dewa.


Terkejut Raja Tombak Iblis melihat tombaknya justru berbelok arah, lalu berputar dan melesat balik melesat kepada tuannya yang juga melesat mengejar Alma Fatara. Ia cepat menahan laju tubuhnya demi menangkap senjatanya dengan tangannya yang bersinar merah pula.


Raja Tombak Iblis agak terbawa oleh kekuatan tombak sehingga langkahnya bergerak ke samping tiga langkah agar tidak jatuh.


Zing!


Di saat Raja Tombak Iblis kewalahan dalam menangkap senjatanya sendiri, Alma Fatara telah memutar-mutar Bola Hitam di atas kepalanya, sehingga satu piringan sinar biru besar muncul berdenging.

__ADS_1


Ziiing!


Ketika Raja Tombak Iblis kembali siap, Alma Fatara melemparkan piringan sinar biru ke samping yang melesat jauh tidak langsung menargetkan lawannya.


Pada saat yang bersamaan, Alma Fatara melesat maju mendekati posisi Raja Tombak Iblis.


Kakek yang sudah tua itu sudah bisa menduga maksud dari pelepasan piringan sinar biru yang melesat memutari pinggiran arena. Pada saat yang bersamaan dia harus melayani serangan langsung Alma Fatara yang bertangan kosong, tetapi disertai sepasang ujung Benang Darah Dewa.


Lagi-lagi pertarungan mode cepat terjadi dalam waktu singkat. Seharusnya Raja Tombak Iblis unggul kondisi karena dia menggunakan dua tombak sinar, apalagi tusukan-tusukan pusaka benang tidak bisa menembus kulitnya.


Namun, Raja Tombak Iblis merasa sangat terganggu oleh kerja Benang Darah Dewa yang suka melilit tangan dan lengannya, sehingga gerakannya selalu tertahan dan melambat. Kondisi ini pernah dialami oleh mendiang Senopati Gending Suro sebelum matinya.


“Hahaha! Memang dasar sudah tua!” ejek Bungkuk Gila lagi dari atas pagar. Dia kali ini dari sisi yang lain karena main tikus-tikusan dengan murid-murid Raja Tombak Iblis.


Wess!


Ziing! Bzet!


Raja Tombak Iblis agak terkejut ketika dia tidak melihat keberadaan piringan sinar biru. Pandangannya yang harus terbagi kepada Alma Fatara dan sempat melirik kepada Bungkuk Gila di atas, membuatnya kehilangan visual piringan sinar biru yang tadi sudah datang mendekat.


Tiba-tiba Alma Fatara melompat bersalto jauh ke belakang seiring menusuknya satu tombak sinar merah. Terkejut Raja Tombak Iblis karena piringan sinar biru muncul dari belakang tubuh Alma Fatara yang pergi.


Meski Raja Tombak Iblis bisa merasakan aura sakti kedatangan piringan sinar biru, tetapi dia tidak menyangka akan muncul dari balik tubuh Alma Fatara.


Raja Tombak Iblis hanya sempat menangkis dengan satu tombak sinarnya. Hasilnya, piringan sinar biru yang biasanya memangkas apa saja, jadi hancur buyar.


Namun, Raja Tombak Iblis yang tombak sinarnya juga hancur, terpental cukup jauh.


Ctar! Swuarss!


Pada saat itulah, Alma Fatara melompat mengudara membanting Bola Hitam ke lantai batu. Tercipta ledakan sinar biru lalu dalam waktu yang sangat cepat, api biru menyebar ke segala arah, termasuk menjalari tempat jatuhnya Raja Tombak Iblis.


“Wowww!” pekik para penonton terkejut melihat Kolam Merah menjadi lautan api. Memang tidak semuanya, tetapi sebagian besar.


Raja Tombak Iblis yang tadi menghantam lantai arena dan menderita luka dalam, seketika panik ketika api mencapainya dan membakarnya.


Raja Tombak Iblis tidak berteriak kepanasan karena dia memang kebal. Dia panik karena api biru itu dengan cepat menghanguskan pakaian dan seluruh rambut di kepala dan tubuhnya.


“Hahahak...!” tawa banyak penonton melihat nasib pendekar tua sakti itu.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, Raja Tombak Iblis berdiri dalam kondisi buto. Benar-benar buto dengan kepala yang gundul, tanpa rambut, alis, kumis dan jengggot lagi. Raja Tombak Iblis memang kebal senjata dan api, tetapi pakaian dan rambutnya tidak kebal.


Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Raja Tombak Iblis barusan pun terjadi.


“Hahahak...!” tawa berkepanjangan para penonton, terutama Bungkuk Gila yang paling doyan meledek.


“Jiahahahak...! Bangkotan Merah jadi muda lagi. Jadi imut-imut! Hahaha!” ejek Bungkuk Gila sambil tertawa puas.


Raja Tombak Iblis berdiri diam di lautan api biru dengan dada naik turun, sepasang mata menyala merah dan napas menderu seperti knalpot truk berbahan bakar solar. Ini adalah puncak kemarahannya karena telah dipermalukan semalu-malunya dan semau-maunya.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang kini seperti melayang di udara di atas jilatan api yang berkobar awet.


Sebenarnya Alma Fatara tidak melayang, tapi diangkat oleh dua kaki Benang Darah Dewa. Jujur, dia juga tidak bisa menahan tawanya melihat kondisi porno Raja Tombak Iblis.


Bukan maksud Alma Fatara mau bermata bakul dengan membugili lawannya yang sudah berkulit kendor, maksud awalnya adalah ingin membuat kakek bakar, tetapi ternyata Raja Tombak Iblis malah kebal bakar juga.


Ini benar-benar pertunjukan yang mahal meski bukan yang termahal. Dalam sejarah pertarungan Kolam Merah, baru kali ini ada petarung yang bertarung telanjang bulat alias buto.


Namun, jika Alma Fatara tidak hati-hati, dia juga bisa bernasib sama dengan Raja Tombak Iblis. Bisa-bisa pertandingan hari itu menjadi yang paling mahal.


“Hiaaat...!” teriak Raja Tombak Iblis panjang sambil menghentakkan kedua tangannya ke atas, membuatnya terlihat begitu perkasa. Dia tidak peduli lagi dengan urat malunya yang sudah tidak berpenutup.


Bsuuuss!


Di sekeliling tubuh Raja Tombak Iblis kini ada sepuluh tombak sinar merah menyilaukan melayang, membuat situasi pertarungan kian tegang.


Alma Fatara pun benar-benar harus bersiap. Otaknya segera berpikir cepat mencari cara untuk mengatasi serangan tombak yang pastinya akan mengeroyok. Ia tidak bisa lengah sedikit pun. Lautan api yang awalnya ia andalkan bisa membakar tubuh Raja Tombak Iblis justru lain kenyataannya.


Ziiing!


Melihat lawannya sudah menyiapkan pasukan sinarnya, Alma Fatara kembali memutar Bola Hitam di atas kepalanya, memunculkan piringan sinar biru lagi.


Sets sets sets...!


Ziiing!


Kejap berikutnya, kesepuluh tombak sinar merah yang sudah seperti sepuluh jet tempur, melesat bersamaan ke arah Alma Fatara.


Pada saat yang bersamaan, Alma Fatara melempar Bola Hitam yang melesatkan piringan sinar biru. (RH)

__ADS_1


__ADS_2