
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Setelah meyakini bahwa situasi di atas telah kosong dari prajurit, penyusup dari orang-orang Perguruan Pisau Merah yang bersembunyi di balik pintu rahasia membuka sedikit pintu rahasia yang ada dilantai. Pintu itu ternyata berada di bawah tebaran kayu-kayu yang berserakan. Jangan tanya bagaimana itu bisa terjadi.
Setelah dilihat situasi sepi, tidak ada orang dan tidak ada suara, pintu rahasia itu benar-benar didorong sehingga terbuka dan menggeser serakan kayu-kayu di atasnya.
“Ayo!” komando satu orang yang merupakan pemimpin dari empat lelaki berseragam merah-merah dan enam berseragam prajurit biru gelap. Sebut saja namanya Gentong, akronim dari nama lengkapnya Gendar Potong.
Gentong dan kesembilan rekannya lalu keluar dari ruang bawah itu. Mereka tetap waspada, jika-jika masih ada prajurit musuh yang menunggu mereka dan bersembunyi di dalam kegelapan.
Namun, Pasukan Keamanan Istana yang dipimpin oleh Pajrit Kempit sudah meyakini, kesepuluh orang yang mereka kejar telah hilang dan dinyatakan sudah tidak ada di gudang kayu.
Suasana gudang kayu itu begitu gelap gulita. Mereka bergerak dalam gelap menuju ke bagian depan gudang. Tidak berapa lama, mereka melihat pintu yang terbuka, rusak dan masih menyisakan bara api bekas pembakaran yang dilakukan oleh pasukan Pajrit Kempit.
Setibanya di pintu, mereka harus mengintip dulu suasana di luar gudang. Ternyata kosong.
“Kosong. Ayo kita ke penjara!” kata Gentong berkomando.
Singkat cerita, kesepuluh murid Perguruan Pisau Merah itu menyerang para prajurit yang berjaga di gerbang tembok pagar penjara. Serangan itu berjalan lancar. Mereka mendapat serangan dari beberapa prajurit penjara, tetapi para prajurit penjara itu bisa diatasi.
Memang, dalam hal keahlian bela diri dan kesaktian, murid-murid Perguruan Pisau Merah lebih unggul dibandingkan para prajurit, apalagi hanya sekedar prajurit jaga.
Kurangnya jumlah prajurit, ditambah sebelumnya telah ada yang dibunuh di luar tembok pagar, membuat kesepuluh pendekar pisau terbang itu mudah menyerang masuk ke dalam penjara.
Singkat waktu.
Para prajurit penjara yang ketakutan terhadap serangan itu, memilih kabur untuk bersembunyi di dalam penjara. Namun, baru saja mereka mendekati lorong penjara, mereka sudah bertewasan oleh pisau terbang beracun.
Gentong dan rekan-rekannya yang berdiri di ujung lorong penjara yang remang-remang, cukup terkejut melihat keberadaan bebeberapa orang di ujung lorong yang lain dan hanya berbekal satu obor penerangan.
Obor-obor yang ada di sepanjang dinding lorong penjara tidak bisa memberi gambar yang jelas tentang siapa sekelompok orang di ujung dalam lorong.
“Maju!” seru Gentong berkomando.
Maka kesepuluh lelaki itu berlari kencang menyusuri lorong yang remang-remang mendatangi sekelompok orang di sana. Mereka semua sudah menyalakan telapak tangan mereka, siap melepaskan ilmu Pisau Penghancur.
Kemunculan mereka yang berlari lewat di depan sel-sel penjara mengejutkan para tahanan yang banyak di dalam sel. Mereka heboh melihat ada yang berlari ramai-ramai.
Namun, ketika mereka sudah setengah jalan, tiba-tiba ...
“Apakah kalian murid-murid Perkutuan Pisau Perah?!” teriak satu suara perempuan dari kelompok di ujung lorong tiba-tiba.
“Kurang ajar!” maki Gentong karena merasa diejek nama perguruannya, sehingga dia dan rekan-rekannya terus berlari.
“Tahan, Kisanak!” seru satu suara lelaki tiba-tiba lagi dari kelompok di ujung lorong. “Kita teman!”
Terkejutlah Gentong dan rekan-rekannya.
“Berhenti!” seru Gentong cepat sambil lebih dulu berhenti.
__ADS_1
“Bukankah kalian pasukan Gusti Ratu?” tanya lelaki di ujung lorong yang memegang obor. Dia segera berjalan maju meninggalkan kelompoknya yang adalah Pangeran Bugar Jantung, yang baru naik dari penjara lantai bawah.
Ayu Wicara segera menyusul Debur Angkara yang juga cepat mengenali kesepuluh lelaki itu. Mungkin beda cerita jika kesepuluh orang itu berseragam prajurit semua. Keempat lelaki berpakaian merah itulah yang memudahkan Debur Angkara dan Ayu Wicara mengenali mereka.
“Aku Debur Angkara dan Ayu Wicara. Kami ditugaskan khusus untuk menjebol penjara lewat jalan rahasia,” ujar Debur Angkara.
“Benar itu. Kami diusus (diutus) Gusti Batu Makelar Cium untuk menewaskan Pangeran Sukar Jantung,” kata Ayu Wicara.
Bingunglah Gentong dan rekan-rekannya mendengar kata-kata Ayu Wicara. Mereka semua sudah memadamkan sinar pada telapak tangannya.
“Hei! Bebaskan kami, Kisanak!”
“Bebaskan kami! Bebaskan kami!”
“Buka penjaranya, biarkan kami keluar!”
Tiba-tiba para tahanan yang ada di dalam sel berteriak-teriak sambil memukuli teralis sel mereka, baik dengan tangan ataupun dengan alat apa saja yang mereka miliki, tentunya alat-alat kecil seperti piring, sendok hingga gelas tanah liat.
“Hei! Berisik!” bentak keras Ki Tonjok Gila yang mengandung tenaga dalam.
Sontak para tahanan itu berhenti berteriak dan memukul teralis. Mereka sangat terkejut oleh bentakan itu. Bahkan Debur Angkara dan Gentong bersama rekan-rekannya ikut terkejut. Itu membuat mereka tahu bahwa di antara mereka ada seorang sakti yang bertenaga dalam tinggi.
“Benar, kami adalah pasukan Perguruan Pisau Merah,” kata Gentong. Dia memang mengenal wajah Debur Angkara dan Ayu Wicara, tapi tidak kenal akrab.
“Kami sudah berhasil membebaskan Gusti Pangeran Bugar Jantung,” kata Debur Angkara.
“Kami mendapat perintah untuk menemui orang yang bernama Emak Lutung di dalam penjara ini,” kata Gentong.
Dia lalu berbalik menghadap kepada Pangeran Bugar Jantung.
“Gusti Pangeran, mereka pasukan Gusti Ratu. Mereka ditugaskan untuk bertemu dengan orang yang bernama Emak Lutung,” lapor Debur Angkara.
“Berarti itu sejalan dengan usulanku, Gusti,” timpal Komandan Gebuk Sewu.
“Jika seperti itu, panggil orang yang bernama Emak Lutung itu!” perintah Pangeran Bugar Jantung.
“Siapa di antara kalian yang bernama Emak Lutung?!” teriak Ki Tonjok Gila keras bertenaga dalam, sehingga pertanyaannya terdengar oleh semua tahanan.
“Aku di sini, Pendekar!” sahut satu suara perempuan. Dari jenis suaranya bisa diterka bahwa wanita itu bukan lagi gadis dan sudah tidak muda.
“Di sini mana? Tunjukkan tanganmu ke luar!” perintah Ki Tonjok Gila yang memang terlihat garang.
“Kalian semua mundur!” perintah suara wanita di dalam sel penjara yang gelap.
Pada satu sel di sisi kanan, para tahanan yang menumpuk di teralis bergerak mundur masuk ke sisi dalam. Tinggallah satu sosok bergunung yang menempelkan badan dan wajahnya pada teralis, seolah-olah ingin memaksa tembus keluar.
Sementara di sel yang lain, tahanan masih berjubel di teralis untuk menunjukkan dirinya, siapa tahu terpilih untuk maju ke babak bonus.
Pangeran Bugar Jantung lalu maju mendekati Gentong dan rombongannya. Melihat sosok-sosok tua itu, Gentong menjura hormat yang diikuti oleh rekan-rekannya.
“Hormat sembah kami, Gusti Pangeran,” ucap mereka.
__ADS_1
“Sampaikan apa yang diperintah oleh Gusti Ratu kepada Emak Lutung.
“Baik, Gusti,” ucap Gentong.
Mereka lalu mendatangi orang yang mengaku Emak Lutung. Obor pun di dekatkan. Dua rekan Gentong pergi mengambil dua obor di dinding penjara.
Sosok Emak Lutung adalah seorang wanita bertubuh agak gemuk dan memiliki codet bekas cakaran kucing di pipi kanannya. Usianya bisa ditaksir separuh abad lebih atau kurang setahun dua tahun saja. Sorot matanya tampak tajam. Rambutnya disanggul sederhana seperti ibu rumah tangga. Yang unik, selain alisnya tebal, dia berkumis halus. Kedua tangannya pun memiliki rambut yang cukup lebat bagi seorang waanita. Menurut tabib masa depan, itu karena hormonnya tidak seimbang.
“Nisanak, apakah kau yang bernama Emak Lutung, Ketua Kelompok Lutung Pintar?” tanya Gentong kepada wanita yang sudah tidak menempelkan wajah dan badannya ke teralis.
“Benar. Rupanya, meski aku lama di penjara, kecantikanku tetap tersohor di dunia luar. Hahaha!” kata Emak Lutung.
“Hihihi! Hebat, rupanya penjara bisa meningkatkan raba (rasa) perdaya (percaya) diri,” kata Ayu Wicara.
“Hei, perempuan keberatan pedang, jangan sembarangan kau bicara. Biar aku di sini wanita sendirian, tidak ada yang berani meraba-raba diriku!” hardik Emak Lutung kepada Ayu.
“Hihihi! Dasar nenek budek!” maki Ayu Wicara tapi menertawakan.
“Hahahak!” tawa Ki Tonjok Gila dan para pejabat di belakang mendengar dialog yang tidak tersambung itu.
“Apa perlumu, Kisanak?” tanya Emak Lutung agak membentak.
“Apakah kau masih memiliki pengikut?” tanya Gentong.
“Masih, semua ada di sini. Jika ketuanya masuk penjara, mereka semua juga harus masuk penjara. Jika ketuanya bebas, maka mereka semua juga harus bebas,” jawab Emak Lutung.
“Berapa jumlah anak buahmu?” tanya Gentong lagi.
“Lima puluh empat orang. Semuanya masih hidup,” jawab Emak Lutung. Lalu teriaknya, “Lutung Pintar!”
“Ngik ngik ngik ...!”
Tiba-tiba puluhan tahanan di dalam penjara berjeritan bersuara seperti teriakan monyet-monyet mau kawin. Suasana pun berubah bising seperti di tengah-tengah kawanan primata. Pangeran Bugar Jantung sampai terbeliak mendengar kebisingan itu.
“Hihihik!” tawa Ayu Wicara terkikik.
“Hahahak!” tawa Ki Tonjok Gila pula.
“Berhenti!” teriak Emak Lutung. “Lihat, mereka masih patuh kepada perintahku.”
“Gusti Ratu Warna Mekararum ingin membebaskan kalian dari penjara dan menjadikan kalian bagian dari pasukannya dalam perang sekarang ini. Apakah kau bersedia, Emak Lutung?” tanyang Gentong.
“Tapi kami butuh senjata,” tawar Emak Lutung.
“Kalian bisa mengambil senjata para prajurit yang mati,” kata Gentong.
“Baik. Aku setuju,” sepakat Emak Lutung tanpa ragu.
“Gusti Pangeran,” kata Gentong beralih kepada Pangeran Bugar Jantung. “Untuk sementara, biarkan Kelompok Lutung Pintar menjadi pasukan Gusti.”
“Baiklah.” (RH)
__ADS_1