Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 40: Hadangan Dua Macan


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


“Gusti Putri Manila!” sebut Panglima Rakean terkejut dengan kemunculan Putri Manila Sari dari dalam kegelapan dan langsung main gas, tapi tidak jelas gas tabung atau gas motor.


Kini, rombongan Pasukan Keamanan Istana yang membawa Putra Mahkota Pangeran Jakirwogo di dalam kereta sedang berhadapan dengan tiga gadis cantik jelita, tapi satu orang wajahnya agak-agak menyeramkan di dalam keremangan, yaitu Ning Ana yang wajahnya belepotan darah hidung.


“Waaah, ternyata orangnya Senopati Gending Suro,” ucap Alma Fatara kecewa. “Ning Ana, apa hukumannya bagi orang yang mendustai wanita cantik seperti dirimu?”’


“Peloroti celananya, gantung terbalik, lalu garuk pakai golok sampai mati!” teriak Ning Ana penuh semangat dengan tangan kanan memegang pisau merah.


“Buahahaha! Bukan itu maksudku!” kata Alma Fatara setelah tertawa mendengar jawaban Ning Ana yang mengejutkan.


Bingung Panglima Rakean untuk menyikapi tingkah kedua wanita asing itu. Dia harus meluruskan kesalahpahaman yang diderita oleh Putri Manila Sari.


“Gusti Putri Manila telah salah paham. Memang awalnya aku melaksanakan perintah Senopati Gending Suro, tapi setelah aku bertemu dengan Gusti Ratu Tua, Pasukan Keamanan Istana telah tunduk kepada Gusti Ratu,” kata Panglima Rakean.


“Gusti Ratu Tua?” sebut ulang Putri Manila Sari heran. Dia lalu beralih memandang kepada Alma Fatara yang tadi mengaku pernah bersama Ratu Warna Mekararum selama sepurnama.


“Oooh, jika sudah bertemu Gusti Ratu dan sudah tunduk, berarti kita kawan. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa datar.


“Oh, teman ya? Hihihi!” ucap Ning Ana juga lalu cengengesan.


“Kenapa kalian berdua bersikap seolah-olah mendiang nenekku masih hidup?” tanya Putri Manila Sari.


“Memang masih hidup, Putri Cantik,” kata Alma Fatara sambil berjalan mendekati Putri Manila Sari lalu merangkulkan satu lengannya ke bahu sang putri, sok akrab.


Dengan lirikan tidak bersahabat, Putri Manila Sari membuang tangan Alma Fatara dari bahunya.


“Hahaha!” tawa pelan Alma Fatara melihat sikat tidak bersahabat sang putri. Dia lalu mencium ketiak kanannya, khawatir jika tolakan sang putri gegara bau badan. Namun ternyata aman.


Ingin tertawa para pelayan di belakang kereta melihat gerak garuk Alma Fatara, tapi takut berperkara.


“Kalian jangan berdusta!” tuding Putri Manila Sari.

__ADS_1


“Eit! Ning Ana, apa hukuman orang yang menuduh Panglima Perang berdusta?” tanya Alma Fatara.


“Aku tidak berani, Kak Alma. Dia itu cucu Gusti Ratu,” kata Ning Ana.


“Hahaha! Iya ya,” ucap Alma Fatara lalu tersenyum lebar, memperlihatkana dua gigi ompongnya.


“Hahaha!” tawa beberapa pranjurit Keamanan Istana karena melihat keompongan Alma Fatara yang kali ini terlihat jelas, tapi mereka tahan sehingga hanya mode silent.


“Gusti Putri percayalah kepada kami. Aku dan Komandan Buto Sisik bertemu langsung dengan Gusti Ratu di dalam Istana Keprabuan. Kematian Gusti Ratu adalah rekayasa jahat Senopati Gending Suro,” tandas Panglima Rakean.


Terbeliaklah Putri Manila Sari mendengarnya.


“Betul itu, Gusti Patri,” timpal Alma Fatara pula.


“Gusti Ratu telah memerintahkan aku untuk memindahkan seluruh Keluarga Kerajaan ke Ruang Singa, termasuk Gusti Putra Mahkota,” kata Panglima Rakean. “Tapi kenapa Gusti Putri berkeliaran seorang diri?”


“Aku justru menghindari pasukanmu, Paman Panglima,” jawab Putri Manila Sari ketus.


“Seharusnya Gusti Putri bersama Gusti Pangeran Bugar Bawah, karena semua keluarga Istana sedang dipindahkan oleh Pasukan Keamanan Istana ke Ruang Singa. Gusti Ratu Tua menunggu di sana,” kata Panglima Rakean.


“Gusti Panglima, kita sudah terlalu lama di sini,” kata seorang prajurit mengingatkan junjungannya.


“Silakan ikut kami jika ingin bertemu Gusti Ratu Tua, Panglima!” kata Panglima Rakean kepada Alma Fatara. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Lanjutkan perjalanan!”


Alma Fatara dan Ning Ana segera bergeser sebelum digusur, memberi jalan lapang bagi rombongan itu.


Drap drap drap ...!


Panglima Rakean dan pasukannya kembali berlari.


“Gusti Putri, apakah kau mau ikut atau mau jadi tikus?” tanya Alma Fatara.


Putri Manila Sari tidak menjawab, artinya diam sambil menatap penuh misteri kepada perempuan aneh itu. Aneh karena cantik-cantik tapi giginya ompong dua di depan, ditambah jika tertawa sangat meresahkan pendengaran.


Melihat sang putri diam saja, Alma Fatara lalu mengajak Ning Ana berlari malam, ikut berlari di antara para dayang Putra Mahkota. Para dayang itu hanya tersenyum hambar saat membalas senyuman Alma Fatara kepada mereka sebagai ramah tamah.

__ADS_1


Daripada bingung sendiri, Putri Manila Sari akhirnya memutuskan mengejar rombongan kereta kuda Putra Mahkota sambil tetap membawa gayung yang menjadi senjatanya.


Drap drap drap ...!


Tiba-tiba dari balik sebuah bangunan candi kecil yang ada di lingkungan Istana, muncul satu pasukan yang berjumlah sekitar tiga puluh prajurit. Pasukan berseragam Pasukan Khusus itu berlari menuju jalan depan yang akan dilalui oleh rombongan Panglima Rakean.


Seolah-olah sudah menetapkan rombongan Panglima Rakean sebagai musuh, Pasukan Khusus itu langsung memasang formasi siap tempur dan memblokir jalan.


Tindakan itu memaksa Panglima Rakean menghentikan lari rombongan. Belasan prajurit Pasukan Keamanan Istana kembali berlari maju dan juga memasang formasi siap tempur.


“Hei! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Panglima Rakean gusar sambil menunjuk dengan ujung tongkatnya.


Tiba-tiba dari belakang barisan Pasukan Khusus yang rapat muncul melambung sesosok berpakaian hitam lalu berlari di udara di atas kepala pasukan. Tangan kanannya membawa seberkas sinar kuning yang bergolak.


Sess! Blarr!


“Akk! Akk! Akh ...!”


Selagi masih di udara tinggi, lelaki berpakaian hitam itu melesatkan sinar kuningnya ke bawah, mendarat satu tombak di depan barisan Pasukan Keamanan Istana.


Bersama bagian jalan yang hancur berhamburan ke atas, daya ledak kesaktian itu membuat para prajurit anak buah Panglima Rakean berjengkangan dan mengalami luka.


Sementara kuda Panglima Rakean dan kuda kereta menjadi panik dan meringkik liar. Panglima Rakean cepat mengendalikan kudanya dan menenangkannya.


Kereta kuda jadi terguncang kasar oleh kepanikan dua kuda penarik kereta. Hampir saja kedua kuda berlari liar ke samping, tetapi prajurit yang menjadi saisnya sanggup menenangkan kuda.


Kini, dua tombak di depan Pasukan Khusus berdiri seorang lelaki separuh baya lebih satu setengah tahun. Tubuhnya kurus dengan bahu yang lebar, sehingga seperti korban kelaparan. Meski dia baru saja melakukan serangan ke tanah kosong, tetapi saat ini dia berdiri normal tanpa membawa kuda-kuda. Tatapannya dingin di dalam kegelapan karena pasukannya tidak ada yang membawa obor, sepertinya stok obor sudah habis.


Orang yang jari-jari tangannya berkuku panjang-panjang semodel kuku ayam itu adalah Macan Elang, salah satu anggota dari Empat Macan pendekar bawahan Senopati Gending Suro.


Tiba-tiba, dari belakang barisan Pasukan Khusus muncul lagi satu sosok berpakaian hitam yang melambung naik ke udara lalu berlari di kepala-kepala prajurit. Ending-nya, lelaki bertubuh agak gemuk itu berhenti berdiri di kepala seorang prajurit terdepan.


Terbeliak prajurit tersebut dengan leher tegang, menahan berat tubuh orang tersebut. Dalam hati dia memaki-maki panjang kali lebar kali rendah. Ingin marah, tetapi dia tidak mau hilang nyawa. Dia tahu bahwa orang itu adalah Macan Beringas, anggota dari Empat Macan yang punya kuku-kuku besi bongkar pasang di jari-jari tangan dan kakinya.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara di belakang kereta. Dia sendiri yang tertawa karena melihat nasib si prajurit yang kepalanya dihinggapi siluman macan.

__ADS_1


Tawa Alma Fatara itu membuat kedua Macan mendelik gusar, merasa diejek dan diremehkan. (RH)


__ADS_2