
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Cakar Panggang, Taring Goreng dan Petik Genit gagal menemukan keenam gadis tawanan yang kabur.
Lalu di mana mereka? Jangan dijawab!
Alma Fatara yang sukses membuat Cantik Gelap mengejar kucing di dalam gelap, kembali mendatangi Siringi dan kelima gadis lainnya di malam itu. Ketika Alma Fatara kembali ke posisi persembunyian keenam gadis Kampung Siluman, kondisi lokasi penyerangan Alma terhadap rombongan Kelompok Tombak Iblis sudah sepi.
Setelahnya, Alma Fatara membawa keenam gadis yang diselamatkannya itu ke Peniduran Dewi Mimpi melalui jalan-jalan gelap.
Ternyata, di peniduran, Alma Fatara dihadang oleh juru aman alias sekuriti berbadan besar. Bukan Gigojo, tetapi temannya yang lebih ganteng, yang hatinya gampang luluh jika melihat wanita cantik butuh pertolongan.
“Mereka korban penculikan, Kakang. Mereka butuh tempat sembunyi. Hanya malam ini. Jika mereka tertangkap lagi, mereka akan dijadikan kuda-kuda paksa,” kata Alma Fatara kepada juru aman tersebut.
Karena melihat Alma Fatara yang begitu cantik, dan para gadis yang cantik-cantik tapi kondisinya lemah dan berantakan, juru aman tersebut menaruh iba. Ia langsung teringat kepada neneknya yang ada di rumah. Karena itulah dia mengizinkan Alma Fatara membawa masuk Siringi dan kelima gadis lainnya.
Keenam gadis itu dimasukkan ke kamar sewa milik Alma Fatara. Kamar yang tidak begitu besar, membuat keenam gadis harus berbagi kesempitan. Namun itu tidak masalah, yang terpenting mereka nyaman dan aman.
Sementara Alma Fatara memilih bergerilya di tengah malam. Ternyata, anak-anak kekasih kuda masih ada di sekitar depan peniduran, bahkan beberapa di antaranya tidur begitu saja di tempat yang terbuka tapi nyaman.
__ADS_1
Alma Fatara pergi membangunkan Kunthul, kekasih kuda yang mengurus kudanya. Dia bertanya dan mengajak anak itu untuk pergi mencari pedati warga yang bisa dibeli mahal.
Setelah mencari, ternyata Alma dapat juga pedati yang diinginkan, tanpa membeli kudanya. Meski demkian, tetap dibeli mahal karena sejatinya pedati itu tidak untuk dijual. Alma dan Kunthul harus membangunkan pemilik pedati di tengah malam.
Rencana Alma Fatara pun dijalankan ketika menjelang pagi. Dia membangunkan semua orang-orangnya. Sabung ditugaskan menjadi sais pedati yang membawa keenam gadis Kampung Siluman pulang. Sementara Manila Sari tidak mau pulang tanpa bersama Alma Fatara.
Ketika keenam gadis Kampung Siluman kembali diselundupkan ke luar, Alma Fatara mencari juru aman berhati lembut lalu memberinya hadiah menggunakan uang milik Manila Sari. Mau tidak mau Manila Sari harus berkorban uang cukup banyak.
Alma Fatara hanya mengawal pedati sampai ke luar Kotabatu Niwakmaya. Setelah itu, mau tidak mau, Sabung harus berjuang sendiri sebagai juru aman dari keenam gadis itu. Jadilah Sabung sebagai pahlawan dan orang yang diandalkan selama perjalanan.
Waktu sebelum pagi dipilih demi menghindari orang-orang Kelompok Tombak Iblis yang tentunya akan fokus berdatangan ke gapura kedua, yang cukup jauh dari peniduran.
Dan memang, ketika Alma Fatara dan Manila Sari berkuda ke gapura kedua, ternyata di sana sudah ramai oleh orang. Bukan hanya ramai oleh orang-orang berpakaian merah dan bersenjata tombak, tetapi juga oleh warga kotabatu dan para pendekar lain. Sementara para pendekar utama dari Kelompok Tombak Iblis belum terlihat, baru para anggota pengawal.
“Penantang itu datang!” teriak seorang anggota Kelompok Tombak Iblis saat mengenali Alma Fatara yang datang berkuda bersama Manila Sari. Lelaki itu tidak lain adalah sais pedati yang tadi malam tidak sempat tukar nomor telepon dengan Alma.
Teriakan itu membuat khalayak ramai memusatkan perhatian ke arah kedua penunggang kuda yang baru datang.
“Waaah! Cantiknyaaa!” desah sebagian besar lelaki yang pertama kali melihat kecantikan dua gadis segar itu. Sementara sebagian wanita yang ada di tempat itu justru memicingkan mata dan memberi satu sudut senyuman yang meremehkan, karena mereka merasa lebih cantik dan setidak-tidaknya mereka lebih dikenal oleh para lelaki di kotabatu tersebut.
Meski lucu melihat reaksi wajah-wajah sebagian kaum batangan, tetapi Alma Fatara kali ini harus terlihat seperti es campur, cantik dan dingin. Alma Fatara mengedarkan pandangannya mencari wajah-wajah yang pernah menyerbu bukit batu Kampung Siluman. Namun, satu pun wajah itu tidak terlihat.
__ADS_1
Alma Fatara lalu melompat meninggalkan kudanya dan berlari di udara ke arah tiang batu gapura. Alma Fatara nemplok seperti cecak di tiang gapura. Belum juga para penonton berkomentar, mereka dibuat terkejut karena melihat Alma Fatara seperti makhluk dari alam jurig.
Tanpa menggunakan kedua tangan dan kakinya, tubuh Alma Fatara bergerak cepat merayapi tiang batu naik ke atas. Benar-benar seperti binatang berwujud perempuan cantik. Lalu pada puncaknya, Alma Fatara melompat tinggi mengudara dan mendarat di puncak gapura.
Jangan ditanya bagaimana cara Alma Fatara bisa naik tanpa menggunakan kedua tangan dan kedua kaki, sehingga membuat khalayak dan bahkan para pendekar terperangah. Para pendekar sakti yang hadir mencoba mengingat-ingat rumusan apa yang bisa membuat seseorang memanjat tapi tidak seperti monyet. Namun, mereka tetap bingung merumuskannya.
Alma Fatara yang kini berdiri gagah di atas gapura yang empat kali tinggi manusia dewasa itu, memaksa orang-orang mendongak jika ingin melihat kecantikannya yang tersembunyi oleh ketinggian. Untung, Alma Fatara tidak menggunakan rok, jadi pakaian bawahnya tidak perlu berkibar-kibar ala Marilyn Monroe.
“Di mana anggota Buah Kematian? Apakah sudah takut dengan kematian?” seru Alma Fatara lantang sambil memandang ke seantero langit, bukan ke bawah, menunjukkan keangkuhannya sebagai pendekar kemarin pagi.
“Hei, Gadis Cantik Jelita yang datang dari pelangi! Siapakah kau gerangan sehingga berani menantang 13 Buah kematian?!” teriak seorang pendekar separuh baya berjubah biru bolong-bolong. Bukan bolong karena digigit tikus, tetapi memang modelnya seperti itu. Fashion katanya. Dia bernama Geladak Badak, seorang pendekar bersenjata rantai kecil yang melilit di leher, pinggang dan kedua pergelangan tangannya. Dia tidak memiliki julukan, tetapi dijuluki sebagai Pendekar Rantai Dedemit. Dia bisa merasakan adanya aura sakti yang kuat pada diri Alma Fatara, tetapi dia tidak tahu aura kesaktian apa itu.
“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar pujian itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Hahahak! Pendekar cantik itu ompong!” teriak seorang pendekar lain sambil menunjuk Alma Fatara. Posisinya yang agak di belakang kerumunan membuatnya bisa melihat jelas keompongan Alma saat tertawa lebar.
“Hahaha!” tawa sebagian orang, padahal mereka baru sekedar mendengar teriakan pendekar muda bertubuh kurus seperti pemakai. Dia bernama Bambu Jangking, pendekar yang membawa tongkat bambu hitam setinggi satu setengah tinggi tubuhnya.
Tiba-tiba sebagian warga bergerak beramai- ramai pindah posisi ke tempat Bambu Jangking, termasuk Geladak Badak yang juga segera bergeser. Dia juga begitu penasaran, benarkah pendekar wanita yang baru dipujinya setinggi langit itu benar-benar ompong.
Pemandangan itu jadi terlihat lucu. Kabar keompongan Alma dari mulut Bambu Jangking benar-benar mengusik rasa ingin tahu mereka.
__ADS_1
Melihat tingkah massa di bawah sana, Alma Fatara mau tidak mau tertawa terbahak karena menilai lucu.
“Hahaha!” tawa orang banyak akhirnya saat mereka benar-benar melihat keompongan Alma yang fenomenal. (RH)