Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 12: Pendekar Tukang Ledek


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Belasan bola sinar jingga kembali menghantam sisi luar kubah sinar biru muda yang melindungi posisi Alma Fatara dan kawan-kawan. Ketujuh orang dan kelima kuda di dalam lindungan kubah sinar semakin terguncang, seolah-olah menunjukkan bahwa kubah sinar itu pasti akan hancur pada akhirnya.


Tejo yang sudah tiga kali melepas ilmu Badai Api untuk berusaha menghancurkan ilmu perisai Bungkuk Gila, kembali mencoba. Tentunya kali ini dengan tenaga sakti yang ditingkatkan ke level setan.


“Apa yang kau lakukan, Tejo?” tanya seorang pemuda tampan berambut gondrong dan berpakaian hijau kehijau-hijauan. Dia membawa pedang model golok atau golok model pedang. Jangan ditanya senjata apa sebenarnya itu!


Agak terkejut Tejo mendapat pertanyaan itu. Dia tidak melihat kedatangan pemuda itu, tahu-tahu sudah di sisi kudanya dan bertanya. Bukan berarti pemuda itu muncul seperti setan, tetapi karena Tejo sedang fokus ke sudut lain.


“Kau, Kapur Basur,” sebut Tejo mengenali pemuda berjuluk Sabit Pencabut Nyawa itu. Jangan ditanya kenapa julukannya “Sabit” sedangkan senjatanya adalah golok atau pedang!


Tejo juga melirik seorang wanita separuh baya bertubuh langsing tapi punya badan depan yang besar. Wanita berambut disanggul sederhana itu mengenakan pakaian warna kuning dengan senjata cambuk yang ujungnya berhias mata pisau. Wanita berwajah tidak lebih cantik dari Cantik Gelap itu dikenal dengan nama Gadis Cambuk Tajam. Meski julukannya memakai nama “Gadis”, tetapi dia sudah tidak gadis. Usianya saja sudah berkata demikian.


Perlu diketahui, Sabit Pencabut Nyawa dan Gadis Cambuk Tajam adalah dua pendekar anak buah Tebar Kembang.


Mereka datang ke tempat itu karena laporan seorang prajurit pendekar dari Pasukan Berkuda Satu yang kabur selamat dari pembantaian Alma Fatara dkk. Ketika pasukan berkuda kacau, ada satu prajurit yang dibawa kabur oleh kudanya yang kemudian melapor. Maka dalam sewaktu kilat, Tebar Kembang memerintahkan dua pendekar itu pergi menengok ke lokasi pertarungan.


Ternyata, ketika Sabit Pencabut Nyawa dan Gadis Cambuk Tajam tiba, Gading Margin dan pasukannya sudah bergelimpangan, berganti dengan pengepungan yang dilakukan oleh Pasukan Keamanan Kotakayu Darabisu pimpinan Tejo.


Untuk memperjelas apa yang sedang terjadi, Sabit Pencabut Nyawa pun bertanya kepada Tejo.


“Aku sedang berusaha menghancurkan benteng perisai itu,” kata Tejo.


“Ah, itu mah remeh. Serahkan padaku,” ucap Sabit Pencabut Nyawa sombong.


“Terima kasih. Satu kali lagi hantaman Badai Api, perisai itu pasti hancur,” tolak Tejo, balas sombong.


“Hei hei hei! Kalian ke mari semua!” panggil Bungkuk Gila kepada semua manusia normal yang ada di dalam kubah itu. Itu artinya kecuali Cantik Gelap yang sedang tidak normal.


Alma Fatara, Manila Sari, Arguna, Lingkar Dalam, dan Geladak Badak segera merangsek menyodorkan wajah-wajahnya ke dekat wajah Bungkuk Gila. Karena kakek itu bungkuk, jadi orang-orang yang lebih muda itu ikut membungkuk, seperti peserta kuis yang sedang berunding dan takut didengar oleh pasukan yang sejak tadi jenuh.


“Ada tiga orang yang sakti. Manila, Arguna dan Lingkar Dalam, kalian urus para prajurit itu. Aku bersama Alma dan Geladak Kapal, melawan yang sakti-sakti itu. Aku pilih lawan yang dadanya besar itu....”


“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar ujung kata-kata Bungkuk Gila.


Orang-orang itu seketika pada tegak berdiri, membiarkan Bungkuk Gila tetap membungkuk.


“Dasar Bungkuk Gila!” maki Geladak Badak. “Setua ini kau masih mesum saja. Mau enaknya saja pilih yang besar-besar!”


“Jika kau cemburu, ya sudah, aku berikan kepadamu pendekar wanita itu,” kata Bungkuk Gila.


“Tidak. Nanti malah aku yang dikira mesum,” tolak Geladak Badak jaga imej. “Lebih baik serahkan wanita bercambuk itu kepada Alma.”


“Hahaha! Tidak, tidak, tidak. Aku pilih yang tampan berbaju hijau ingus itu,” tolak Alma Fatara yang didahului tawa pendeknya.


“Hahaha!” tawa Manila Sari dan kedua pemuda tampannya mendengar kata “hijau ingus”.

__ADS_1


“Alma saja tidak mau. Memang dasar dia itu jodohku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila.


“Setuju, Guru!” ucap Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam kompak jadi murid penjilat.


“Hahaha!” tawa Alma dan Bungkuk Gila.


Melihat Alma dan kawan-kawan justru berkomedi ria di dalam kubah perlindungan, semakin panaslah hati Tejo. Kesaktian dan kedudukannya sebagai Wakil Panglima sungguh tidak dihargai, minimal dinilai satu kepeng.


“Hiaaat!” teriak Tejo seperti orang yang frustasi sambil menghentakkan telapak tangannya pada dinding sinar jingga yang ada di depannya.


Ses ses ses...!


Blar blar blar...!


Belasan bola sinar jingga kembali keluar melesat dari dinding sinar jingga di depan Tejo. Namun, kali ini bola-bola sinar jingga itu terlihat sedikit lebih besar dari sebelumnya.


Ledakan-ledakan lebih keras dan lebih kuat dari sebelumnya terjadi di sisi luar kubah sinar biru muda, memberi guncangan yang lebih keras bagi mereka yang berlindung di dalam kubah. Kuda-kuda pun dibuat lebih panik di tempat. Namun, tetap saja kubah itu tidak hancur.


“Weeek! Hahahak!” lewek Bungkuk Gila kepada Tejo, lalu tertawa terbahak sambil menunjuk Tejo. Benar-benar menertawakan ketidakmampuan Tejo sebagai seorang lelaki.


Sakit sekali perasaan Tejo diledek seperti itu, apalagi di depan pasukannya, apalagi di depan Sabit Pencabut Nyawa dan Gadis Cambuk Tajam. Jika bukan di depan orang, mungkin dia sudah mewek karena terlalu terhinanya.


“Yeee! Pasti mau nangis! Hahaha!” ledek Bungkuk Gila masih berkelanjutan terhadap Tejo.


Tingkah si kakek yang mulai kumat penyakitnya itu, mau tidak mau membuat Alma Fatara dan kawan-kawan tertawa.


Sabit Pencabut Nyawa lalu menghentakkan tinju tangan kanannya ke langit. Bukan untuk jadi Ultraman, tetapi untuk mengeluarkan ilmu kesaktiannya.


Tidak langsung muncul apa-apa, tapi kepalan itu bergetar hebat lebih dulu, seolah-olah sedang proses penyaluran tenaga dalam bertingkat-tingkat.


“Hahaha! Lihat yang dilakukan calon gundikmu itu, Alma!” kata Bungkuk Gila ganti mengejek Sabit Pencabut Nyawa.


“Hahaha!” Alma hanya tertawa.


Sebentar kemudian....


Bross!


“Wow!” pekik kencang Bungkuk Gila dan Alma Fatara bersamaan ketika melihat tiba-tiba ada bola sinar merah besar muncul di genggaman Sabit Pencabut Nyawa.


“Hahaha!” Suara keterkejutan Alma Fatara dan Bungkuk Gila yang sengaja dibuat-buat itu, membuat Manila Sari dan tiga lelaki lainnya tertawa.


“Uhhuk uhhuk!” batuk Geladak Badak karena kebanyakan tertawa di saat ia masih dalam kondisi terluka dalam.


“Ayo bersiap-siap!” teriak Bungkuk Gila sambil menunjukkan pose memasang kuda-kuda. Dia pun menyuruh Cantik Gelap memasang kuda-kuda siap tarung.


Melihat itu, Alma Fatara dan yang lainnya juga bersiap dengan kuda-kudanya.

__ADS_1


“Bertarunglah dengan ilmu Genggam Petir Manila, Arguna, Lingkar!” perintah Bungkuk Gila serius.


“Baik, Guru!” jawab ketiga orang muda itu kompak dan bersemangat.


Zerzz!


Manila Sari, Arguna dan Lingkar Dalam menyalurkan energi ilmu Genggam Petir. Maka, kedua tangan mereka kini diselimuti oleh aliran listrik ungu yang menggurita.


Seiring itu, bola sinar merah di kepalan tangan Sabit Pencabut Nyawa kian membesar, seperti balon dipompa gas.


“Siap-siap! Siapa yang kalah, dihukum dikentuti mayat!” seru Bungkuk Gila serius, membuat Alma Fatara dkk yang awalnya tegang jadi tertawa terbahak-bahak.


“Hihihi! Guru, aku tidak pernah tahu jika mayat bisa kentut!” kata Manila Sari setelah tertawa terkikik.


“Beruntunglah kau punya guru sepertiku. Jadi kau sekarang tahu,” kata Bungkuk Gila.


“Jadi mayat bisa kentut, Guru?” tanya Arguna pula, serius.


“Tidak,” jawab Bungkuk Gila seenaknya.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara sambil memegangi perutnya.


Tingkah Alma Fatara dkk benar-benar membuat ketiga pendekar sakti di luar kubah merasa ingin bunuh diri karena terlalu kesalnya.


“Hiaaat!” teriak Sabit Pencabut Nyawa histeris sambil melompat naik mengudara agar terlihat lebih heroik. Sementara kepalannya yang bersinar merah besar tetap di atas kepala.


Brosss!


Di puncak lompatannya, Sabit Pencabut Nyawa membanting sinar merah besar itu ke bawah, ke arah kubah besar biru muda. Sinar merah itupun melesat cepat mengerikan.


Namun, sebelum bola sinar merah itu sampai, Bungkuk Gila telah berteriak.


“Serang!” pekik Bungkuk Gila, seiring dia melenyapkan kubah perisainya.


Pada saat yang bersamaan, ketujuh orang itu melesat menyebar meninggalkan posisinya, mengejutkan lawan-lawannya.


Alma Fatara melesat menyongsong kedatangan bola sinar merah. Bungkuk Gila melesat cepat ke arah posisi Gadis Cambuk Tajam. Geladak Badak melesat menyerang Tejo yang masih duduk di atas kudanya.


Sementara Manila Sari, Arguna, dan Lingkar Dalam melesat menyebar penuh semangat menyerang para prajurit yang mengepung.


Lalu ke mana Cantik Gelap melesat? Jangan dijawab!


Cantik Gelap melesat satu kelompok dengan Manila Sari, yaitu menyerang para prajurit, tetapi dia bertarung dengan kesaktiannya sendiri.


“Cantik sayangku, hajar para prajurit itu dengan kesaktianmu!” Itulah perintah Bungkuk Gila sebelumnya kepada Cantik Gelap.


Tejo, Sabit Pencabut Nyawa, Gadis Cambuk Tajam dan pasukan pemerintah terkejut mendapati tindakan Alma cs. (RH)

__ADS_1


__ADS_2