Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 22: Sengketa Bayi Dalam Perut


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


“Laris Manis!” sebut Rubi Salangka terkejut saat mengenali wanita hamil berpakaian putih hijau yang baru saja menyerangnya dengan tongkat. Ia segera bangkit dengan tangan terasa kesemutan.


“Rubi! Pendekar Pengawin!” teriak marah wanita hamil bertongkat yang disebut bernama Laris Manis.


Kejadian itu jelas membuat semua orang yang ada di pemakanan memusatkan perhatiannya kepada Rubi Salangka dan Laris Manis yang sedang berhadapan.


“Kenapa kau menyerangku di depan orang banyak, Laris Manis?” tanya Rubi sambil berjalan mendatangi Laris Manis dengan suara yang ditekan. “Bukankah kau suka menyerangku di tempat sepi?”


“Itu semasa kau masih menjadi suamiku. Namun, setelah kau meninggalkan aku saat hamil, aku tidak akan segan membunuhmu di depan orang banyak!” teriak Laris Manis, wanita muda yang terlihat tambah cantik di saat hamil.


“Kau salah paham. Aku tidak meninggalkanmu karena kau hamil, tapi aku sedang ....”


“Sedang mencari istri baru? Iya?!” potong Laris Manis mendelik marah lalu maju memukulkan tongkat kayunya dengan kecepatan dan tenaga yang kuat.


Tak! Tak! Tak ...!


Dengan mimik terkejut, Rubi menangkis semua pukulan tongkat Laris Manis dengan toya hijaunya. Ia harus melangkah mundur-mundur dalam menghadapi amukan Laris Manis.


“Laris Manis, Sayang! Kau jangan bertarung dan marah-marah seperti itu, sangat berbahaya terhadap bayi kita!” teriak Rubi Salangka mencoba menenangkan istrinya.


“Sejak kapan kau peduli dengan bayi dalam perutku. Di depan orang kau mengakui ini anakmu, tetapi di tempat sepi kau justru meyakini ini anak pendekar lain!” balas Laris Manis sambil terus menyerang Rubi Salangka.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat apa yang dialami oleh pemuda berambut hijau itu, seolah-olah dia puas.


Dari arah dapur pemakanan berjalan seorang lelaki tinggi besar dan berotot batu, berpakaian jingga. Lelaki berwajah garang dengan brewok tipis yang melingkari muka itu mendekati posisi Rubi dan Laris Manis.


“Laris Manis! Jangan buat kacau di pemakanan ini!” seru lelaki besar yang berstatus sebagai keamanan atau populer disebut juru aman di pemakanan tersebut. Dia bernama Gigojo.


Pasangan yang sedang bertengkar itu memandang kepada Gigojo yang juga sudah mereka kenal.


“Aku harus memberi lelaki tidak bertanggung jawab ini pelajaran, kalau perlu sampai mati!” kata Laris Manis sambil menunjuk wajah Rubi dengan ujung tongkatnya.


“Tapi jangan di sini. Tantang saja Pendekar Pengawin di Kolam Merah,” saran Gigojo.


“Baik!” kata Laris Manis dengan nada masih tinggi. Lalu katanya kepada Rubi, “Aku tantang kau di Kolam Merah, Pendekar Pengawin!”

__ADS_1


“Jangan seperti itu, Sayangku. Ini masalah rumah tangga kita. Orang banyak tidak perlu tahu,” kata Rubi membujuk.


“Lelaki keparat!” maki Laris Manis lalu melangkah pergi dengan agak mengengkang. Usia kandungannya masih tergolong muda. “Lelaki maunya enak saja, tapi tidak mau mengakui anak yang dibuatnya!”


“Tapi sekarang aku mau mengakuinya, Sayang!” kata Rubi sambil bergerak mendekati Laris Manis yang pergi.


Set!


Laris Manis mengibaskan ujung tongkatnya yang mengandung setitik sinar biru, membuat Rubi menahan langkahnya agar wajahnya tidak terkena sabetan. Sementara Laris Manis terus berjalan keluar dari pemakanan.


Akhirnya dengan rasa kecewa, Rubi berhenti mengejar wanita yang telah mengandung anaknya. Dia akhirnya kembali ke meja di mana Alma Fatara dan dua sahabatnya masih duduk makan.


“Kau memang lelaki bajingan rupanya!” tukas Manila Sari kepada Rubi yang belum sempurna memperbaiki duduknya di lantai.


“Kalian jangan salah mengerti pula. Aku ini tidak seburuk apa yang terbayang di dalam pikiran kalian,” sangkal Rubi dengan wajah yang susah.


“Jika kau adalah lelaki paling buruk di dunia, aku tidak masalah, Kakang. Asalkan kau tidak lupa membayar makanan ini,” ujar Alma Fatara yang makanannya tinggal beberapa suap lagi.


Sementara Manila Sari dan Sabung harus berjuang keras untuk menghabiskan makanannya. Setidaknya bisa menghabiskan separuh dari makanan tersebut.


“Kau serius mau melawan istrimu itu di Kolam Merah?” tanya Sabung sambil menengok kepada Rubi.


“Apa kata dunia persilatan jika aku melawan istriku sendiri yang sedang hamil di Kolam Merah?” kata Rubi yang terlihat ekspresinya sedang depresi tingkat klasik.


“Arena tarung yang harus meneteskan darah,” jawab Rubi. Ia lalu menjelaskan, “Peniduran ini memiliki arena tarung antarpendekar di sebuah kolam kering. Jika Laris Manis mendaftar untuk menantangku, maka mungkin besok sore atau besoknya lagi aku harus bertarung. Jika aku tidak berlaga, maka namaku akan lebih buruk dari sekedar tukang kawin. Para mendekar akan mencibir dan memandangku sebagai pendekar pengecut yang tidak punya harga diri, bahkan mereka tidak akan sudi menegurku, karena tradisi pendekar di sini, menegur pendekar pengecut adalah perbuatan hina.”


“Tapi mempermainkan perasaan dan cinta wanita bukan perbuatan hina?” tanya Manila Sari dengan tatapan tidak suka.


Rubi diam menatap Manila Sari sebentar. Saat ini, jiwa genitnya benar-benar karam setelah dihadapi permasalahan yang membuat buah simalakama.


“Aku sudah kenyang,” kata Manila Sari.


“Aku juga,” ucap Sabung.


“Jika begitu, urusan makan kita sudah selesai,” kata Alma Fatara, lalu bangkit berdiri.


Manila Sari dan Sabung pun bergerak berdiri, tapi tidak bagi Rubi. Dia tetap duduk sambil tangannya mengorak-arik nasinya di piring. Terlihat hanya piring dan wadah milik Alma Fatara yang bersih, sedangkan makanan Manila Sari dan Sabung menyisa banyak.


“Terima kasih atas kebaikanmu, Kakang. Semoga di lain waktu aku bisa membalasnya,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Iya,” jawab Rubi singkat tanpa bergairah lagi. Sepertinya dia benar-benar pusing sepuluh keliling.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara lalu melangkah pergi. Alma tertawa bukan menertawakan nasib Rubi Salangka, tetapi merasa lucu melihat ekspresinya yang depresi.


Kini di meja itu, tinggallah Rubi seorang diri sambil menyuap dengan pandangan tidak melihat ke makanannya, tetapi menerawang lurus ke depan. Hingga kemudian, seorang pelayan datang kepadanya untuk menagih harga semua makanan.


Alma Fatara, Manila Sari dan Sabung kembali ke kamarnya masing-masing. Manila Sari dan Sabung lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Alma Fatara hanya membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali, tanpa masuk ke dalam.


Alma Fatara lalu pergi seorang diri tanpa diketahui oleh Manila Sari dan Sabung.


Alma Fatara berjalan menuju ke luar. Di ruangan depan, dari jauh Alma Fatara melihat Rubi Salangka masih makan seorang diri membelakangi arah ruangan depan peniduran. Rubi sepertinya masih memikirkan permasalahan dalam negerinya.


Namun, Alma Fatara tidak tertarik sedikit pun untuk mengajak pemuda tampan genit itu.


Alma terus berjalan ke luar peniduran, yang kecantikannya langsung menarik perhatian beberapa lelaki yang ada di sekitar depan peniduran.


Di luar, dia melihat anak-anak kekasih kuda sedang bersenda gurau sambil menunggu kuda yang datang. Namun, di kala malam menuju larut seperti itu sudah jarang tamu yang datang.


“Kekasih kuda tanduk badak kerbau!” panggil Alma Fatara sambil mendekati area tempat mereka sedang bermain.


Para remaja bertopi tanduk itu berhenti bermain dan menengok kepada Alma Fatara. Anak remaja lelaki bertopi tanduk cula badak dan tanduk kerbau segera mendatangi Alma.


“Ada apa, Pendekar Cantik?” tanya si anak.


“Hahaha!” tawa Alma karena disebut “Pendekar Cantik”. “Namaku Alma Fatara.”


“Iya, ada apa, Kakak Alma?” tanya anak itu.


“Namamu siapa?”


“Kunthul.”


“Hah? Kunthul? Hahaha!” tawa Alma Fatara, membuat ****** hanya nyengir dan menggaruk lehernya yang memang gatal. “Aku ingin ke Pasar Bulieng. Ke mana arahnya?”


“Ke selatan, Kak Alma. Ikuti saja jalan besar itu. Setelah melewati tiga gapura batu besar, berbeloklah ke kiri. Nanti Kakak akan masuk ke Pasar Bulieng,” jawab Kunthul yang mengurus kuda Alma. “Apakah Kakak ingin berkuda?”


“Tidak usah. Aku akan berjalan kaki.”


“Tapi, jika malam pasarnya sepi, Kak.”

__ADS_1


“Aku sudah tahu. Terima kasih, Kunthul.”


Alma Fatara lalu berjalan pergi menuju ke jalan besar. (RH)


__ADS_2