Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 27: Lidah Untung Menangis


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Lidah Untung ternyata mengajak lawannya bertarung di luar dari kawasan Sarang Betina Ranjang, di area berhutan.


Ketika dia muncul di satu titik, Bungkuk Gila juga muncul dua tombak di depannya.


“Eek eek eek!” kata Lidah Untung kencang sambil menunjuk-nunjuk Bungkuk Gila dengan lidi merahnya. Wajahnya menunjukkan kemarahan.


“Oek oek oek!” teriak-teriak Bungkuk Gila pula sambil balas menunjuk-nunjuk Lidah Untung dengan ranting berdaunnya. Maksudnya adalah meledek lelaki berbadan kecil itu.


“Eeek...!” teriak Lidah Untung semakin keras dan marah.


“Oeeek...!” pekik Bungkuk Gila pula mengejek.


Cuss!


Tiba-tiba Lidah Untung menusukkan lidinya ke depan, melesatkan segaris sinar merah tipis seperti tongkat sihir.


“Oek!” pekik Bungkuk Gila sambil melekukkan tubuhnya menghindari serangan itu.


Sinar tipis itu lewat hanya beberapa jari dari tubuh Bungkuk Gila.


“Owek oweeek! Hahaha!” ledek Bungkuk Gila sambil menjulur-julurkan lidahnya mengejek Lidah Untung, lalu menertawainya.


Clap!


“Eek!” teriak Lidah Untung yang tahu-tahu muncul rapat di depan Bungkuk Gila dan langsung mengagresikan serangan berkecepatan kilat.


Bakbikbuk! Dakdik uduk!


“Oek oek oek...!”


Saking cepatnya Lidah Untung memukul dengan bertubi-tubi, sampai-sampai Bungkuk Gila tidak sempat menghindar. Saking cepatnya, kedua tangan Lidah Untung sampai tidak terlihat jelas. Bungkuk Gila hanya terguncang-guncak sambil menjerit “oek-oek”, sangat berisik seperti boneka bayi yang dipencet berulang-ulang.


Tak!


Terkejut Lidah Untung saat belakang kepalanya dihantam oleh sepotong kayu kecil. Dia cepat menengok ke belakang dan membiarkan Bungkuk Gila terkulai dengan darah keluar dari mulutnya.


“Oweeek!” ledek seorang kakek bungkuk lain, empat tombak di belakang Lidah Untung. Dia menjulurkan lidahnya meledek sambil menggoyang-goyangkan bokongnya.


Terkejut kuadrat Lidah Untung menyaksikan keberadaan Bungkuk Gila yang lain. Dia cepat memandang ke Bungkuk Gila yang baru saja dihajarnya sampai berdarah-darah. Ternyata, sosok Bungkuk Gila yang dihajarnya sudah tidak ada di tempat.


Ledekan Bungkuk Gila itu membuat Lidah Untung kian murka.


“Eek eek!” teriak Lidah Untung, lalu kembali menghilang.


Clap! Cuss!


Dia tahu-tahu muncul di sisi atas Bungkuk Gila dan menusukkan lidi merahnya ke bawah, melesatkan segaris sinar merah yang tidak bisa dihindari oleh Bungkuk Gila.


“Oeeek!” jerit Bungkuk Gila panjang saat kepalanya ditembus oleh garis sinar itu.

__ADS_1


Wuut! Bdak!


Namun, selagi Lidah Untung masih di udara, sebatang kayu setebal paha melesat cepat di udara dari satu arah menghantam badannya. Lidah Untung terlempar dan jatuh di bawah pohon.


Namun, serangan yang mengenainya tidak membuat Lidah Untung terluka selain merasakan sakit yang wajar. Dia buru-buru bangun dan melihat siapa yang melemparnya dengan kayu besar.


“Hahaha! Eek eek!” tawa Bungkuk Gila di titik lain lalu meledek lawannya lagi.


Lagi-lagi itu membuat Lidah Untung terkejut dan cepat melihat Bungkuk Gila yang dia tembak kepalanya. Namun, sosok Bungkuk Gila itu sudah tidak ada di tempatnya.


“Ayo, keluarkan semua kesaktianmu, Anak Rayap! Hahaha!” tantang Bungkuk Gila.


“Eek eek!” kata Lidah Untung terus marah.


“Oek oek! Weeek! Hahaha!” ledek Bungkuk Gila.


Cuuss!


Lidah Untung lalu menusukkan lidi merahnya ke atas. Kali ini garis sinar kuning melesat ke langit. Pada ketinggian tidak lebih tinggi dari pohon sekitar, ujung garis sinar itu membentuk piringan sinar kuning yang makin lama makin melebar.


Bungkuk Gila hanya diam mendongak memerhatikan apa yang akan terjadi di atas. Hingga akhirnya aliran energi dari lidi berhenti, tinggallah piringan sinar kuning yang besar, seolah menjadi payung dari sinar matahari senja.


Prasss!


Tiba-tiba piringan sinar itu pecah ambyar dan jatuh menjadi hujan sinar kuning yang halus seperti taburan berjuta bintang di langit. Sinar-sinar kuning kecil dan halus itu melesat menebarkan diri menyirami area yang luas, sehingga sulit bagi Bungkuk Gila untuk menghindar, meski dia melesat secepat kilat.


Namun, lagi-lagi Bungkuk Gila tidak menghindari Hujan Dari Langit Neraka, sama seperti dua serangan sebelumnya.


“Oek! Oek! Oek!” jerit Bungkuk Gila ketika tubuhnya terkena jatuhan sinar-sinar kuning halus itu.


Sinar-sinar kuning itu memiliki daya rusak memakan benda apa saja yang dikenainya. Kayu, batu, apalagi kulit dan daging, dibuat berlubang karena terbakar tanpa api. Lubang-lubang yang tercipta pun lebih besar diameternya dari pada sinar kuning kecil itu.


Ada beberapa sinar yang jatuh membolongi tubuh Bungkuk Gila. Pohon-pohon pun dibuat berlubangan batang dan dahannya, menebarkan bau terbakar di sekitar tempat itu. Tanah yang berlapis dedaunan kering juga berlubangan, menciptakan lubang-lubang semut yang banyak, tapi tanpa semut.


Prass!


Kembali Lidah Untung terkejut, saat tiba-tiba seranting berdaun menghajar sisi wajahnya. Pemukul itu datang dari belakang. Meski hanya dipukul oleh sebuah ranting yang tidak begitu besar, tetapi Lidah Untung sampai terpental jauh berputar-putar ke samping seperti baling-baling depan pesawat. Mirip adegan komedi film animasi.


Bdak!


Keras sekali tubuh Lidah Untung menghantam batang pohon besar. Kali ini dia berdarah, bukan karena datang bulan, tetapi berdarah di dalam mulutnya.


“Hahaha! Owek owek! Hahaha!” tawa mengejek Bungkuk Gila yang lagi-lagi muncul dengan sosok yang tidak apa-apa, setelah hujan sinar kuning berakhir.


“Cuih!” Lidah Untung meludah darah.


“Hei, Anak Eek! Lebih baik kau pulang kepada majikanmu. Beri tahu dia, Dewi Gigi menginginkan nyawanya, tidak pakai tawar-tawar lagi!” seru Bungkuk Gila.


“Eek eek!” balas Lidah Untung.


“Hahaha! Sudah, lebih baik sudahan. Ilmu apa saja yang kau keluarkan, tidak akan bisa membunuhku. Hahaha!” kata Bungkuk Gila tertawa-tawa.


Clap!

__ADS_1


Bungkuk Gila lalu lenyap begitu saja meninggalkan Lidah Untung sendirian di tempat itu. Dia kembali ke area gerbang masuk Sarang Betina Ranjang, di mana saat itu Lirik Lirik Yo sedang bertarung melawab Guru Cambuk Emas.


Ditinggal sendirian seperti itu, terlihat wajah Lidah Untung mewek.


“Eeeek!” teriak Lidah Untung yang kemudian menangis.


Dia menangisi kekalahannya. Kesaktian hebatnya ternyata tidak mampu berguna apa-apa terhadap Bungkuk Gila yang begitu kurang ajar.


Clap!


Tiba-tiba sosok Lidah Untung menghilang. Kemudian dia beberapa kali muncul di tempat lain.


Ujung-ujungnya dia muncul di depan tangga rumah panggung milik Tebar Kembang.


“Eeek...!” tangis Lidah Untung tanpa malu kepada para penjaga berseragam ungu di dekat tangga dan di sekitar bawah rumah.


Namun, tidak ada yang berani yang bertanya apa yang menyebabkan orang besar itu menangis begitu sedih, seperti orang yang ibunya selingkuh. Jika mereka bertanya, mereka yakin justru akan di pukul tanpa ampun.


Rumah panggung besar itu sudah di terangi oleh sejumlah lampu minyak, padahal hari masih terbilang terang pada senja itu.


Sambil menangis “eek”, Lidah Untung berjalan naik ke rumah dan langsung masuk ke dalam rumah. Para penjaga hanya saling berpandangan bertanya tanpa suara dan kata. Namun, mereka saling angkat bahu.


Lidah Untung terus masuk ke dalam rumah kayu yang memiliki interior nan mewah. Dia kemudian berhenti di depan pintu kamar yang dijaga oleh dua orang prajurit jaga.


Tok tok tok!


“Eeek!” ratap Lidah Untung sambil mengetuk pintu kamar berukir di depannya.


“Masuk, Lidah!” perintah satu suara perempuan dari dalam kamar.


Lidah Untung lalu membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Maka tampaklah sebuah kamar besar yang didominasi warna ungu.


Di dalam kamar besar itu ada banyak perhiasan pajangan dinding. Juga ada sebuah ranjang bagus berwarna ungu. Separuh dari ranjang itu tertutupi kelambu ungu transparan. Di kasur tebal yang berwarna ungu duduk sesosok tubuh besar yang penuh lemak.


Sosok itu adalah seorang perempuan berkulit kuning langsat yang hidung peseknya nyaris ternggelam oleh lemak di wajahnya. Wanita berpakaian kuning longgar itu mendapat penghormatan dari Lidah Untung yang tangisannya sudah mereda, berganti isakan.


Dialah wanita yang bernama Tebar Kembang, putri dari mendian Senopati Gulung Sedayu yang mati dibunuh oleh kesaktian Bola Hitam.


“Eeek!” ucap Lidah Untung sesegukan.


Tatapan wajah bulat Tebar Kembang begitu tajam kepada Lidah Untung.


“Kenapa kau tidak mati sekalian, Lidah?” tanya Tebar Kembang yang tubuhnya berlipaat-lipat oleh lemak.


“Eeek!” ucap Lidah Untung pelan.


Dia lalu menulis di udara dengan lidi merahnya.


“Perempuan itu yang membunuh Gusti Senopati,” tulis Lidah Untung.


“Arrr...!” raung Tebar Kembang keras dan panjang, mengejutkan semua prajurit penjaga. Lalu perintahnya, “Perintahkan Embah Sakti untuk bertarung!”


“Eek!” jawab Lidah Untung. (RH)

__ADS_1


__ADS_2