Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 1: Adu Sesumbar


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


Keesokan paginya, Prabu Marapata kembali mengadakan Sidang Umum di Pendapa Agung Sejagad dengan peserta sidang hanya para pejabat kementerian.


Pada pagi itu juga, para prajurit yang punya wilayah tugas di dalam kompleks Istana berkumpul di satu tempat, yang akan menjadi arena duel tarung antara Sumirah dan Ning Ana. Mereka masih menikmati nuansa kemenangan, jadi belum begitu aktif melaksanakan tugas-tugas pokok mereka.


Para pekerja pembangungan sudah mulai bekerja di Istana untuk membangun kembali dua gudang yang habis hangus terbakar, juga memperbaiki berbagai kerusakan akibat pertempuran dan adu kesaktian.


Di sekeliling panggung yang kemarin dipakai para penari tampil sampai malam, kini ramai dikerumuni oleh para prajurit dan murid-murid Perguruan Pisau Merah.


“Sumirah! Sumirah! Sumirah!” teriak para prajurit Kerajaan Jintamani dan prajurit kadipaten mengelu-elukan Pendekar Buaya Cantik.


“Hihihi!” tawa Sumirah sambil tersenyum lebar merasa bangga dan tersanjung. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menyapa para pendukungnya, mirip petarung di atas ring.


“Ning Ana! Ning Ana! Ning Ana!” teriak para murid Perguruan Pisau Merah, juga mengelu-elukan Ning Ana.


Meski hanya mengenyam pendidikan di Perguruan Pisau Merah beberapa hari saja, tetapi Ning Ana tetap sebagai murid perguruan dan punya ikatan pisau dengan murid-murid yang lain.


“Ning Anu! Ning Anu! Ning Anu!” teriak Ayu Wicara pula, tanpa sadar bahwa lafaznya tersesat.


“Ning Ana, ngik! Ning Ana, ngik! Ning Ana, ngik!” teriak para personel Kelompok Lutung Pintar dengan gayanya sendiri. Mereka mendukung Ning Ana karena memiliki kesamaan dalam hal keliaran.


Ning Ana yang juga dielu-elukan, meski kalah jumlah suara dibandingkan jumlah mulut para prajurit, segera berlari kecil naik ke atas panggung dan berhenti di sisi yang berseberangan dengan Sumirah.


“Eaaa!” teriak Ning Ana garang sambil mengangkat tinggi tangan kanannya ke langit.


Ternyata tangan kanan Ning Ana menggenggam keris bagus berwarna hijau gelap. Keris itu adalah Keris Petir Api milik Garam Sakti.


Awalnya, tadi malam Garam Sakti tidak mau meminjamkan keris pusakanya karena itu senjata berbahaya yang bukan sembarang senjata. Namun, Alma Fatara menjamin keamanannya, sehingga Garam Sakti meminjamkannya.


Selain membawa Keris Petir Api, Ning Ana juga berbekal beberapa pisau merah.


Saat itu dia sengaja tampil garang agar bibir bengkaknya tidak terlalu menonjol di mata publik.


“Hei, Susu Merah! Jika kau takut, berlututlah sekarang juga!” teriak Ning Ana sambil menunjuk Sumirah dengan ujung keris di tangannya


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan para penonton mendengar Sumirah disebut Susu Merah. Itu gara-gara Ayu Wicara yang menyebut Sumirah dengan nama itu.


Mendelik Sumirah disebut dengan nama itu. Ketika dia melihat kepada Genggam Sekam, ternyata kekasihnya itu juga tertawa.


“Kakang Genggam! Kenapa kau tertawa?” hardik Sumirah.


“Tidak, aku menertawakan Kelompok Lutung Pintar. Hahaha!” jawab Genggam Sekam lalu terus tertawa.


“Susu Merah, berlututlah sekarang dan menyerahlah sebelum terlambat! Berhentilah menjadi kekasih buaya darat itu!” Ning Ana ganti menunjuk Genggam Sekam.


Genggam Sekam jadi mendadak berhenti tertawa.


“Hubungan kalian tidak lebih dari hubungan buaya dan tokek!” tambah Ning Ana.

__ADS_1


“Hahaha!” tertawalah para penonton dari kedua pendukung.


“Lidahmu terlalu beracun, Anak Ingusan! Sebentar lagi akan aku tarik lidahmu supaya tidak berisik seperti kucing kawin!” balas Sumirah tidak kalah lantang dan pedas.


“Hahaha!” tawa para penonton lagi.


“Jangan sombong. Sebentar lagi pakaianmu akan aku kuliti dengan pisauku, Kau akan aku bugili biar kau malu merebut kekasih orang lagi!” koar Ning Ana.


“Buktikan jika kau memang bisa!” tantang Sumirah.


“Bugili! Bugili! Bugili ...!” teriak para pendukung Ning Ana yang sudah membayangkan sesuatu yang mesum.


“Tapi kau tidak berjiwa pendekar!” tuding Ning Ana tiba-tiba yang membuat teriakan para penonton terhenti, karena ingin menyimak apa yang dipermasalahkan oleh gadis remaja itu.


“Apanya yang tidak berjiwa pendekar, hah?!” tanya Sumirah dengan membentak dan mendelik cantik.


“Aku bersenjata kecil-kecil, tetapi kau bersenjata besar,” jawab Ning Ana.


“Kenapa kau tidak meminjam pedang besar milik temanmu yang tidak becus bicara itu?” tanya Sumirah dengan senyuman sinis mengejek.


“Hei, Susu Merah! Kau mau mengayak (mengajak) anu (aku) adu tarung juga?” teriak Ayu Wicara pula sewot.


“Hahaha!” tawa sebagian penonton saja, karena sebagian lagi belum sampai ilmunya untuk bisa mencerna kata-kata Ayu Wicara.


Sumirah hanya melirik kepada Ayu Wicara, lalu mengabaikannya. Dia beralih kembali kepada Ning Ana.


“Tanpa kedua pedang pusakaku pun, aku sanggup membuatmu menjadi kutu dipites!” sesumbar Sumirah.


Sumirah lalu mencopot kedua pedangnya dan melemparkannya kepada Genggam Sekam. Pemuda tampan itu menangkap kedua pedang tersebut.


Sumirah kembali beralih kepada Ning Ana.


“Ayo kita mulai pertarungan ini, agar aku bisa cepat mematikan lidah beracunmu itu!” seru Sumirah.


Tiba-tiba sosok Alma Fatara melompat naik ke tengah-tengah panggung. Ia masih tampil secantik belahan telur rebus, berwarna kuning dan putih.


“Hidup Alma Cantik!” teriak Magar Kepang tiba-tiba.


“Cantiiik!” teriak Garam Sakti, Debur Angkara dan Ayu Wicara menyahuti Magar Kepang.


“Hidup Alma Cantik!” teriak Magar Kepang lagi.


“Cantiiik!” sahut ketiga sahabat Alma lagi, tapi kali ini diikuti oleh semua penonton lainnya.


“Hidup Alma Cantik!”


“Cantiiik!”


“Hahaha ...!” tawa terbahak Alma Fatara yang bermaksud menjadi wasit. Dia tidak sungkan memamerkan gigi ompongnya.

__ADS_1


Alma Fatara lalu berteriak kepada khalayak ramai.


“Tenaaang!”


Hanya dengan satu teriakan, suasana berubah hening. Siapa yang berani menentang perintah mantan Panglima Perang “terkejam” yang pernah mereka kenal? Jangan ditanya!


Namun, belum lagi Alma Fatara berteriak lagi, tiba-tiba ....


“Yang Mulia Gusti Prabu dan Gusti Ratu tibaaa!” teriak satu suara keras membahana.


Terkejutlah semuanya mendengar itu. Massa yang mengelilingi panggung buru-buru sibuk bergeser untuk memberi jalan bagi rombongan Prabu Marapata dan Ratu Warna Mekararum. Di belakang mereka ikut para pejabat.


Dalam waktu yang cepat, terciptalah satu ruang untuk ditempati berdiri oleh Prabu Marapata, Permaisuri Palilin, Ratu Warna Mekararum, Keluarga Kerajaan hingga para pejabat. Pastinya posisi rombongan itu tidak terkontaminasi oleh para prajurit karena Pasukan Pengawal Raja menciptakan pagar manusia.


“Sembah hormat!” teriak satu suara yang tadi.


Serentak semuanya turun berlutut dengan dua lutut dan menghormat dalam.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu, Gusti Permaisuri! Kasih sayang Dewa Mayapada kepada Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri!” ucap para prajurit dan pendekar itu. Lalu ucapnya lagi, “Sembah hormat kami, Gusti Ratu! Kasih sayang Dewa Mayapada kepada Gusti Ratu!


“Bangunlah kalian semua dan lanjutkan pertandingan!” seru Prabu Marapata.


Maka mereka semua yang berlutut bangkit dengan perasaan lega.


“Mohon izin untuk melanjutkan, Gusti,” ucap Alma Fatara selaku orang yang mengadakan pertarungan duel itu.


“Silakan,” ucap Prabu Marapata seraya tersenyum irit.


“Baiklah, wahai para pengagum tiga wanita cantik!” seru Alma Fatara mulai menangani duel itu.


“Duaaa! Bukan tigaaa!” teriak Ki Tonjok Gila yang kini penampilannya sudah lebih ganteng dengan seragam militernya sebagai seorang panglima baru.


“Tiga, Paman. Gadis cantik di atas panggung ada tiga,” ralat Alma Fatara.


“Ada dua. Alma Fatara dan Susu Merah. Hahaha!” tegas Ki Tonjok Gila lalu tertawa.


“Hihihi!” tawa Sumirah merasa menang sebelum tarung.


“Hei, Pendek!” teriak Ning Ana sambil menunjuk Ki Tonjok Gila dengan ujung kerisnya, membuat Garam Sakti merasa ngeri, takut keris itu melesatkan sinar hijaunya menyerang orang. “Kau tidak mengakui bahwa aku cantik? Aku sunat kau, Paman!”


Terkejut mendelik Prabu Marapata dan Permaisuri Palilin mendengar kata-kata Ning Ana.


“Hahaha!” tawa sebagian pejabat dan para prajurit.


“Hihihi!” Ratu Warna Mekararum justru tertawan pula, membuat putra dan menantunya memandang kepada sang ratu. Nenek yang kini mewah itu lalu berkata kepada putranya, “Kalian harus menerima kenyataan, seperti inilah dunia di luar Istana. Sangat kasar dan kejam.”


Ki Tonjok Gila yang awalnya terkejut disebut “Pendek”, lalu tertawa.


“Hahaha! Mana ada bibir bengkak disebut cantik?”

__ADS_1


Terdiam Ning Ana, lalu pandangannya beralih kepada Putri Manila Sari yang tertawa di sisi Ratu Tua, karena putri itulah yang membuat bibir Ning Ana bengkak. (RH)


__ADS_2