
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
“Eh, Tikus Gayung!” pekik Ning Ana terkejut sambil menunjuk kepada Putri Manila Sari yang datang bersama Arguna dan Ning Ara.
Alma Fatara dan para sahabat, serta Dugil Ronggeng dan Ning Asa segera alihkan pandangan mereka ke arah halaman.
“Hah! Gusti Pangeran dan Gusti Putri!” sebut Magar Kepang, Garam Sakti dan Debur Angkara terkejut.
“Hah! Guci Pameran dan Guci Putih!” kejut Ayu Wicara yang terpelesat 90 persen.
“Hahaha! Ini sepertinya Ning Ana kedua dan ketiga,” kata Alma Fatara pula, membandingkan cara wakti Ning Ara ikut dengan rombongannya.
“Kak Ara!” panggil Ning Ana sambil bergegas turun dari teras dan datang menemui kakaknya.
“Sepertinya kau tambah tangkas,” kata Ning Ara melihat gerakan adiknya.
“Hihihi! Ya jelas, sekarang aku sudan menjadi pendekar wanita hebat. Yaaa, tinggal berguru sepekan dua pekan lagi aku pasti sudah sakti seperti Kak Alma,” sesumbar Ning Ana.
Setelah itu, Ning Ana berbicara serius kepada kakaknya. Sementara Arguna dan Manila Sari pergi menemui Alma dan tuan rumah.
“Kakak harus memutuskan buaya darat sebagai kekasih. Buaya darat itu ....”
“Buaya darat siapa maksudmu?” tanya Ning Ara memotong kata-kata adiknya.
“Pendekar tongkat yang menjadi kekasih Kakak, Genggam Sekam. Dia telah berselingkuh dengan seorang pendekar wanita mesum. Kakak telah dibohongi habis-habisan!” kata Ning Ana berapi-api.
Terbeliaklah Ning Ara mendengar berita itu. Seketika hatinya seperti diseruduk domba juara. Sepasang matanya mendadak berkaca-kaca, bukan karena bahagia, tetapi karena merasa tersakiti.
“Kau jangan mengerjaiku, Ana,” ucap Ning Ara, masih berharap bahwa adiknya itu hanya manakalinya.
“Si Genggam Singkong itu satu rombongan dengan kami. Di depan mataku langsung dia berselingkuh dengan siluman tokek. Bahkan aku bertarung dengan perempuan bermuka tokek itu. Hampir saja aku bunuh. Untung dia cepat kabur,” kata Ning Ara tanpa peduli bahwa saat itu perasaan kakaknya sedang tercabik-cabik.
“Hiks hiks ...!” tangis Ning Ara akhirnya.
Suara tangis Ning Ara yang terdengar sampai ke teras, jelas mengejutkan semua yang duduk di sana.
Dugil Ronggeng, Ning Asa, Arguna dan Manila Sari seketika bertanya-tanya melihat Ning Ara menangis, di saat adiknya sibuk menceritakan tentang kemesraan Genggam Sekam dan Sumirah.
Sementara Alma Fatara dan rekan-rekan sudah tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Ning Ara lalu berlari membawa tangisnya pergi ke bagian belakang rumah lewat samping. Dengan perginya Ning Ara ke belakang, Ning Ana kembali menuju ke teras.
“Apa yang kau lakukan terhadap kakakmu, Ana?” tanya Ning Asa setengah menghardik.
“Hihihi! Tugasku sebagai adik telah selesai, Ibu. Aku telah memberi tahu tentang kelakuan bajingan si Genggam Sekam yang telah mempermainkan cinta Kak Ara. Genggam Sekam telah berselingkuh dengan siluman tokek, Ayah,” kata Ning Ana.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar sebutan “siluman tokek”.
“Jika Ayah dan Ibu tidak percaya, Kak Alma juga melihat langsung bahwa buaya darat itu telah menjalin kasih dengan siluman tokek,” tandas Ning Ana.
“Benarkah begitu, Nak Alma?” tanya Dugil Ronggeng.
“Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Sebab Pendekar Buaya Cantik sangat lengket dengan Kakang Genggam Sekam. Sepertinya kesetiaan Kakang Genggam Sekam lain di depan dan lain di belakang,” jawab Alma Fatara.
“Aku tidak akan sudi jika putri cantikku dipermainkan perasaannya,” kata Dugil Ronggeng dengan ekspresi yang mengeras.
“Jika demikian, apakah aku memiliki peluang untuk meminang Ning Ara sebagai calon istri, Ki?” tanya Arguna percaya diri.
“Hah!” kejut Dugil Ronggeng dan Ning Asa kompak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar perkataan Arguna.
“Tidak. Jangan, Gusti Pangeran. Kami hanya orang kecil yang bermimpi pun tidak berani. Aku harap Gusti tidak mempermainkan kami,” kata Dugil Ronggeng.
“Sebelumnya, Pendekar Tongkat Berat juga sangat bersungguh-sungguh saat berbicara kepada aku dan istriku tentang putri kami Ning Ara. Namun, apa sekarang?”
“Tapi aku setuju jika Kak Ara dipinang oleh Pangeran Arguna, karena aku juga sempat jatuh hati kepadanya. Hihihi!” kata Ning Ana.
“Jaga omonganmu, Ana!” hardik Ning Asa. “Kau berbicara seperti itu di depan calon suamimu sendiri!”
“Itu ketika Kakang Garam sedang asik bersama dengan para murid wanita Perguruan Pisau Merah. Tapi setelah bersama kembali, aku kembali setia. Hihihi!” kilah Ning Ana lalu tertawa cekikikan.
“Mohon maaf. Untuk saat ini kami sebagai orangtua Ning Ara sangat menolak. Apalagi suasana hati Ning Ara sedang bersedih,” tandas Dugil Ronggeng.
“Tapi aku berani berjanji, Ki. Aku akan membahagiakan Ning Ara, bahkan aku akan memboyongnya ke Istana. Jika perlu, Ki Dugil dan Bibi juga aku boyong ke Istana,” tandas Arguna tidak mau menyerah.
“Sekali lagi mohon maaf, Gusti Pangeran. Bukan maksud hati tidak menghormati Gusti Pangeran dan Putri, tapi saat ini tidak bisa. Pertemuan pertama bukan jaminan yang kuat. Jika memang Gusti Pangeran bersungguh-sungguh, tentunya perlu pembuktian di kemudian hari,” tegas Dugil Ronggeng yang diangguki oleh Ning Asa.
“Baiklah, Ki. Kakang Arguna akan membuktikan di kemudian hari. Namun, jika tidak ada pembuktian di kemudian hari, berarti Kakang Arguna sama saja dengan Pendekar Genggam Sekam,” kata Manila Sari menengahi.
“Aku setuju!” kata Ning Ana.
__ADS_1
Turut campurnya sang adik, membuat Arguna akhirnya tidak bisa memaksa.
“Baiklah, Ki. Jika memang Ki Dugil dan Ning Ara membutuhkan pembuktian, akan aku buktikan kesungguhanku. Saat ini aku sadar diri, ini baru pertemuan pertama dan aku tidak bisa memaksa,” kata Arguna.
“Jika urusan cinta ini selesai, giliran aku yang ingin bertanya kepada kalian berdua,” ujar Alma Fatara kepada kakak adik putra Pangeran Bugar Bawah itu.
Arguna dan Manila Sari pun memandang Alma Fatara.
“Kenapa kalian mengikuti kami? Aku sudah mengetahui kalian saat di Desa Rawabening,” tanya Alma.
Terkejutlah Arguna dan Manila Sari, lalu mereka saling pandang, seolah saling lempar tugas.
“Ini ide Manila Sari,” jawab Arguna, tapi melempar tanggung jawab kepada Manila Sari.
Semua pun kemudian memandang kepada gadis cantik berkulit bersih berhias emas pada beberapa anggota tubuhnya itu.
“Aku hanya ingin berpetualang dan keluar dari linggkungan Istana yang penuh aturan,” jawab Manila Sari.
“Tapi kenapa mengikuti kami? Bukankah tanah ini sangat luas? Aku dan para sahabatku bukan pergi berpetualang, tapi kami menuju pulang,” kata Alma Fatara.
“Ya, anggap saja itulah petualangan kami, Alma,” kata Manila Sari.
“Tidak. Kalian harus segera kembali ke Lembah Hilang, selagi rombongan Gusti Prabu masih berkemah di sana,” kata Alma Fatara. “Jika kalian hilang dari rombongan, kalian akan merepotkan Gusti Prabu dan seluruh pasukan.”
“Belut itu, Amal!” sahut Ayu Wicara menimpali.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar kata-kata Ayu Wicara. Lalu dia menghardik sahabat cantiknya itu, “Diam kau, Ayu. Aku sedang bicara serius, kau jangan membuatku tertawa!”
“Sapi (siapa) yang membuatmu tertawa, Amal? Kau saja yang aneh, setiap aku bicara seribu (serius), kau selalu terbawa (tertawa),” dumel Ayu Wicara yang tidak dipahami oleh tuan rumah serta Arguna dan Manila Sari.
“Alma, kami berdua sudah sepakat dan sudah memberi pesan kepada ayahku, juga kepada Gusti Prabu. Aku memberi tahu kepada mereka bahwa kami berdua ikut kalian. Kami berdua mengatakan bahwa kami ingin pergi berguru kepada gurumu, Alma,” kata Manila Sari.
“Jadi kalian tidak mau pulang?” tanya Alma Fatara.
“Tidak!” jawab Arguna dan Manila Sari kompak, membuat Alma embuskan napas panjang.
“Alma Fatara!” teriak satu suara lelaki dari arah halaman.
Mereka semua pun segera menengok dan melihat siapa orang yang datang memanggil. Ternyata seorang pemuda tampan berkuda.
Setelah dilihat ....
__ADS_1
“Kacang Lintah Selam!” sebut Ayu Wicara segera mengenali orang muda yang datang mendekat.
“Lingkar Dalam, Ayu!” ralat Alma Fatara. (RH)