
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Fong fong fong ...!
Bertepatan dengan berakhirnya pertarungan persahabatan antara Lingkar Dalam dan Pangeran Arguna, tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk yang ditiup berasal dari kaki bukit, mengejutkan mereka semua.
“Musuh datang!” teriak Lingkar Dalam tegang.
Warga Kampung Siluman pun menjadi tegang dan panik. Kaum lelaki menjadi tegang, kaum wanita dan anak-anak menjadi panik dan berlarian pergi menuju ke tempat perlindungan. Mereka yang punya anak segera menggondol anaknya ke tempat perlindungan.
“Kelompok minyak siap di posisi!” teriak Alma Fatara berkomando.
Maka sejumlah pemuda kampung segera berlari pergi menuju ke arah benteng bukit.
“Kelompok panah siap di posisi!” teriak Alma Fatara lagi.
Sejumlah lelaki yang ditugaskan sebagai pemanah segera pergi ke posisi masing-masing yang telah ditentukan, termasuk Arguna yang memilih tugas sebagai salah satu pemanah di belakang posisi tim ketapel.
Sementara Putri Manila Sari bergerak dan berhenti di satu titik yang sebelumnya sudah ditentukan untuknya. Tadi malam Manila Sari dan semua orang yang siap melawan penyerang sudah melakukan gladi bersih.
Kelompok minyak adalah tim yang bertugas di senjata ketapel bambu besar. Peluru ketapel itu adalah potongan bambu pendek yang diisi minyak, kemudian diberi penutup yang mudah terbuka jika menghantam sesuatu. Kelayakan model senjata baru itu sudah diuji coba tadi malam.
Sebagian lagi pergi ke pagar benteng yang belum dibangun, yang biasanya menjadi jalan bagi para pendekar itu naik ke atas bukit. Mereka sudah menyiapkan gentong-gentong kayu berisi minyak.
Di belakang tim ketapel berdiri berbaris tim panah dengan anak panah api.
Setelah semuanya siap, kondisi pun berubah tegang. Keadaan Kampung Siluman terlihat tidak seramai tadi.
Kaum wanita, orang tua, dan anak-anak bersembunyi di sumur minyak, sebuah ruang besar di dalam badan bukit yang memiliki tiga sumur minyak alam. Itu termasuk tempat paling berkeamanan tinggi di Kampung Siluman karena memiliki pintu batu yang sangat berat.
Dulu, tempat itu dilarang untuk dijadikan tempat perlindungan, karena sangat berisiko oleh api. Namun, setelah para pendekar asing datang menyerang kampung dan menculik beberapa gadis yang berlindung di gua atas, maka tempat perlindungan dipindahkan ke sumur minyak, tentunya dengan kehati-hatian yang tinggi.
Di saat Manila Sari sudah berdiri di posisinya dengan pedang terhunus seorang diri, Alma Fatara berdiri di titik yang lain beberapa tombak di depan Manila. Mereka berdiri menunggu dengan pandangan tertuju ke arah area benteng yang berjarak belasan tombak dari tanah lapang.
Panglima Kampung Kirak Sebaya memimpin tim minyak pemegang drum-drum kayu. Dia telah siap bertarung kembali.
Adapun Lingkar Dalam memimpin tim ketapel bambu dan tim panah di belakangnya.
Sebelumnya, ada sebanyak tiga belas lelaki berpakaian merah-merah dengan model yang berbeda, tergantung kesukaan masing-masing, datang melesat seperti kuda dari kejauhan. Semua lelaki yang berusia dua puluh lima tahun hingga empat puluh sembilan tahun itu menyandang senjata beragam. Namun, semuanya memiliki senjata lain yang sama, yaitu sebuah tombak besi pendek berekor rantai yang menggantung di pinggang. Perawakan mereka pun beragam, dari yang berbadan kecil, besar, sedang, gemuk, hingga tinggi besar.
Ketiga belas orang itu memiliki mukanya masing-masing, artinya tidak ada yang kembar.
Sekedar bocoran, mereka memiliki namanya sendiri-sendiri, tetapi yang mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah nama bekennya. Jika pendekar lain suka menggunakan nama-nama binatang buas sebagai simbol kehebatan, mereka justru menggunakan nama buah-buahan.
Nama-nama official yang ke-13 pendekar itu sandang antara lain:
__ADS_1
1. Jeruk Iblis.
2. Salak Gempur.
3. Kates Kematian.
4. Nanas Neraka.
5. Kelapa Berbulu.
6. Jambu Pembunuh.
7. Belimbing Maut.
8. Mangga Duda.
9. Jengkol Setan.
10. Durian Kubur.
11. Ceremai Algojo.
12. Sawo Ganteng.
Merela terikat dalam satu kelompok yang bernama 13 Buah Kematian.
Kedatangan mereka terlihat keren karena mereka berlari laksana tidak menyentuh permukaan tanah. Sedari jauh, mereka sudah berlesatan seperti burung terbang pelan.
“Musuh dataaang!” teriak salah satu penggali parit di kaki bukit saat melihat kemunculan orang-orang berpakaian merah itu.
“Lariii!” teriak yang lainnya mengajak teman-temannya meninggalkan pekerjaannya demi selamat.
Para pekerja parit itu segera berlari menjauh. Satu orang yang mendapat tugas memberi tanda kedatangan musuh segera meniup terompet tanduk yang sudah disiapkan.
Fong fong fong ...!
Suara itulah yang didengar oleh mereka yang ada di kampung atas bukit.
Ketiga belas pendekar Negeri Sembunyi itu melihat para pekerja kabur meninggalkan pekerjaannya, tetapi mereka tidak tertarik untuk mengejar, meski ada yang memberi tanda dengan tiupan terompet. Mereka langsung menuju ke bukit batu untuk naik ke atas benteng.
Ketika para pendekar itu kian mendekat dan akan mendaki jalan batu ke atas, Panglima Kampung segera memberi perintah kepada anggota timnya.
“Lempar gentongnya!” perintah Kirak Sebaya yang berdiri dengan tongkatnya.
__ADS_1
Para lelaki segera bekerja mendorong gentong-gentong kayu jatuh menggelinding.
Prak! Prak! Prak ...!
Gentong-gentong yang jumlahnya lebih dua puluh itu menggelinding dan pecah ketika menghantam tebing batu bukit yang konturnya miring tajam. Pecahnya gentong-gentong membuat air minyak membasahi sebagian kecil dinding bukit yang akan dilalui oleh para pendekar itu.
Namun bagaimanapun, tidak semua bidang dari dinding bukit itu bisa terbasahi oleh minyak. Air minyak terus mengalir ke bawah seolah menyambut kedatangan para pendekar yang berlari begitu ringan.
“Panah!” perintah Kirak Sebaya setelah stok gentong minyak habis.
Lima orang segera memanah anak panah berapi. Kelima anak panah jatuh di lima titik di bidang yang sudah berminyak.
Blesss!
Api besar langsung menyala dan menjalar turun membakar dinding bukit yang sudah basah oleh minyak.
Terbakarnya dinding bukit yang akan mereka lalui, membuat 13 Buah Kematian memperlambat larinya, tetapi mereka masih bisa memilih jalan untuk menghindari lautan api itu karena tidak semua terbakar.
“Mundur!” perintah Kirak Sebaya kepada timnya.
Para lelaki pelempar gentong minyak segera berlari pergi, mundur dari benteng.
Sementara itu, Kirak Sebaya melihat sejenak pergerakan para pendekar berpakaian merah. Setelah membacanya, dia lalu menunjukkan tongkatnya ke satu sisi benteng, bermaksud menunjukkan kepada tim yang sudah menarik karet ketapel bambunya. Setelahnya, dia lalu berkelebat pergi, mundur ke pusat kampung untuk bergabung dengan Alma Fatara.
Sebanyak lima belas orang yang memegang ketapel lalu mengarahkan kekerannya ke bagian benteng yang tadi ditunjuk oleh Kirak Sebaya.
Sementara di belakang mereka ada barisan lima belas orang pemanah juga, yang salah satunya adalah Pangeran Arguna. Mereka juga sudah mengekerkan anak panah berapinya ke arah yang sama.
Bagi kelompok ketapel dan panah, mereka tidak melihat para pendekar yang melesat mendaki atau apa yang terjadi di bawah, mereka hanya fokus kepada pinggiran benteng.
Lautan api yang tercipta luas di dinding bukit membuat para pendekar itu lewat di dinding yang tidak tersentuh minyak dan api. Mereka berkelebat naik dengan ringan di antara kobaran lidah api. Hawa panas tidak masalah bagi mereka. Tangan mereka sudah menggenggam senjata masing-masing.
Namun, kondisi itu membuat pergerakan para pendekar jadi terpola dan terarah menuju ke satu sisi pinggir benteng. Para pendekar itu kemungkinan akan naik di pinggiran benteng yang tadi ditunjuk oleh Kirak Sebaya.
Tidak berapa lama, ternyata benar. Sosok-sosok lelaki berpakaian merah bermunculan dengan cara berlompatan dari balik bibir benteng naik ke atas bukit.
“Tembak!” teriak Lingkar Dalam pendek dan keras.
Set set set ...!
Tim ketapel langsung melepaskan peluru tabung bambunya.
Pada saat yang bersamaan, tim panah api juga melesatkan senjatanya. Target mereka semua adalah orang-orang yang bermunculan mengudara di pinggiran benteng.
Serangan yang menyambut itu cukup membuat para pendekar mendelik terkesiap. (RH)
__ADS_1