Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 5: Berangkat Berperang


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


 


Ada tiga orang pendekar sakti yang awalnya berposisi sebagai musuh Alma Fatara kemudian menjadi abdi. Mereka adalah tiga anggota dari Lima Pembunuh Gelap, satu kelompok pembunuh bayaran.


Pendekar pertama adalah seorang wanita gemuk yang bernama Ireng Gempita, seperti nama orkes dangdut. Dia seorang wanita yang berbadan gemuk, paha yang gemuk dan pipi yang gemuk. Fisiknya lebih besar dari Anjengan dan lebih cantik. Dia bersenjata banyak selendang.


Pendekar kedua bernama Ireng Kemilau. Dia seorang wanita tinggi dan besar. Tenaganya sudah pasti besar. Dia tidak berbekal senjata.


Pendekar ketiga bernama Ireng Cadas. Dia seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berotot keras, tapi tidak sebesar Gede Angin. Rambutnya gondrong keriting dan memanggul senjata gada besar dari besi.


Lima Pembunuh Gelap pertama kali bentrok dengan Alma Fatara dan para sahabatnya di kediaman Raja Tanpa Gerak di puncak Bukit Selubung. Dalam bentrokan itu, Ketua Lima Pembunuh Gelap yang bernama Ireng Keling dan satu anggota lain bernama Ireng Segaris terpaksa tewas.


“Jika Ratu Siluman bisa mengalahkan kalian berdua, kami bertiga akan mengabdi kepada Ratu Siluman!” seru Ireng Cadas kepada Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka, dua pendekar sakti yang ingin merebut Bola Hitam milik Alma Fatara.


Ratu Siluman Alma Fatara akhirnya bisa mengalahkan Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka. Maka sesuai perkataan Ireng Cadas, ketiga anggota Lima Pembunuh Gelap itu bergabung sebagai abdi Ratu Siluman.


“Yang membuat kami tertarik untuk bergabung mengabdi kepada Gusti Ratu karena kematian Ireng Keling pemimpin kami. Kematiannya membuat kami tidak memiliki pemimpin lagi.”


Itulah alasan yang dilontarkan oleh Ireng Cadas kepada Alma yang melatarbelakangi keinginan mereka ingin bergabung dalam Pasukan Genggam Jagad. Itu diterima oleh Alma Fatara.


Ireng Gempita, Ireng Kemilau dan Ireng Cadas akhirnya berjanji setia kepada Ratu Siluman Alma Fatara.


Alma Fatara kemudian menjuluki mereka Tiga Penjaga Emas dengan tugas menjaga harta Kerajaan Siluman. Jika Geranda bagian hitung-menghitung, mereka bagian penjaganya.


Setelah mengalahkan Tengkorak Sabit Putih dan beberapa tetua dari Keluarga Tengkorak, Alma Fatara dan pasukannya kembali ke kediaman Demang Mahasugi.


Di sana, anggota muda dari Keluarga Tengkorak, yaitu Tengkorak Telur Bebek dan Tengkorak Bayang Putih yang sudah bugar diobati oleh Tabib Bocah, memutuskan untuk mengabdi kepada Ratu Siluman yang sebelumnya menjadi musuh.


Selain kedua orang muda Keluarga Tengkorak yang bersumpah setia, ada beberapa orang yang juga resmi diambil sumpahnya oleh Alma Fatara, yaitu Jenggot Sejenggut, Kumis Kalong, Lolongo, Buluk, Kungkang, Jungkrik, dan Betok.


Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong adalah dua pendekar biasa yang tawari bekerja oleh Alma Fatara di dalam Pasukan Genggam Jagad.

__ADS_1


Sementara Lolongo adalah putra Demang Mahasugi, kembaran dari mendiang Golono. Dengan bergabungnya Lolongo, maka mau tidak mau Buluk selaku asisten pribadi Lolongo ikut bergabung.


Adapun Kungkang, Jungkrik dan Betok yang disebut trio gendut adalah tiga pengurus kuda Demang Mahasugi. Katanya, mereka memilih mengabdi kepada Ratu Siluman untuk mengubah nasib, minimal jadi pendekar.


Setelah itu, Alma Fatara menuju ke Tanah Kutukan untuk menanyakan petunjuk kepada Eyang Kubur Biru tentang gelang kaki Alma Fatara, yang mungkin bisa menuntun Alma Fatara kepada petunjuk untuk mengetahui siapa orangtuanya.


Di Tanah Kutukan, Eyang Kubur Biru yang merupakan pemimpin Keluarga Tengkorak, memberi petunjuk tentang siapa orang yang membuat gelang emas peninggalan orangtua Alma.


Selain itu, Eyang Kubur Biru secara mengejutkan mengangkat Alma Fatara sebagai Penghakim Agung.


“Penghakim Agung adalah kedudukan nomor dua di dalam Keluarga Tengkorak setelah Eyang Kubur Biru. Penghakim Agung adalah hakim Keluarga Tengkorak. Semua perintah dan keputusannya wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota Kelurga Tengkorak dan warga Desa Pendekar Tua, termasuk oleh Eyang Kubur Biru,” jelas Ratu Tengkorak saat Alma Fatara menanyakan apa itu Penghakim Agung.


Setelah meninggalkan Tanah Kutukan, Alma Fatara dan pasukannya bertemu dengan Ineng Santi yang menyusul rombongan, setelah dia mendapat izin dari kakeknya untuk bergabung dengan Kerajaan Siluman.


Namun, Ineng Santi justru datang bersama Badak Ireng yang ingin minta bantuan Ratu Siluman dalam melawan Wulan Kencana, mantan Ketua Perguruan Bulan Emas.


Pada saat itu juga, Putra Mahkota Kerajaan Singayam Pangeran Sugang Laksama datang menyusul Alma Fatara. Kekasih Cucum Mili itu datang bersama Panglima Riring Belanga dan Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan Singayam yang bernama Ragum Pangkuawan.


“Bagaimana bisa? Bukankah kesaktian Pangeran Derajat Jiwa tidak begitu tinggi dan pengaruhnya tidak sekuat dirimu, Kakang?” tanya Alma Fatara serius.


“Derajat Jiwa telah mencuri pusaka Keris Pemuja Bulan, membuat kesaktiannya tidak terkalahkan,” jelas Pangeran Sugang Laksama.


“Hua hua hua,” ucap Alma Fatara mengerti.


“Sebagian besar panglima sudah tunduk di bawah perintah Derajat Jiwa. Lima Kadipaten sekeliling Ibu Kota sudah tunduk di bawah kuasa pemberontak. Senopati Geruduk Ati sedang menyusun kekuatan di selatan,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Apakah Kakang ingin meminta bantuanku yang hanya beberapa kepala ini?” tanya Alma Fatara.


“Benar,” jawab Pangeran Sugang Laksama.


“Raden Runok Ulung telah memberi tahu kami. Gusti Ratu adalah satu-satunya orang yang telah menyerap banyak kekuatan Keris Pemuja Bulan. Keris itu hilang sebelum Gusti Prabu Manggala Pasa naik tahta. Jadi, hanya Gusti Ratu satu-satunya orang yang bisa mengalahkan kekebalan Pangeran Derajat Jiwa,” ujar Ragum Pangkuawan.


“Apakah kalian akan melakukan perang saudara?” tanya Alma Fatara.

__ADS_1


“Itu tidak bisa dihindari,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Akan ada banyak korban,” kata Alma Fatara.


“Semakin cepat merebut Keris Pemuja Bulan atau melumpuhkan Derajat Jiwa, maka korban semakin sedikit,” kata Panglima Riring Belanga.


“Sebenarnya aku dan pasukanku sedang menuju Jintamani karena aku sudah mendapatkan petunjuk tentang orangtuaku. Namun, itu tidak mendesak. Hal ini bisa kita rundingkan lebih serius,” kata Alma Fatara.


Akhirnya Alma Fatara setuju membantu Pangeran Sugang Laksama untuk kembali merebut tahta Kerajaan Singayam.


Namun, sebelum itu, Alma Fatara harus membantu Badak Ireng menyelesaikan masalah tambang emas yang diambil kendali oleh Wulan Kencana dan sekutunya.


Alma Fatara dan Wulan Kencana akhirnya bertarung sampai mati yang dimatikan oleh Wulan Kencana dan dihidupkan oleh Ratu Siluman.


Setelah pertarungan itu, Panglima Arung Seto dan anak buahnya menolong seorang pendekar wanita, anggota dari sekutu Wulan Kencana yang menderita luka parah. Pendekar wanita itu bernama Cantik Kuku Hijau. Dia menderita luka patah tulang di banyak bagian tubuhnya.


Alma Fatara memutuskan untuk menolong dan membawa serta Cantik Kuku Hijau agar bisa diobati secara berkelanjutan oleh Tabib Bocah selama perjalanan.


“Pasukaaan, siapa kita?!” teriak Panglima Besar Anjengan kepada pasukannya yang sudah berbaris teratur.


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi berkomando.


“Hua hua hua!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Berangkaaat!” teriak Anjengan penuh semangat.


Pasukan Genggam Jagad pun bergerak dengan langkah yang bersemangat menuju peperangan baru. (RH)

__ADS_1


__ADS_2