Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 50: Menerobos Kebal Senopati


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Alma Fatara dan Senopati Gending Suro sama-sama melesat maju.


Meski gagal menyerang Alma dengan ilmu Tinju Lahar Gunung saat bentrok di udara, Gending Suro masih maju dengan mengandalkan ilmu yang sama. Kedua tinjunya menyala membara.


Sementara Alma Fatara maju dengan tangan tanpa senjata, tetapi Benang Darah Dewanya tetap aktif. Meski Gending Suro berilmu kebal sehingga tidak bisa dipermainkan dengan suntikan-suntikan, Benang Darah Dewa masih bisa diandalkan, terbukti ketika bentrok di udara sangat membantu Alma menyarangkan satu tendangan keras.


Pertarungan tingkat tinggi dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa tergelar. Alma Fatara selaku pihak yang jauh lebih muda bisa mengimbangi kecepatan gerak Gending Suro yang bertarung tidak setengah-setengah.


Alma Fatara mengandalkan kecepatan gerak untuk menghindari kedua tinju lawannya yang sangat terasa hawa panasnya. Alma pun mengandalkan Benang Darah Dewa untuk mencekal tangan lawannya jika serangan tinju itu mengancam.


Lilitan-lilitan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat jelas pergerakan dan keberadaannya, sangat mengganggu Gending Suro. Ketika dia seharusnya berhasil menghantam Alma Fatara dengan tinjunya, lagi-lagi gerak lengannya memelan karena ditahan oleh cekalan lilitan Benang Darah Dewa, membuat kepal panas itu hanya sampai satu jengkal dari wajah cantik Alma.


Pak pak bapak!


Pada satu kesempatan, ketika kedua ujung Benang Darah Dewa mencekal kedua tangan Gending Suro, Alma Fatara maju dengan cepat dan mendaratkan empat pukulan telapak tangan pada dada lelaki itu.


Setelah menyarangkan empat pukulan, Alma Fatara kembali mundur.


Di dalam hati, Gending Suro agak heran, kenapa pukulan Alma Fatara biasa-biasa saja. Pukulan itu sepertinya tidak mengandung tenaga dalam sedikit pun. Namun, sang senopati tidak boleh melamun hanya karena memikirkan keanehan itu.


Benang Darah Dewa yang sangat mengganggu gerakannya dalam menyerang, menuntut Gending Suro menambah senjata serangnya, yaitu sepasang kaki yang diselimuti sinar hijau berbentuk bunga yang sedang mekar. Itu ilmu Tendangan Bunga. Ilmu itu bersifat tajam dan panas.


Gending Suro sadar bahwa senjata benang Alma Fatara hanya dua, terbukti hanya bisa membelit kedua tangannya, tidak lebih. Jadi, jika benang itu melilit kedua tangannya yang menghalangi tinju, pastinya benang itu tidak akan melilit kaki pada saat yang bersamaan, pikir Gending Suro.


Pertarungan kembali berlanjut.


Benang Darah Dewa memang masih mengganggu gerakan sang senopati, tetapi kini kedua tangan dan kedua kaki sama-sana berbahaya. Setelah Gending Suro mengaktifkan juga maut di kakinya, Alma Fatara pun lebih hati-hati.


Sejauh ini Alma Fatara tidak begitu obral kesaktian, masih mengandalkan kecepatan gerak dan Benang Darah Dewa. Hal itu justru membuat Gending Suro belum bisa banyak membaca kesaktian Alma Fatara. Sebaliknya, Alma justru memaksa lawannya terus mengeluarkan kesaktiannya satu demi satu.


Pak pak bapak!


Ternyata, duet ilmu Tinju Lahar Gunung dengan Tendangan Bunga tidak mencegah Alma Fatara untuk menyarangkan kembali serangannya. Dengan tetap dibantu oleh jasa Benang Darah Dewa, Alma Fatara masih lolos mendaratkan empat pukulan beruntun telapak tangannya ke dada sang senopati.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi pukulan telapak tangan itu biasa saja, seperti pukulan telapak tangan wanita biasa, hanya menang kecepatan.


Bukan hanya Senopati yang heran, penonton pun dibuat terheran-heran. Berulang kali Senopati terkena pukulan, tapi tidak berefek apa pun.


Apa jadinya jika pukulan itu berisi tenaga dalam tinggi atau mengandung kesaktian? Pikir Senopati.


Bagi penonton, terlihat begitu kentara bahwa Senopati begitu sakti sehingga sangat sulit dicederai oleh kesaktian Alma Fatara.


Setelah memukul Senopati tanpa melukainya, Alma Fatara memilih mundur menjauhi lawannya.


“Berikan aku tombak! Aku ingin melihat, apakah Senopati Gendeng kebal juga dengan tombak!” teriak Alma Fatara.


“Tangkap, Pendekar!” teriak seorang prajurit yang memegang sebatang tombak. Dia melemparkan tombaknya dari jauh.


Set! Tap!


Mudah bagi Alma Fatara menangkap batang tombak yang dilemparkan kepadanya.


“Dengan tombak ini, aku pasti bisa melukaimu, Paman,” kata Alma Fatara.


“Aaah! Paman Gendeng rupanya tahu kalau aku memiliki barang cantik. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa menertawakan Senopati yang selalu marah. “Pasti Paman tertarik untuk merebut Bola Hitam milikku. Tapi tenang saja, Paman. Aku tidak akan menggunakan Bola Hitam untuk melawanmu, karena aku masih bisa menumbangkanmu dengan tombak ini, atau dengan benangku.”


“Sombong sekali!” bentak Gending Suro.


“Hahaha!” Alma kembali tertawa, membuat lawannya semakin sakit hati dan benar-benar merasa direndahkan. “Orang cantik wajar kalau sombong, Paman. Ayo kita mulai lagi, Paman. Kasihan penonton banyak yang menunggu.”


Alma Fatara lalu berlari maju tiga langkah, lalu melompat bersalto cepat di udara, lalu jatuh kepada Senopati dengan satu kaki mengapak ke arah kepala.


Serangan itu membuat Senopati berpikir bahwa itu adalah kesempatan bagus untuk melukai Alma Fatara.


Tap! Cess! Tek!


Dengan sigap, Senopati Gending Suro menangkap tungkai kaki Alma Fatara dengan kedua tangannya yang membara. Tangkapan yang sangat panas itu langsung mencoba membakar kaki Alma.


Namun, Gending Suro harus terkejut, tapi bukan terkejut karena pada saat itu juga mata tombak melesat menusuk ke lehernya.


Gending Suro terkejut karena tidak merasakan bahwa kulit kaki Alma Fatara terbakar atau cedera oleh panasnya jari-jari kedua tangannya. Ternyata Alma Fatara kebal panas.

__ADS_1


Kini posisi tubuh Alma Fatara tidak jatuh atau memijak tanah. Selain karena kakinya dicekal oleh kedua tangan Gending Suro, dia juga bertopang pada tusukan tombak pada leher lawan yang kebal.


Mata tombak itu menusuk kuat, tetapi kulit leher Gending Suro begitu alot, tidak mau robek oleh mata tombak. Terlihat leher Gending Suro menegang kencang menahan tusukan yang bertenaga dalam.


Alma Fatara mendorong tongkat dengan tangan kirinya. Sementara itu, tangan kanan bergerak cepat memapaki buntut tombak.


Puk!


“Huakr!” pekik keras Senopati Gending Suro dengan tubuh terlempar ke belakang, melepaskan kaki Alma Fatara dengan mulut yang menyemburkan darah.


“Yeee!” sorak serentak sebagian besar prajurit yang sejak tadi tegang menunggu keberhasilan Alma Fatara melukai Senopati Gending Suro yang sakti.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba sang senopati yang sangat sulit dicederai bisa terpental dengan mulut menyemburkan darah? Jangan dijawab!


Tentu masih ingat posisi Alma Fatara yang berdiri miring di atas tubuh Gending Suro? Alma menahan tubuhnya dengan topangan kaki kanan yang dicekal dan tombak yang menusuk leher lawan.


Pada saat menusuk kuat leher Gending Suro dengan tombak yang didorong tangan kiri bertenaga dalam tinggi, Alma Fatara menghantamkan telapak kanannya pada buntut tombak, dia menggunakan ilmu Tapak Rambat Daya.


Jelang telapak tangan kanan menghantam buntut tombak, tangan kiri menghilangkan tenaga dalamnya, sehingga ketika telapak tangan kanan mendorong buntut tombak, murni tidak ada pengerahan tenaga dalam. Maka energi dari ilmu Tapak Rambat Daya merambat pada tombak dan menghantam tubuh Gending Suro.


Itulah keunikan ilmu Tapak Rambat Daya, kekuatannya menyerang dengan dahsyat, tetapi dengan syarat pakai media perantara.


Punggung Senopati Gending Suro menghantam tanah keras dengan kondisi sudah terluka dalam parah.


“Apa yang terjadi?” ucapnya sambil cepat bangkit dengan sempoyongan. “Tidak mungkin dengan hanya pukulan seperti itu bisa melukaiku separah ini.”


Dia kembali pusatkan pandangan liarnya kepada Alma Fatara yang tetap berdiri gagah tanpa luka pada kakinya sedikit pun, hanya bagian ujung celananya yang hangus terbakar. Masih untung bukan bagian atas celana yang terbakar.


Set! Tek!


Dengan entengnya Alma Fatara melempar tombaknya yang melesat mengenai dada Senopati Gending Suro. Namun, tombak itu tidak menancap, tapi jatuh ke tanah, menunjukkan sang senopati masih kebal meski sudah terluka dalam.


“Itu baru tahap pertama, Paman,” kata Alma Fatara tenang.


Bruss!


Tiba-tiba kedua lengan Senopati Gending Suro diselimuti sinar merah hingga bahu. Luka dalamnya ternyata tidak menghalanginya untuk mengeluarkan ilmu Letupan Neraka. (RH)

__ADS_1


__ADS_2