
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Alma Fatara yang aku angkat sebagai Panglima Perang Pasukan Jintamani telah masuk di Istana. Itu adalah tanda kemenangan kita. Aku sangat yakin kita akan memenangkan peperangan ini dalam satu hari satu malam,” kata Ratu Warna Mekararum kepada seluruh anggota Keluarga Istana yang duduk bersila di lantai di depan kursinya.
“Nenek Ratu, jadi benar perempuan ompong yang aneh itu Nenek Ratu angkat jadi panglima perang?” tanya Putri Manila Sari yang berdiri di sisi kursi Ratu Tua.
Mendelik Ning Ana di belakang mendengar Alma Fatara disebut aneh.
“Dia aneh, tetapi dia telah menyelamatkan Nenek Ratu dan mengalahkan ribuan pasukan Jintamani seorang diri,” kata Ratu Warna Mekararum.
Legalah Ning Ana mendengar Ratu Tua membela Alma Fatara.
Dak dak dak!
Tiba-tiba seorang prajurit dari Pasukan Keamanan Istana masuk ke Ruang Singa dan berlari kencang menuju ke pusat pertemuan.
“Lapooor!” teriak si prajurit kencang dan panjang, seolah-olah pesan yang dibawanya begitu penting, padahal dia belum sampai ke depan Ratu Tua.
Setelah dia sampai dan menjura hormat, barulah dia menyampaikan kabar terkini yang dibawanya.
“Senopati Gending Suro dan pasukannya sedang menuju ke sini, Gusti Ratu!” lapor si prajurit.
Mendengar itu, seketika terkejutlah para anggota Keluarga Kerajaan.
“Panglima Rakean, persiapkan pasukanmu!” perintah Ratu Warna Mekararum.
“Baik, Gusti!” ucap Panglima Rakean. Dia pun segera berbalik setelah menghormat seperlunya.
Panglima Rakean memberi kode kepada pasukannya yang ada di dalam Ruang Singa. Para prajurit itu segera bergerak menuju ke satu arah mengikuti panglimanya. Mereka menuju ke gerbang Ruang Singa.
“Aku juga ingin bertempur membela Kerajaan kita, Gusti Ratu,” ujar Pangeran Bugar Bawah.
“Aku juga,” kata putra tertua Pangeran Bugar Bawah yang bernama Pangeran Arguna yang berusia dua puluh tiga tahun lebih sebelas hari.
“Aku juga!”
“Aku juga!”
“Aku juga!”
Sahut para lelaki anggota Keluarga Kerajaan yang merasa memiliki keahlian ilmu beladiri.
“Jangan!” larang Ratu Warna Mekararum. “Aku memahami tingginya rasa bela kalian terhadap Kerajaan. Lemahnya Gusti Prabu, parahnya sakit Putra Mahkota, membuatku merasa khawatir dengan keselamatan keluargaku. Apalagi yang kita hadapi adalah Senopati Gending Suro langsung, dengan kesaktiannya, dia pasti akan menargetkan anggota Keluarga Kerajaan langsung. Biarkan Pasukan Keamanan Istana yang menghadapi.”
__ADS_1
Sementara itu di depan Ruang Singa, sekitar lima ratus prajurit Pasukan Keamanan Istana telah berbaris rapi membentuk pagar manusia sepuluh saf di halaman, sebagian lagi membentuk pagar betis di depan pintu besar Ruang Singa. Sementara Panglima Rakean yang bersenjata tongkat besi berdiri di antara kedua barisan pasukannya.
Halaman gedung Ruang Singa itu hanya mengandalkan penerangan beberapa obor di dinding gedung dan beberapa tiang di pelataran.
Drap drap drap ...!
Tidak berapa lama, suara ramai lari kaki manusia terdengar, seiring munculnya cahaya terang dari balik bangunan lain yang tidak begitu jauh di depan Ruang Singa. Setelah satu sedotan mie rebus lamanya, muncullah sebuah kereta kuda terbuka yang di atasnya berdiri seorang perwira berbaju perang.
Kereta yang ditarik oleh tiga kuda itu diikuti oleh ratusan prajurit dan tiga orang pendekar yang berlari sedang.
Orang yang bediri di atas kereta kuda tidak lain adalah Senopati Gending Suro.
Ketegangan pun melanda Pasukan Keamanan Istana karena mereka akan berhadapan langsung dengan orang tersakti di Kerajaan Jintamani.
Setelah semua rombongan Senopati Gending Suro terlihat, maka bisa dinilai bahwa jumlah pasukan yang datang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah Pasukan Keamanan Istana.
Pasukan Senopati Gending Suro memasuki pelataran Ruang Singa.
“Kepung!” teriak Panglima Rakean, ketika pasukan musuh kian mendekat.
Sekitar tiga ratus prajurit Pasukan Keamanan Istana di barisan depan segera bergerak maju menyebar dengan pedang dan tameng.
Pergerakan itu memaksa kereta kuda Senopati Gending Suro berhenti. Pasukannya segera bergerak mengelilingi kereta kuda memberi perlindungan dan memasang formasi pertahanan dengan pedang dan tameng pula.
Psiss!
Ternyata Gending Suro naik bersama sebulat sinar biru besar, membuat tegang Pasukan Keamanan Istana yang sedang mengepung.
Psesst!
Tiba-tiba bola sinar biru besar itu pecah menjadi lesatan sinar-sinar biru kecil ke segala arah. Terkejutlah para prajurit yang melakukan pengepungan saat melihat puluhan sinar-sinar biru kecil itu berlesatan turun kepada mereka.
Blar blar blar ...!
“Akk! Akh! Akk ...!”
Ledakan massal terjadi yang menghancurkan para prajurit Pasukan Keamanan Istana yang tidak bisa menghindar dari hujan sinar biru itu. Mereka tangkis dengan perisai pun tidak ada guna karena perisai juga hancur dan melukai parah tubuh mereka.
Panglima Rakean dan pasukan di belakangnya hanya bisa terkejut melihat pasukan mereka dibantai dalam waktu sekejap saja. Lebih dua puluh prajurit tewas dan puluhan lainnya terluka.
Sebelum Senopati Gending Suro melakukan hal yang sama lagi, Panglima Rakean segera bertindak.
“Serang!” teriak Panglima Rakean sambil melompat dan berlari di udara.
Seeet!
__ADS_1
Sambil berlari di udara itu, Panglima Rakean melesatkan tongkat besinya menyerang Senopati Gending Suro yang baru saja turun dari udara ke atas kereta kudanya.
Dug!
Namun, dengan perkasanya Gending Suro meninju ujung tongkat itu, membuat tongkat melesat mundur tanpa melukai kepal tangan sang senopati.
Tap!
Tongkat yang melesat pulang menyerang balik Panglima Rakean, tetapi sang panglima sigap menangkap tongkatnya. Namun, laju tubuhnya jadi mundur karena terbawa oleh kekuatan tongkatnya, bukan terbawa oleh perasaan.
“Seraaang!” teriak para prajurit Pasukan Keamanan Istana yang lolos dari cedera. Mereka maju menyerang pasukan Senopati.
“Panah!” perintah Senopati Gending Suro kepada pasukannya.
Maka pasukan pertahanan yang memasang tameng rapat segera turun berjongkok. Ternyata ada pasukan panah di dalam benteng manusia itu.
Set set set ...!
Ceb ceb ceb ...!
“Akk! Akk! Akk ...!”
Pasukan panah Senopati melepaskan anak-anak panah mereka ke segala arah.
Sebagian prajurit yang maju menyerang harus tumbang ketika tubuh mereka terkena panah.
Brak brak brak ...!
Tang ting ting ...!
Namun, gelombang serangan Pasukan Keamanan Istana tidak terbendung meski banyak yang berguguran.
Pasukan Keamanan Istana menghantamkan tameng-tamengnya sebagai pendorong, lalu pedang-pedang mereka melakukan agreasi kepada para prajurit pasukan Senopati.
Pasukan Senopati pun bertahan lalu berusaha mendesak mundur pasukan pengepung.
Wuss wuss!
Senopati Gending Suro berkelebat berlari di atas pertempuran sambil menghentakkan kedua lengannya ke bawah, memberi dua gelombang angin pukulan kepada pasukan lawan.
Sekelompok prajurit Pasukan Keamanan Istana terhempas berjengkangan saat mereka dihempas angin keras. Kondisi itu membuat prajurit pasukan Senopati cepat maju dan dengan leluasa membunuhi pasukan lawan.
Sementara itu, Senopati Gending Suro mendarat di depan Panglima Rakean yang kemudian langsung menyambut dengan serangan.
Di belakang, Macan Brewok, Macan Batu dan Gampar Seblak keluar dari benteng pasukan dan terjun langsung di tengah-tengah Pasukan Keamanan Istana yang menyerang. Ketiga pendekar itu mengamuk hebat membunuhi prajurit satu demi satu. (RH)
__ADS_1