Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 21: Topeng Rubi


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


Akhirnya makanan besar bagi Alma Fatara, Manila Sari dan Sabung datang untuk disajikan. Aroma bumbu rempahnya begitu kuat dan menggugah selera, membuat air liur menetes ke dalam tenggorokan. Banyaknya makanan itu sampai-sampai dibawakan oleh tiga orang pelayan.


“Waw! Banyak sekali. Hahaha!” ucap Alma Fatara ketika melihat banyaknya satu porsi paha kuda pingit panggang. Makan daging paha kudanya saja bisa membuat perut melendung, apalagi jika ditambah dengan memakan nasi dan lalapan terongnya.


Satu porsi makanan yang mereka pesan bisa mengenyangkan dua perut. Sedangkan mereka bertiga memesan tiga porsi.


“Sepertinya kita salah pesan makanan,” kata Manila Sari.


“Bagaimana jika kita bertukar makanan, Cantik?” tawar Rubi Salangka kepada Manila Sari.


“Tidak sudi. Makananmu pasti sudah kau ludahi dengan ajian pelet,” ketus Manila Sari.


“Jika makananku sudah aku ludahi ajian pelet, pasti akan aku tawarkan kepada Alma,” sangkal Rubi Salangka.


“Cuih!”


Seketika semua memandang kepada Alma Fatara karena suara meludah muncul darinya.


“Mau bertukar denganku, Kakang Rubi? Makananku sudah aku ludahi liur antipelet,” tawar Alma Fatara.


Rubi tidak langsung menjawab. Dia memandangi sejenak wadah dan piring nasi milik Alma Fatara.


“Dengan senang hati, Kekasihku,” jawab Rubi Salangka sambil lebih dulu menyodorkan wadah makanannya yang memang belum dia sentuh sedikit pun. “Demi cintaku, jangankan sekecap ludah, sepuluh ludahan pun aku sudi menerima.”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar gombalan pemuda berambut rumput itu sambil menyodorkan wadahnya ke depan Rubi.


Alma beralih mengambil wadah makanan Rubi yang menunya adalah ayam goreng tujuh irisan, yang seporsinya separuh dari menu paha kuda pingit.


“Makananku bersih dari ludah. Ayo kita makan!” kata Alma Fatara lalu mulai menyuap nasi, lalu merobek daging ayamnya dan mencocolnya ke sambal.


Manila Sari dan Sabung saling pandang, kemudian mau tidak mau mereka pun mulai makan makanannya.


“Lalu siapa yang membayar makanan mahal ini?” tanya Alma Fatara. “Sebab aku tidak punya uang, sudah aku kirim ke kampung.”


“Aku sudah membayar penginapan ini,” kata Manila Sari lalu memandang kepada Sabung.


“Aku yang bayar?” tanya Sabung dengan mulut penuh makanan. “Aku hanya membawa uang sedikit.”

__ADS_1


“Biar aku yang bayar, tapi dengan syarat. Bagaimana?” tawar Rubi.


“Tidak usah. Aku yang bayar. Pasti syaratmu kau minta Alma menjadi kekasihmu!” tukas Manila Sari, masih ketus.


“Padahal syaratku hanya minta dianggap teman,” ucap Rubi mengeluh.


“Oh, kalau begitu kau bayar makanan kami semua,” kata Manila Sari bernada lebih bersahabat, meski wajahnya tetap ketus.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil menutup mulutnya, takut makanannya tersembur ke wajah tampan Rubi. “Ternyata kau juga bisa goyah, Putri.”


“Hah? Putri?” kejut Rubi Salangka. Dia jadi antusias kepada Manila Sari. “Kau putri dari kerajaan mana?”


“Aku Putri Manila Sari dari Kerajaan Impian di langit para dewa,” jawab Manila Sari.


“Biarpun kau adalah putri dari Kerajaan Dewa, aku tetap kepada Alma Fatara, gadis tercantik di lautan. Hahaha!” kata Rubi Salangka lalu tertawa yang diikuti oleh tawa ringan Alma.


“Kakang, kau orang baik atau jahat?” tanya Alma Fatara tanpa tawa lagi.


“Aku hanya jahat dalam urusan cinta. Maklum, ketampananku sudah mendunia. Hahaha!” jawab Rubi Salangka.


“Hei, Pendekar Pengawin!” panggil satu suara perempuan dari kejauhan.


Kedua wanita itu berpakaian merah, satu terang dan satu gelap. Keduanya berbekal senjata tombak besi pendek yang menggantung di sisi pinggang kanan. Tombak besi itu bermodel sama dengan yang dimiliki oleh 13 Buah Kematian, sama-sama memiliki rantai sebagai ekor pengait.


Melihat itu, Alma Fatara dan kedua rekannya langsung menerka, kedua wanita muda yang terbilang cantik itu memiliki hubungan dengan kelompok 13 Buah Kematian.


Raut wajah Sabung seketika tegang. Sementara Alma Fatara menyentuh punggung tangan Manila Sari sebagai kode agar tidak bereaksi.


“Rupanya kau punya istri baru lagi!” sahut salah satu dari wanita berpakaian merah itu.


“Hahaha! Bukaaan!” tawa Rubi Salangka lalu berteriak menyangkal.


“Selalu saja menyangkal. Giliran sudah hamil, baru kabur! Hihihi!” teriak wanita itu lagi, lalu dia tertawa bersama rekannya dan berlalu pergi.


“Wah, mereka buka topengku saja,” rutuk Rubi Salangka lemas, seperti orang kehabisan gairah.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi Rubi Salangka. “Jadi bagaimana?”


“Oh, tidak masalah. Makanan kalian tetap aku yang tanggung. Meski topengku sudah terbuka, tetapi aku yakin, kau pasti diam-diam masih jatuh cinta kepadaku,” kata Rubi kembali kepada alurnya dan bersemangat lagi.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar kepercayaan diri pemuda itu. “Padahal aku tidak mimpi diseruduk kerbau tadi malam sampai bertemu dengan pemuda sepertimu, Kakang. Aku sudah menduga dengan kuat bahwa kau pemuda tidak jujur.”


“Apakah aku terlalu kentara seperti itu?” tanya Rubi Salangka sambil merobek daging empuk paha kuda di wadahnya.


“Pantangan seorang pendekar tampan, yaitu tidak boleh mengaku tidak punya kekasih atau belum punya kekasih. Pantangan lainnya tidak boleh tampil genit. Jika Kakang langgar, Kakang tidak akan dipercaya oleh wanita cantik dan jelek. Hanya wanita yang rela tunduk kepada kebohongan jika percaya dengan dua karakter pemuda tampan macam itu,” tutur Alma memberikan pelajaran satu sks mata kuliah.


“Oooh, seperti itu,” ucap Rubi Salangka seperti orang ganteng bego.


“Rubi, siapa itu tadi?” tanya Manila Sari.


“Aruk Cantik dan Tuleb Cantik. Dua Penombak Iblis,” jawab Rubi Salangka.


“Kenapa senjatanya sama dengan yang dimiliki kelompok 13 Buah Kematian?” tanya Manila Sari lagi.


“Karena mereka satu guru dan satu kelompok pendekar bayaran. Eh, tunggu. Kalian pendekar, tapi kalian benar-benar tidak tahu tentang Kelompok Tombak Iblis?” tanya Rubi.


“Tidak. Kami dari negeri yang jauh ...,” kata Manila Sari yang kemudian dipotong oleh Alma Fatara.


“Kami mencari kelompok 13 Buah Kematian yang katanya bersarang di Pasar Bulieng,” kata Alma Fatara.


“Jika kalian butuh pendekar bayaran sakti, aku juga bersedia. Asalkan kau tidak menolakku, Alma,” tawar Rubi.


“Lebih dulu aku beri tahu kau, Kakang. Aku tidak begitu suka dengan pemuda yang mesum. Apalagi aku masih belia,” ujar Alma Fatara.


“Aku tidak mesum, Alma,” bantah Rubi Salangka.


“Mulutmu tidak, tapi otakmu sudah mesum. Apalagi kau sudah sering menghamili banyak wanita. Jadi aku target penghamilanmu berikutnya?” tukas Alma Fatara.


“Tidak seperti itu, Alma. Aku lelaki baik-baik. Aku membahagiakan banyak wanita. Jika aku jatuh hati kepada seorang wanita, pasti aku berniat untuk membahagiakannya. Bukankah itu suatu kebaikan?” kilah Rubi Salangka.


Set! Tuk! Sreeet! Brakr!


Tiba-tiba saja. Dari satu arah melesat sebatang tongkat dari arah belakang Alma Fatara. Namun, tongkat itu tidak tepat menargetkan Alma Fatara karena lewat dua jengkal dari sisi kanan kepala si gadis. Tongkat itu menargetkan Rubi Salangka yang duduk berseberangan meja dengan Alma.


Namun, Rubi Salangka sangat cepat bereaksi dengan menusukkan toya hijau kecil pendeknya, sehingga bertemu ujung dengan tongkat yang datang, yang lebih besar dan lebih panjang.


Peraduan itu membuat tubuh Rubi terdorong ke belakang dengan duduk terseret dan menghantam tiga set meja sekaligus, sementara dua ujung tongkat masih saling berciuman. Hingga akhirnya Rubi memilih menghentakkan segelombang tenaga saktinya lewat toyanya, membuat tongkat kayu ukuran normal yang menyerangnya terpental melambung di udara.


Sesosok wanita berpakaian putih hijau muda berkelebat di udara menyambar tongkat yang terpental.

__ADS_1


“Laris Manis!” sebut Rubi Salangka terkejut saat mengenali wanita hamil yang baru saja mendarat dua tombak darinya. (RH)


__ADS_2