Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 28: Berdua Masuk Penjara


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


“Bau sayuran air di sini tidak wangi,” kata Ayu Wicara yang menggendong di punggung lebar Debur Angkara.


“Sayuran apa?” tanya Debur Angkara sambil berjalan di air yang mengalir, sambil tangan kanannya menahan satu paha Ayu Wicara dan tangan kirinya memegang satu obor cukup besar.


“Siapa yang bicara sayuran. Kita tidak sedang di pagar (pasar). Aku tadi itu bilang, bau saluran di bini (sini) tidak wangi,” kata Ayu Wicara yang juga sambil membawa pedang besarnya.


“Oooh. Kau pikir di sini tempat pembuangan minyak wangi. Hahaha!” kata Debur Angkara lalu tertawa.


“Hihihi!” tawa Ayu Wicara.


“Tidak usah mengeluh, kita melaksanakan perintah Gusti Ratu. Seharusnya kita bangga karena mendapat tugas khusus,” kata Debur Angkara.


“Aku tidak melenguh dengan tugas kakus ini, aku hanya melenguhkan megangnya (medannya),” kata Ayu Wicara.


“Hah! Kau pegang apa sampai bisa melenguh?” tanya Debur Angkara terkejut.


“Siapa yang melenguh? Aku hanya mengeluhkan medan ini. Jika masalah pedang-pedang, aku hanya memegang punya Kang Bubur,” bantah Ayu Wicara.


“Eh, jalannya mengecil, Ayu,” kata Debur Angkara.


Saat itu mereka berdua sedang berjalan di sebuah lorong yang lembab dan merupakan lorong saluran air dangkal selutut. Jadi Debur Angkara menggerobok air, sementara Ayu Wicara memeluk erat di punggung kekasihnya yang tidak berbaju.


Akhirnya mereka sampai di sebuah lorong kecil yang setengah kapasitasnya diisi oleh air yang mengalir. Lorong itu jelas tidak bisa dilalui dengan berjalan tegak atau membungkuk, tetapi hanya bisa dilalui dengan merayap.


“Sepertinya kita salah jajan, Kang Dengkur,” kata Ayu Wicara.


“Tidak mungkin. Jalan ini yang ditunjukkan oleh Gusti Ratu. Sejak awal kita masuk sampai di sini, kita tidak menemukan jalan bercabang,” bantah Debur Angkara.


Debur Angkara terus mendekat ke lorong yang agak menaik sambil memajukan obornya agar bisa melihat dengan jelas.


“Kita luntur saja, Sawang (Sayang),” ajak Ayu Wicara.


“Kalau kita mundur, itu sama saja kita gagal melaksanakan tugas. Bisa saja, karena kegagalan kita ini, Gusti Ratu gagal menang,” kata Debur Angkara.


“Haaah! Kenapa tadi kita meminang (menerima) tugas ini?” keluh Ayu Wicara.


“Kita sudah jauh berjalan, kita akan tambah jauh berjalan jika harus berbalik lagi. Lebih baik kau turun dan merayap masuk lebih dulu, aku merayap di belakangmu, Sayang,” kata Debur Angkara. Kali ini dia benar-benar menjadi seorang pemimpin.

__ADS_1


Mereka berdua memang mendapat tugas khusus dari Ratu Warna Mekararum untuk menjebol penjara lewat jalur rahasia. Rutenya sangat mudah dipahami karena hanya memiliki rute tunggal.


“Baiklah, Sawang,” ucap Ayu Wicara dengan nada lemas.


Dia akhirnya turun dari gendongan dan merelakan celananya basah. Nanti pun dia harus rela berbasah-basah seluruh pakaiannya karena harus merayap di lorong yang berair.


“Biar aku yang membawa opornya,” kata Ayu Wicara sambil menyerahkan pedang besarnya kepada Debur Angkara dan mengambil alih obor.


Ayu Wicara lalu mendekat ke mulut lorong kecil yang memiliki air terjun mini setinggi lutut.


Ayu Wicara lalu mulai memasukkan kepala dan bahunya ke dalam lorong. Ia pun langsung basah oleh air. Obornya dia jaga agar tidak terkena air. Jika mati, akan sulit untuk menyalakannya. Selain mereka tidak memiliki kesaktian api, mereka juga tidak punya korek gas.


Ayu Wicara mulai merayap. Setelah masuk, Debur Angkara pun mulai masuk merayap dengan mengatur posisi pedang besar Ayu Wicara.


“Kalau di depan ada kelapa ular besar bagaimana, Kang Bubur?” tanya Ayu Wicara sambil berhenti merayap. Dia menengok ke belakang.


“Jangan menghayal, Ayu,” kata Debur Angkara sambil terus merayap menaiki kaki Ayu Wicara. Lalu sambil menepak bokong Ayu, dia berkata, “Ayo maju terus!”


“Hei, jangan pukul-pukul engkongku!” hardik Ayu Wicara.


“Jika tidak mau jalan, aku akan gigit dengan penuh semangat bokongmu!” ancam Debur Angkara.


“Awas saja jika terasi (berani), aku akan mengajakmu bersarung (bertarung) sekalian,” ancam balik Ayu Wicara.


Akhirnya Ayu melanjutkan rayapannya.


“Adaw!” pekik Debur Angkara karena satu kaki Ayu mengenai wajahnya.


Namun, Ayu Wicara terus merayap, seolah-olah tidak sadar bahwa kakinya telah menendang wajah kekasihnya.


Keduanya terus merayap lebih dalam.


“Akh!” pekik Debur Angkara tiba-tiba, mengejutkan Ayu Wicara.


Ayu berhenti dan cepat menengok ke belakang. Dilihatnya Debur Angkara tersangkut tubuhnya oleh bagian lorong yang menyempit. Memang, lorong itu tidaklah serata pipa paralon.


Ada tonjolan batu yang membuat lubang lorong menyempit, sehingga bahu Debur Angkara menyangkut.


Debur Angkara memutuskan untuk mundur lagi. Dia lalu menggunakan pedang besar milik Ayu Wicara untuk menghancurkan batu yang menonjol. Ternyata berhasil.


Hal itu membuat Debur Angkara mencoba kembali memasukkan kedua bahunya, ternyata berhasil. Mereka pun bisa melanjutkan perayapannya.

__ADS_1


Namun ternyata, setelah lolos dari titik itu, lorong pelan-pelan kian melebar dan tidak lama kemudian, mereka berdua bisa berdiri tegak lagi. Perjalanan pun dilanjutkan dengan lebih mudah.


“Kang Bubur, lihat, itu payungnya!” seru Ayu Wicara gembira sambil menunjuk sebuah patung batu berwujud monyet bugil karena tidak berbaju dan bercelana.


Patung monyet itu berwarna hitam karena lumut dan gelap.


“Benar, kita sudah sampai di pintu rahasia,” kata Debur Angkara.


Lelaki berotot besar itu lalu memberikan pedang besar kepada Ayu Wicara. Dia kemudian menggenggam kuat kedua lengan monyet yang diam saja.


Debur Angkara kemudian berusaha untuk memutar posisi patung batu. Namun, patung itu bergeming, tidak bergerak.


“Pakai ******-*****, Kang Bubur,” kata Ayu Wicara.


“Hahaha! Aku sudah pakai celana luar dan cawat, Ayu,” kata Debur Angkara.


“Bukan itu maksudku. Maksudku adalah pakai celana ... eh, tenaga dalam, Kakang Dengkur,” ralat Ayu Wicara.


“Baik, Sayang!” pekik Debur Angkara seraya tersenyum lebar.


Ayu Wicaraa hanya tersenyum lebar pula.


Debur Angkara kembali memutar kedua bahu patung monyet.


Greg!


Ternyata patu batu itu bergerak berputar. Debur Angkara melaksanakan sesuai arahan Ratu Warna Mekararum sebelumnya. Patung itu tidak langsung berputar penuh, tetapi tersendat-sendat karena berat. Mungkin karena terlalu lama tidak pernah diputar.


Seiring berputarnya posisi patung, satu bidang bagian dinding lorong ternyata ikut bergerak melesak masuk tenggelam. Semakin banyak patung berputar arah, maka semakin dalam dinding yang membuka membentuk sebuah pintu yang sempit.


Jleg!


Hingga akhirnya, putaran patung monyet di rasa sudah mentok, tidak bisa diputar lagi melebihi 360 derajat. Ternyata bagian dinding yang masuk telah menciptakan lubang yang gelap, menghubungkan lorong itu dengan sebuah ruangan yang gelap. Justru cahaya obor di tangan Ayu Wicara yang membias masuk ke ruang sebelah.


Pergerakan dinding yang berujung pada terbukanya sebuah pintu dan masuknya cahaya api obor, mengejutkan seorang lelaki yang duduk meringkuk di dalam sebuah sel penjara yang gelap.


“Kita sudah sampai, Ayu,” kata Debur Angkara.


“Ayo kita langsung mabuk saja, Kang Bubur!” ajak Ayu Wicara sambil menyelinap masuk ke ruang sebelah.


Debur Angkara juga mengikuti.

__ADS_1


Mereka langsung memeriksa kondisi ruang sebelah itu. Ternyata mereka kini berada di depan sel-sel penjara berteralis yang saling berhadapan tanpa cahaya obor lain. Mereka tidak bisa langsung melihat, apakah ruang-ruang penjara yang dipisahkan oleh dinding batu di kanan kirinya dan lorong koridor di depannya itu memiliki isi atau tidak. (RH)


__ADS_2