Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 30: Sempurna Tugas Alma


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Kondisi Alma Fatara dan Bungkuk Gila sedang terkurung oleh tabung sinar hijau. Sebelum keduanya bisa meloloskan diri, Abah Sakti langsung melesat ke arah posisi Alma Fatara, karena dia memprioritaskan untuk membunuh gadis itu. Pada tangan kanannya telah bercokol sinar hijau menyilaukan dan siap dihantamkan ke tabung kurungan Alma Fatara.


Prakr!


Sebelum Abah Sakti sampai kepada Alma Fatara, tabung sinar hijau sudah berubah menjadi kristal hijau yang retak total, setelah dihantam Bola Hitam dari sisi dalam. Namun, Abah Sakti sudah terlanjur mendekat ketika kurungan itu berubah retak. Maka, dia pun melesatkan sinar hijau di tangannya menghantam dinding kristal retak.


Bluarr! Syeeeffs!


Bersamaan dengan hancurnya kurungan hijau oleh sinar hijau menyilaukan, sinar itu juga langsung tersedot sangat cepat ke dalam Bola Hitam yang melayang di depan badan Alma Fatara. Ledakan yang terjadi tidak sedikit pun memberi efek buruk kepada Alma.


“Sial!” maki Abah Sakti terkejut.


Sess! Bluarr!


Setelah menyerap seluruh kekuatan tenaga sakti dari sinar hijau menyilaukan, Bola Hitam lalu menembakkan segaris sinar hijau kepada Abah Sakti.


Mungkin karena sudah terlalu tua menjadi orang botak sehingga strategi tarung Abah Sakti suka terpeleset. Terbukti dia salah perhitungan dalam menyerang Alma Fatara, padahal tadi dia sudah melihat kehebatan senjata Alma Fatara.


Hancur lebur berkeping-keping tubuh tua Abah Sakti ketika tembakan jarak dekat Bola Hitam yang sangat cepat tidak bisa dia hindari, meskipun dia memiliki kecepatan laksana menghilang.


Kondisi yang gelap membuat tidak jelas ke mana saja tersebar daging dan darah Abah Sakti, terlebih Alma pun tidak sudi untuk mencari jejak mayatnya.


“Dasar Botak,” ucap Bungkuk Gila pelan sambil geleng-geleng kepala. Ia prihatin atas nasib pendekar tua yang mungkin satu almameter dengannya itu.


“Ada yang datang,” kata Alma Fatara kepada Bungkuk Gila.


Bungkuk Gila menengok melihat ke arah kedatangan rombongan pasukan yang membawa banyak obor. Di dalam rombongan itu ada sebuah tandu megah yang di atasnya ada seonggok lemak berwujud manusia.


“Itu pasti Tebar Kembang. Ah, itu ada si eek lagi,” kata Bungkuk Gila saat melihat Tebar Kembang dan Lidah Untung.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara sedang. “Bukankah Kakek tadi bertarung dengan si eek?”


“Iya, tetapi dia aku biarkan pergi. Kondisinya sedang terluka dalam. Jika adu pukulan saja, dia bisa mati,” jelas Bungkuk Gila.


Ternyata rombongan itu memilih berhenti cukup jauh dari posisi Alma dan Bungkuk Gila. Itu karena tanah yang ada di depan mereka sudah tidak berbentuk dengan jelas, entah mau seperti apa formasi kerusakannya. Tanah hancur di tempat itu memang tidak nyaman untuk dipakai baris berbaris.


“Siapa yang membunuh ayahku? Mendekat ke mari!” teriak Tebar Kembang keras.


Wuss! Brakr!

__ADS_1


Tiba-tiba ada segulung angin yang berembus membelai permukaan tanah yang hancur. Angin kencang yang bergerak di bawah itu menyerang keempat lelaki perkasa yang memikul tandu pada keempat kayu pikulnya.


Angin kiriman Bungkuk Gila itu berhasil menyambar kaki keempat pemanggul, sehingga mereka terbawa dan lepas dari tandu. Akibatnya, tandu jatuh keras ke tanah, membuat tubuh Tebar Kembang sangat terguncang.


“Setaaan!” teriak Tebar Kembang murka bukan main.


Wanita gemuk berlemak itu segera bangun dan turun dari tandu.


“Seraaang!” perintah Tebar Kembang kepada pasukannya sambil menunjuk kepada Alma Fatara dan Bungkuk Gila di depan sana.


“Tunggu!” seru Alma Fatara kencang.


Rupanya pasukan yang dibawa Tebar Kembang lebih patuh kepada orang cantik, sehingga mereka kompak menahan langkah.


Alma Fatara lalu melompat maju ke depan beberapa tombak, lebih mendekatkan diri kepada pasukan lawan.


“Siapa yang bernama Tebar Kembang?” tanya Alma Fatara.


“Aku! Kau mau apa? Mau mati, hah?!” teriak Tebar Kembang melotot, sepertinya dia tidak takut mati.


“Aku ingin membunuhmu supaya aku bisa pulang!” jawab Alma Fatara. Lalu teriaknya kepada Bungkuk Gila, “Kakek, istirahatlah dengan tenang!”


“Baik, Cucuku. Kematian Tebar Kembang Gajah aku serahkan kepadamu! Hahaha!” sahut Bungkuk Gila yang sejak tadi sudah tidak dikurung tabung sinar hijau.


“Eeek!” teriak Lidah Untung berkomando.


“Eeek!” teriak pasukan itu mengikuti Lidah Untung sambil ramai-ramai berlari dan berlompatan maju.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar teriakan komando itu. Lalu teriaknya mengancam, “Aku perintahkan mundur jika mau selamat!”


“Serang atau aku bunuh!” teriak Tebar Kembang pula mengancam agar tidak kehilangan pengaruh.


“Maju atau aku bunuh!” teriak Alma Fatara pula.


“Salah, Almaaa! Hahaha!” teriak Bungkuk Gila lalu tertawa.


“Hahaha! Sudah terlanjur, Kek!” teriak Alma Fatara yang didahului oleh tawa khasnya.


Alma Fatara kemudian melesat cepat laksana burung. Dia melewati atas kepala para prajurit pendekar yang berkelebatan mendatangi posisinya. Dia melakukan dua kali tolakan kaki sehingga dia mendarat di tengah-tengah puluhan pendekar berseragam ungu itu.


Set! Ctar!


Set set set...!

__ADS_1


“Akk! Akh! Akk...!” jerit kesakitan banyak pendekar dari pasukan Tebar Kembang.


Alma Fatara sebelumnya melempar Bola Hitam lurus ke bawah menghantam tanah. Tercipta ledakan sinar biru yang nyaring, yang disusul lesatan puluhan sinar biru tipis berekor ke segala arah.


Puluhan sinar biru itu menebas tubuh para pendekar sehingga langsung mati, pingsan hingga cacat permanen. Puluhan sinar biru itu bersifat sangat tajam. Pohon-pohon besar yang berserakan di area sekitar pun berpotongan dengan rapi ketika terkena.


Tidak sampai sepuluh prajurit pendekar yang mati, tetapi yang terluka karena teramputasi lebih dua puluh orang.


Alma Fatara tidak berhenti, dia maju satu lompatan belalang lagi, lebih mendekat ke posisi Tebar Kembang.


Kemarahan dan dendam membuat Tebar Kembang bukanlah seorang yang penakut dengan kematian.


Meski terkejut melihat kematian para pasukannya, dia tetap menunjukkan wajah garang, termasuk ketika Alma semakin mendekatinya.


Set! Ctar! Set set set...!


“Akk! Akk! Akh...!” jerit sejumlah prajurit pendekar yang masih ada di sekitar Tebar Kembang.


Alma Fatara mendarat beberapa tombak di depan Tebar Kembang dan langsung melempar Bola Hitam dengan gaya bowling.


Ketika Bola Hitam menggesek tanah, kembali tercipta ledakan sinar yang nyaring, lalu puluhan sinar biru tipis berekor berlesatan, tapi arahnya hanya ke depan.


Sejumlah besar pendekar pengawal itu bisa sigap melompat tinggi menghindari serangan sinar-sinar biru, tetapi belasan orang terkena lesatan sinar biru itu.


Salah satu orang yang menghindar dengan cara mengudara adalah Tebar Kembang. Ternyata bobot besarnya tidak menghalanginya untul melompat tinggi.


Bset bset!


Blug! Blug!


Namun, tubuh wanita gemuk itu kemudian jatuh dalam kondisi sudah terbagi tiga bagian. Itu tubuh asli milik majikan para pendekar berseragam ungu itu.


“Eeek...!” teriak Lidah Untung histeris menangis seperti anak ditinggal emaknya.


Tebar Kembang tewas tanpa perlawanan sedikit pun terhadap Alma Fatara, yang mengeksekusinya dengan dua sinar dari ilmu Sabit Murka. Dua sinar kuning itu memotong tubuh besar berlemak Tebar Kembang saat dia berada di udara.


Terkejut semua prajurit pendekar yang masih utuh anggota tubuhnya saat melihat akhir dari hidup majikan mereka.


Tebar Kembang memang berkesaktian, tetapi kesaktiannya tidaklah lebih tinggi dari Lidah Untung, Abah Sakti atau Baling Bangba.


“Eek! Eek!” teriak Lidah Untung sambil mengayun-ayunkan satu tangannya di atas, memerintahkan pasukannya yang masih bugar untuk mundur.


Segera para pendekar kelas prajurit itu bergerak mundur. Teman yang terluka tapi sulit untuk bergerak, dibantu mundur dengan dipapah, tidak diseret.

__ADS_1


Beberapa prajurit pendekar mengangkat potongan tubuh Tebar Kembang dan diletakkan di atas tandu. Pasukan itupun mundur dengan meninggalkan rekan-rekan mereka yang mati. (RH)


__ADS_2