Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 30: Kejutan di Akhir Tarung


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Kini posisi Alma Fatara berdiri di atas, lebih tinggi dari lidah-lidah api biru yang setinggi pinggang orang dewasa. Dia ditopang oleh kekuatan Benang Darah Dewa yang berdiri lurus, membuat orang menyangka gadis ompong itu melayang di udara. Padahal itu trik sulap saja.


Di tengah lautan api yang masih menyala kini ada kawah batu yang bebas dari api setelah tanah batu itu dihancurkan oleh tiga ilmu Lurus Menuju Kematian yang berkekuatan besar. Terciptanya zona bebas api di tengah-tengah lautan api membuat Sawo Ganteng dan Nanas Neraka bisa mendarat tanpa terbakar.


Sementara Jambu Pembunuh sudah terbunuh dengan tubuh dipenggal oleh dua sinar kuning tipis dari ilmu Sabit Murka milik Alma Fatara. Ketiga potongan tubuhnya jatuh ke lautan api dan menjadi mayat panggang.


“Aaak!” erang Kates Kematian di luar lautan api. Kondisinyan semakin lemah karena banyak darah yang keluar dari potongan kaki kanannya.


“Aakrrr!” teriak Ceremai Algojo pula yang kini buto karena baju dan celana luar dalamnya habis dimakan api biru. Kini rambutnya pun habis dengan seluruh kulit melepuh hitam.


Ceremai Algojo terus berteriak karena tidak kuat menahan rasa panas yang luar biasa pada seluruh tubuhnya.


“Aaak! Aku tidak mau hidup seperti ini!” teriak Ceremai Algojo.


Tseb!


“Hekrr!” erang Ceremai Algojo untuk terakhir kalinya.


“Ceremaiii!” teriak Sawo Matang dan Nanas Neraka saat melihat dari jauh apa yang dilakukan oleh rekan bertubuh besar mereka.


Ceremai Algojo yang merasa hidup dan masa depannya hancur dengan menderita luka bakar total seperti itu, tiba-tiba menusukkan tombak besi pendeknya ke perut. Sangat kuat sehingga tembus ke punggung.


Karena melihat masa depan yang suram, Ceremai Algojo memilih melakukan harakiri atau membunuh dirinya karena rasa malu.


“Belimbing Maut matiii!” teriak seorang anggota pengawal yang berada bersama Belimbing Maut di sisi lain.


Belimbing Maut sebelumnya telah bentrok dengan Pukulan Bandar Emas yang membuatnya menderita luka dalam parah, yang kemudian berujung pada kematian, setelah sempat bertahan beberapa tarikan napas.


Kini tinggallah Sawo Matang dan Nanas Neraka yang masih segar bugar untuk menghadapi Alma Fatara.


Sebenarnya gatal Wakil Ketua Kelompok Tombak Iblis, Rajabali Gali untuk turun tangan melawan Alma Fatara. Ia dan para anggota pemimpin yang menonton terpaksa harus memendam amarah dan dendam yang tinggi. Sebab, menurut aturan mereka tidak boleh turut campur dalam pertarungan tantangan itu. Jika mereka turut campur, mereka justru akan berurusan dengan Sunting Awan, nenek sakti yang menjadi Juru Aman Kotabatu Niwakmaya.


Mereka terpaksa harus menerima dengan keprihatinan jika sampai semua anggota Buah Kematian mati.


Zing!

__ADS_1


Terdengar suara berdenging nyaring dari Bola Hitam yang Alma Fatara putar di atas kepala seperti tali lasso cowboy. Dari putaran Bola Hitam di atas kepala itu muncul piringan sinar biru.


Sekedar pemberitahuan ulang. Bola Hitam itu seperti yoyo meskipun dia tidak memiliki tali penghubung dengan tangan Alma Fatara, seolah-olah ada tali gaib yang membuat pusaka itu tetap akan kembali ke genggaman jika dilempar. Namun, Bola Hitam sifatnya tidak bisa dilempar jauh seperti bola kasti.


Melihat Alma Fatara mengeluarkan ilmu baru dari pusakanya, Sawo Ganteng dan Nanas Neraka pun bersiap dengan tangan kanan menggenggam tombak yang bersinar merah menyilaukan. Sementara tangan kiri siap melepas kesaktian lainnya.


Ziiing!


Alma Fatara melempar ke samping Bola Hitam yang kemudian berbalik kembali ke genggaman. Sementara piringan sinar biru melesat ke samping lalu berbelok memutar. Entah siapa yang akan menjadi target.


Setelah melempar piringan sinar biru yang garis lintasannya memutar jauh, Alma Fatara lalu berkelebat di udara dan berlari di atas lidah-lidah api.


Alma Fatara mendatangi Sawo Ganteng dan Nanas Neraka di kawah batu yang kering. Kedatangannya membuat kedua lawannya mengalihkan perhatian dari piringan sinar  biru.


Baru saja Nanas Neraka hendak menyongsong kedatangan Alma Fatara, Sawo Ganteng telah berteriak kencang.


“Awas, Nanaaas!” teriak Sawo Ganteng sambil melompat cepat menghindari piringan sinar biru yang datang dari arah samping mereka.


Bzing!


Nanas Neraka yang ingin menyerang Alma Fatara, jadi terkejut dengan kedatangan piringan sinar biru dari samping. Ia sontak memasang ilmu perisai Sarang Lebah Penolong. Lapisan sinar hijau berpola sarang lebah madu muncul menamengi tubuh Nanas Neraka.


Ternyata piringan sinar biru itu bisa menembus dinding sinar hijau yang berlanjut dengan pemotongan tubuh Nanas Neraka.


“Nanaaas!” teriak histeris Sawo Ganteng yang sedang mengudara.


Bsorrs! Swess!


Bluarrr!


Dari posisinya di atas, Sawo Ganteng menghentakkan kedua tinjunya yang menyatu ke bawah, melepaskan ilmu Lurus Menuju Kematian.


Namun, pada saat yang sama pula, Alma Fatara melepaskan sinar emas menyilaukan. Ujung sinar cokelat dan sinar emas menyilaukan bertemu di tengah jarak, menciptakan benturan dua tenaga sakti tingkat tinggi.


Alma Fatara langsung terbanting keras ke dinding batu kawah besar itu. Sementara Sawo Ganteng terpental naik meninggi ke angkasa, lalu meluncur jatuh seperti orang yang sudah kehilangan seluruh tenaga.


Bugk!


Tubuh Sawo Ganteng jatuh berdebam di lautan api yang langsung membakar pendekar itu.

__ADS_1


“Aaak!” jerit panjang Sawo Ganteng tanpa bisa berbuat apa-apa selain merasakan panas yang tinggi.


Tidak berapa lama, suara jeritan itu hilang, menandakan bahwa Sawo Ganteng telah mati.


Sementara itu, Alma Fatara bangkit berdiri dengan kegagahannya sebagai seorang pendekar wanita sakti. Ia hanya mengusap sedikit darah yang keluar di sudut bibirnya, menunjukkan dia juga mengalami luka dalam buah dari bentrokan energi sakti barusan.


“Yeee! Jayalah kekasihku” teriak Rubi Salangka tiba-tiba sambil tangan kanannya menonjok ke langit.


“Perkasa Dewi Gigi! Perkasa Dewi Gigi!” teriak pendekar Geladak Badak pula. Dia mendadak jadi pendukung Alma Fatara.


“Perkasa Dewi Gigi! Perkasa Dewi Gigi!” teriak sebagian warga mendukung dan mendadak mengidolakan Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara jumawa. Lalu teriaknya, “Apakah aku menang?!”


“Menaaang!” teriak para menonton.


“Ya, kau menang, Dewi Gigi!” seru satu suara lelaki. Seiring itu, ada sosok berpakaian merah yang masuk ke area pertarungan pada sisi yang tidak berapi.


Orang itu tidak lain adalah Rajabali Gali.


“Siapa kau, Paman?” tanya Alma Fatara yang berdiri di kemiringan dinding kawah. Meski dia tahu orang itu adalah bagian dari Kelompok Tombak Iblis, tetapi Alma ingin tahu jabatannya.


“Aku Wakil Ketua Kelompok Tombak Iblis, namaku Rajabali Gali!” seru Rajabali Gali memperkenalkan diri. “Pembunuhanmu terhadap para pendekar Tombak Iblis harus kau bayar, Dewi Gigi.”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara ringan. “Tenang saja, Paman Gali. Aku sudah mendaftar di Kolam Merah untuk menantang Raja Tombak Iblis, ketua kalian.”


“Apa?!” kejut Rajabali Gali benar-benar terkejut.


Semua anggota Kelompok Tombak Iblis juga terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Alma Fatara menantang langsung orang nomor satu di Kelompok Tombak Iblis.


Jika sudah demikian, maka akan percuma saja jika mereka turun tangan untuk mencoba membunuh Alma Fatara, karena itu bisa membuat malu guru mereka di mata para pendekar.


Tiba-tiba dari arah deretan penonton berkelebat sesosok lelaki bertubuh tinggi besar dan berotot batu yang mengenakan pakaian warna jingga. Itu bukan Gigojo si juru aman di pemakanan Peniduran Dewi Mimpi, tetapi rekannya yang berhati lembut kepada kaum wanita cantik, namanya Alus Pisan.


Alus Pisan mendarat tidak jauh dari Rajabali Gali. Ternyata lelaki besar itu membawa segulungan kain. Dia pergi ke depan Rajabali Gali.


“Hormatku, Wakil Ketua Rajabali. Ini ada surat tantangan bertarung untuk Ketua Raja Tombak Iblis di Kolam Merah,” ujar Alus Pisan sambil menyodorkan gulungan kain dengan dua tangan menadah.


Tanpa berkata-kata, tapi menunjukkan wajah gebek (gede ambek), Rajabali Gali mengambil gulungan kain warna jingga itu. Dia lalu berbalik dan berjalan pergi.

__ADS_1


“Bawa mayat-mayat pendekar kita!” teriak Rajabali Gali memberi perintah. (RH)


__ADS_2