Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 5: Pertarungan Depan Pemakanan


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Setelah menyerahkan enam gadis hasil culikan kepada penangkaran Betina Ranjang, Cantik Gelap berniat pulang menuju ke Kotabatu Niwakmaya. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan Kotakayu Darabisu, dia dan rombongannya mampir lebih dulu untuk mengisi perut dan membuang angin.


Di pinggiran Kotakayu Darabisu ada sebuah pemakanan yang terkenal enak, khusus menjual sop daging sapi betina kuah cumi. Jangan tanya apa bedanya daging sapi betina dengan yang bukan betina! Jangan tanya juga seperti apa kuah cumi itu! Pokoknya enak dan nagih.


Ini benar-benar hal yang menggembirakan bagi para pengawal. Namun, jatah makan mereka dibatasi satu porsi saja di saat Cantik Gelap makan dua porsi.


Setelah pesta traktiran itu usai, para pengawal keluar dari pemakanan sop daging sapi dengan perut yang lebih dikedepankan, menunjukkan bahwa mereka benar-benar kenyang.


Yang terakhir keluar dari pemakanan adalah Cantik Gelap karena dia harus mengurus pembayaran lebih dulu yang menguras satu kantong kepengnya.


Pada saat itu juga, lima ekor kuda tiba di depan pemakanan, membuat suasana depan pemakanan semakin ramai. Kelima penunggang kuda itu tidak lain adalah Alma Fatara dan kawan-kawan yang sudah tiba Kotakayu Darabisu.


Setelah menambatkan kudanya dengan aman, mereka turun dan berjalan menuju ke pintu pemakanan.


“Kenapa di sini banyak sekali orang-orang Tombak Iblis?” tanya Lingkar Dalam yang mengenali para pengawal Kelompok Tombak Iblis.


“Jika melihat dari kerangkeng yang mereka bawa di pedati, sepertinya mereka usai melakukan pengiriman wanita-wanita muda,” kata Alma Fatara sambil berjalan.


Mereka berpapasan jalan dengan Cantik Gelap. Wanita berbadan lebar itu memandangi Alma Fatara dan rekan-rekannya. Dia tidak mengenal Alma Fatara karena ketika Alma dikeroyok oleh anggota Buah Kematian dan ketika duel dengan Raja Tombak Iblis, Cantik Gelap tidak hadir. Dia dalam tugas penculikan dan pengiriman.


Cantik Gelap hanya mengenal Geladak Badak dengan julukan Pendekar Rantai Dedemit. Namun, karena tidak akrab, Cantik Gelap pun jual mahal untuk sekedar menegur Geladak Badak. Apalagi lelaki itu sudah tua.


Sedangkan Alma Fatara mengenali wanita berbadan khas itu meski tidak kenal nama. Beberapa malam lalu dia sempat mempermainkan Cantik Gelap saat mengamankan kebebasan enam gadis Kampung Siluman di gapura tiga.


Alma Fatara tidak ingin berurusan dengan orang-orang Kelompok Tombak Iblis dulu. Fokus mereka adalah makan lebih dulu. Namun Alma berkeyakinan, orang-orang berbaju merah itu pasti akan melakukan sesuatu.


Akhirnya Cantik Gelap dan rombongan Alma Fatara saling membelakangi dan menjauhi.


“Lalu bagaimana dengan Bungkuk Gila?” tanya Arguna.


“Dia pasti sudah melewati kotakayu ini terus berlari ke kotakayu berikutnya. Hahaha!” jawab Geladak Badak lalu tertawa.


“Hahaha!” tawa Alma dan yang lainnya.


Mendengar suara tawa Alma Fatara yang lebih khas dan lebih menonjol dari suara tawa rekan-rekannya, membuat Cantik Gelap berhenti melangkah dan menengok ke arah rombongan Alma yang berjalan memasuki pemakanan dengan gembira.


“Penanggung, apakah kau kenal dengan wanita berjubah hitam itu?” tanya sais pedati yang datang mendekati Cantik Gelap.


“Tidak, tapi aku pernah mengejar suaran tawanya saat rombongan pengiriman diserang,” jawab Cantik Gelap dengan tatapan serius.


“Wanita itu yang membantai 13 Buah Kematian dan menantang Guru di Kolam Merah,” jawab si sais. Dia memang menyaksikan pertarungan di gapura batu dua, tapi tidak menyaksikan pertarungan di Kolam Merah.


“Apa?” kejut Cantik Gelap. “Jika dia penantang Guru di Kolam Merah dan kini dia bebas berada di sini, itu berarti....”


Cantik Gelap berhenti berkata-kata saat pikirannya meyakini sesuatu.


Dia akhirnya memutuskan berbalik dan berjalan cepat menuju ke pemakanan lagi.

__ADS_1


“Ke mari kalian semua!” teriak sais pedati memanggil lebih dua puluh pengawal Kelompok Tombak Iblis.


Maka para pengawal itu beramai-ramai bergerak segera menyusul pemimpin mereka.


“Dewi Gigi! Keluar kau!” teriak Cantik Gelap lantang. Dia berhenti tiga tombak di depan pintu masuk pemakanan.


Alma Fatara yang belum sempat duduk agar lebih cantik saat makan, segera menengok ke luar, sama seperti yang dilakukan oleh keempat rekannya. Alma Fatara tidak terkejut lagi, dia sudah memiliki dugaan yang ternyata akhirnya benar, yaitu kemungkinan besar para anggota Kelompok Tombak Iblis itu akan menuntut nyawa.


Teriakan Cantik Gelap juga menarik perhatian pengunjung pemakanan yang lain.


“Kalian tetap di sini pesan makanan. Pesankan untukku juga!” perintah Alma Fatara.


“Baik,” jawab Lingkar Dalam.


“Hahaha! Cari ompong si Cantik Gelap,” ucap Geladak Badak.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan.


Alma Fatara lalu berjalan ke luar. Kedai makan yang tidak berdinding tertutup, membuat para pengunjung bisa tetap menyaksikan apa yang tergelar di depan pemakanan tanpa harus ikut keluar.


Alma turun ke depan dan berhenti dalam jarak dua tombak di depan Cantik Gelap. Di belakang Cantik Gelap telah berbaris satu pasukan bertombak yang sudah siap tarung.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara sebagai pembuka, menunjukkan gigi ompongnya.


“Hahaha!” tawa sebagian lelaki di belakang Cantik Gelap melihat keompongan itu.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang memang akan tertawa jika dirinya disebut apa saja, asalkan lucu.


“Apa yang kau perbuat kepada ketua kami?” tanya Cantik Gelap menghardik.


“Siapa ketuamu, Kakak?” tanya Alma Fatara.


“Raja Tombak Iblis,” jawab Cantik Gelap.


“Apakah Kakak tidak menyaksikan aku membunuh Raja Tombak Iblis di Kolam Merah?” tanya Alma Fatara yang membenarkan keyakinan Cantik Gelap bahwa gurunya telah mati di tangan Dewi Gigi.


“Keparat gila! Serang!” maki Cantik Gelap lalu memberi perintah kepada pasukannya, sementara dia mundur untuk sementara.


“Seraaang!” teriak para lelaki itu ramai-ramai maju melewati posisi Cantik Gelap dan menyerbut Alma Fatara dengan tombak-tombaknya.


“Heaaccing!” bersin Alma Fatara yang membuat para lelaki itu melompat mundur serentak karena menyangka gadis itu mengeluarkan ajian saktinya.


Maklum, semuanya sadar bahwa mereka melawan orang yang telah membunuh orang nomor satu di Kelompok Tombak Iblis.


“Hahahak...!”


Tanpa ayal lagi, meledaklah tawa orang-orang yang menyaksikan kejadian lucu itu, membuat pasukan pengawal berbaju merah itu malu sendiri.


“Hahaha!” tawa Alma terlambat, karena dia menyeka dulu wajahnya untuk menghindari adanya lendir yang menempel di sembarang tempat.

__ADS_1


“Seraaang!” teriak Cantik Gelap lagi bernada kesal.


“Seraaang!” teriak para pengawal bertombak itu lagi ramai-ramai.


Kali ini pertarungan terjadi. Kaum batangan mengeroyok seorang gadis cantik jelita lagi belia. Sungguh pemandangan yang mengusik rasa keadilan dan kependekaran.


Tus tus tus tusuk!


“Aw! Ak! Aik...!” jerit para pengawal itu saat mereka merasakan ada sesuatu yang menyuntik bokong-bokong mereka, membuat serangan mereka gagal fokus.


Suk suk suk tusuk!


“Akk! Akh! Akrr...!” jerit para pengawal itu ketika tombak-tombak menusuk teman sendiri.


Itu terjadi karena mereka kehilangan kendali atas senjata mereka.


Alma Fatara yang bertarung hanya menggunakan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat bagi para pengawal itu, membuat pasukan itu kacau balau.


Selain iseng-iseng menyuntik bokong-bokong kaum batangan itu, Alma Fatara juga menggunakan Benang Darah Dewa untuk menjerat batang-batang tombak, yang kemudian ditusukkan kepada rekan pemilik tombak sendiri.


Akibatnya, satu per satu pengawal yang mengeroyok tumbang dalam kondisi luka tusuk, tidak sampai mati.


Alma Fatara terlihat hanya bergerak ke sana dan ke sini, sementara musuhnya seperti bertarung sesama mereka sendiri.


Melihat hal itu, terperangalah Cantik Gelap dan para penonton karena mereka tidak tahu tentang keberadaan Benang Darah Dewa.


“Ilmu apa yang dimiliki gadis ini? Dia bisa mengendalikan para pengawal jadi bertarung sesama rekan,” desis Cantik Gelap.


Hingga kemudian separuh pengeroyoknya sudah bertumbangan, tiba-tiba ada sosok lain yang berkelebat ke dalam pertarungan dan segera ambil bagian.


“Berani-beraninya kalian mengeroyok cucu cantikku yang selembut buah durian!” teriak orang bungkuk yang baru mendarat di depan Alma, tapi membelakangi.


Wuss!


Kakek bungkuk yang baru datang itu mengibaskan ranting berdaun yang dibawanya.


Segelombang angin keras muncul yang langsung menerbangkan semua lelaki pengawal yang masih kuat bertarung. Para lelaki itu jatuh bergulingan di tanah seperti serakan sampah yang dihempas angin.


Cantik Gelap bahkan dibuat terdorong nyaris jatuh, tetapi dia bisa bertahan dengan kuda-kudanya.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila sambil menengok kepada Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pula. (RH)


********************


Baca Juga!


__ADS_1


__ADS_2