
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Gadis Cambuk Tajam menjadi pusat perhatian para penjaga di lingkungan perumahan kayu panggung itu, tapi tidak ada yang mencoba membantunya.
Gadis yang dadanya disukai oleh Bungkuk Sakti itu berlari pelan tapi terhuyung-huyung menuju ke rumah panggung milik Tebar Kembang. Hingga akhirnya ada juga seseorang yang peduli padanya.
“Kakak Gadis, apa yang terjadi?” tanya seorang wanita berpakaian serba putih yang datang berlari menghampiri Gadis Cambuk Tajam.
Wanita itu memang lebih muda dari Gadis Cambuk Tajam. Selisih sebelas tahun. Meski tidak cantik dengan hidung peseknya, tapi tata kelola rambutnya membuatnya cukup enak dipandang. Rambutnya rapi dengan beberapa jepit rambut dan seuntai pita. Sekedar bocoran, pendekar wanita bernama Lirik Lirik Yo itu punya prinsip “tetaplah tampil cantik meski kau tidak cantik”. Inspiratif sekali.
“Sekelompok pendekar gila mengalahkan aku dan Sabit,” jawab Gadis Cambuk sambil tetap berjalan menuju rumah Tebar Kembang, penguasa dan pengusaha di Kotakayu Darabisu.
Lirik Lirik Yo membantu dengan memegangi tangan Gadis Cambuk Tajam yang tidak membekap luka di perutnya. Keduanya sama-sama pendekar bayaran Majikan Tebar Kembang.
Keduanya tiba di depan tangga yang dijaga oleh prajurit berseragam ungu.
“Aku ingin melapor,” ujar Gadis Cambuk sambil menahan rasa sakit.
“Gadis Cambuk Tajam ingin melapor!” teriak satu prajurit penjaga kaki tangga.
“Majikan, Gadis Cambuk Tajam ingin melapor!” teriak penjaga di depan pintu rumah yang terbuka.
“Suruh naik!” perintah satu suara perempuan dari tempat yang dalam di dalam rumah.
“Naik!” perintah penjaga di dekat pintu yang terbuka kepada Gadis Cambuk Tajam.
Gadis Cambuk Tajam bergerak naik. Lirik Lirik Yo melepaskan dan menunggu di bawah.
“Lapor, Majikan. Aku dan Sabit Pencabut Nyawa kalah. Gading Margin dan Pasukan Berkuda Satu dibantai habis. Pendekar-pendekar gila itu terlalu sakti!” lapor Gadis Cambuk Tajam, sesampainya dia di depan pintu.
“Kau terluka?” tanya suara dari dalam rumah.
“Iya. Aku terkena pisauku sendiri. Sabit Pencabut Nyawa dibuat terluka parah di tempat pertarungan,” jawab Gadis Cambuk Tajam lengkap.
“Pergilah obati lukamu!” perintah suara wanita di dalam.
“Baik, Majikan,” ucap Gadis Cambuk Tajam. “Aku permisi, Majikan.”
Tidak ada jawaban lagi dari dalam rumah. Gadis Cambuk Tajam segera menuruni tangga. Di bawah dia kembali dibantu oleh Lirik Lirik Yo.
“Lidah Untung, pergi beri perintah kepada Abah Sakti untuk memagari tempat ini, kecuali jalan kucing!” perintah suara wanita di dalam rumah.
__ADS_1
“Eek!” jawab satu suara lelaki, tetapi terdengar cempreng.
“Pergilah kepada Penguasa Kotakayu. Katakan kepadanya bahwa aku minta jaminan keamanan dari para pengacau itu. Aku tidak mau rugi banyak!” perintah suara perempuan di dalam rumah.
“Eek!” jawab suara lelaki cempreng lagi.
“Pergilah!” perintah Tebar Kembang.
“Eek!” jawab lelaki yang tadi disebut Lidah Untung.
Tidak beberapa lama, terdengar suara langkah kaki di lantai papan rumah panggung tersebut. Lalu muncullah sosok lelaki berjenis kecil, tapi tidak terlalu kecil. Pakaian biru hijau putihnya model pendekar. Dia bergaya rambut sebahu dengan model belah tengah yang punya jalan tol kutu. Dia membawa sebuah lidi yang lebih tebal dari lidi daun kelapa dan berwarna merah, sehingga gampang dilihat oleh orang lain.
Itulah orang yang bernama Lidah Untung, orang kepercayaan Tebar Kembang.
Ketika dia keluar, para prajurit jaga menjura hormat.
Clap!
Belum lagi menuruni tangga, Lidah Untung tahu-tahu menghilang seperti setan dimakan setan. Para penjaga itu tidak kaget lagi. Itu sudah biasa.
Lidah Untung yang masih berusia kepala tiga itu tahu-tahu muncul di teras sebuah rumah panggung lain yang lebih tinggi dengan cat warna hijau telur asin. Di sudut teras itu ada seorang lelaki tua berkepala botak sedang duduk setengah tidur di kursi rotan yang mirip kursi goyang tapi tidak mau bergoyang.
Kakek berpakaian hitam itu menselonjorkan kedua kakinya di atas meja rotan, karena di sana ada dua tangan wanita yang sedang mengurut-urut kakinya beroleskan minyak beraroma kencing tikus. Namun, wanita cantik berbaju minim itu tidak merasa terganggu dengan bau minyak yang tidak sedap di hidung. Itu karena dia sudah biasa menciumnya, sama seperti si kakek yang merasa nyaman diurut-urut betis kecilnya yang sudah berkulit kendor.
Si kakek berhidung besar berjenggot miskin itu melirik kepada Lidah Untung.
“Ada apa, Untung?” tanya si kakek, orang yang memang ingin ditemui Lidah Untung atas perintah Tebar Kembang. Dialah orang yang bernama Abah Sakti, orang tersakti yang dimiliki oleh Tebar Kembang.
Abah Saki tidak mengubah posisi tubuh dan kakinya. Si wanita berpakaian minim berkulit bersih itu terus saja mengurut betis Abah Sakti.
Seset seset!
Lidah Untung yang pada dasarnya bisu, lalu menulis di udara menggunakan lidi merahnya yang seperti sebatang sumpit.
Gerakan ujung lidi di udara ternyata mengeluarkan tulisan sinar merah yang bertahan di udara hanya dua tarikan napas.
“Majikan memerintahkan memagar tempat ini karena ada musuh sakti yang datang, kecuali jalan kucing.”
Itulah bunyi tulisan yang tercipta di udara, lalu lenyap.
“Baik,” kata Abah Sakti yang telah membaca tulisan sinar Lidah Untung.
“Aku permisi, Abah.”
__ADS_1
Tulis Lidah Untung lagi.
“Ya,” sahut Abah Sakti.
Clap!
Setelah itu, Lidah Untung menghilang seperti setan dimakan setan. Namun bagi Abah Sakti, itu bukanlah sesuatu yang hebat karena dia bisa melihat Lidah Untung lari seperti maling ketahuan, menuruni tangga lalu melesat cepat ke satu arah.
Dak!
“Ek!” pekik Lidah Untung saat tubuhnya terhenti karena menabrak sesuatu yang tidak terlihat. Ia sampai jatuh terduduk.
Buru-buru Lidah Untung bangkit dengan menunjukkan wajah kesal. Dia kembali maju sambil menusukkan ujung lidinya.
Lidi itu berhenti maju ketika tertahan oleh lapisan energi yang tidak terlihat mata.
“Eek!” gerutu Lidah Untung.
Clap!
Dia kemudian menghilang kembali dan muncul di sebuah jalan setapak yang kanan kirinya adalah deretan pohon berbatang sedang, sehingga terlihat seperti jalan berpagar. Itulah salah satu jalan kecil yang mereka sebut jalan kucing, yang di negeri masa depan disebut “jalan tikus”.
Melewati jalan itu, Lidah Untung memilih berjalan biasa, tidak menghilang. Barulah setelah melewati jalan kucing tersebut, Lidah Untung kembali menghilang.
Dia beberapa kali muncul di satu titik lalu menghilang lagi dan muncul di titik lain. Ujung-ujungnya muncul di depan gerbang kayu bermodel berduri. Gerbang itu terbuat dari batang-batang kayu yang banyak, yang dianyam sedemikian rupa sehingga membentuk gerbang berduri raksasa.
Gerbang unik itu adalah gerbang sebuah lingkungan luas yang memiliki sebuah rumah besar bertingkat dan unik. Uniknya karena memiliki duri-duri raksasa dari batang-batang kayu yang ditata sedemikian rupa. Arsitek rumah itu sepertinya sama dengan orang yang membuat gerbang halaman.
Selain rumah besar bertingkat seperti binatang purba itu, ada beberapa rumah kayu lain yang modelnya biasa saja.
Lingkungan besar itu memiliki banyak prajurit penjaga berseragam biru-biru. Terlihat ada beberpa aktivitas militer.
Itulah rumah Penguasa Kotakayu Darabisu, orang nomor satu di kotakayu itu. Namanya Menteri Darabisu Bonggol Angkasa.
Lidah Untung mendatangi prajurit jaga di gerbang. Prajurit itu sudah kenal siapa Lidah Untung adanya. Karena itu, prajurit jaga tidak lagi menanyakan identitas, tetapi menanyakan tujuan.
“Mau bertemu siapa kau, Lidah Untung?” tanya si prajurit.
Lidah Untung hanya menjawab dengan tulisan sinar merah di udara. Si prajurit memandangi tulisan itu dengan serius. Sampai tulisan di udara itu lenyap, si prajurit masih melotot.
“Eek?” tanya Lidah Untung dengan gerakan alisnya.
“Coba ulang lagi tulisanmu, Pendekar. Tulisanmu cepat sekali hilang,” kata si prajurit yang sebenarnya tidak lancar membaca.
__ADS_1
Dengan kesal, Lidah Untung menulis ulang jawabannya.
“Oh, Majikan Bonggol Angkasa?” terka si prajurit, padahal tulisannya berbunyi “Menteri Darabisu”. (RH)