Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 8: Ke Negeri Sembunyi


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


Pemuda tampan berpakaian loreng itu memiliki kekhasan pada tubuh kekarnya, yaitu berleher beton ala petinju legendaris masa depan Myke Tyson. Dia bernama Lingkar Dalam. Di kemudian masa, namanya diabadikan menjadi nama jaringan jalan tol.


“Hormatku kepada semua!” ucap Lingkar Dalam kepada semua yang hadir di rumah Dugil Ronggeng.


“Silakan, Pendekar,” ucap Dugil Ronggeng sambil agak bergeser untuk memberi ruang kepada Lingkar Dalam.


“Kacang Lemper Selam, kau mengejar lintah (cinta) Amal sampai ke sini?” tanya Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma dan sebagian yang lainnya.


“Namaku Lingkar Dalam, Ayu. Bukan Lemper Selam,” ralat Lingkar Dalam sambil tersenyum dipaksakan.


“Lagi pula siapa yang menyebutmu Lingkar Dalam, Kacang. Jangan memfitnahku begitu di depan lubang biawak (orang banyak),” kata Ayu Wicara.


“Hahahak!” tawa mereka semua lebih keras.


“Kalian kira aku nyomet (monyet) berbadak (berbedak) ditertawakan terus!” hardik Ayu Wicara dengan wajah merengut, tetapi tidak membuat mereka berhenti tertawa.


“Hei, sudah, sudah. Jangan tertawa lagi. Kakang Lingkar Dalam sepertinya ingin menyampai sesuatu yang penting!” kata Alma Fatara.


“Benar, Alma. Kami sangat memerlukan pertolonganmu lagi,” ujar Lingkar Dalam.


“Apakah Kerajaan Ringkik menyerang kembali?” tanya Alma.


“Bukan, tapi sekumpulan pendekar sakti. Ayah dan ibuku telah mereka bunuh. Panglima Kampung terluka parah. Adikku dan beberapa gadis mereka culik. Sebagian kaum lelaki Kampung Siluman telah tewas. Kami buntu untuk bisa melawan,” ujar Lingkar Dalam.


“Jika seperti itu kondisinya, kita harus langsung berangkat ke Kampung Siluman,” kata Alma Fatara langsung memutuskan.


“Kita berangkat sekarang, Alma. Serangan bisa datang kapan saja terhadap Kampung Siluman,” kata Lingkar Dalam.


“Paman Magar, Kakang Garam dan Kakang Debur, Ayu Wicara, apakah kalian akan ikut ke Kampung Siluman?” tanya Alma Fatara.


“Maafkan aku, Alma. Aku dan Ayu Wicara sudah sepakat akan segera menikah. Sebab, rasanya pegal-pegal kalau lama-lama menahan,” jawab Debur Angkara dengan mimik malu-malu asin.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya mendengar alasan Debur Angkara.


“Hihihi!” tawa Ayu Wicara tersipu malu-malu tikus.


“Jadi di mana kalian akan menikah?” tanya Alma.


“Di kediaman Ayu Wicara,” jawab Debur Angkara.


“Itu berarti aku harus minta maaf, sebab aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian,” ucap Alma sembari tersenyum manis.


“Tidak apa-apa, Amal. Bukankah selama ini kau selalu bersama kami. Nanti jika kau ada, kau malah menguntit (mengintip) kami di palem (malam) pertama. Hihihi!” kata Ayu Wicara.


“Jiahaha! Kalau kau mengajak Ning Ana, baru kau akan diintip di malam pertama. Hahaha!” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Hahaha!” Mereka pun tertawa ramai.


“Lalu bagaimana denganmu, Paman?” tanya Alma.


“Sepertinya aku dan Garam Sakti memilih pulang, sebab kami membawa banyak harta benda yang harus segera dibawa pulang. Apa lagi aku butuh istirahat, Alma,” jawab Magar Kepang.


“Baiklah, Paman. Aku titip hartaku untuk Ayah Emakku,” kata Alma.


“Baik, Alma,” ucap Magar Kepang.


“Paman, Dugil. Aku izin pamit lebih dulu,” ucap Alma Fatara.


“Kau tidak menanyakan kami, Alma?” tanya Arguna.


“Kalian berdua harus pulang. Aku tidak mau disalahkan jika kalian sampai kehilangan satu jari tangan saja,” kata Alma Fatara.


“Tidak, kami berdua tidak akan pulang. Kau larang atau tidak, kami tetap akan mengikutimu, Alma,” tandas Manila Sari.


“Benar. Kami tidak akan pulang meski kau tinggalkan, Alma,” kata Arguna pula.


Alma Fatara terdiam sejenak. Dia berpikir menimbang-nimbang.


“Tapi aku tidak menjamin keselamatan kalian. Tidak menanggung makan dan bantal kalian. Bagaimana?” tawar Alma.


“Setuju!” jawab Arguna dan Manila Sari serentak.


“Kita berangkat, Kakang Lingkar!” seru Alma Fatara.


“Ayo!” sahut Lingkar Dalam.


Dugil Ronggeng dan yang lainnya juga ikut bangun untuk mengantar sebatas halaman.


“Kak Alma!” panggil Ning Ana dengan wajah mewek.


Alma Fatara menengok memandang kepada adik buangnya itu.


“Hiks hiks hiks!” tangis Ning Ana tiba-tiba sambil merangsek memeluk erat tubuh Alma.


“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa melihat Ning Ana menangis. “Tidak masalah. Utangmu aku anggap lunas.”


“Siapa yang punya utang? Aku sedih karena aku akan berpisah dengan kakak saktiku. Huuu ...!” ratap Ning Ana kesal karena Alma justru menertawakannya.


“Sudah dua kali kau menangis, Ana,” kata Alma sambil memeluk erat Ning Ana. Dia bahkan mengecup dahi Ning Ana. “Kau harus menjadi pendekar dan menepati janjimu. Bergurulah dengan giat di Perguruan Pisau Merah.”


“Iya. Huuu ...!” jawab Ning Ana. Dia terus menangis.


“Terima kasih, Alma,” ucap Dugil Ronggeng.


“Iya, Paman,” ucap Alma sembari tersenyum.


Ning Ana melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.

__ADS_1


“Sampaikan salamku kepada Kakak Ning Ara, Bi. Katakan, bahagia itu bisa didapat meski tanpa punya kekasih, seperti aku ini. Hahaha!” kata Alma Fatara yang disambut dengan tawa rendah.


“Iya, Nak Alma,” ucap Ning Asa.


Alma Fatara juga memeluk Ayu Wicara sebagai tanda perpisahan mereka, tapi tidak tertarik untuk berpeluk badan dengan Magar Kepang atau Debur Angkara dan Garam Sakti.


Setelah memberikan harta bendanya kepada Magar Kepang, Alma Fatara dan ketiga rekan seperjalanan barunya segera berangkat.


“Apakah Kakang Lingkar tahu siapa yang memerangi orang-orang Kampung Siluman?” tanya Alma Fatara saat dalam perjalanan berkudanya.


“Sampai saat ini, kami tidak tahu siapa pihak yang menyerang kami,” jawab Lingkar Dalam.


“Alma, sebenarnya kita akan pergi ke mana?” tanya Arguna berteriak.


“Ke sebuah negeri yang ada di balik papan!” jawab Alma Fatara.


“Di balik papan?” sebut ulang Arguna dan Manila Sari tidak mengerti.


Mereka berempat terus berkuda dengan kencang. Awalnya mereka kembali ke jalan utama di pinggiran Sungai Ngulur lalu berkuda ke arah hulu sungai.


“Kakang Lingkar! Bagaimana kau tahu aku ada di Desa Bungitan?” tanya Alma dengan setengah berteriak.


“Kami menempatkan orang di Desa Rawabening untuk menunggu kedatanganmu!” jawab Lingkar Dalam, juga setengah berteriak.


“Apakah Negeri Sembunyi seluas negeri ini?” tanya Alma lagi.


“Seperti dua sisi kepeng!” jawab Lingkar Dalam.


“Apakah pintu masuk dan keluarnya hanya satu?”


“Setiap daerah memiliki pintunya masing-masing. Kampung Siluman punya pintunya sendiri, Kerajaan Ringkik juga punya pintunya sendiri!”


Setelah itu, Alma Fatara tidak bertanya lagi, dia hanya mengikuti Lingkar Dalam yang berkuda sedikit di depan. Setelah mereka berbelok meninggalkan jalan pinggir sungai, Lingkar Dalam membawa ketiga temannya memasuki area berhutan yang tanahnya datar. Kuda-kuda mereka bahkan masih bisa berlari kencang di antara pepohonan hutan yang jaraknya jarang-jarang.


Hingga kemudian, kuda-kuda mereka memasuki jalan setapak yang pada ujungnya tertutup oleh ilalang tinggi.


Namun, Lingkar Dalam tidak memelankan kudanya. Dia dengan yakin menerabas ilalang tinggi tersebut. Alma Fatara pun dengan yakin menerabas ilalang itu.


Keraguan sempat melanda perasaan Arguna dan Manila Sari. Namun, mau tidak mau mereka harus ikut, jika tidak mau tertinggal.


Bruss! Bruss!


Keempat kuda itu menerabas ilalang dengan keras.


Ternyata, setelah menabrak ilalang, mereka muncul di depan sebuah gua yang mulutnya sempit tapi tinggi. Mulut gua itu masih bisa dimasuki oleh satu kuda lengkap dengan penunggangnya.


Sama seperti sebelumnya, tanpa ragu Lingkar Dalam berkuda kencang masuk ke dalam gua. Anehnya, kuda itu hilang seperti masuk tenggelam ke dalam lapisan udara.


Terkejut Arguna dan Manila Sari melihat keanehan itu. Namun, mereka melihat Alma Fatara juga ikut menghilang ketika masuk ke dalam gua. Bukan hilang masuk ke bagian dalam gua, tetapi menghilang masuk ke dalam udara.


“Bagaimana, Manila?” tanya Arguna cepat kepada adiknya sebelum mereka benar-benar masuk ke gua.

__ADS_1


“Yakin saja, Kakang!” jawab Manila Sari.


Maka, keduanya pun meyakinkan diri untuk seyakin seperti sebelumnya. Keduanya pun masuk ke gua dan menghilang ditelan lapisan udara. (RH)


__ADS_2