Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 38: Jebakan Buto Sisik


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Lebih seratus prajurit yang berlari menuju ke Istana Keprabuan. Pasukan itu gabungan dari Pasukan Pelindung Raja pimpinan Komandan Buto Sisik dan Pasukan Khusus pimpinan Gempar Watuk, yang merupakan wakil dari Komandan Sikut Karam.


“Pasukan Jintamani datang!” teriak seorang dari dua prajurit yang berjaga di depan pintu Istana Keprabuan. Dia berteriak dengan wajah di arahkan ke dalam Istana.


Mendengar itu, terdengar teriakan komando dari dalam Istana.


“Bergerak!”


Drap drap drap ...!


Tiba-tiba dari dalam Istana berlari keluar puluhan orang-orang berseragam merah-merah yang masing-masing sudah memegang dua pisau merah. Jelas itu adalah murid-murid Perguruan Pisau Merah, tetapi tidak terlihat keberadaan Sudigatra, pemimpin mereka.


Pasukan perguruan itu segera membentuk barisan di teras Istana Keprabuan dan siap bertarung.


Kemunculan orang-orang asing itu membuat Komandan Buto Sisik memberi komando agar pasukan berhenti dan memasang formasi siap tempur dengan senjata pedang dan tameng.


Sementara Gempar Watuk dan pasukannya, memilih posisi di belakang Pasukan Pelindung Raja.


Dua pasukan saling berhadapan di halaman Istana Keprabuan. Pasukan Perguruan Pisau Merah hanya berjumlah sekitar lima puluh orang saja, sementara pasukan lawan lebih seratus orang.


Pasukan kerajaan bermodal obor dari sebagian jumlahnya, sementara pasukan Perguruan Pisau Merah tidak memegang obor satu pun. Mereka hanya bermodal senjata pisau di kedua tangan.


Namun, tanpa diketahui oleh Gempar Watuk dan lima puluh pasukannya, ada yang aneh di dalam Pasukan Pelindung Raja.


Sebagian dari prajurit Pasukan Pelindung Raja menunjukkan gelagat aneh. Selain mereka memegang pedang, satu tangan mereka juga memegang pisau merah yang terkesan disembunyikan.


“Seraaang!” teriak satu lelaki di barisan depan pasukan Perguruan Pisau Merah.


“Seraaang!” teriak sebagian pasukan yang mengikuti teriakan komandannya sambil berlari kencang maju ramai-ramai.


“Bunuuuh!” teriak sebagian lagi dengan kata yang lain sambil ikut berlari bersama ke arah pasukan musuh yang lebih banyak.


“Cincaaang!” teriak satu murid dengan kata yang lain seorang diri. Pilihan beda sendiri sepertinya sudah bawahan sejak lahir.


Namun, pasukan perguruan itu berlari maju tapi tidak langsung melesatkan pisau-pisau terbangnya sebagaimana biasanya.


“Menyebar!” teriak Komandan Buto Sisik singkat.


Drap drap drap ...!


Tiba-tiba Komandan Buto Sisik dan Pasukan Pelindung Raja yang berhadapan langsung dengan lawan berlari bubar, memecah diri ke kanan dan ke kiri, menjauhi kedatangan pasukan perguruan.


Pergerakan Pasukan Pelindung Raja yang tiba-tiba dan di luar dugaan itu mengejutkan Pasukan Khusus pimpinan Gempar Watuk. Seharusnya pasukan Buto Sisik menghadapi serangan itu, bukan justru kabur seperti pengecut kelas teri.


Dengan bubarnya Pasukan Pengawal Raja, membuat ruang menjadi terbuka dan menjadikan pasukan perguruan berhadapan dengan Pasukan Khusus yang tidak siap konfrontasi langsung, karena jelas-jelas tadi mereka berposisi di belakang.


“Formasi bertahan!” teriak Gempar Watuk cepat saat menyadari ada kondisi yang salah.


Set set set ...!

__ADS_1


Seiring bubarnya Pasukan Pelindung Raja dan terbukanya jalan kepada Pasukan Khusus, murid-murid Perguruan Pisau Merah beramai-ramai melesatkan semua pisau terbang di tangan mereka.


Teb teb teb ...!


Ceb ceb ceb ...!


“Akh! Akk! Akh ...!”


Formasi bertahan yang segera dibentuk oleh Pasukan Khusus membuat pisau-pisau terbang bertancapan di tameng-tameng yang di pasang di depan badan.


Namun, terlambatnya formasi pertahanan itu membuat sejumlah pisau terbang berhasil lolos dan menancap di tubuh beberapa prajurit.


Brak brak brak!


Setelah serangan lempar pisau, pasukan perguruan menerjang tameng para prajurit Pasukan Khusus. Setelah itu, pertempuran bersosoh pun terjadi.


Prajurit Pasukan Khusus memiliki kehandalan yang setara dengan murid-murid perguruan, sehingga pertempuran sengit terjadi di halaman Istana Keprabuan.


“Seraaang!” teriak Komandan Buto Sisik tiba-tiba.


“Seraaang!” teriak para prajurit Pasukan Pelindung Raja sambil bergerak cepat menyerbu ke dalam pertempuran.


Set set set ...!


Ceb ceb ceb ...!


“Akh! Akh! Akh ...!”


Sebagian prajurit Pasukan Pelindung Raja yang tadi kabur, berkelebatan di udara sambil melesatkan satu pisau terbang berwarna merah yang menargetkan prajurit Pasukan Khusus. Rupanya sebagian Pasukan Pelindung Raja adalah murid Perguruan Pisau Merah yang menyamar, tentunya atas sepengetahuan Komandan Buto Sisik.


Pasukan Pelindung Raja yang justru menyerbu Pasukan Khusus dan menjadi teman pasukan berseragam merah, mengejutkan Gempar Watuk dan pasukannya.


“Ini jebakan! Pasukan Pelindung Raja berkhianat!” teriak Gempar Watuk kepada pasukannya yang sedang terdesak hebat. Lalu teriaknya lagi dengan lebih keras, “Munduuur!”


“Munduuur!” teriak para prajurit Pasukan Khusus panik sambil bergerak mundur dan sibuk menangkis setiap serangan yang tidak berhenti.


Mulailah Pasukan Khusus membuat pergerakan yang keluar dari pertempuran di mana jumlah mereka kalah jauh.


“Heaaat!” teriak Gempar Watuk keras dan panjang sambil mengibaskan ujung pedangnya di tanah seperti membuat garis pemisah dengan pasukan musuh.


Bress!


Gerakan bertenaga dalam tinggi itu membuat tanah berlesatan naik ke udara, menyerang pasukan musuh sehingga para murid perguruan dan prajurit Pasukan Pelindung Raja cepat bergerak mundur menghindari pasir.


“Jangan lari kau, Gempar Watuk!” teriak Buto Sisik sambil berlari cepat di atas pasukannya dengan menggenggam dua pedangnya.


Terkejut Gempar Watuk dan buru-buru berlari dengan langkah mundur untuk menciptakan jarak terhadap kedatangan sosok Komandan Buto Sisik.


Tang tang tang ...!


Buto Sisik mendarat satu tombak di depan Gempar Watuk. Dia langsung menghujani lawannya dengan bacokan bertubi-tubi dari dua pedang yang datang bersusulan.


Sambil termundur-mundur, Gempar Watuk menangkis semua bacokan bertenaga dalam tinggi itu. Dari setiap peraduan dua pedang menimbulkan percikan kembang api yang indah.

__ADS_1


Ketika Buto Sisik menjedakan serangannya untuk sekedar menarik napas, maka terlihat jelas kedua tangan Gempar Watuk gemetar akibat menahan kekuatan bacokan dua pedang lawan. Pedangnya bahkan banyak menderita rompal karena dia memang kalah tenaga dalam dengan Buto Sisik.


“Kejaaar!” teriak para prajurit Pasukan Pelindung Raja dan murid-murid perguruan.


Mereka membiarkan Gempar Watuk bertarung dengan Buto Sisik. Mereka memilih mengejar Pasukan Khusus yang tersisa separuh.


Sess sess sess!


“Akh! Akk! Akk!” jerit tiga prajurit Pasukan Khusus yang berlari paling belakang, ketika punggung mereka ditembus sinar merah berwujud pisau dari ilmu Pisau Penghancur.


Kejar-kejaran pun terjadi dengan ramainya meninggalkan Istana Keprabuan.


“Seraaang!”


Tiba-tiba terdengar suara lelaki yang keras menggelegar. Asalnya dari area depan Pasukan Khusus.


“Seraaang!” teriak banyak orang seiring suara lari banyak kaki dan munculnya beberapa api obor.


“Ngik ngik ngik ...!”


Setelah itu, terdengar suara lengkingan seperti jeritan sekumpulan hewan primata.


Alangkah terkejutnya Pasukan Khusus melihat ada banyak orang bersenjata yang muncul dari arah depan mereka. Orang-orang itu berpakaian acak-acakan, bahkan banyak yang tidak berbaju, bahkan ada yang hanya bercawat tanpa malu, tetapi mereka semua bersenjata. Orang-orang itu berteriak-teriak liar seperti setan keorangan.


Pasukan asing itu jelas menghadang dan menyerang Pasukan Khusus yang pada akhirnya tidak bisa ke mana-mana selain melawan dan mencoba bertahan hidup.


“Lama tidak membunuh! Habisi pasukan musuuuh!” teriak keras seorang perempuan di antara puluhan lelaki yang berteriak-teriak seperti monyet. Dia tidak lain adalah Emak Lutung.


Sambil berteriak garang, Emak Lutung menerjang satu prajurit Pasukan Khusus yang dihadangnya, lalu menghantamkan api obor yang dibawanya ke wajah seorang prajurit lain. Setelah itu, pasukannya yang adalah Kelompok Lutung Pintar mengamuk membabi buta, seperti orang yang sepekan tidak makan kemudian menemukan air minum.


Hadangan pasukan Kelompok Lutung Pintar membuat Pasukan Pelindung Raja dan perguruan yang mengejar bisa mencapai Pasukan Khusus.


Maka, Pasukan Khusus dibuat tidak banyak berdaya dikeroyok oleh tiga pasukan sekaligus.


Sementara itu, Pangeran Bugar Jantung muncul berjalan bersama Komandan Gebuk Sewu, Debur Angkara, Ayu Wicara, Ki Tonjok Gila, dan sepuluh murid Pisau Merah. Bersama mereka sudah tidak ada Penasihat Banggal Tawe, Raden Capang dan Tindik Benik. Ketiga pejabat itu sudah memisahkan diri untuk segera mengobati diri di Rumah Sehat Istana.


“Hentikan pertempuran! Kami menyeraaah!” teriak seorang prajurit Pasukan Khusus yang sudah berdarah-darah karena sejumlah lukannya.


“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit Pasukan Khusus yang lain karena memang sudah mustahil mereka bisa lolos apalagi menang, jika mereka terus melawan.


“Berhenti semua!” teriak Pangeran Bugar Jantung keras membahana.


Teriakan itu manjur menghentikan pertempuran semua pasukan. Kelompok Lutung Pintar yang ingin membasmi habis semua prajurit musuh pun patuh, mereka berhenti meski kecewa.


Sebanyak lima belas prajurit Pasukan Khusus sudah berjongkok pasrah dan sudah menjatuhkan pedang dan tameng.


“Hahahak!” Emak Lutung menjadi orang pertama yang tertawa terbahak-bahak. Lalu teriaknya, “Pasukan Lutung Pintar menaaang!”


“Ngik ngik ngik ...!”


Teriakan Emak Lutung disambut dengan jerit-jerit monyet dari anak-anak lutungnya.


Pasukan Pelindung Raja dan pasukan Perguruan Pisau Merah hanya bisa terdiam saling pandang melihat keliaran Kelompok Lutung Pintar, yang berjumlah puluhan orang. Namun, mereka yakin bahwa orang-orang bertingkah monyet itu adalah pasukan kawan. Itu karena mereka melihat keberadaan Debur Angkara dan Ayu Wicara, serta sepuluh murid Pisau Merah yang sebelumnya telah menjebol penjara.

__ADS_1


Di sisi lain, Gempar Watuk telah gugur oleh dua pedang Komandan Buto Sisik.


Namun, tanpa mereka ketahui, pertempuran itu dipantau oleh seseorang dari atap sebuah bangunan. Orang itu kemudian berkelebat pergi menghilang di kegelapan setelah pertempuran berhenti. (RH)


__ADS_2