
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Gegara Bayu Garang keluar menghadang Bungkuk Gila dan kedua wanita cantiknya yang tampak lusuh, Arung Seto dan Tengkorak Telur Bebek keluar juga dari persembunyiannya, sehingga mereka tiga berhadapan dengan tiga.
Sementara itu, Tengkorak Bayang Putih di area kanan dan Aliang Bowo di area kiri memilih mengawasi dari tempat persembunyian. Mereka tidak tahu bahwa Bungkuk Gila pun mengetahui keberadaan mereka.
“Wah, tiga pemuda tampan ingin menyelamatkan dua gadis cantik. Hahaha!” kata Bungkuk Gila lalu tertawa.
“Kakang Bayu....”
Kata-kata Indah Bening terputus ketika Bungkuk Gila meletakkan ranting berdaunnya di bahunya yang merendah. Ada kekuatan halus yang mengalir ke belakang dan menerpa wajah Indah Bening dan Sucikari. Hal itu membuat keduanya berdiri diam terpaku.
“Kau pasti pendekar tua cabul, Orang Tua!” tukas Bayu Garang.
“Hehehe! Kenapa tidak sekalian menuduhku telah memperkosa mereka berdua? Bukankah lebih menarik? Hahaha!” kata Bungkuk Gila dengan gerakan bibir yang terkesan mengejek Bayu Garang.
Sejak tadi, perasaan Bayu Garang sudah panas melihat wanita cantik yang dikenalnya akrab berada di tangan orang tua bungkuk, jelek pula. Ditambah ditantang dan diejek dengan mimik jelek pula, kian gusar Bayu Garang.
Melihat gelagat yang ditunjukkan oleh Bayu Garang seperti akan berubah wujud, Tengkorak Telur Bebek segera mencegah. Dia tahu bahwa kakek bungkuk itu orang sakti.
“Bayu Garang, jangan gegabah. Kau tidak tahu siapa lawanmu!” kata Tengkorak Telur Bebek mengingatkan.
“Aku tahu siapa yang aku hadapi, yaitu kakek cabul yang bebas berkeliaran!” teriak Bayu Garang marah, lalu dia berlari maju sambil mengayunkan pedangnya yang sudah tidak bersarung, artinya sudah bertelanjang ria.
Tak!
Dengan tenang Bungkuk Gila menangkis tebasan pedang itu menggunakan ranting kayunya. Pedang tertahan tanpa memotong ranting tersebut, mungkin pedang Bayu Garang tumpul atau rantingnya yang sakti.
Gagal dengan tebasan, Bayu Garang melanjutkan dengan tusukan.
Tep!
Namun, dengan mudahnya mata pedang itu ditangkap dan ditahan oleh dua jari tua Bungkuk Gila.
Bayu Garang cepat menarik lagi pedangnya, tetapi pedang itu tertahan dan terjepit sangat kuat, seperti dijepit oleh dua tebing gunung. Jari Bungkuk Gila bahkan tidak tergerak karena tertarik sedikit pun.
“Anak nakal!” umpat Bungkuk Gila sambil memukul kepala Bayu Garang dengan ranting daunnya.
Namun, pukulan itu tidak mencederai si pemuda, hanya membuatnya mengerenyit ketakutan.
“Menyusahkan orangtua!” bentak Bungkuk Gila sambil memukul kepala Bayu Garang lagi, yang akhirnya pemuda itu hanya agak merendah karena takut kepalanya kenapa-kenapa.
“Heaat!” teriak Bayu Garang sambil melompat dengan dua tendangan cepat hendak menghajar kepala Bungkuk Gila.
Praks!
Namun, rupanya tendangan Bayu Garang tidak lebih cepat daripada pukulan ranting Bungkuk Gila pada perutnya.
__ADS_1
Tubuh Bayu Garang terlempar deras dan menghantam batang pohon, lalu jatuh menggeliat kesakitan. Sementara pedang Bayu Garang tetap terjepit di dua jari tangan kiri Bungkuk Gila.
“Tetua Pendekar, siapa kau sebenarnya?” tanya Arung Seto. Dia memilih menahan diri daripada bernasib seperti Bayu Garang.
Melihat dari kekuatan jari si kakek, Arung Seto dan Tengkorak Telur Bebek berkeyakinan bahwa mereka bukanlah lawan setara si kakek.
“Hahaha! Bukankah kalian sudah tahu? Aku kakek cabul yang suka menculik gadis-gadis cantik,” jawab Bungkuk Sakti sambil melempar lambung pedang yang dipegangnya.
Tseb!
“Aak!” jerit Bayu Garang saat lengannya teriris oleh pedangnya sendiri yang melambung lalu jatuh tepat di sisinya. Lengannya itu robek, tapi itu hanyalah luka ringan bagi seorang pendekar.
“Mereka berdua pasti warga Kadipaten Sengat, jadi, aku harap Tetua menyerahkannya kepada kami untuk diselamatkan,” ujar Arung Seto santun.
“Hah? Menyerahkan kedua gadis ini kepada kalian agar selamat? Kau mau membodohiku?!” bentak Bungkuk Gila.
“Bu-bu-bukan seperti itu maksudku, Tetua,” ucap Arung Seto jadi gelagapan sendiri.
“Menurut kalian, mana yang lebih mungkin berbuat jahat kepada mereka berdua? Apakah aku yang sudah tua dan burungku sudah pikun? Atau kalian yang masih muda-muda, bertenaga kuat, dan masih suka genit?” tanya Bungkuk Gila.
Terkesiap Arung Seto, Tengkorak Telur Bebek dan Bayu Garang yang sudah bangun sambil memegangi lengannya yang berdarah.
Drap drap drap!
Tiba-tiba terdengar suara lari kuda yang kencang. Tidak berapa lama, muncul sepuluh kuda dari balik tanah yang konturnya menurun. Kuda-kuda yang ditunggangi oleh para prajurit beragam hitam-hitam bergaris biru itu, berlari kencang datang ke lokasi pertemuan.
Tengkorak Bayang Putih dan Aliang Bowo yang bersembunyi, berada di luar pengepungan kesepuluh kuda. Baru saja keduanya hendak keluar dan menyerang dari belakang, tiba-tiba dari arah dalam kadipaten muncul puluhan prajurit tombak dan prajurit panah.
Terpaksa Tengkorak Bayangan Putih dan Aliang Bowo menahan diri untuk sementara.
Pasukan yang baru datang segera mengepung dengan formasi rapat di dalam zona lingkaran lari kuda. Jumlah pasukan tombak yang hampir seratus personel itu cukup untuk membentuk lingkaran besar yang mengepung.
Formasi itu membuat kesepuluh kuda berada di belakang dan tetap berlari memutari kepungan. Sementara itu, sekitar dua puluh prajurit panah berposisi lebih jauh di belakang dengan busur dan anak panah siap guna. Posisi mereka juga menyebar di segala arah.
“Rupanya kau yang menculik dua wanita milik Panglima Tebing Gali, Kakek Bau Tanah!” seru salah satu prajurit berkuda.
“Waaah! Ada pasukan kerajaan!” teriak Bungkuk Gila pura-pura takut. “Takuuut!”
Bungkuk Gila lalu bergerak merangkul pinggang kedua wanita cantiknya, membuat Bayu Garang kian gusar lagi.
Clap!
Setelah merangkul pinggang Indah Bening dan Sucikari, tiba-tiba Bungkuk Gila dan kedua gadisnya lenyap begitu saja seperti dihapus dari dunia.
Terkejut Arung Seto dan kedua rekannya. Kini tinggal mereka yang terkepung.
“Hekr!” erang seorang prajurit panah ketika dia disergap dari belakang oleh Tengkorak Bayang Putih.
__ADS_1
Setelah melumpuhkan prajurit itu, seorang prajurit panah yang posisinya tidak jauh, segera memindahkan arah tubuhnya dan mengarahkan bidikannya kepada pemuda botak itu.
Dak!
Namun, sebelum anak panahnya dilepas, sebatang toya putih telah melesat berputar dan menghantam keras dahi si prajurit. Prajurit itu tumbang dan toya putih memantul balik kepada genggaman Tengkorak Bayang Putih.
Set! Tseb!
“Akh!”
Tengkorak Bayang Putih yang berwajah hijau karena tertutupi krim herbal, cepat mengambil panah dan memanah. Panah itu menancap di punggung seorang prajurit berkuda hingga tembus ke depan.
Prajurit berkuda itu menjerit dan jatuh dari punggung kudanya. Hal itu mengejutkan rekan-rekannya dan para prajurit panah lainnya.
Sebagian pasukan bertombak yang mengepung cepat menengok untuk melihat apa yang terjadi.
Set set set...!
“Akk! Akk! Akh...!” prajurit panah tiba-tiba bertewasan saat leher dan dada mereka telah mendapat serangan panah yang tidak jelas datang dari mana
Para prajurit berkuda dan pasukan tombak jadi terkejut dan panik.
Set set set...!
“Akk! Akk! Akh...!” jerit para prajurit berkuda saat tubuh-tubuh mereka menjadi sasaran panah dari segala arah.
Prajurit berkuda pun tidak tersisa, kecuali kudanya yang kemudia lari ke sembarang arah.
Paniklah prajurit tombak. Mereka segera mengubah formasi menjadi menghadap ke dalam dan sebagian menghadap ke luar. Mereka justru jadi merasa terkepung.
Arung Seto dan rekan-rekan yang awalnya terkejut dengan adanya serangan dari sisi luar pengepungan, jadi tersenyum karena tahu siapa yang melakukan serangan panah. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PENGUMUMAN
Bagi kalian penggemar Pendekar Sanggana, novel "Sanggana 5 Perang Selat Gigit" telah rilis. AYO CEK!
Novel baru lain:
1) Tina-Ayu 1: Negeri Tanpa Tahun
2) Rugi 1: Perampok Gendut Budiman
3) Dendam Tiga Wanita
__ADS_1