
*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*
Brosss!
Alma Fatara melesat mengudara seperti roket menyongsong bola sinar merah besar yang sangat panas. Alma Fatara tidak mengadu sakti dengan ilmu Gerhana Merah milik Kapur Basur, tetapi lesatan tubuhnya menyelisihi. Dia lewat satu depa jauhnya di sisi bola sinar.
Alma Fatara harus mengerahkan ilmu tenaga saktinya untuk menahan rasa panas dari sinar merah tersebut. Sama seperti Raja Tombak Iblis yang kebal api dan panas, tetapi rambut dan pakaian Alma Fatara tidak kebal api, sehingga butuh perlindungan tambahan.
Bluarr!
Seiring ledakan dahsyat menghancurkan tanah tempat Alma cs tadi berada, Alma sudah tiba di depan posisi tubuh Kapur Basur di udara.
“Gadis cantik datang, Kakang!” teriak Alma Fatara percaya diri kepada pemuda yang berjuluk Sabit Pencabut Nyawa.
Tak! Tus tus tus...!
“Ak ak ak...!”
Kedatangan Alma Fatara yang mengejutkan, disambut dengan tebasan golok Kapur Basur. Namun, Kapur Basur harus terkejut, karena golok besarnya ditangkis begitu saja oleh pergelangan tangan Alma yang ternyata kebal.
Seiring itu, tusukan beruntun yang begitu rapat dan tidak terlihat, menggempur perut Kapur Basur seiring tubuhnya dan tubuh Alma meluncur turun ke tanah. Kapur Basur berjeritan berulang-ulang karena didera suntikan berulang-ulang tanpa tahu apa yang menusuknya.
Bak!
“Hukh!” keluh Kapur Basur saat dengan mudah Alma Fatara mendaratkan satu tendangan pada dadanya.
Kapur Basur terdorong lalu jatuh terduduk.
“Akkk!” erangnya karena merasakan perutnya keram dan pedih. Darah membanjiri bagian depan bajunya.
Sebagai seorang pendekar, malu jika baru begitu saja dia sudah tumbang. Maka, sambil menahan sakit yang luar biasa pada perutnya, pemuda tampan itu bergerak bangun.
“Ayo, Kakang! Kau harus bersemangat. Akan sia-sia kecantikanku jika kau cepat loyo! Hahaha!” seru Alma Fatara lalu tertawa keras memperlihatkan keompongannya.
Ingin rasanya Kapur Basur tertawa melihat kekocakan di balik kejelitaan Alma Fatara. Namun, lagi-lagi demi harga diri sekepeng dua kepeng, Kapur Basur harus jaga imej. Dia pantang dibuat senang oleh musuh.
“Hiaaat!” teriak Kapur Basur sambil melesat maju dengan golok yang telah berkilat sinar merah, menebas deras dari atas hendak membelah kepala Alma.
Namun, dengan tenangnya Alma Fatar berdiri tanpa kuda-kuda seperti seorang master. Tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di dalam pandangan matanya yang indah menggoda.
“Aku tidak boleh tergoda. Di balik kecantikannya dia adalah siluman tikus...,” batin Kapur Basur saat menyerang Alma Fatara dan menatap fokus kepada wajah jelita belia itu.
Tek!
__ADS_1
“Huakrr!” pekik Kapur Basur kencang dengan mulut memuncratkan darah kental yang banyak seiring tubuhnya terlempar ke belakang tanpa daya.
Itu terjadi ketika dengan tenangnya Alma Fatara menahan mata golok yang datang mengapak ke arah kepalanya. Hasilnya, ilmu Tapak Rambat Daya merambat lewat media golok dan menghajar tubuh Kapur Basur.
Blugk!
Luka parah yang dialami oleh Kapur Basur dalam bentrokan sangat singkat itu membuatnya untuk sementara tidak bisa bangkit.
“Si-si-siapa sebenarnya dia,” ucap Kapur Basur lirih kepada dirinya sendiri.
“Hahaha! Aku menang!” tawa Alma Fatara.
“Wah, cepat sekali!” kejut Bungkuk Gila saat melirik kepada Alma Fatara. “Seharusnya aku yang lebih cepat. Aku harus berhenti bermain-main.”
Memang, saking senangnya mendapat lawan wanita langsing berdada besar, Bungkuk Gila memilih mempermainkan Gadis Cambuk Tajam lebih dulu.
Bungkuk Gila dengan senang hati membuat kesal Gadis Cambuk Tajam. Kakek yang memiliki gerakan seperti setan itu, terus menghindar dari cambukan lawannya. Isengnya dia, setiap dia menghindar, dia sengaja memukul bokong Gadis Cambuk dengan ranting berdaunnya.
“Kurang ajar kau, Orang Tua Mesum!” maki Gadis Cambuk Tajam.
“Hahahak!” Bungkuk Gila semakin tertawa-tawa melihat lawannya semakin marah.
Tiba-tiba Gadis Cambuk Tajam memiliki dua cambuk seperti tukang sulap. Cambuk di tangan kanan adalah cambuk original dan di tangan kiri cambuk api seperti di film-film pendekar zaman dulu.
Ctas ctas!
Gadis Cambuk Tajam mempertinggi keceptan kelebatan kedua cambuknya, seolah-olah tidak memberi ruang kepada Bungkuk Gila untuk menghindar.
Namun, pada dasarnya Bungkuk Gila jauh lebih sakti, dengan mudahnya dia mempermainkan wanita paruh baya itu.
“Kena kau! Hahaha!” pekik Bungkuk Gila yang muncul begitu saja di belakang Gadis Cambuk Tajam dan memeluk pinggangnya dengan kencang.
“Keparat Mesum!” maki Gadis Cambuk Tajam terkejut sekaligus panik karena dipeluk oleh kakek-kakek. “Lepaskan tangan kotormu, Keparat Mesum!”
Gadis Cambuk Tajam dengan membabi buta memukuli kepala Bungkuk Gila yang menjulur dari belakang ke depan. Meski sudah dipukuli dengan tenaga dalam, tetap saja kedua tangan lelaki tua itu memeluk kuat pinggang si wanita sambil tertawa-tawa.
“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila dari sisi lain.
Ctas!
“Akh!”
Gadis Cambuk Tajam melesatkan ujung cambuk pisaunya meliuk dan menusuk leher Bungkuk Gila dari sisi samping. Namun, yang menjerit sakit justru Gadis Cambuk Tajam sendiri.
__ADS_1
Ketika tadi dia memukuli kepala Bungkuk Gila, sebenarnya sosok serupa kakek itu sudah berdiri tertawa di sisi lain, tapi tidak dilihat oleh Gadis Cambuk Tajam yang lebih panik seperti perawan ditempeli pacet.
Ketika Gadis Cambuk melesatkan cambuknya menusuk tubuh Bungkuk Gila yang masih memeluknya, dia nyata-nyata melihat pisau di ujung cambuk itu menusuk leher si kakek.
Namun tiba-tiba, sosok itu lenyap begitu saja dan pisau justru menusuk perut sendiri. Seperti itulah ilmu Hantu Nakal.
Sementara Bungkuk Gila meneruskan tawanya di tempat dia berdiri sejak tadi.
“Keparat! Tinggi sekali ilmu kakek busuk itu!” gerutu Gadis Cambuk Tajam yang sudah melihat keberadaan sosok Bungkuk Gila yang asli.
Ia terpaksa memadamkan cambuk apinya dan menggunakan tangannya untuk menyumbat luka di perutnya yang berdarah.
Ctas!
Sambil tangan kirinya membekap lukanya, Gadis Cambuk Tajam melecutkan cambuknya dengan nyaring. Lagi-lagi seperti pesulap, setelah dilecut, cambuk itu menjadi lima cambuk sinar biru menyala dengan satu gagang.
“Jangan lari lagi kau, Bandot Tua!” seru Gadis Cambuk Tajam sambil berlari maju ke arah Bungkuk Gila, lalu melompat sekali ke depan si kakek.
Ctas! Wuss!
Sambil maju dengan santai, Bungkuk Gila mengibaskan ranting kayunya menepis lima cambuk sinar biru wanita separuh baya.
Ranting berdaun milik Bungkuk Gila jadi terbakar api biru. Sementara angin yang ditimbulkan oleh ranting Bungkuk Gila melempar Gadis Cambuk Tajam beberapa tombak ke belakang, lalu jatuh bergulingan.
Bungkuk Gila tinggal menghentakkan ranting kayunya yang membuat api padam. Namun, tidak sedikit pun terlihat bahwa ranting itu usai terbakar, bahkan daunnya masih terlihat hijau segar.
Bungkuk Gila lalu berjalan mendekati posisi Gadis Cambuk Tajam.
Set set!
Tiba-tiba Gadis Cambuk Tajam melesatkan beberapa logam tipis menyerang Bungkuk Gila yang datang mendekat.
Sret!
Cukup dengan kibasan ranting kayunya, Bungkuk Gila menepis senjata rahasia berupa pisau-pisau kecil.
“Yaaa, dada besarku kabur!” ucap Bungkuk Gila kecewa saat melihat Gadis Cambuk Tajam telah berkelebat menjauh. Bukan maksud mengambil ancang-ancang, tetapi memang mengambil ancang-ancang untuk kabur.
“Kau menang terakhir, Tetua!” teriak Geladak Badak yang sudah selesai menghabisi Tejo. Kondisinya sedang berlutut, tidak bisa bangkil lagi. Luka dalamnya semakin parah.
Di depan Geladak Badak tergeletak mayat Tejo dengan kondisi luka kematian sama seperti Gading Margin yang sudah bergelar “mendiang”. Tubuhnya penuh luka berlubang.
Bungkuk Gila terkejut mendapati dirinya kalah cepat oleh Alma Fatara dan Geladak Badak.
__ADS_1
“Hahaha! Kakek, kau harus dikentuti mayat!” teriak Alma Fatara pula.
“Hahaha! Cari saja mayat yang bisa kentut!” balas Bungkuk Gila tertawa karena merasa cerdas. (RH)