Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DAS 9: Di Kampung Siluman


__ADS_3

*Dendam Anak Senopati (DAS)*


 


“Nenek Ratu, apakah aku boleh ikut berkelana bersama Alma Fatara?” tanya Putri Manila Sari kepada Ratu Warna Mekararum.


Cukup terkejut Ratu Tua mendengar pertanyaan cucunya itu.


“Aku mengizinkanmu untuk ikut bersama Alma Fatara dengan dua syarat ....”


“Apa itu, Nek?” tanya Manila Sari cepat.


“Pertama kau harus mendapat izin dari ayahandamu. Kedua, kau harus menanggung risikonya karena perjalanan Alma Fatara bukan jalan-jalan liburan, tetapi penuh maut,” kata sang ratu.


“Syarat kedua aku sangat sanggupi, Nek. Namun untuk syarat pertama, Ayahanda pasti tidak akan mengizinkan. Nenek Ratu saja yang memberi tahu Ayahanda. Yah, Nek?” kata Manila Sari memelas.


“Baiklah. Ikuti cara Ning Ana kabur dari rumahnya demi ikut Alma Fatara. Besok ikutlah bersama rombongan Putra Mahkota pergi ke Rawa Kabut untuk berobat, setelah kau pergi jauh, barulah aku memberi tahu ayahmu tentang kepergian kalian,” kata Ratu Warna Mekararum.


“Terima kasih, Nek. Aku akan mengajak serta Kakang Arguna agar aku tidak sendiri,” kata Manila Sari.


Itulah awal bisanya Pangeran Arguna dan Putri Manila Sari mengikuti Alma Fatara.


Setelah tiga hari kepergian rombongan Prabu Marapata menuju ke Rawa Kabut, barulah Ratu Tua memberi tahu Pangeran Bugar Bawah dan istrinya bahwa kedua anak mereka bukan sekedar mengantar Putra Mahkota berobat, tetapi bermaksud lain, yaitu mengikuti Alma Fatara dan rekan-rekannya sampai pulang.


Ketika di Lembah Hilang, Arguna dan Manila Sari hanya meninggalkan secarik pesan lontar di tenda Prabu Marapata. Posisi surat lontar itu diatur agar tidak bisa langsung ditemukan, sehingga telat ditemukan. Ketika Prabu Marapata dan pasukannya sudah dibuat panik dengan hilangnya mereka berdua, tidak berapa lama, barulah surat lontar itu ditemukan oleh Permaisuri Palilin.


Mau tidak mau, Prabu Marapata tidak bisa melarang lagi, karena Arguna dan Manila Sari sudah pergi jauh ketika suratnya dibaca.


Manila Sari samar-samar mendengar suara orang berbincang-bincang. Sementara kelopak matanya yang baru terbuka sedikit melihat bayang yang samar dan aneh.


Ketika dia mencoba mengerjapkan sepasang kelopak matanya yang berat, kemudian membukanya kembali, Manila Sari melihat seraut wajah yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah itu cukup menyeramkan dengan dua gigi tonggosnya, seakan-akan sangat berminat menggigit dirinya.


“Aaak!” jerit Manila Sari terkejut sambil buru-buru membangunkan wajahnya yang menggantung di sisi leher kuda.


“Yang cantik sudah banguuun!” teriak pemuda bergigi tonggos yang tadi mendekatkan wajahnya begitu dekat di depan wajah Manila Sari.


“Aaa!” jerit Manila Sari karena dia kehilangan keseimbangan duduk di atas kuda. Keterkejutan itu membuatnya hilang kendali atas posisinya yang tadi tertelungkup di leher kuda.


Bluk!


“Aak!” jerit Manila Sari ketika dia terjatuh ke tanah dengan tidak cantik, meski dia berparas cantik.


“Hahaha!” tawa satu suara perempuan, tapi terbahak seperti bapak-bapak.

__ADS_1


Pemuda bergigi tonggos yang bernama Sabung tanpa pakai ayam itu, segera berlari mendapati Manila Sari. Dia berusaha membantu si gadis belia bangun berdiri.


“Hei, jangan sentuh aku, Siluman!” teriak Manila Sari cepat sambil menggeser mundur duduknya di tanah.


Sontak Sabung berhenti menahan gerakannya sehingga seperti patung manusia.


“Hahaha!” kembali terdengar suara tawa yang khas di pendengaran Manila Sari.


Sang putri segera melihat ke sumber suara tawa. Dia melihat Alma Fatara yang duduk di pinggiran sebuah pendapa kayu sederhana dan kecil bersama Lingkar Dalam dan beberapa lelaki lain.


Alma sedang menertawakan Manila Sari, sementara Lingkar Dalam dan yang lainnya hanya tersenyum-senyum melihat apa yang dialami sang putri.


“Sabung, jangan ganggu Putri Manila. Dia takut kepadamu!” teriak Lingkar Dalam.


“Tapi aku tidak menggigit, Lingkar!” sahut Sabung yang kini berdiri tanpa jelas tujuannya.


“Kau tidak menggigit, tapi gigimu mau menggigit! Hahaha!” teriak Alma pula, lalu tertawa kian kencang.


Manila Sari segera bangkit berdiri. Sebelum pergi ke tempat Alma Fatara berada, sebentar dia melihat lingkungan sekitar.


Dilihatnya kakaknya, Pangeran Arguna, masih belum bangun dari tidur atau pingsannya. Arguna juga dalam posisi tertelungkup di punggung kudanya.


Manila Sari batal pergi menemui Alma Fatara, dia memilih mendekati kakaknya.


Namun, Arguna tidak bereaksi, seolah-olah pingsannya sangat nyenyak.


Bluk!


Tanpa takut menderita kerugian, Manila Sari malah menarik tubuh kakaknya sehingga longsor dari atas kuda dan jatuh di tanah keras.


“Eeekr!” erang Arguna tersadar. Dia menggeliat dengan wajah mengerenyit merasakan sakit.


Setelah melihat kakaknya tampak tersadar, Manila Sari segera pergi menuju ke depan pendapa yang dekat jaraknya. Dia tidak peduli pula pada kudanya karena memang sudah ditambatkan.


“Alma, kita ada di mana?” tanya Manila Sari sambil mendekat.


“Kita berada di Kampung Siluman yang ada di Negeri Sembunyi,” jawab Alma Fatara sembari tersenyum.


“Selamat datang di kampung kami, Gusti Putri!” sambut Lingkar Dalam ramah sambil merentangkan kedua lengan besarnya, bukan maksud minta dipeluk, tapi sebagai isyarat “selamat datang”.


“Lalu apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Manila Sari.


“Mencari penjahat,” jawab Alma Fatara. “Apakah kau akan ikut, Putri?”

__ADS_1


“Tentu,” jawab Manila Sari mantap.


“Apakah kau bisa bertarung?” tanya Alma lagi.


“Bisa. Bukankah aku sudah tunjukkan waktu di malam peperangan di Istana? Kau bisa lihat, aku membawa pedang,” kata Manila Sari.


Memang, Manila Sari dan kakaknya dibekali sebuah pedang di punggung, menunjukkan bahwa minimal mereka bisa bertarung menggunakan pedang.


“Kita ada di mana ini, Manila?” tanya Arguna yang datang berjalan agak sempoyongan sambil tangan kanannya memegangi siku kirinya yang sakit karena jatuh tadi.


“Di Kampung Siluman di Negeri Sembunyi,” jawab Manila mencontek jawaban Alma Fatara.


“Apakah semua orang yang kita lihat ini kaum siluman?” tanya Arguna lagi.


“Hahaha!” tawa Lingkar Dalam dan rekan-rekannya sesama lelaki Kampung Siluman.


“Jangan takut, Gusti Pangeran. Kami semua manusia biasa. Kami semua aman,” kata Lingkar Dalam.


“Aku tidak takut, aku hanya bertanya,” kata Arguna datar.


“Jika begitu, kalian berdua duduklah di sini agar tahu permasalahan yang sedang kita hadapi dan apa yang akan kita lakukan,” kata Alma Fatara.


Maka, Arguna dan Manila Sari naik ke pinggiran pendapa dan duduk berhadapan dengan yang lainnya.


Di tengah-tengah mereka ada peta timbul sederhana buatan sendiri, tidak beli. Pada area tengah adalah wujud seperti gunung atau bukit. Di sekitarnya ada area yang melambangkan lautan, ada yang melambangkan hutan, lembah, sungai dan rumah kecil.


“Jumlah para pendekar asing itu lebih dari sepuluh orang. Mereka memiliki senjata yang beragam, tetapi ada satu senjata yang sama mereka miliki, yaitu tombak besi pendek yang belakangnya terkait rantai. Mereka menyerang dengan terang-terangan di siang hari. Mereka datang tanpa berkata apa-apa. Mereka datang menyerang, membunuh, dan membawa gadis kampung ini pergi,” tutur Lingkar Dalam menjelaskan tentang musuh yang mereka hadapi.


“Mereka datang setiap hari?” tanya Alma.


“Tidak. Empat atau lima hari sekali, tidak tentu. Pernah mereka datang menyerang pagi-pagi, pernah pula siang, dan pernah sore hari, tapi tidak pernah malam hari. Kami sudah berjaga dan menunggu mereka datang menyerang, tetapi pada dasarnya kami kalah kesaktian,” kata Lingkar Dalam. Dia lalu menunjuk peta menggunakan sepotong kayu kecil, lalu katanya, “Dari Kampung Siluman ini, mereka pergi lewat Lembah Kerang, lalu ke arah wilayah Kerajaan Bulaga. Arah itu memberi petunjuk bahwa kemungkinan besar para pendekar itu berasal dari wilayah Kerajaan Bulaga.”


“Jika kita belum tahu di mana sarang mereka, berarti mau tidak mau kita harus menunggu. Aku mungkin bisa menangkap satu dari mereka jika mereka datang menyerang, lalu dengan satu tawanan itu kita bisa mendatangi sarang mereka,” kata Alma Fatara. “Karena mereka suka menculik gadis kampung ini, kita bisa menjadikan Putri Manila sebagai umpan. Bukankah dia cantik?”


Terkesiap Manila Sari mendengar rencana Alma Fatara.


“Benar. Gusti Putri memang sangat cantik,” jawab Lingkar Dalam.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan para lelaki kampung itu.


“Aku memang cantik, tapi aku terlalu mahal jika hanya untuk dijadikan umpan,” kata Manila Sari.


“Tidak boleh membantah, Putri. Tidak ada kandidat lain yang cocok untuk dijadikan umpan. Hahaha!” kata Alma Fatara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2