Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 29: Pangeran Bugar Jantung


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


Kini, sepasang kekasih Debur Angkara dan Ayu Wicara berdiri di dalam kegelapan dengan bermodal penerangan sebuah obor.


Mereka baru saja menempuh perjalanan yang panjang dan basah-basah, kemudian menemukan pintu rahasia dan masuk ke ruangan yang memiliki banyak sel penjara tanpa penerangan, sehingga mereka berdua menjadi pusat perhatian makhluk-makhluk yang mendekam di dalam penjara yang gelap.


“Gusti Pangeran Bugar Jantung, bertahun-tahun kita dipenjara di sini, kenapa kita tidak tahu di dinding itu ada pintu rahasia,” kata satu suara berat dan serak yang berasal dari dalam penjara di sisi kanan Debur dan Ayu.


Keduanya jadi terkejut mendengar suara tanpa visual itu.


“Jika kita tahu pun, apakah kau punya kesempatan untuk membukanya?” tanya satu suara lagi dari sel penjara di sebelah kiri Debur dan Ayu.


“Hah! Itu Gusti Buyar Jangkung!” sebut Ayu Wicara.


“Hei! Siapa itu yang menyebut namaku sembarangan?!” bentak suara lelaki di sel kiri.


Terkejut Debur Angkara dan Ayu Wicara dibentak keras seperti itu, seperti dibentak setan dari dalam kegelapan.


“Siapa kalian?!” Giliran suara sebelah kanan yang membentak.


“Ka-ka-kami ...,” ucap Debur Angkara tiba-tiba tergagap yang kemudian dipotong oleh Ayu Wicara.


“Ah, Kacang Dengkur. Bi-biar aku saja yang bi-bi-awak (bicara).”


Namun, Ayu Wicara juga tergagap, meski tidak separah Debur Angkara.


“Hahaha!” tawa Debur Angkara. “Kau ju-ju-juga gagap,” ejek Debur Angkara.


“Iya, ta-tapi tidak sepasrah (separah) Kang Bubur,” kilah Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa dua suara lelaki di dalam penjara yang berseberangan.


“Sudah lama kita tidak melihat orang lucu, Gusti,” kata suara di sebelah kanan.


“Mereka memang lucu, tapi kurang ajar. Menyebut namaku sembarangan,” kata suara sebelah kiri. Lalu tanyanya kepada kedua orang muda itu, “Siapa kalian? Kenapa bisa tahu ada pintu rahasia yang menjebol masuk ke penjara Jintamani?”


“Kacang Dengkur, berarti kita tidak salah buluan (tujuan),” kata Ayu Wicara berbisik kepada kekasihnya, tapi masih terdengar oleh kedua orang yang belum terlihat.


“Hahahak!” tawa kencang lelaki di penjara kanan.


Debur Angkara dan Ayu Wicara terpaksa menunggu suara tawa itu berhenti. Setelah reda, barulah Debur Angkara bicara.


“Aku De-debur Angkara, Gusti. I-ini adalah kekasihku yang cantik, namanya Ayu Wicara,” kata Debur Angkara memperkenalkan diri, tapi masih sedikit gagap.


“Aku memang jentik, Gusti. Hihihi!” ucap Ayu Wicara sembari senyum malu-malu gelap.

__ADS_1


“Hahahak!” tawa suara di sebelah kanan lagi mendengar Ayu Wicara bicara tidak lempeng.


Debur Angkara dan Ayu Wicara hanya senyum-senyum seperti dua anak lucu di alam gaib ditertawakan seperti itu.


“Kami utusan Gusti Ratu Warna Mekararum,” tambah Debur Angkara.


“Apa?!” kejut kedua suara itu.


“Benar, Gusti. Kami berdua diusus (diutus) Gusti Warna Makelar Cium,” kata Ayu Wicara pula.


“Hahaha! Mau dihukum gantung dia menyebut Ratu Tua Makelar Cium. Hahaha!” kata suara di sebelah kanan sambil tertawa kencang.


“Tidak, aku tidak menjemput (menyebut) Ratu Tua Makelar Cium!” teriak Ayu Wicara cepat membantah.


“Mohon maaf, Gusti. Ayu Wicara memang suka terpeleset jika bicara. Maklum, waktu dikandungan ibunya mengidam bayi belut,” ucap Debur Angkara.


“Hmmm!” gumam suara di sebelah kiri. “Setahuku, Ratu Warna Mekararum sudah mati. Apakah kalian utusan dari alam kubur?”


“Hahaha!” tawa Debur Angkara dan Ayu Wicara tiba-tiba.


“Lancang!” bentak suara di sel kiri marah.


Seketika Debur Angkara dan Ayu Wicara berhenti tertawa, sampai-sampai si gadis tersedak oleh tawanya sendiri.


“Uhhuk uhhuk!”


“U-u-untuk membebaskan Gusti Bugar Jantung. Gu-gu-gusti Ratu ....”


“Gusti Batu haff!” ucap Ayu Wicara, tetapi mulutnya cepat dibekap oleh Debur Angkara.


“Kau ja-ja-jangan ikut bicara dulu, nanti malah kacau!” bisik Debur Angkara.


Ayu Wicara menurut, tetapi wajahnya merengut.


“Gusti Ra-ratu dan pasukannya se-sedang menyerang Kerajaan Jintamani, Gu-gusti. Gusti Ratu ingin meminta bantuan Gusti Bugar Jantung ....”


“Siapa yang dilawan oleh Gusti Ratu Tua?” tanya suara di sel kiri.


“Senopati Gending Suro, Gusti.”


“Jadi, Gusti Ratu Warna Mekararum belum mati?” tanya ulang suara kiri.


“Itu berita bohong yang dibuat oleh Senopati Gending, Gusti,” jawab Debur Angkara berdasarkan yang dia dengar selama ini.


“Lalu, apa yang Gusti Ratu akan berikan kepadaku jika aku membantunya?” tanya suara di sel kiri lagi.

__ADS_1


“Kebebasan dan jabatan di Istana,” jawab Debur Angkara lancar, sesuai yang dibekalkan kepadanya. Ratu Warna Mekararum sudah menyiapkan jawaban jika orang yang bernama Pangeran Bugar Jantung itu bertanya banyak hal.


“Mendekatlah, apakah kalian bisa membebaskanku. Jika kalian bisa membebaskanku, aku tidak akan menuntut jabatan!” perintah suara di dalam sel kiri.


Debur Angkara pun akhirnya mendekat ke sel di sisi kiri dan lebih memajukan obornya, sehingga cahaya api merambat menerangi ruang penjara, hingga pada akhirnya menerangi sesosok tubuh seorang lelaki berambut gondrong dan kusut.


Sosok lelaki berjenggot dan berkumis liar itu mengenakan pakaian oranye seperti tahanan penjara negeri masa depan, hanya saja pakaian itu lebih hemat sablonan dan tidak punya tulisan. Lelaki itu duduk bersila bersandarkan tembok belakang penjara. Ternyata kedua tangan dan kaki lelaki itu dibelenggu dengan rantai besar. Belenggu besi besarnya begitu mencekik pergelangan tangan dan kaki, sehingga tidak bisa meloloskan tangan dan kaki.


Tidak jauh dari posisi lelaki itu, ada closet klasik yang berbau tidak sedap. Namun uniknya, tetap ada bak kecil berisi air. Jangan ditanya dari mana air itu disediakan.


Lelaki itu adalah Pangeran Bugar Jantung, kakak dari Prabu Marapata, tetapi putra dari selir.


Melihat kondisi Pangeran Bugar Jantung tersebut, terkejutlah Debur Angkara dan Ayu Wicara.


“Gusti Pangeran, jika kau bebas, jangan lupa bawa aku serta. Aku akan mengabdi kepadamu,” kata suara di sel sebelah kanan.


“Kita lihat dulu, apakah mereka bisa membebaskanku tanpa kunci,” sahut Pangeran Bugar Jantung.


Tring!


Tiba-tiba Debur Angkara membacok beberapa teralis penjara dengan golok birunya yang bernama Golok Setia, sampai-sampai memercikkan kembang api.


Terbeliak Pangeran Bugar Jantung melihat beberapa teralis yang dibacok sekaligus itu terpotong seperti pedang membacok terong.


Trang tring trang tring!


Seperti menebas ilalang saja, Debur Angkara dengan mudahnya menebasi teralis besi penjara sehingga terciptalah pintu yang lebar. Sementara batangan teralis berserakan di lantai. Dia benar-benar tampil sebagai seorang pembebas di malam itu.


“Hebat juga goloknya,” ucap lelaki di sel kanan memuji.


Debur Angkara dan Ayu Wicara masuk ke dalam sel sebelah kiri dan mendekati Pangeran Bugar Jantung yang sudah memberdirikan tubuhnya, bukan yang lain.


Sang pangeran mengulurkan kedua tangannya kepada Debur Angkara.


Ting! Crakr!


Tanpa sepatah kata pun, Debur Angkara langsung membacok borgol besi yang beratnya dua kilo toleransi. Ketika borgol itu terbelah tanpa melukai tangan sang pangeran, rantai besar langsung gugur sebagian ke lantai.


“Sekarang lepaskan belenggu di kakiku, Dedebur,” kata Pangeran Bugar Jantung.


“Bukan Dedebur, Gusti, tapi Debur Angkara,” ralat lelaki besar berkumis poni itu.


“Oooh, iya, iya. Hahaha!” ucap Pangeran lalu tertawa pelan. Dia gembira karena akan bebas.


Ting!

__ADS_1


“Hahaha!” tawa sedang Pangeran Bugar Jantung setelah belenggu kakinya dibelah oleh mata Golok Setia. (RH)


__ADS_2