
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
“Di depan sana ada seorang pengintai, Gusti Ratu,” ujar Penombak Manis yang menjalankan kudanya menghadap kepada Alma Fatara.
“Ada berapa orang?” tanya Alma Fatara.
“Aku hanya melihat satu orang berpakaian merah gelap,” jawab Penombak Manis.
“Biarkan saja,” kata Alma Fatara.
“Pakaian merah gelap bukankah seperti seragam prajurit kadipaten, Gusti Ratu?” kata Kembang Bulan yang berkuda di sisi kiri kuda Alma Fatara.
Kembang Bulan sebagai anak seorang adipati jelas tahu warna seragam prajurit kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Singayam. Seragam prajurit Kadipaten Gulangtara juga warna merah gelap.
“Mungkin saja dia prajurit pengintai dari Kadipaten Sengat,” kata Alma Fatara. “Biarkan saja.”
“Baik, Gusti,” ucap Penombak Manis.
Dia lalu kembali ke posisinya di depan rombongan Pasukan Genggam Jagad.
Sementara itu, jauh di depan sana. Seorang prajurit berseragam merah gelap sedang buru-buru menuruni pohon yang tinggi. Di bawah pohon ada seekor kuda yang ditambatkan. Setibanya di bawah, prajurit yang berwajah mirip Ono itu segera menaiki kudanya dan menggebahnya pergi ke arah barat.
Hanya Penombak Manis yang bisa melihat pergerakan orang itu dari jauh, sementara Alma Fatara dan yang lainnyan tidak.
Kuda yang ditunggangi oleh Ono berlari kencang ke arah barat karena memang sengaja digebah kencang. Dia tidak berlari ke arah rombongan Pasukan Genggam Jagad.
Pada akhirnya, kuda itu berpapasan dengan rombongan Adipati Patok Anggara bersama warganya.
“Tahan, Gusti! Tahan perjalanan!” teriak si prajurit selagi dia masih di punggung kudanya.
Ono kali ini ditugaskan untuk memastikan jalan yang akan dilalui rombongan Adipati aman.
“Ada apa, Ono?” tanya Adipati Patok Anggara.
Barulah Ono turun dari kudanya dan menjura hormat kepada Adipati yang saat itu duduk di sebuah kereta kuda terbuka.
“Di depan sana ada pasukan berbendera Kerajaan Singayam, Gusti!” ujar Ono.
“Apa?!” kejut Adipati Patok Anggara.
Senjumlah warga yang mendengar laporan Ono, ikut terkejut. Mereka segera memberi tahu warga yang lain bahwa di depan arah perjalanan mereka ada pasukan Kerajaan Singayam. Maka mereka pun dilanda kecemasan. Mereka segera menilai bahwa posisi mereka dikepung oleh pasukan Kerajaan Singayam dari depan dan belakang.
Warga pun berubah cemas dan jadi berbincang-bincang satu sama lain.
“Sejauh mana posisi pasukan Singayam itu, Ono?” tanya Adipati Patok Anggara.
“Tidak jauh lagi, Gusti. Kita harus segera bersembunyi, keluar dari jalan,” saran Ono.
“Tidak bisa. Tempat ini sulit dipakai tempat bersembunyi. Pedati dan ternak akan sulit disembunyikan,” kata Adipati.
“Atau kita bertempur saja, Gusti. Jumlah mereka hanya sedikit. Sepertinya tidak sampai seratus orang. Hanya saja, mereka berkuda semua,” kata Ono.
__ADS_1
“Kau yakin jumlah mereka kurang dari seratus orang, Ono?” tanya Bayu Garang, putra Adipati yang ganteng. Bukan adipatinya yang ganteng, tetapi putranya. Jangan salah paham.
“Iya,” jawab Ono.
“Jika begitu, kita lawan saja, Ayah,” kata Bayu Garang. “Kita memiliki lebih tiga puluh prajurit yang mengawal kita. Warga juga ada yang siap untuk bertempur.”
Drap drap drap!
Tiba-tiba dari arah belakang rombongan berlari seekor kuda. Kuda itu ditunggangi oleh Oto, prajurit kadipaten yang juga pembawa pesan.
Melihat kedatangan Oto, Adipati Patok Anggara dan warganya cukup terkejut.
Oto menghentikan kudanya di sisi kereta kuda sang junjungan.
“Lapor, Gusti Adipati!” teriak Oto setelah turun dari kudanya. Dia menjura hormat.
“Apa yang terjadi dengan pasukan kita?” tanya Adipati cemas. Dia termasuk tipe pemimpin yang mencemaskan rakyat dan prajuritnya.
“Lapor, jumlah pasukan Kerajaan Singayam terlalu banyak, Gusti. Pasukan panahnya saja mungkin sejumlah pasukan kita....”
“Lalu bagaimana keadaan kalian?” tanya Adipati Patok Anggara.
“Mohon maaf, Gusti. Komandan Are Are terpaksa memerintahkan kami mundur sebelum berperang,” jawab Oto.
“Lalu di mana pasukan kita?” tanya sang Adipati lagi.
“Ada di belakang. Sebentar lagi sampai di sini,” jawab Oto.
“Ayah!” panggil Bayu Garang.
“Jika pasaukan kita sebentar lagi tiba, lebih baik kita menghadapi pasukan Kerajaan Singayam di depan sana. Jumlah mereka hanya puluhan, sedangkan kita berjumlah ratusan,” usul Bayu Garang.
“Apa? Pasukan Kerajaan Singayam ada di depan?” kejut Oto.
“Benar, Kakang. Namun, meski mereka semua berkuda, tapi jumlahnya kurang dari seratus orang. Mungkin lima puluh orang saja,” kata Ono yang usianya lebih muda dan lebih manis dari Oto.
“Bagaimana, Gusti?” tanya Oto kepada junjungannya.
“Baiklah jika begitu. Sepertinya takdir dari Dewa harus seperti ini,” kata Adipati Patok Anggara. Entah dewa apa yang disembahnya, yang jelas bukan Dewa19 atau Dewa Bujana.
Dia terdiam sejenak. Dia berpikir. Meski dia bukan berlatar belakang militer, tetapi dia adalah sipil yang cukup berakal. Karena itulah dia ditunjuk sebagai kepala daerah bukan atas dasar nepotisme, tapi karena kompetensi.
“Oto, cepat pergi kepada Komandan Are Are, minta agar mereka percepat langkah untuk membantu di sini. Kita akan bertempur melawan pasukan Kerajaan Singayam yang ada di depan sana!” perintah Adipati Patok Anggara.
“Baik, Gusti,” ucap Oto.
Prajurit itu segera naik kembali ke kudanya dan pergi ke arah tadi dia datang.
“Ono, bawa beberapa prajurit untuk menebang satu atau dua pohon. Tutupi jalan agar pasukan berkuda itu terhambat!” perintah Adipati Patok Anggara.
“Baik, Gusti!” ucap Ono. Dia lalu berlari pergi untuk mengajak beberapa orang prajurit yang mengawal rombongan itu.
“Bayu, perintahkan warga untuk menepi dan bersembunyi di tempat yang aman!” perintah Adipati kepada putranya.
__ADS_1
“Baik, Ayah,” ucap Bayu Garang patuh.
“Ragawi, persiapkan semua prajurit dalam posisi tempur!” perintah Adipati kepada pemimpin prajurit yang mengawal rombongan itu.
“Baik, Gusti,” ucap prajurit yang bernama Ragawi.
Dia lalu pergi untuk mengatur pasukan prajurit yang jumlahnya kurang dari lima puluh orang saja.
Puluhan warga ibu kota kadipaten itu mulai bergerak meninggalkan jalan untuk mencari tempat sembunyi. Namun, di area itu, bukan tempat yang bagus untuk sembunyi. Area lebih kepada semak belukar, di mana di sisi kanan ada tanah tinggi yang tidak bisa didaki dan pada sisi kiri ada pohon-pohon berbatang kecil yang setelahnya adalah jurang. Sulit untuk menyembunyikan pedati atau hewan ternak semodel sapi yang warga bawa. Biasanya, ternak yang dibawa adalah harta penting bagi warga yang tidak kaya.
Ono dan beberapa prajurit telah pergi berlari ke jalan depan untuk menebang beberapa pohon yang bagus guna menutup jalan.
Ragawi memposisikan dua puluh prajurit membentuk pagar orang di tengah jalan. Sepuluh prajurit panah yang mereka miliki ditempatkan di balik batang pohon atau semak liar yang agak tinggi.
Brusk! Brusk!
Setelah bahu membahu mengapak dua batang pohon dan menumbangkannya melintang di tengah jalan, Ono dan rekan-rekannya segera mundur dan mengambil posisi mengintai dari jarak cukup jauh.
“Ada penumbangan pohon di depan sana, Gusti!” lapor Penombak Manis kepada Alma Fatara lagi. Jangkauan matanya bisa melihat dari jauh adanya pergerakan dua pohon yang tumbang tanpa ada angin badai.
“Lanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti!” ucap Penombak Manis patuh. Dia kembali ke posisinya di depan.
Pasukan Genggam Jagad bergerak normal dengan kecepatan sedang.
Tidak berapa lama, akhirnya Pasukan Alma Fatara tiba tidak jauh dari dua batang pohon besar yang melintang menutupi jalan.
Pada saat yang bersamaan, di balik tikungan jalan, tempat rombongan Adipati Patok Anggara berhenti, dari arah belakang telah tiba ratusan prajurit kadipaten yang datang dengan berlari sedang.
Drap drap drap!
Seiring menghadapnya Komandan Are Are kepada Adipati Patok Anggara, Ono dan rekan-rekannya muncul dari tikungan. Mereka juga datang menghadap.
“Pasukan musuh sudah tiba di balik tikungan jalan, Gusti!” lapor Ono. “Tapi ada yang aneh, Gusti!”
“Apa?” tanya Adipati.
“Pasukan itu tidak berseragam prajurit, tapi sepertinya para pendekar semua,” jawab Ono.
“Apa?!” kejut Adipati dan orang-orangnya.
“Selain bendera Kerajaan Singayam, ada juga satu bendera hitam,” tambah Ono.
“Itu pasti panji pasukannya,” duga Komandan Are Are.
“Are Are, cepat persiapkan pasukanmu untuk bertempur. Jika mereka para pendekar Kerajaan, dua batang pohon besar tidak akan ada artinya,” kata Adipati Patok Anggara.
“Baik, Gusti!” ucap Komandan Are Are.
Komandan pasukan kadipaten itu segera mengatur pasukannya membentuk formasi tempur yang kira-kira efektif dalam menghadapi pasukan berkuda. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Yuk kunjungi yang baru!