Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
Akarmani 33: Serangan di Depan Benteng


__ADS_3

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*


 


Senopati Gending Suro kini meramaikan Pendapa Agung Sejagad dengan para pemimpin pasukan yang ada di bawah kendalinya. Sementara di luar pendapa telah berbaris lebih dua ribu prajurit.


Setelah mulai bisa mengecilkan api yang membakar dua gudang penting, akhirnya Senopati Gending Suro memutus membiarkan dua gudang itu terbakar habis. Dia lebih membutuhkan para prajurit untuk berperang daripada menunggu api mati. Gending Suro merasa posisinya lebih penting untuk diamankan di saat musuh sudah mengancam benteng Istana.


Kini di hadapan Senopati telah berdiri empat pemimpin pasukan, yaitu Kepala Pasukan Pengawal Raja Komandan Buto Sisik, Kepala Pasukan Keamanan Istana Panglima Rakean, Kepala Pasukan Benteng Istana Panglima Belut Ireng, dan Kepala Pasukan Khusus Komandan Sikut Karam.


“Lapor, Gusti,” ucap Komandan Buto Sisik. “Aku melihat kondisi yang mencurigakan di Istana Keprabuan. Aku kehilangan pasukan yang berjaga di Istana Keprabuan.”


“Keparat! Rupanya Prabu Marapata berani berulah!” desis Senopati Gending Suro lirih kepada dirinya sendiri. Lalu perintahnya, “Buto Sisik, pimpin serangan ke Istana Keprabuan dan tangkap Prabu Marapata dan Permaisuri!”


“Baik, Gusti. Namun, jumlah pasukanku telah berkurang separuh, Gusti,” kata Komandan Buto Sisik.


“Sikut Karam!” sebut Senopati Gending Suro.


“Hamba, Gusti!” sahut Komandan Sikut Karam yang terbilang masih berusia sembilan tahun lebih muda dari separuh abad.


“Kirim lima puluh prajurit dari pasukanmu ikut menyerbu Istana Keprabuan!” perintah Senopati Gending Suro.


“Baik, Gusti,” ucap Komandan Sikut Karam patuh.


“Panglima Rakean, tangkap semua anggota Keluarga Kerajaan dan jebloskan ke dalam penjara. Bunuh mereka yang melawan. Kirim juga putra mahkota yang sakit itu ke penjara!” perintah Gending Suro dengan wajah dan sorot mata yang menunjukkan kemarahan.


“Baik, Gusti,” ucap Panglima Rakean patuh.


“Panglima Belut Ireng, kerahkan kekuatan penuh untuk pertahankan benteng!” perintah Senopati lagi.


“Baik, Gusti. Aku sudah menempatkan dua puluh panah belalang di atas benteng,” kata Panglima Belur Ireng.


“Komandan Sikut Karam, pasukanmu jauh lebih tangguh dari pasukan lainnya. Bawa pasukanmu masuk ke Ibu Kota dan serang pasukan musuh dan pasukan Ibu Kota!”


“Baik, Gusti,” ucap Komandan Sikut Karam.


“Laksanakan semua perintah!” teriak Senopati Gending Suro kencang.


“Baik, Gusti!” sahut keempat pemimpin pasukan itu sambil menjura hormat dan kemudian berbalik pergi untuk menemui pasukannya masing-masing.


Di luar pendapa.


“Gempar Watuk, bawa lima puluh prajurit ikut membantu Pasukan Pelindung Raja untuk menyerbu Istana Keprabuan!” perintah Komandan Sikut Karam kepada wakilnya yang bernama Gempar Watuk.


“Baik, Komandan,” ucap Gempar Watuk.


Wakil Komandan itu lalu menghitung lima puluh prajurit dan memindahkan posisinya di belakang barisan Pasukan Pelindung Raja yang hanya berjumlah kisaran enam puluh prajurit.


Maka berangkatlah Komandan Buto Sisik memimpin pasukan untuk menyerbu Istana Keprabuan, di mana Ratu Warna Mekararum dan sebagian pasukannya berada.


Sementara itu, Panglima Rakean yang memimpin ratusan Pasukan Keamanan Istana melakukan pembagian tugas kepada para kepala prajuritnya karena mereka harus bergerak serentak.


Panglima Belut Ireng segera membawa alebih seribu pasukannya yang tersisa untuk menambah jumlah pasukan di benteng Istana.

__ADS_1


Komandan Sikut Karam memimpin lima puluh pasukan berkuda dengan seratus lima puluh pasukan pelari. Mereka juga menuju ke gerbang benteng Istana. Setiap prajurit berkuda membawa satu obor di tangan kanannya. Sementara pasukan pelari hanya membawa obor separuh dari jumlah mereka, artinya satu obor untuk dua prajurit.


Pasukan Benteng Istana segera mengatur formasi siaga perang di benteng. Panglima Belut Ireng naik ke atas benteng untuk memantau situasi karena menurut informan, pasukan Ratu Warna Mekararum telah bersiap menyerang benteng itu.


Sebanyak dua puluh mesin panah belalang sudah dipasang di sepanjang atas benteng. Namun, Panglima Belut Ireng tidak melihat satu pun tanda-tanda bahwa ada pergerakan manusia atau setan yang mencurigakan.


Di depan benteng Istana ada zona kosong bertanah keras yang tandus dan bersih dari pepohonan. Jika malam, zona itu terlihat gelap gulita. Namun, dari atas benteng, bisa terlihat pinggiran Ibu Kota yang memiliki cahaya penerangan satu dua obor milik rumah warga.


Jgreg!


Pintu gerbang benteng Istana dibuka dari dalam.


“Heah heah!” gebah Komandan Sikut Karam dan pasukan berkudanya. Mereka berkuda keluar dari benteng Istana menuju ke Ibu Kota.


Sementara itu di dalam kegelapan di pinggiran Ibu Kota.


“Hihihi! Akhirnya ada mangsa yang keluar, Kak Alma,” kata Ning Ana berbisik kepada Alma yang ada di sisinya di dalam kegelapan.


“Siapa yang ingin kau mangsa?” tanya Alma Fatara sambil tertawa kecil.


“Aku mau menggigit yang tampan. Hihihi!”


“Kau mulai punya naluri selingkuh seperti Kakang Genggam.”


“Tidaaaak. Aku model gadis yang setia!” bantah Ning Ana.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


Mereka berdua sedang bertengkurap ria di rerumputan sambil memerhatikan situasi benteng Istana yang modelnya berbeda dengan benteng Ibu Kota.


Mereka saat itu melihat pasukan berkuda keluar dengan terang benderang, yang di belakangnya juga ada pasukan pelari yang juga terang dan ramai.


“Ning Ana, kau mau berperang bersama aku atau bersama calon suamimu?” tanya Alma Fatara.


“Kakang Garam sedang bersama wanita-wanita murid Perguruan Pisau Merah. Aku berperang bersama Kak Alma saja,” jawab Ning Ana.


Memang, saat itu Garam Sakti sedang bergabung bersama Adipaksa yang memimpin pasukan Perguruan Pisau Merah. Sebagian dari pasukan itu memang adalah pasukan murid perempuan karena sebagian besar murid lelaki ikut bersama Ratu Warna Mekararum.


“Kau sudah buang kue basah?” tanya Alma Fatara.


“Sudah barusan. Memangnya kenapa?” tanya Ning Ana.


“Biar kau lebih ringan. Karena aku akan menggendongmu,” jawab Alma Fatara.


Alma lalu bangun berdiri.


“Ayo naik ke punggungku!” suruh Alma Fatara kepada Ning Ana.


Ning Ana segera bangun dan naik menggendong di punggung Alma dengan senang hati.


“Ayo, Kuda!” teriak Ning Ana pelan sambil memukul bokong Alma Fatara.


“Sembarangan!” maki Alma Fatara. “Heh! Jangan pegang dadaku!”

__ADS_1


“Lalu aku memegang apa?” tanya Ning Ana.


“Peluk leherku. Awas jika kau memeras sembarangan, aku lemparkan kau ke pasukan musuh!” ancam Alma Fatara.


“Hihihi!” tawa Ning Ana cekikikan. “Punya Kak Alma ternyata sangat besar. Hihihi!”


“Karena itu jangan dipegang, nanti malah jadi kecil! Hahaha!” rutuk Alma Fatara, tapi kemudian dia tertawa. Lalu katanya, “Bersiap!”


Ning Ana cepat memeluk leher Alma Fatara.


Wess!


Tiba-tiba Alma Fatara melesat cepat ke arah rombongan pasukan berkuda pimpinan Komandan Sikut Karam.


Panglima Pulung Seket, Adipati Lalang Lengir, Genggam Sekam, Sumirah, dan para adipati lainnya yang juga bersembunyi di dalam kegelapan, cukup terkejut ketika melihat pergerakan bayangan hitam di dalam kegelapan.


Awalnya para pemimpin pasukan itu tidak tahu bahwa bayangan itu milik Alma Fatara, tetapi ketika Alma tambah menjauh dan sosoknya berhadapan dengan cahaya obor pasukan berkuda, mereka bisa mengenalinya.


“Alma maju seorang diri tanpa memberi tahu,” kata Genggam Sekam kepada Sumirah yang tengkurap di atas punggungnya.


“Sepertinya dia ingin menjebol pintu benteng seorang diri,” kata Sumirah berbisik lalu menjilat-jilati daun telinga Genggam Sekam.


“Kita sedang berperang, kenapa kau mengajak bercumbu,” kata Genggam Sekam berbisik pelan, khawatir ada yang mendengar.


“Biar kau berperang setangguh saat kau berkuda di perutku. Hihihi!” bisik Sumirah mendesis lalu tertawa genit cekikikan, tapi pelan.


Sementara itu, Komandan Sikut Karam dan pasukannya terkejut saat melihat ada satu sosok hitam gemuk yang berlari cepat menyongsong ke arah rombongan mereka. Sosok Alma Fatara terlihat gemuk karena ada anak orang yang dibawa di belakangnya.


“Ning Ana, teriaki mereka!” perintah Alma Fatara yang berlari cepat dengan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi.


“Hei, Tikus-Tikus Gending Soto! Akan aku buat kalian jadi daging cincang!” teriak Ning Ana sangat kencang, suaranya mampu mengatasi suara lari kuda yang ramai.


Teriakan Ning Ana yang terdengar oleh Komandan Sikut Karam itu membuat pasukan itu marah.


Wess!


“Kak Alma, kenapa kita kabur?” tanya Ning Ana terkejut, ketika tiba-tiba Alma Fatara berbelok arah ke samping kanan, menjauhi pasukan berkuda.


Alma Fatara tidak menjawab.


“Kejar orang itu!” teriak Komandan Sikut Garam sambil membelokkan kudanya untuk mengejar Alma Fatara.


Pasukan berkuda itupun ramai-ramai berbelok mengejar Alma Fatara.


“Panah!”


“Panah!”


“Panah!”


Tiba-tiba terdengar tiga kali perintah dari area yang gelap yang tidak jauh dari pergerakan pasukan berkuda.


Set set set ...!

__ADS_1


Tiba-tiba dari area yang gelap, berlesatan hujan panah ke arah rombongan pasukan berkuda. (RH) 


__ADS_2