
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
“Selain kesepuluh murid Kebo Pute, masih adakah di antara kalian yang ingin bergabung dengan Kerajaan Siluman?” seru Alma Fatara kepada khalayak nonabdi.
“Hamba, Gusti Ratu!” seru Murai Ranum lantang dengan senyum menggodanya, bukan maksud menggoda Alma Fatara, tidak mungkin pepaya makan pepaya. Senyum wanita usia tiga puluh tahun itu dimaksudkan kepada setiap lelaki yang ada di Ruang Purnama itu.
“Siapa namamu, Nisanak Cantik?” tanya Alma Fatara dengan sekata pujian.
“Nama hamba Murai Ranum, Gusti Ratu. Hamba murid Hantu Tiga Anak,” jawab Murai Ranum tanpa memiliki segurat wajah kesedihan usai tewasnya sang guru.
“Hamba bernama Kalang Kabut. Hamba juga murid Hantu Tiga Anak. Hamba juga ingin bergabung dengan Kerajaan Siluman,” ujar murid tertua Hantu Tiga Anak.
“Apa alasanmu, Murai Ranum?” tanya Alma Fatara. “Gurumu pun mati di tangan kami. Tentunya kau tidak memiliki cerita yang sama dengan Senyumi Awan.”
“Hihihi!” tawa gadis berpakaian merah muda itu dengan genit, tapi bersikap setengah malu-malu. Ia lalu melirik kepada Arung Seto. Lalu jawabnya, “Aku punya harapan yang tinggi untuk bisa dekat dengan pemuda tampan itu!”
Dengan terang-terangan, Murai Ranum menunjuk Arung Seto. Terkejutlah pemuda putra adipati itu. Nining Pelangi sebagai kekasih Arung Suto, pun lebih terkejut dan seketika naik pitam.
Tuk tuk tuk!
Namun, sebelum dia berteriak marah, tiga totokan dari Riring Belanga, kakaknya, sudah mendarat yang membuatnya terdiam berdiri kaku dengan mata mendelik liar.
“Lalu apa alasanmu, Kalang Kabut?” tanya Alma Fatara.
“Jika guruku telah mati, maka seharusnya akulah yang menjadi penguasa Bukit Lima, tapi aku belum mampu untuk menjadi penguasa. Guruku saja bisa mati, apa lagi aku yang kesaktiannya lebih rendah. Aku perlu pemimpin yang lebih hebat agar aku kelak bisa belajar menjadi pemimpin,” ujar Kalang Kabut tanpa ragu. Dia sosok lelaki separuh baya bertubuh kecil tapi berkumis tebal.
“Baik, alasan kalian aku terima,” kata Alma Fatara. “Apakah ada lagi?”
__ADS_1
“Aku tidak mau menjadi orang yang diperintah, Gusti Ratu,” sahut Setan Gagah, penguasa salah satu bukit di Bukit Tujuh Kepala. Dia tidak termasuk orang telah menodai Suraya Kencani di masa lalu, jadi dia tidak menjadi target dendam.
“Baik, tidak masalah. Perguruan ini akan bersahabat dengan perguruanmu, Kek,” kata Alma Fatara.
“Namun, aku ingin menitipkan Roro Wiro di dalam kerajaan Gusti Ratu,” kata Setan Gagah.
“Guru,” sebut Roro Wiro terkejut. Wanita seperti lelaki itu belum diajak bicara sebelumnya terkait niatan gurunya.
“Apa alasanmu, Kek?” tanya Alma Fatara.
“Aku ingin Roro Wiro menambah pengalamannya di dunia persilatan di bawah asuhan seorang ratu hebat seperti Gusti Ratu,” tandas Setan Gagah.
“Apakah ada lagi yang ingin bergabung?” tanya Alma Fatara seperti tukang lelang saja.
Sejenak hening. Alma pun kembali berkata.
“Hamba tidak melihat ada wajah-wajah dan tatapan-tatapan licik dari mereka yang berniat bergabung, Gusti Ratu,” jawab Penombak Manis.
“Baik. Sebelum aku mengambil sumpah setia kalian, aku akan mengumumkan satu perkara yang sangat penting bagi perguruan ini!” seru Alma Fatara cukup keras.
Maka heninglah semua orang untuk mendengarkan perkara yang tidak boleh diterima karena kurang dengar atau tidak mendengar.
“Mulai besok pagi, ketika matahari terbit, Tetua Suraya Kencani akan resmi sebagai Ketua Perguruan Bulan Emas di bawah perintahku!” seru Alma Fatara.
Singkat waktu dan cerita.
Setelah Perguruan Bulan Emas memiliki ketua baru, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara meninggalkan perguruan bersama Pasukan Genggam Jagad.
Pasukan Genggam Jagad kini memiliki dan membawa bendera Kerajaan Siluman berwarna hitam, dengan gambar tarantula ungu seperti di dalam kegelapan yang hanya mendapat cahaya secukupnya.
__ADS_1
Sementara panji-panji pasukan yang berbeda warna memiliki gambar dasar yang sama, yaitu tarantula ungu. Namun, selain gambar laba-laba besar warna ungu, ada pula gambar penambah sebagai identitas pasukan. Seperti Pasukan Genggam Jagad Sayap Panah Pelangi, selain gambar tarantula, ditambah pula gambar busur berwarna merah.
Rombongan Alma Fatara semakin ramai dan didominasi oleh wanita cantik. Namun, itu justru menggembirakan para batangan yang kini jadi minoritas, mereka semakin busung dada dan besar kepala. Jika Arung Seto dan Aliang Bowo memiliki bahan dasar yang memang ganteng, maka lelaki lainnya hanya berlagak ganteng yang membuat para wanita jadi melirik jengah.
Mantan murid-murid Jerat Gluduk dan dua anggota Kelompok Tombak Petir yang awalnya adalah tahanan, memilih mengabdi kepada Alma Fatara karena mereka memang tidak mau menjadi tahanan di penjara. Mereka harus memilih mengikhlaskan kematian guru dan pimpinan mereka demi masa depan yang lebih cerah.
Bergabungnya mereka semua tentu karena sudah lulus sensor mata Penombak Manis. Terbukti, dari tiga belas murid Jerat Gluduk yang masih hidup, ada tiga orang yang tidak lulus sensor mata Penombak Manis. Ternyata benar, ketiga orang yang tidak lulus sensor itu memendam dendam atas kematian guru mereka. Ketiganya pun harus bertahan di penjara.
Sepuluh murid Jerat Gluduk yang memilih bergabung dalam Pasukan Genggam Jagad di antaranya: Desah Rindang, Kecup Mahligai, Mayang Wangi, Aliang Bowo, Gempar Gendut, Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi, Kudapaksa, dan Kura Pana.
Dalam rombongan itu, ada empat orang yang harus dibawa dengan tandu dan dua orang yang harus menggunakan tongkat dalam berjalan karena luka. Mereka yang ditandu adalah Aliang Bowo dan Desah Rindang sebagai murid mendiang Jerat Gluduk, serta Gendis dan Lilis Kelimis yang merupakan dua pendekar tombak.
Setelah meninggalkan Perguruan Bulan Emas dan Bukit Tujuh Kepala, Ratu Siluman dan pasukannya pergi menuju ke Bukit Selubung untuk menemui Raja Tanpa Gerak. Alma bermaksud meminjam Kitab Titah Mimpi agar dia bisa memberi titah kepada abdinya yang berada di wilayah jauh.
Tepat ketika tiba di kediaman Raja Tanpa Gerak, ada peristiwa yang terjadi. Golono, putra Demang Mahasugi tewas saat datang melamar Ineng Santi, cucu Raja Tanpa Gerak. Golono tewas secara misterius yang kemudian bisa diungkap oleh Alma Fatara dan menangkap pembunuhnya.
Untuk menghindari salah paham Demang Mahasugi terhadap Raja Tanpa Gerak dan cucunya, Alma Fatara segera mengirim lima personel Sayap Pelangi yang dipimpin oleh panglimanya, Nining Pelangi. Kelima wanita utusan itu membawa pesan untuk Demang Mahasugi bahwa pembunuh Golono tidak terkait dengan Raja Tanpa Gerak dan Ineng Santi.
Setibanya Nining Pelangi di kediaman Demang Mahasugi, kediaman itu sedang diserang oleh Setan Mata Putih, manusia berkarakter binatang dan meminum darah kuda.
Saat Setan Mata Putih ditangkap, ternyata setan itu adalah Kulung, murid lelaki Perguruan Jari Hitam yang hilang di hutan saat pergi menyerang Perguruan Bulan Emas. Raga Kulung dimanfaatkan oleh seseorang untuk mengganggu ketenteraman kediaman Demang Mahasugi.
Setelah Nining Pelangi memberi jaminan, akhirnya Demang Mahasugi membebaskan Kulung, yang di kemuian hari dia menjadi anggota baru Pasukan Genggam Jagad.
Saat Alma Fatara tiba di Kademangan Kubang Kepeng, Alma Fatara mampu melobi Demang Mahasugi dan istrinya untuk bersekutu. Namun, Alma justru kedatangan nenek Tengkorak Pedang Siluman, kakak dari Tengkorak Pedang Kilat yang mati di tangan Alma.
Terjadilah duel di mana Alma Fatara nyaris tewas oleh kekuatan Pedang Sepuluh Siluman milik Tengkorak Pedang Siluman. Namun, Alma Fatara berhasil menang. Alma Fatara kemudian tertarik untuk memiliki pusaka Pedang Sepuluh Siluman yang memiliki sepuluh level kekuatan siluman. Jadilah Kembang Bulan sebagai pembawa pedang tersebut.
Tengkorak Pedang Siluman harus menerima kekalahannya dan dia bersedia diobati oleh Belik Ludah. Ia pun kemudian berdamai dengan Ratu Siluman. (RH)
__ADS_1