
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Kecuali Ning Ana, semua orang yang baru bertemu dan mengenal Alma Fatara harus terkejut. Ternyata di belakang kekonyolan dan kebahagiaan Alma yang suka tertawa ala bapak-bapak itu, ada keganasan yang tanpa rem.
Puluhan prajurit Pasukan Khusus kini berserakan dalam kondisi termutilasi massal yang menimbulkan genangan darah di jalan Istana. Kondisi gelap membuat pemandangan jagal itu terlihat lebih ringan di mata. Namun, aroma anyir darah begitu tercium.
Tinggallah beberapa prajurit Pasukan Khusus yang hilang mental gemetaran di tempat. Ingin menjerit, tetapi malu kepada usia dan status. Pada akhirnya mereka lari tunggang langgang menjauhi Alma Fatara yang seperti siluman berwajah cantik.
Panglima Rakean memimpin rombongan kereta kuda Putra Mahkota untuk melintasi jalan yang beraral potongan-potongan tubuh prajurit. Sebagian dari prajuritnya berlari dengan tertatih karena menderita luka, sebagian lagi berlari ke depan untuk menyingkirkan potongan tubuh prajurit yang menghalangi jalan kereta.
“Hoekh! Hoekh!”
Itu bukan suara mualan gadis yang hamil di luar nikah, tetapi mualan beberapa dayang yang tidak kuasa melihat pemandangan seram itu, bahkan mereka sampai muntah dan terserang kepusingan.
Sementara Putri Manila Sari yang berlari di dekat Ning Ana, hanya bisa mengerenyit tanpa sakit menyaksikan potongan tubuh yang sudah seperti serakan potongan-potongan kayu.
Ketegangan belum berakhir karena dua Macan, yaitu Macan Elang dan Macan Beringas yang merasa sakti, tidak mau melepas rombongan kereta kuda berlalu begitu saja.
Saat itu, kondisi Macan Elang sudah menderita luka setelah sebelumnya menahan serangan Sabit Murka Alma Fatara. Sementara Macan Beringas di sisi lain masih dalam kondisi prima.
Suzz! Swess!
Bluarr!
Macan Elang bertindak dengan melesatkan bola api hijau sebesar kepalanya. Namun, Alma Fatara yang sedang on fire sigap melesatkan satu sinar emas menyilaukan mata, membuat pemandangan menjadi terang benderang dalam sekejap.
Sinar dari ilmu Pukulan Banda Emas milik Alma Fatara melesat menghadang laju bola api hijau, menimbulkan ledakan dua energi yang beradu keras. Selain suaranya yang terdengar ke seantero kawasan Istana, gelombang kejutnya juga membuat Macan Elang terpental keras.
Selain itu, kereta kuda terguncang cukup keras dalam lajunya. Sebagian prajurit, abdi dalam dan para emban terpelanting jatuh, tapi tidak sampai luka serius.
Pada saat yang bersamaan dengan ledakan dua kesaktian itu, Alma Fatara melesat menyerang Macan Beringas di sisi lain. Alma Fatara bermaksud menjaga agar rombongan kereta kuda pergi dengan aman.
Macan Beringas dengan antusias menyambut serangan Alma Fatara yang cepat. Dia ingin menunjukkan kehebatan cakaran besi tangan dan kakinya.
Saling serang, saling tangkis dan saling elak terjadi antara Alma Fatara dan Macan Beringas.
Untuk sementara Alma Fatara tidak perlu mewaspadai Macan Elang. Dia yakin bahwa Macan yang satu itu telah terluka parah karena adu kesaktian dengan Pukulan Bandar Emas.
“Hebat juga kau, Perempuan Setan!” puji Macan Beringas.
“Hahaha! Apa susanya berlapang dada dengan menyebutku Perempuan Cantik, Paman?” kata Alma Fatara.
Bak bak bapak!
Pada satu kesempatan, beberapa pukulan telapak tangan Alma Fatara menghantam dada dan perut Macan Beringas.
Macan Beringas sempat terkejut karena serangan Alma Fatara berhasil masuk dan menghantamnya. Namun, kemudian dia tertawa kecil, setelah merasakan bahwa beberapa pukulan itu tidak memberi efek sakit apa pun.
__ADS_1
“Hahaha! Apa yang kau lakukan dengan pukulan seperti itu?” tanya Macan Beringas menertawakan.
“Itu sebagai wujud kasih sayangku kepada Paman, sehingga aku tidak tega melukai. Hahaha!” jawab Alma Fatara lalu tertawa sambil menghindari kelebatan kaki Macan Beringas yang berkuku besi.
Di sisi lain, Macan Elang bangkit dengan mulut yang sudah berlumur darah. Dia memegangi dadanya yang sangat sakit. Dia memandang rombongan kereta Putra Mahkota yang menjauh, lalu memandang kepada pertarungan Alma Fatara dengan Macan Beringas.
“Huakr!”
Macan Elang terkejut mendengar teriakan Macan Beringas dan melihat tubuhnya terlempar ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental.
Baru saja, ketika Alma Fatara melesatkan pukulan telapak tangan kanannya yang terbuka, Macan Beringas seperti melihat durian jatuh dari pohonnya. Dia cepat menyongsong telapak tangan Alma Fatara dengan kuku besi pada jari-jari tangan kanannya.
Telapak tangan terbuka Alma Fatara pun ditusuk oleh kumpulan kuku besi yang bermaksud merusak tangan gadis itu.
Namun, apa yang terjadi? Jangan dijawab!
Ketika pertemuan dua tangan itu terjadi, Macan Beringas tahu-tahu tersentak dan terlempar ke belakang dengan wajah mendongak dan menyemburkan darah. Macan Beringas sungguh tidak menyangka hasilnya akan seperti itu.
Sejak tadi Alma Fatara bertarung mengandalkan ilmu Tapak Rambat Daya dan mengandalkan kecepatan gerak. Ilmu Tapak Rambat Daya membuat pukulan-pukulan Alma Fatara yang berhasil masuk menghantam tubuh Macan Beringas tidak memiliki kekuatan tenaga dalam sedikit pun.
Namun, ketika pukulan Alma Fatara bertemu dengan media perantara, hasilnya luar biasa, langsung mementalkan Macan Beringas dan membuatnya terluka parah. Benda yang menjadi perantara kekuatan Tapak Rambat Daya tidak lain adalah kuku-kuku besi Macan Beringas. Namun, akan beda ceritanya jika kuku Macan Beringas adalah kuku asli.
Melihat Macan Beringas telah terluka parah, Macan Elang segera berlari tertatih mendekati posisi saudara seperguruannya.
Alma Fatara untuk sementara membiarkan dua Macan itu bersama kembali. Dia sangat tahu bahwa keduanya sudah terluka.
“Bagaimana, Paman? Cukup sebut aku Perempuan Cantik, maka Paman berdua akan aku ampuni. Hahaha!” tawar Alma Fatara lalu tertawa santai.
“Apa kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Aku adalah Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani yang paling cantik di lautan,” kata Alma Fatara seperti anak singkong sedang tampil di teater sekolah.
“Tidak tahu!” jawab kedua Macan dengan membentak.
“Makanya aku beri tahu!” bentak Alma Fatara pula dengan mata mendelik.
“Kami tidak peduli!” kata keduanya lagi kompak, seolah-olah sudah dapat arahan dari sang author.
“Bah! Paman berdua kurang ajar terhadap panglima cantik. Baik, akan aku buat kalian seperti melawan Perempuan Setan!” seru Alma Fatara lalu berlari maju.
Crek!
Zerzzz!
Cepat Macan Elang membungkuk menancapkan kelima kuku jari tangan kanannya ke tanah. Dari tancapan itu melesat lima garis sinar kuning tanpa putus yang menjalar di tanah.
Alma Fatara cepat melompat bersalto kencang di udara seperti putaran karakter hero di video gim, membuat lima sinar listrik kuning hanya membelai tanah kosong.
Jleg!
Ternyata dalam lompatan saltonya itu Alma Fatara tidak melakukan serangan. Dia hanya mendarat di depan kedua lawannya.
__ADS_1
Wuut!
Macan Beringas langsung menyambut Alma Fatara dengan tendangan mengibas seperti di kala sehat. Namun, gerakan Alma Fatara lebih cepat menghindari cakaran kuku besi pada kaki lawan.
Tus tus!
“Akk! Aww!” jerit Macan Beringas saat merasakan dua bokongnya ditusuk sesuatu yang kecil lagi imut rasanya.
Dua suntikan pada bokong itu mengejutkan Macan Beringas di saat gerakan kakinya belum selesai. Ternyata itu membuatnya hilang keseimbangan dan membuatnya jatuh terpelanting.
“Hahaha!” tawa Alma Fataraa sambil bergerak mengelaki serangan Macan Elang dengan cakaran yang bersinar biru gelap lagi panas. Alma Fatara memposisikan kedua tangannya di belakang pinggang seperti orang bijak, maksudnya dia merehatkan tangannya dari menyerang.
Tus tus!
“Akk akk!” jerit Macan Elang saat merasakan rusuknya ada yang menyuntik dua kali.
Suntikan dua dua kepada dua Macan justru membuat kedua lelaki berpakaian hitam itu kian berang dan gusar. Mereka tidak percaya jika tidak bisa membuat jejak cakaran pada tubuh wanita belia itu. Setidaknya mereka bisa merobek pakaian Alma dan mengintip kulit tubuhnya.
Macan Elang dan Macan Beringas terus mengeroyok Alma Fatara dengan mengandalkan cakaran maut. Sesekali mereka mengeluarkan ilmu listriknya. Namun, Alma Fatara terlalu gesit.
“Aww! Akk! Aw aw! Ai ai!”
Meski Alma Fatara bertarung dengan mengistirahatkan kedua tangan dan kakinya dari menyerang, hanya mengandalkan kecepatan menghindar, tetapi dua lawannya sering sekali berjeritan seperti perempuan genit yang sedang dicubiti.
Puluhan kali keduanya merasakan disuntik oleh sesuatu yang tidak terlihat pada tubuh mereka. Karen merasa tidak mebahayakan, keduanya tetap istiqomah mengeroyok Alma.
Setiap kali Alma Fatara bergerak menghindar, pasti kedua Macan merasa disuntik, apakah itu di bokong, di badan, di wajah, atau di kaki.
Pada puncaknya suatu ketika, Macan Elang mengibaskan cakaran tangannya dari sisi kanan, Macan Beringas mengibaskan tendangannya dari sisi kiri. Sementara ruang hindar Alma Fatara adalah dengan melompat bersalto di atas kedua serangan di antara keduanya.
Tus tus tus ...!
“Aaak ...!” jerit tinggi lagi panjang keduanya saat mereka merasakan suntikan beruntun yang menusuki jantung mereka. Itu sungguh menyakitkan.
Yang terjadi adalah ketika Alma Fatara melompat bersalto, Benang Darah Dewa miliknya menyerang seperti jarum mesin jahit. Satu ujung menusuki dada Macan Elang yang tembus ke jantung dan satu ujung lagi menusuki dada Macan Beringas yang juga tembus ke jantung.
Jleg!
Ketika Alma Fatara mendarat dari lompatannya, dua Macan sudah mematung, berdiri diam dengan tubuh yang gemetar. Dari celah bibir mereka keluar rembesan darah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara lalu berjalan santai meniggalkan keduanya.
Duk! Duk!
Kedua Macan mendadak jatuh terlutut dengan dua lutut, saling berhadapan. Mata mereka mendelik kuat dengan wajah dan tubuh gemetar hebat.
“Fukrrr!”
Secara bersamaan keduanya menyemburkan darah dan saling menyemprot wajah saudaranya sendiri. Entah harus dibilang lucu, atau kasihan, atau masa bodo. Secara perlahan keduanya tumbang ke depan dan masih juga melawak dengan berbenturan wajah, lalu pasrah jatuh tanpa nyawa lagi.
__ADS_1
“Hahahak!”
Dasar Alma Fatara. Dengan teganya dia masih menertawakan orang yang tumbang mati. Rupanya dia tidak tahan untuk tidak menengok melihat hasil kerjanya di belakang. (RH)