Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 4: Penangkaran Betina Ranjang


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


“Ayo cepat keluar!” perintah Gempul dengan membentak. Di tangannya terpegang seutas cemeti hitam yang terlihat licin.


Orang-orang yang dibentaknya adalah enam gadis yang berada di dalam kerangkeng besi. Kerangkeng besar itu baru saja dibuka. Keenam gadis yang cantik-cantik di dalamnya segera bergerak keluar dan turun dari pedati.


Gadis-gadis itu kondisinya terlihat lelah dan tidak rapi karena usai melalui perjalanan jauh. Kedua tangan mereka dalam kondisi terikat erat. Beberapa terlihat terpincang, efek dari kelamaan kaki yang berposisi tidak nyaman.


“Ayo ikut aku!” perintah seorang lelaki sambil seenaknya saja menarik leher baju bagian depan salah satu dari keenam gadis itu, sehingga jari kasarnya menyentuh gumpalan si gadis.


“Aaa!” jerit si gadis oleh perlakuan lelaki bernama Sangkur itu, tapi mau tidak mau mengikuti tarikan. Daripada melawan tapi justru baju jadi robek.


Sangkur yang juga memegang cemeti licin berwarna hitam tidak terus menarik leher baju si gadis. Hanya sebentar dan itupun tidak terlihat dia menikmati.


“Ayo jalan!” bentak Gempul pula, lelaki yang lebih muda dari Sangkur dan sedikit lebih ganteng. Dia berposisi di belakang keenam gadis yang dilanda ketakutan.


Ctas!


Sesekali cemeti Gempul dilecutkan di udara, bermaksud memberi ketakutan.


Dari dalam sebuah rumah kayu panggung pendek keluar seorang wanita cantik berbadan besar dan berpakaian merah. Di pinggang kanannya menggantung tombak besi pendek. Di tangannya tertenteng dua kantong uang. Wanita berbadan lebar itu tidak lain adalah Cantik Gelap, Penanggung Bidang Pengiriman di Kelompok Tombak Iblis.


“Ayo kita pulang!” teriak Cantik Gelap kepada puluhan lelaki berseragam merah bertombak yang sedang duduk-duduk istirahat.


Cantik Gelap pergi naik ke sisi kusir pedati. Sementara lebih dua puluh pengawal Kelompok Tombak Iblis segera berlari berbaris mengiringi pedati. Tidak ada yang naik atau masuk ke kerangkeng yang sudah kosong.


Sementara itu, keenam gadis cantik digiring dibawa ke sebuah tempat di dalam kompleks perumahan kayu tersebut.


Sangkur membawa keenam gadis memasuki sebuah area yang dikelilingi oleh rumah-rumah kayu panggung. Di tengah-tengah, ada sebuah bangunan kayu raksasa yang bentuknya berwujud dinding papan tebal tinggi ke atas. Bangunan itu berbentuk seperti tabung besar yang rata. Terlihat hanya ada satu pintu tanpa ada jendela ataupun atap di atasnya.


Pintu itu dijaga oleh seorang lelaki berpakaian ungu bersenjatakan golok. Dia segera membuka pintu saat Sangkur datang bersama enam gadis. Gempul tetap mengawal di belakang.


Tiba-tiba gadis yang posisinya di urutan tengah berlari kencang keluar dari barisan pergi berusaha kabur.


Ctas! Blet!


“Ekr!” erang si gadis saat tahu-tahu seutas cemeti melilit lehernya, membuat larinya tertahan dan ia jatuh kesakitan sambil memegangi tali cemeti.


“Tamara!” pekik gadis-gadis yang lain melihat serangan terhadap teman mereka yang bernama Tamara.


Gadis cantik berambut sebahu cepat berlari mendapati Tamara.


“Tolong lepaskan temanku, Pendekar!” teriak gadis yang bernama Cempaka kepada Gempul yang memiliki cemeti.


“Jika sekali lagi berusaha kabur, tidak ada ampun. Mati!” bentak Gempul.


Dia lalu mengendurkan cemetinya, sehingga Tamara yang kesakitan bisa membebaskan lehernya yang terasa begitu perih. Leher Tamara jadi begitu merah, bahkan mengeluarkan titik-titik cairan merah.


“Kau berdarah, Tamara,” ucap Cempaka cemas. Dia buru-buru menyeka darah yang keluar dari luka leher Tamara dengan tangan bajunya.


Ctas!

__ADS_1


“Aak!” pekik Tamara dan Cempaka ketika Gempul melecutkan cemetinya di udara, membuat keduanya kian takut.


“Kembali ke barisan!” perintah Gempul.


Cempaka pun segera menuntun Tamara kembali ke barisan lalu mengikuti Sangkur yang juga menunjukkan wajah marah.


Keenam gadis itu dibawa masuk ke dalam bangunan papan yang tinggi. Di dalam, ada halaman berumput pendek dan lembut seperti rumput lapangan sepak bola, separuh dari luas lingkaran dinding papan tebal yang tinggi tersebut. Sebagian lagi adalah bangunan kayu papan yang tingginya tidak lebih tinggi dari ujung dinding papan. Ternyata kurungan raksasa itu tidak beratap, tapi bangunan rumah papan di dalamnya beratap.


Di halaman rumput itu ada belasan wanita muda yang sedang duduk berkumpul dalam kondisi kedua tangan juga terikat erat. Dipaksa buka pakai gigi pun ikatan itu tidak akan lepas.


Di pinggir-pinggir lapangan rumput berdiri para lelaki berseragam ungu bersenjata golok. Sedangkan beberapa lelaki yang berdiri menjaga di dekat para wanita yang berkumpul bersenjatakan cemeti hitam yang licin.


Keenam gadis yang dibawa Sangkur lalu disuruh duduk bergabung dengan para gadis yang sudah lebih dulu duduk di sana. Mereka semua menghadap ke arah salah satu teras bangunan rumah kayu.


Di teras itu ada seorang lelaki berseragam ungu pula yang duduk di belakang meja. Dia bertindak sebagai juru tulis. Dia terlihat memegang alat tulis, bukan sedang belajar atau sedang menulis novel, tapi sedang mendata para wanita itu satu per satu.


Terlihat ada satu wanita yang sedang berdiri menunduk di depan meja dengan dikawal oleh seorang lelaki juru aman bergolok berseragam ungu.


Kemudian wanita itu dikalungkan kalung benang yang berbandul potongan kayu papan kecil yang memiliki tulisan angka. Ia lalu digiring untuk masuk ke salah satu pintu yang terbuka. Ternyata di dalam sudah ada petugas wanita yang akan mengurus tawanan wanita tersebut.


Wanita yang sudah dimasukkan ke dalam rumah, maka dia tidak akan keluar lagi. Entah dibawa ke mana kemudiannya.


“Lanjut!” teriak lelaki di belakang meja.


“Kau maju!” perintah petugas bercambuk di lapangan sambil menepak pelan kepala tawanan wanita yang disuruh pergi ke meja.


Wanita yang kepalanya disentuh segera bangkit dan berjalan sendiri menuju ke depan meja. Dia tidak perlu dikhawatirkan akan lari kabur karena tidak ada jalan keluar. Jika mencoba kabur, justru mencari penyakit sendiri.


“Nisanak, apakah kau tahu kita ada di mana?” tanya Cempaka setengah berbisik kepada gadis kelompok lain yang duduk di depannya.


Gadis yang usianya sedikit lebih tua dari Cempaka itu menengok sejenak melihat wajah wanita yang bertanya di belakangnya.


“Kita ada di Kotakayu Darabisu, Kerajaan Ringkik,” jawab wanita yang ditanya dengan wajah yang tegar, tidak menunjukkan kecemasan atau kebingungan.


“Lalu tempat apa ini?” tanya Cempaka lagi.


“Ini tempat penangkaran sebelum menjadi Betina Ranjang,” jawab wanita itu lagi.


“Apa itu Betina Ranjang?”


“Pemuas lelaki di atas ranjang.”


“Apa?!” pekik Cempaka cukup kencang yang menarik perhatian juru cambuk.


Ctas!


“Aak! Hiks hiks!” jerit Cempaka saat suara lecutan itu begitu dekat dengan telinganya. Ia kemudian menangis karena mengetahui nasibnya akan menjadi seperti apa.


“Jangan berbuat macam-macam!” bentak juru cambuk yang tadi melecutkan cambuknya di dekat kepala Cempaka.


Cempaka terus menangis, tapi tangisnya dipelankan.

__ADS_1


“Tidak usah menangis jika masuk ke sini. Pilihan hanya dua, jadi Betina Ranjang atau mati disiksa,” kata wanita yang lebih berwawasan itu.


Cempaka tidak menanggapi lagi selain menangis meratapi nasib.


Satu per satu wanita itu disuruh maju untuk didata lalu dibawa masuk ke dalam rumah. Hingga akhirnya, giliran Cempaka.


“Kau maju!” perintah juru cambuk sambil menepak pelan kepala Cempaka.


Namun, cempaka tidak langsung bangun. Dia sangat tidak ingin untuk pergi ke meja sana.


Ctas!


“Akk!” jerit Cempaka, kali ini cambuk itu benar-benar mengenainya pada bagian kaki kanan. Sakit.


Cambukan itu berhasil memaksa Cempaka bangkit dan segera berjalan pergi menuju ke meja.


Di depan meja, dia langsung didampingi seorang juru aman.


“Sebutkan nama!” perintah lelaki yang duduk di belakang meja dengan pena bulu unggas. Dia mencatat di rangkaian daun lontar.


Di sisi kanan atas meja ada tumpukan daun lontar yang sudah berisi data para tawanan wanita. Di sisi kiri daun lontar yang masih kosong.


“Cempaka,” jawab Cempaka sembari terisak halus.


“Usia?” tanya si juru tulis lagi.


“Dua puluh tahun.”


“Berasal dari mana?”


“Kampung Gajahbatu.”


“Perawan atau tidak?”


“Perawan.”


Semua jawaban Cempaka dicatat. Setelah itu juru tulis mengambil kalung benang berbandul papan kecil. Pada bandul itu lalu ditulis sejumlah angka.


“Nomormu seribu tiga puluh tujuh,” kata juru tulis lalu memberikan kalung tersebut kepada lelaki pengawal agar dikalungkan ke leher Cempaka.


Cempaka tidak bisa menolak ketika dikalungkan, lalu dibawa ke pintu masuk.


“Lanjut!” teriak juru tulis.


Giliran Tamara yang disuruh maju. (RH)


********************


Baca Juga!


__ADS_1


__ADS_2