
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Senopati Gending Suro berdiri sempoyongan setelah dihantam oleh kekuatan ilmu Tapak Rambat Daya yang membuatnya menyemburkan darah dan jatuh.
Bruss!
Tiba-tiba kedua lengan Senopati Gending Suro diselimuti sinar merah hingga bahu. Luka dalamnya ternyata tidak menghalanginya untuk mengeluarkan ilmu Letupan Neraka.
Alma Fatara tetap bersiap di tempatnya.
Sus sus susu ...!
Sezt sezt sezt ...!
Ples ples pleset ...!
Senopati kemudian menghentakkan kedua lengannya bergantian dengan ritme yang cepat, melesatkan bola-bola sinar merah secara beruntun.
Pada saat yang sama, Alma Fatara pun bereaksi sangat cepat.
Sambil melompat sekali mundur sejauh tiga tombak, Alma Fatara melesatkan sinar-sinar kuning tipis melengkung sabit dari lemparan kedua tangannya yang bergantian dan juga cepat.
Sinar-sinar kuning sabit itu menghancurkan setiap bola sinar merah di tengah lesatannya. Pertemuan kedua sinar kesaktian tidak menimbulkan suara ledakan yang keras dan nyaring.
Setiap peraduan kedua sinar, sebenarnya ada hantaman energi kepada masing-masing pemilik kesaktian. Jika ada dua puluh pasang sinar yang beradu, maka ada dua puluh hentakan energi yang mendera tubuh Senopati Gending Suro dan Alma Fatara. Hanya saja keduanya berusaha bertahan.
“Fukr!”
“Almaaa!” teriak sejumlah orang terkejut.
“Amaaal!” teriak Ayu Wicara pula.
Sambil terus melesatkan ilmu Sabit Murka berulang-ulang dalam durasi yang sangat singkat, Alma Fatara menyemburkan darah dari mulutnya. Sementara kedua kakinya berusaha bertahan dengan kuda-kudanya agar tidak terdorong.
“Fukrr!”
Senopati Gending Suro juga menyemburkan darah yang banyak sambil terus menghentak-hentakkan kedua tangannya melepaskan sinar merah tanpa henti. Tubuh dan kedua kakinya gemetar hebat menahan gelombang hantaman energi dari setiap pertemuan dua kesaktian.
Penonton semua bisa melihat bahwa titik pertemuan sinar-sinar kesaktian itu yang awalnya di tengah-tengah, dengan pasti bergeser samakin dekat ke posisi Senopati berdiri.
Ples ples pleset!
“Huakr!” jerit Senopati Gending Suro dengan tubuh yang akhirnya terlempar mundur ke udara dan mulut kembali menyemburkan darah.
Senopati telah sampai ke dalam kondisi yang sudah tidak bisa menahan kekuatan gelombang peraduan kesaktian.
Bzet bzet!
__ADS_1
Dengan terpentalnya sang senopati, maka terhenti pula sinar merah yang dia lesatkan. Sementara di sisi lawan, sinar-sinar kuning berwujud sabit terus dilesatkan oleh Alma Fatara dan mengenai tubuh Senopati dua kali.
Dua hantaman sinar Sabit Murka membuat tubuh lelaki itu semakin terpental lagi. Dia jatuh berdebam di depan kaki-kaki para prajurit Pasukan Keamanan Istana yang menutup pintu Ruang Singa, termasuk jatuh di dekat posisi Pangeran Bugar Bawah dan putranya, Pangeran Arguna. Juga di dekat posisi Ning Ana.
Sebentar mereka memerhatikan sosok Senopati Gending Suro yang terlentang penuh darah. Ada dua luka sayatan besar pada tubuh sang senopati. Itu luka dari dua hantaman ilmu Sabit Murka. Jika seandainya dia tidak kebal, mungkin sudah terpotong tiga bagian tubuhnya.
“Akk!” erang Senopati Gending Suro menahan sakit yang luar biasa dengan tubuh menggeliat dan tidak kuasa lagi untuk bangkit.
Melihat kondisi pemimpin pemberontak itu, Ning Ana cepat bereaksi.
“Pemberontak kutuan! Rasakan kesaktianku! Hiaaat!” teriak Ning Ana tiba-tiba sambil berlari pendek mendatangi Senopati Gending Suro dan menikamkan sebuah pisau merahnya berkali-kali.
Ning Ana harus terkejut karena pisaunya seperti tumpul, tidak mampu menusuk kulit Senopati Gending Suro.
“Jangan tersenyum dulu, kau pikir kau akan selamat, Senopati Kutu!” teriak Ning Ana sibuk sendiri.
Setelah tidak mampu menikam dengan pisau, Ning Ana bangkit dan pergi merampas pedang seorang prajurit. Dengan kewalahan sendiri menggunakan pedang, Ning Ana menebas-nebas tubuh Senopati yang tergeletak pasrah. Lagi-lagi, senjata Ning Ana tidak sanggup melukai kulit kebal sang senopati.
“Mundurlah, Anak Cantik!” perintah satu suara tua.
Ning Ana segera melihat siapa pemilik suara itu. Ternyata Ratu Warna Mekararum. Dia pun segera mundur dengan kekecewaan karena tidak berhasil melukai Senopati yang sudah terluka. Urusan malu, nomor 99.
Senopati Gending Suro menatap tajam sosok tua yang berwibawa, yang kini berdiri dengan wajah dingin memandangi kekalahannya. Bibir Senopati yang penuh darah bergetar kencang.
“Gu-gu-gusti Ratu Tu-tu-tua,” ucap Senopati Gending Suro lirih, tapi terdengar jelas oleh Ratu Warna Mekararum.
“Bu-bu-bunuh aku, Gusti. Akk!” ucap Gending Suro lalu mengerang menahan rasa sakit yang luar biasa mendera seluruh tubuhnya.
“Debur Angkara!” teriak Ratu Warna Mekararum memanggil.
Terkejut Debur Angkara mendengar namanya tiba-tiba dipanggil oleh sang ratu. Dia sejenak bingung.
“Kakang Debur, Gusti Ratu meminta golokmu. Kenapa kau hanya diam seperti setan kesambet orang! Hahahak uhhukr!” teriak Alma Fatara yang masih berdiri di tempatnya. Namun, tiba-tiba tawa Alma berubah menjadi batuk yang menyemburkan darah.
“Amaaal!”pekik Ayu Wicara terkejut dan sontak berlari menghampiri Alma Fatara yang jatuh terlutut satu kaki.
Ayu Wicara berlari sambil menyeret pedang besarnya. Debur Angkara juga berlari mendampingi kekasihnya.
“Kenapa Kacang Bubur mengikutiku? Kacang dibugil (dipanggil) Gusti Ratu Makelarcium!” bentak Ayu Wicara kepada kekasihnya.
“Eh iya,” ucap Debur Angkara antara bego dan panik. Dia cepat berpisah dengan Ayu Wicara dan berlari ke arah Gusti Ratu.
Meski perkataan Ayu Wicara dan tingkah Debur Angkara terlihat lucu, tetapi tidak ada yang berani tertawa dalam situasi seperti itu. Apalagi sampai berani tertawa karena mendengar sang ratu disebut “Makelarcium”.
Sebelum Ayu Wicara tiba di posisi Alma, Emak Lutung tahu-tahu sudah mendarat di sisi Alma. Emak-emak itu langsung saja mengangkat tubuh Alma dengan kedua tangan kuatnya. Dia segera melarikan Alma Fatara menuju ke Ruang Singa, tanpa mempedulikan Ayu Wicara yang hanya bisa terkesiap kecele.
Para prajurit segera membuka barisan agar Emak Lutung bisa masuk.
__ADS_1
Sementara itu, proses untuk menghukum Senopati Gending Suro tetap berlangsung.
“Ini, Gusti!” ucap Debur Angkara sambil menyodorkan kedua Golok Setia miliknya sambil menundukkan badan dan kepala.
Ratu Warna Mekararum mengambil satu golok saja.
“Terima kasih karena sudah mengabdi selama ini kepada Kerajaan Jintamani, Senopati Gending Suro,” ucap Ratu Warna Mekararum lalu bergerak maju dan membungkuk kepada Senopati.
Ceb!
“Hekrrr!”
Di depan mata semua anggota Keluarga Kerajaan dan para prajurit, Ratu Tua menusuk leher Senopati Gending Suro.
Leher Senopati seketika robek dan mengucurkan darah dengan deras. Ternyata, Senopati tidak kebal terhadap golok pusaka itu. Mungkin, jika sejak awal Alma Fatara tahu bahwa Senopati tidak kebal terhadap Golok Setia, bisa jadi Alma akan meminjam golok itu dalam melawan Senopati.
Namun bagaimanapun, Alma Fatara memiliki cara sendiri untuk menumbangkan sang pemberontak.
Dengan robeknya leher Senopati Gending Suro, maka berakhirlah hidupnya. Ia tewas seperti hewan qurban.
Dengan perasaan puas dan lega, Ratu Warna Mekararum bangkit berdiri dengan pakaian putihnya yang ternoda oleh bercak darah.
“Terima kasih, Debur,” ucap Ratu Warna Mekararum sambil mengulurkan tangan kanannya yang memegang golok biru kepada Debur Angkara.
“I-iya, Gusti,” ucap Debur Angkara tergagap, tapi tersenyum lebar.
“Gebuk Sewu!” panggil Ratu Warna Mekararum.
“Hamba, Gusti Ratu!” teriak Gebuk Sewu menyahut dari posisi yang jauh.
Komandan Gebuk Sewu segera berlari kencang datang menghadap, melewati mayat-mayat prajurit yang berserakan.
“Hamba, Gusti Ratu!” ucap ulang sang komandan sambil menghormat, setelah tiba di depan Ratu Warna Mekararum.
“Umumkan kematian pemberontak Senopati Gending Suro dan kemenangan pasukan Ratu Warna Mekararum. Perintahkan kepada Panglima Belut Ireng untuk membuka gerbang benteng Istana agar pasukanku bisa masuk ke Istana untuk minum kopi!” perintah Ratu Warna Mekararum.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Komandan Gebuk Sewu, lalu dia berbalik pergi untuk mengatur tugas yang diperintahkan.
Sementara itu di dalam Ruang Singa.
Alma Fatara didudukkan di lantai dengan bersandar pada tiang besar.
“Terima kasih, Bibi,” ucap Alma kepada Emak Lutung.
“Jangan panggil aku Bibi, aku tidak pernah kawin dengan pamanmu. Panggil aku Emak Lutung!” ketus Emak Lutung.
“Hahahukrr uhhuk!” tawa Alma Fatara mendengar itu, tapi berujung batuk darah.
__ADS_1
“Dasar gadis tertawa!” gerutu Emak Lutung. “Berikan punggungmu, biar aku ringankan lukamu!” (RH)