
*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*
Seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang prajurit berseragam merah gelap berlari kencang memasuki hutan yang ada di pinggiran timur Kadipaten Sengat.
Ketika memasuki kawasan berhutan yang banyak pohon karena hutan memang fitrahnya banyak pohon, lari kuda agak memelan. Pada satu koordinat, kuda itu dihadang oleh beberapa prajurit berseragam sama, tapi tidak berkuda. Salah satu prajurit penghadang segera memegang tali pada wajah kuda.
Si prajurit berkuda segera melompat turun dan berlari meninggalkan prajurit lain yang adalah rekan-rekannya juga.
Prajurit berkuda tadi datang ke sebuah lingkungan yang banyak manusianya, bukan jurig penunggu hutan. Orang banyak itu berpenampilan seperti warga biasa dan mereka membawa berbagai perbekalan, seperti buntalan kain, gulungan tikar, kotak kayu, binatang ternak, hingga senjata. Banyak pula bayi dan anak-anak kecil. Intinya, mereka seperti pengungsi.
Di sekitar tempat yang ramai itu juga ada sejumlah prajurit yang lebih sedikit. Mereka bertindak sebagai penjaga keamanan.
Prajurit yang baru datang segera mendatangi beberapa orang berpakaian ala bangsawan. Yang paling menonjol adalah sosok lelaki gemuk berperut gendut, berpakaian warna hitam berhias garis-garis warna emas. Lelaki berusia separuh baya lebih dua belas tahun itu sedang duduk di atas batang pohon yang tumbang. Di sisinya duduk seorang wanita berusia sebaya.
Si lelaki adalah Adipati Patok Anggara dan wanita yang di sisinya sudah pasti istrinya.
Ada pula beberapa prajurit di sekitar dan tiga orang berperawakan pendekar yang menyandang pedang di tangan. Satu pendekar muda berwajah tampan berpakaian bagus seperti baru. Warnanya merah terang. Kepalanya diikat pita warna merah pula. Pemuda berusia hampir kepala tiga itu bernama Bayu Garang, putra tunggal sang adipati.
“Lapor, Gusti!” pekik prajurit yang datang sambil berlutut menjura hormat.
“Ada berita apa, Ono?” tanya Adipati Patok Anggara.
“Pasukan Kerajaan sudah sampai di pinggir barat Kadipaten, Gusti,” lapor prajurit yang disebut bernama Ono.
“Apa? Secepat itu mereka tiba?” kejut Adipati, demikian pula yang lainnya.
“Lalu di mana posisi pasukan Komandan Are Are?” tanya Adipati Patok Anggara.
“Mereka mundur ke tengah Kadipaten untuk menjauhi pasukan Kerajaan dan menunda peperangan. Komandan Are Are meminta Gusti dan warga agar segera pergi ke Kadipaten Gulangtara,” kata Ono.
__ADS_1
“Bayu, beri tahu kepada warga untuk siap-siap melanjutkan perjalanan ke Kadipaten Gulangtara!” perintah Adipati Patok Anggara.
“Baik, Ayah,” ucap Bayu Garang.
Pemuda tampan itu lalu pergi ke pusat kumpulan warga ibu kota Kadipaten.
“Ayo kita berangkat!” teriak Bayu Garang.
Para warga dan keluarganya segera bangkit dan bergerak.
Warga ibu kota Kadipaten itu berjumlah lebih dari lima puluh orang. Itu sekitar separuh dari warga Ibu Kota.
Adipati Patok Anggara sudah menyeru semua warga ibu kota Kadipaten untuk mengungsi dan mengosongkan Ibu Kota, karena pasukan dari Kerajaan sedang menuju ke tempat tinggal mereka.
Pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Derajat Jiwa telah sampai beritanya ke seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Singayam. Berita tentang penggulingan para adipati juga sudah sampai ke telinga Adipati Patok Anggara. Ada adipati yang memilih menyelamatkan diri dengan mengungsi dan ada adipati yang dibunuh.
Selain berita itu, berita kekejaman pasukan di bawah kendali Pangeran Derajat Jiwa dalam menaklukkan setiap wilayah kekuasaan Kerajaan juga sudah Adipati Patok Anggara dengar.
Namun, seruan Adipati Patok Anggara kepada rakyatnya untuk mengungsi ada penentangan dari beberapa hartawan. Sebagian orang kaya itu sangat tidak mau meninggalkan rumah, tanah dan harta kekayaan mereka. Sebab, jika mereka mengungsi, tentunya kekayaan itu tidak bisa dibawa semua.
Ibu kota Kadipaten Sengat kini memang terlihat sepi, tetapi masih ada sejumlah warga yang tinggal di rumah masing-masing. Mereka tidak berani keluar karena kondisi sedang tegang. Ratusan prajurit Kadipaten sedang dalam kondisi siap perang. Jalan utama yang menuju kediaman Adipati Patok Anggara sudah diblokir menggunakan sejumlah batang pohon yang sengaja ditebang.
Pasukan Kadipaten Sengat itu dipimpin oleh Komandan Are Are, Kepala Pasukan Keamanan Kadipaten Sengat. Dia sudah mengatur formasi pasukannya dan menempatkannya di beberapa titik yang kira-kira bisa membuat mereka unggul dalam berperang. Namun sebenarnya, mereka semua dalam kondisi berdebar-debar, tidak yakin akan menang.
Drap drap drap...!
Seekor kuda muncul dari ujung jalan arah barat. Kuda itu harus berhenti karena terhalang jalannya oleh batang-batang pohon besar yang melintang menutup jalan. Prajurit berseragam merah gelap itu akhirnya memutuskan turun dari kudanya. Dia buru-buru tambatkan kudanya dan berlari melewati beberapa rintangan.
Pergerakannya mendapat perhatian dari pasukan panah berseragam sama, yang berposisi di kanan dan kiri jalan utama. Hingga akhirnya, prajurit itu sampai kepada barisan pasukan yang sudah bersiap dengan tombak dan tamengnya.
Dia mendatangi seorang lelaki kurus bertelanjang dada, tetapi berotot alot. Ada dua pedang yang tergantung di pinggang kanan dan kirinya. Lelaki separuh baya lebih setahun yang berkumis tipis tapi beralis tebal itulah yang bernama Komandan Are Are.
__ADS_1
“Berita apa yang kau bawa, Oto?” tanya Komandan Are Are kepada prajurit yang baru datang itu.
“Pasukan Singayam sudah melewati batas barat. Jumlah mereka kira-kira lebih dari seribu prajurit. Sepertiga dari pasukan Singayam adalah pasukan panah, Komandan!” lapor prajurit bernama Oto itu berapi-api dan berair-air.
“Apa?!” pekik Komandan Are Are terkejut.
Setelah itu sang komandan terdiam dengan raut wajah yang gelisah.
“Sepertiga adalah pasukan panah. Berarti itu lebih banyak dari jumlah pasukan kita. Itu berarti kita akan menjadi hewan buruan mereka.” Komandan Are Are menceracau sendiri. Dia bicara kepada dirinya sendiri.
Sementara Oto hanya memandangi junjungannya.
“Bagaimana, Komandan?” tanya Oto.
“Kita akan mati semua, Oto. Kita akan mati semua,” ucap Komandan Are Are pelan.
“Kalau kita akan mati semua, lalu untuk apa kita memilih mati?” tanya Oto. Entah itu pertanyaan cerdas atau lugu.
“Kau benar. Untuk apa kita bertahan jika nanti hanya akan mati semua,” kata Komandan Are Are.
Dia lalu berbalik dan berjalan ke depan ratusan prajurit pasukannya.
“Pasukaaan! Kita mundur menyusul Gusti Adipati!” teriak Komandan Are Are keras.
“Siap!” pekik para rajurit serentak, memberi debar-debar bagi warga yang mendengarnya dari tempat persembunyiannya.
Ratusan pasukan kadipaten itu kemudian bergerak berdasarkan perintah pemimpin-pemimpin regunya. Pasukan panah yang bersembunyi segera berkeluaran dan menciptakan barisan yang teratur.
“Sekulang! Tebang pohon lebih banyak!” perintah Komandan Are Are kepada wakilnya.
“Baik, Komandan!” sahut Sekulang.
__ADS_1
Sebagian besar pasukan itu segera bergerak meninggalkan jalan utama di pusat ibu kota kadipaten. Sementara sejumlah kecil harus melakukan pekerjaan penting, yaitu menebang pohon-pohon di pinggir jalan untuk menutupi jalan. Itulah cara efektif untuk memperlambat pasukan Kerajaan Singayam agar tidak berhasil menyusul rombongan Adipati Patok Anggara dan para pengungsi.
Setelah itu, barulah prajurit penebang pohon akan menyusul pasukan dengan berkuda. (RH)