Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 10: Rantai Dedemit


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


Ketika Pasukan Berkuda Satu bisa ditumbangkan oleh Alma Fatara dan rekan-rekan, tersisalah Gading Margin selaku komandan melawan Geladak Badak.


Pertarungan keduanya bergeser ke tempat yang keluar dari jalan, tepatnya area berumput di bawah pohon-pohon besar.


Gading Margin untuk sementara menggunakan ilmu Pukulan Penyesalan. Entah apa dari tafsir nama kesaktian yang mengandalkan pukulan telapak tangan itu, tetapi yang jelas, saat ini kedua telapak tangan Gading Margin menyala kuning kehitaman.


Sedangkan Geladak Badak masih mengandalkan senjata rantainya yang masih berwarna natural. Kini dia sudah menggunakan tiga ujung rantainya yang setebal ibu jarinya.


Sreeet!


Ketika ujung rantai Geladak Badak melesat serentak menyerang Gading Margin, dia melompat dan berlari di titian satu rantai menuju lawannya. Dua ujung rantai yang tidak dijadikan titian bergerak menengok seperti kepala ular, lalu melesat mengejar punggung Gading Margin.


Karena Gading Margin berlari di rantai yang terikat di pinggang, Geladak Badak menghantamkan lututnya ke rantai yang terentang tegang, membuat rantai itu bergelombang kuat, memaksa Gading Margin terlempar mengudara. Gerakan tubuhnya yang mengudara cepat dikejar oleh dua ujung rantai yang memburu dari belakang.


Prakrss!


Gading Margin cepat meningkatkan energi pada kedua telapak tangannya yang membuat tangannya kian terang bersinar. Lalu kedua telapak tangan itu digunakan menahan kedua ujung rantai. Hasilnya, ujung kedua rantai hancur untuk beberapa jengkal.


Terbeliak sepasang mata Geladak Badak. Ia pun segera meningkatkan level permainan rantainya.


Sriuss!


Sepertinya Geladak Badak telah serius dalam bertarung. Ketiga utas rantainya, yakni rantai tangan kanan dan kiri serta rantai di pinggang, dia gerakkan sehingga meliuk-liuk di udara seperti tiga belalai liar. Pada ujung ketiga rantai muncul percikan sinar yang menyala seperti kembang api. Sementara rantai yang melilit di leher belum Geladak Badak gunakan, sepertinya hanya sekedar asesoris belaka.


Sreeet! Trass!


Ketika Gading Margin mendarat di tanah berumput, tiga ujung rantai berpijar melesat liar menyerangnya. Dengan gerakan tangan seperti mengelap dinding kaca, Gading Margin menciptakan dinding sinar kuning terbatas di depannya, membuat ketiga ujung rantai menghantam dinding sinar tersebut.


Namun, hantaman serentak ketiga ujung rantai memberi daya gedor yang kuat, terbukti membuat Gading Martin terlempar mundur sejauh dua tombak dengan merasakan dadanya sesak.


“Uhhuk uhhuk!” batuk Gading Margin.


“Hah! Kau sudah terkena racun rantaiku!” seru Geladak Badak.


Terkejut Gading Margin mendengar perkataan lawannya. Dia segera mendeteksi dirinya sendiri, apakah benar dia sudah keracunan atau tidak. Pasalnya dia tidak merasakan ada racun yang menyerang tubuh dalamnya.


“Kau pikir aku pendekar baru lahir?!” teriak Gading Margin marah. “Menyesallah kau!”


Blas blas!


“Hiaaat!”


Sursss!


Setelah itu, Gading Margin meledakkan sinar kuning di kedua telapak tangannya lebih menyilaukan. Dia lalu berteriak sambil menghentakkan kedua lengannya, melesatkan dua gelombang cincin sinar kuning yang berbaris.

__ADS_1


Dengan gerakan yang cepat, Geladak Badak melompat menghindar sambil balas melesatkan ketiga ujung rantainya yang ujungnya berpijar seperti kembang api. Ketiga ujung itu bergerak maju menyatu seperti kepangan rantai.


Sursss! Craksss!


Gagal dengan serangan mautnya, Gading Margin melesat maju dengan tangan kanan menusuk. Dari tusukan ujung jari itu muncul sinar kuning berwujud seperti hulu ledak rudal, yang kemudian beradu kuat dengan ujung rantai yang menyatu satu.


Geladak Badak terkejut melihat kepang rantainya hancur semua seiring serangan lawan maju terus kepadanya.


Sas! Bluar!


Cepat Geladak Badak menerbitkan sebola sinar biru berpijar yang dihantamkan kepada ujung sinar kuning lawan. Ledakan tenaga sakti terjadi sangat dekat antara mereka.


Gading Margin terdorong mundur dengan keras, tetapi gerakan kakinya yang cekatan membuat dia berhenti terdorong dengan kuda-kuda yang kokoh.


Sebaliknya, Geladak Badak terpental seperti bola bekel dan mendarat dengan punggungnya di tanah berumput.


“Hoekh!” Geladak Badak muntah darah.


“Hebat kau, Geladak Kapal! Terus semangat, kau di atas angin!” teriak Bungkuk Gila memberi semangat, padahal kondisinya terbalik.


“Kenapa Kakek menyangkanya unggul?” tanya Alma Fatara kepada Bungkuk Gila.


“Biar dia semangat dan tidak mengambek,” jawab Bungkuk Gila sekenanya.


“Setua itu masih suka merajuk?” tanya Manila Sari.


“Hahaha!” Bungkuk Gila tertawa menjawabnya. Lalu katanya, “Nanti lihatlah kehebatannya.”


“Hahaha!” tawa Geladak Badak pelan sambil bangkit seperti orang sakit encok, tetapi tatapannya tajam kepada Gading Margin.


“Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu!” hardik Gading Margin melotot.


“Kau pasti belum pernah menghadapi Rantai Dedemit. Hahaha!” kata Geladak Badak lalu tertawa dengan mulut yang merah berdarah.


“Huh! Apa hebatnya? Maksudmu rantai yang terbuat dari telinga hantu-hantu gentayangan? Hahaha! Biar langsung aku akhiri nyawamu! Hiaaat!” koar Gading Margin. Dia lalu merentangkan kedua tangannya dengan hentakan bertenaga tinggi.


Bress!


Kedua tangan Gading Margin kini diselimuti spiral sinar merah dan pada genggaman ada bola api yang digenggam. Tidak panas bagi Gading Margin.


Sus sus! Bres bres!


Gading Margin melempar dua bola api ke arah kaki Geladak Badak, yang segera melompat mengudara meninggalkan dua bola api yang pecah membakar rerumputan hijau.


Itulah yang diinginkan oleh Gading Margin, yakni lawannya naik mengudara karena dia langsung menyusulkan tembakan bola-bola api dari kedua tangannya.


Sus sus sus...!


Sebanyak delapan bola api melesat seperti meteor jatuh menyerang Geladak Badak yang masih mengudara.

__ADS_1


Sreeek! Blar blar blar...!


“Huakr!”


Sebelum serangan bola api sampai, tiba-tiba terdengar suara banyak rantai yang bergerak mengulur, tetapi tidak terlihat wujudnya.


Sepersekian detik kemudian, kedelapan bola api berledakan di tengah jalan tanpa terlihat ada sesuatu yang menghantamnya atau dihantamnya.


Ledakan beruntun yang dahsyat itu membuat Geladak Badak terdorong, tapi bisa mendarat meski sempoyongan. Berbeda dengan Gading Margin yang terpental sejauh tiga tombak dan jatuh di semak-semak. Darah tersembur dari dalam tenggorokannya.


Tidak berapa lama, Gading Margin sudah timbul dari balik semak-semak dengan mulut belepotan darah.


Sementara itu, Geladak Badak sudah berlari maju lalu melompat jauh ke depan, ke arah Gading Margin.


Sreeekr!


Seiring pergerakan Geladak Badak, kembali terdengar suara gerakan rantai yang banyak, tapi tidak terlihat wujudnya. Itulah yang disebut Rantai Dedemit.


Dalam kondisi yang sudah terluka parah, Gading Margin kembali membuat kedua tangannya diselimuti spiral sinar merah.


Jos jos jos ngejoss!


Seiring mendekatnya tubuh Geladak Badak dan Gading Margin siap menyambut dengan ilmu pamungkasnya, tiba-tiba terjadi ledakan kecil-kecil pada bagian punggung Gading Margin, termasuk bagian belakang kepalanya.


“Waw!” pekik Alma Fatara terkejut melihat tubuh belakang Gading Margin tahu-tahu berletupan.


“Bisulnya pecah!” pekik Arguna pula terperangah.


“Aaakhr!” jerit Gading Margin keras dengan tubuh yang berdiri gemetar hebat, seolah-olah sedang menikmati rasa sakit dari luka-lukanya. Dari dalam mulutnya semakin banyak darah keluar.


Beberapa hitungan kemudian, Gading Margin tumbang ke belakang. ternyata, wajah dan badan depannya juga berbolongan mengerikan. Lubang-lubang daging itu sebesar-besar mata kucing.


Sedikit ulasan. Ilmu Rantai Dedemit mengeluarkan sepuluh utas rantai yang menyatu pada tubuh Geladak Badak. Namun, kesepuluh rantai maut itu tidak bisa terlihat oleh mata lahiriah. Karena itulah, pergerakannya hanya terdengar audio tanpa terlihat visualnya.


Jadi, ketika menghadapi ilmu Rantai Dedemit, Gading Margin tidak bisa melihat pergerakan sepuluh rantai yang menyerangnya, bahkan dia tidak tahu ada berapa banyak jumlah rantai hantu itu.


Kesepuluh rantai gaib itulah yang menghancurkan rombongan bola api Gading Margin dan menusuk tembus badan lelaki pendek kekar itu, sehingga yang terlihat hanya seperli ledakan bisul.


“Kepuuung!” teriak keras seorang lelaki tiba-tiba dari kejauhan, mengejutkan Alma Fatara dan rekan-rekan.


Drap drap drap...!


Tiba-tiba puluhan prajurit, atau mungkin seratus lebih, berlari cepat mengitari posisi Alma Fatara dan rekan-rekan, termasuk posisi Geladak Badak. Para prajurit berseragam biru itu terdiri dari pasukan panah dan tombak.


Dalam waktu singkat, Alma Fatara dan kawan-kawan sudah dikepung dengan pasukan panah berformasi di lingkar dalam, sementara pasukan tombak yang lebih banyak berformasi di lingkar luar. (RH)


 


********************

__ADS_1


Baca Juga!



__ADS_2