Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
PKS 12: Pasukan Tanduk Kemenangan


__ADS_3

*Pasukan Kerajaan Siluman (PKS)*


Sebanyak sekitar seribu lima ratus prajurit dalam Pasukan Pamungkas Tanduk Kemenangan telah memasuki ibu kota Kadipaten Sengat. Pasukan berseragam hitam bergaris biru itu terdiri dari tiga unsur tempur, yaitu pasukan berkuda dua ratus personel, pasukan tombak dan pedang tujuh ratus, serta pasukan panah lima ratus. Plus seratus pasukan angkat-angkat dan sepuluh pendekar yang bernama Peri-Peri Pengisap.


Peri-Peri Pengisap adalah kelompok sepuluh pendekar perempuan pilihan. Mereka semua adalah pendekar wanita penikmat perjaka dan hanya akan sekali pakai perjaka, sebab perjaka yang usai mereka nikmati akan menjadi lemah syahwat.


Menjadi kelompok pendekar bayaran dan bergabung dalam satu pasukan besar adalah lingkungan nyaman bagi mereka, karena ada banyak stok perjaka yang belum pernah berhubungan intim dengan wanita.


Kelompok itu diketuai oleh wanita bernama Peri Tamak. Dia sosok wanita berusia separuh baya minus tujuh tahun. Masih terbilang berkulit kencang dengan kecantikan yang menggoda dan bentuk tubuh yang bisa dikatakan wanita tulen. Ia suka mengenakan pakaian warna hijau muda dengan harum bunga yang memancing gairah kelelakian. Model rambutnya sengaja disanggul penuh yang memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus putih cemerlang. Seolah-olah semut yang berjalan di kulit lehernya akan terpeleset jika tidak pakai sepatu.


Sebagai ketua kelompok, Peri Tamak mendapat jatah dua perjaka dalam satu putaran, sementara anggota lain hanya dapat jatah satu perjaka. Dalam aturan kesaktiannya, setiap anggota Peri-Peri Pengisap akan mengisap perjaka enam hari sekali. Sementara Peri Tamak tiga hari sekali.


Jadi, diam-diam di dalam Pasukan Tanduk Kemenangan mulai bermunculan prajurit impoten, setelah mereka diisap energi keperjakaannya. Jangan tanya bagaimana cara proses pengisapan tersebut!


Pasukan Pamungkas Tanduk Kemenangan dipimpin oleh seorang panglima yang bernama Tebing Gali. Dia seorang lelaki separuh baya lebih dua tahun dengan perawakan yang perkasa. Kumis tebal melintang menjadi identitas khasnya. Raga yang atletis membuatnya masih perkasa pada usia perak seperti itu. Maka tidak heran jika dia tipe orang yang suka memperkosa wanita di mana-mana.


Usia jabatan panglima lelaki bersenjata tombak baja itu baru hampir tiga pekan. Dia menggantikan panglima sebelumnya yang tewas oleh Pangeran Derajat Jiwa di Istana.


Dengan naiknya Pangeran Derajat Jiwa ke tahta, maka semua pejabat sipil dan militer terancam dilengserkan. Raja baru ini ingin melakukan perombakan total dalam pemerintahan dan militer.


Setibanya di jalan utama di tengah-tengah ibu kota Kadipaten, pasukan itupun menemui halangan batang-batang pohon besar yang menutupi jalan.


Keberadaan pasukan berkuda dan rombongan pedati kuda pengangkut logistik, perlengkapan kemah dan perang, membuat pasukan itu harus bekerja menyingkirkan batang-batang pohon tumbang.


“Periksa semua rumah dan tempat. Jika ada manusianya, kumpulkan semua seperti biasa!” perintah Panglima Tebing Gali.


“Baik, Gusti!” ucap Gambira, tangan kanan sang panglima.


Gambira lalu pergi membawa satu pasukan berkuda untuk menggeledah kota utama kadipaten tersebut.


Pasukan berkuda itu disebar untuk melakukan penyisiran di seluruh bagian ibu kota Kadipaten.


Brak! Brak!


Setiap pintu rumah didobrak dengan tendangan kuda. Setelah didobrak, prajurit akan turun dan masuk menggeledah. Jika rumah yang digeledah tidak berpenghuni, maka akan dijarah barang berharganya, jika ada. Tentunya barang berharga yang bisa disembunyikan di balik pakaian, televisi dan kulkas tidak termasuk.

__ADS_1


Jika rumah yang didobrak berpenghuni, maka akan digiring keluar dengan ancaman pedang.


Warga yang sebelumnya memilih bertahan bersama keluarga dan harta bendanya, mereka kemudian digiring dalam kondisi takut. Mereka takut jika dilukai.


“Aaak! Ayaaah!” jerit anak gadis seorang hartawan ketika dia bersama perempuan lain digiring terpisah dengan warga lelaki.


“Jangan sakiti putri dan istriku! Aku orang kaya di kadipaten ini. Aku akan memberikan kalian kepeng yang banyak, tapi jangan sakiti kami!” teriak seorang lelaki kaya kepada para prajurit yang menggiring istri dan anak gadisnya. Dia bernama Ki Paling. Nama Paling melekat kepadanya karena sejak kecil keluarganya yang paling kaya sekadipaten.


“Jalan!” bentak prajurit sambil memepet Ki Paling dengan badan kuda.


Bukan hanya keluarga Ki Paling, tetapi ada beberapa keluarga kaya lainnya yang dipaksa keluar dari dalam rumah. Ada pula warga lain yang digiring dari rumahnya masing-masing. Mereka sama-sama punya keyakinan bahwa pasukan Kerajaan tidak akan menjahati rakyat sendiri.


Namun, sepertinya mereka cukup salah keyakinan, karena terbukti para prajurit pasukan Kerajaan Singayam itu bersikap kasar terhadap mereka, meski mereka adalah rakyat Kerajaan Singayam juga. Berurang kali mereka mendapat tendangan, pukulan, hingga ancaman bunuh dari para prajurit berkuda. Kepada kaum perempuan pun mereka bersikap kasar, membuat kaum wanita itu menangis ketakutan.


Sambil menggiring, tidak jarang para prajurit itu sambil melecehkan dengan menepak dan meremasi bokong warga wanita. Godaan-godaan verbal yang melecehkan juga sering dilontarkan.


Anak-anak pun menangis ketakutan mengikuti orangtuanya.


Pada puncaknya, warga yang memilih bertahan di tempat tinggalnya itu dikumpulkan di alun-alun depan kediaman Adipati Patok Anggara yang sudah kosong dari manusia. Seratus lebib prajurit mengurung kumpulan warga tersebut.


Warga yang jumlahnya kurang dari lima puluh orang itu dibagi dalam dua kumpulan, yaitu kumpulan lelaki dan kumpulan perempuan. Warga biasa dan warga kaya diperintahkan berjongkok bersama, bukan untuk buang hajat bersama, tapi sekedar kongkow bareng di bawah ancaman.


“Baik, Gusti,” ucap Gambira patuh.


Setelah itu, Panglima Tebing Gali lalu pergi mendatangi kumpulan para wanita yang berjongkok dalam kecemasan akan nasib mereka. Sang panglima pun memerhatikan wajah wanita itu satu demi satu.


Setelah mengidentifikasi para wanita itu dengan pandangan, tiba-tiba Panglima Tebing Gali melempar kerikil kepada dua orang gadis cantik.


“Prajurit, bawa dua gadis itu ke dalam!” perintah Panglima Tebing Gali.


Empat orang prajurit segera bergerak mendatangi dua gadis yang tadi dilempar kerikil oleh sang panglima. Kedua gadis itu dicekal tangannya dan diseret paksa karena mereka meronta-ronta menolak untuk dibawa.


“Lepaskan! Ayaaah! Tolong aku, Ayaaah!” teriak salah satu gadis cantik yang tidak lain adalah putri dari Ki Paling.


“Jangan bawa putriku, Prajurit!” teriak sang ibu pula, berusaha membela putrinya.

__ADS_1


Buk!


Namun, satu tendangan diberikan oleh si prajurit kepada sang ibu sehingga terjengkang di antara para wanita lain.


Terkejut Ki Paling saat melihat putrinya diseret paksa dan istrinya ditendang.


“Putrikuuu!” teriak Ki Paling histeris. Buru-buru dia bangkit dan berlari hendak menolong putrinya.


Bdak!


“Akk!” jerit Ki Paling saat satu hantaman gagang pedang prajurit menjatuhkannya.


“Ayaaah!” teriak histeris putri Ki Paling saat melihat ayahnya terjatuh dan dahinya berdarah banyak.


Ki Paling yang kesakitan, buru-buru mendekati Panglima Tebing Gali dan berlutut di dekat kakinya.


“Gusti Panglima! Jangan sakiti putriku! Aku orang terkaya di Kadipaten Sengat. Aku akan memberikan hartaku, asalkan lepaskan putriku!” Ki Paling memohon penuh iba.


“Aku bisa mengambil semua hartamu tanpa kau beri,” kata Panglima Tebing Gali datar. “Tidak usah melawan jika ingin hidup.”


“Jangan bawa istrikuuu!” teriak seorang pemuda sambil bangkit dan berlari mengejar prajurit yang membawa putri Ki Paling dan istrinya yang masih seperti gadis.


Set! Tsuk!


“Akkr!” erang pemuda itu dengan langkah terhenti, setelah satu tombak prajurit melesat dan menancap tembus di perutnya.


Terkesiaplah semua warga melihat apa yang menimpa si pemuda.


“Kakaaang...!” jerit istri pemuda itu histeris melihat kematian suaminya. Namun, dua prajurit yang mencekalnya terus menyeretnya masuk ke kediaman Adipati.


Setelah kejadian itu, puluhan warga itu memilih diam, selain suara tangis wanita dan anak-anak kecil yang ketakutan melihat situasi itu.


Panglima Tebing Gali lalu berjalan pergi menuju ke kediaman Adipati Patok Anggara. Dia tetap dikawal oleh dua prajurit.


Inilah saatnya sang panglima melaksanakan aksi bejatnya, yaitu memerkosa dua orang wanita. Padahal, tadi pagi dia sudah memerkosa gadis di kademangan sebelum berangkat ke ibu kota kadipaten.

__ADS_1


Warga yang dikumpulkan lalu didata demi kepentingan melayani kebutuhan para prajurit. Beberapa kepala prajurit bahkan melakukan pemerkosaan juga di dalam rumah warga yang memiliki anak gadis. Tidak pandang cantik atau buruk rupa, yang terpenting jenisnya perempuan.


Itulah salah satu kejamnya peperangan. Salah satu korban yang begitu menderita adalah kaum wanita. (RH)


__ADS_2