Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 20: Siasat Panglima


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


Hancurnya pasukan Kerajaan Ringkik yang dipimpin oleh mendiang Senopati Gulung Sedayu di tangan seorang pendekar wanita seorang diri, menjadi kisah memalukan dan mengerikan bagi penguasa dan militer Kerajaan Ringkik.


Saat mendengar bahwa gadis belia nan cantik jelita itulah orang yang telah menghancurkan pasukan besar Senopati Gulung Sedayu di Kampung Siluman, terkejutlah Panglima Kirat Ipok.


Sang panglima yang datang mengepung Alma Fatara dengan tiga ratus pasukan itu jadi segera melakukan hitung-hitungan kondisi.


Kini Alma Fatara dan keempat rekannya dikepung di kawah tanah kering dengan panah pasukan panah sudah siap lepas. Kondisi itu mirip dengan kondisi ketika mereka dikepung oleh pasukan pimpinan mendiang Wakil Panglima Tejo.


Namun kala itu, ada Bungkuk Gila yang punya ilmu perisai. Berbeda kali ini, Bungkuk Gila tidak ada bersama mereka, tetapi sedang asik mengintip para Betina Ranjang berpacu dalam keringat asmara. Alma Fatara sendiri tidak memiliki ilmu perisai untuk bisa melindungi dirinya dan rekan-rekannya dalam ancaman puluhan anak panah yang akan dilepaskan dalam jarak yang dekat. Saat itu Alma belum memiliki ilmu perisai Tameng Balas Nyawa yang baru ia peroleh dua tahun kemudian.


Salah satu poin tawar Alma Fatara adalah saat ini dia sedang menyandera Kepala Juru Aman Sarang Betina Ranjang yang bernama Kubil Gersang, yang sudah tidak berdaya. Pada leher Kubil Gersang melingkar Benang Darah Dewa, yang jika ditarik oleh Alma, maka bisa putuslah leher itu.


“Urusan kami hanya dengan Tebar Kembang, jika pasukan pemerintah ikut campur, tanggung sendiri akibatnya!” tegas Alma Fatara.


Terdiam Panglima Kirat Ipok mendengar ancaman Alma Fatara. Dia bukan tipe orang yang memandang remeh seseorang, meski dilihatnya Alma adalah sosok gadis yang masih belia. Terbukti kini dia bisa membuat seorang kepala keamanan selevel Kubil Gersang tidak berdaya sedikit pun, ditambah mayat personel keamanan tempat itu sudah banyak yang berserakan. Kirak Ipok tidak melihat keberadaan Benang Darah Dewa, tapi melihat posisi genggaman kedua tangan Alma menunjukkan bahwa gadis itu sedang memegang sesuatu yang membuat Kubil Gersang mati kecoa.


“Sial, aku dibuat bingung!” maki Kirat Ipok di dalam hati. “Jika aku memaksakan diri, bisa saja aku akan kehilangan pasukan yang banyak, tapi mereka sudah membunuh pejabat kotakayu dan banyak prajurit. Apalagi perintah Menteri Darabisu harus dilaksanakan....”


Drap drap drap!


Tiba-tiba ada lari seekor kuda datang mendekat dari arah belakang. Kirat Ipok segera menengok ke belakang, sementara pasukannya tidak ada satu pun yang berani mengalihkan pandangan dari wajah cantik Alma Fatara dan Manila Sari, mereka tidak sudi memerhatikan wajah Arguna, Lingkar Dalam apalagi Geladak Badak.


Alma Fatara dan rekan-rekan juga memandang kepada orang yang datang. Orang itu berpakaian punggawa militer, tapi asesoris kepangkatannya lebih miskin daripada milik Kirat Ipok.


Sekedar informasi, punggawa militer yang masih usia berondong itu bernama Ehajusus, Wakil Panglima baru yang menggantikan Wakil Panglima Tejo. Dia diangkat buru-buru oleh sang penguasa kotakayu agar Panglima Kirat Ipok punya pendamping dalam tugas.


“Ehajusus!” sebut Kirat Ipok.


“Maafkan hamba, Panglima. Hamba terlambat,” kata Ehajusus.


Kirat Ipok lalu kembali menghadap kepada pasukannya yang dalam posisi siap perang.


“Turunkan senjata dan tetap siaga!” teriak Kirat Ipok kepada paukannya.

__ADS_1


Serentak pasukan panah dan tombak menurunkan senjatanya yang telah terangkat, memberi kelonggaran pada otot, tapi tidak pada urat saraf.


“Ikut aku!” perintah Kirat Ipok kepada wakil barunya.


Kedua punggawa berkuda itu lalu memutar kudanya dan berjalan pelan menjauhi titik pengepungan. Alma Fatara dan rekan-rekan membiarkan apa yang hendak disiasatkan oleh pemimpin pasukan itu.


Setelah cukup jauh dari pusat pengepungan, Kirat Ipok pun mengutarakan rencananya.


“Ehajusus, pendekar wanita yang belia itu adalah orang yang membantai ribuan pasukan Senopati Gulung Sedayu seorang diri. Dia juga yang membunuh Senopati Gulung Sedayu. Jika dia bisa membunuh ribuan prajurit dalam satu pertempuran, lalu seperti apa jika hanya tiga ratus prajurit kotakayu seperti ini?”


Terkesiap Ehajusus mendengar cerita junjungannya.


“Lalu bagaimana, Panglima? Gusti Menteri memerintahkan kita untuk membunuh atau menangkap mereka,” kata Ehajusus jadi ikut bingung.


“Beberapa kali Menteri Bonggol Angkasa mengeluhkan Tebar Kembang yang kekuasaannya justru lebih kuat dari kekuasaan seorang menteri kota. Tebar Kembang pun memiliki kekuatan pasukan yang jauh lebih kuat dari pemerintah kotakayu. Jika pendekar wanita itu bisa menyingkirkan dan menghancurkan istana Tebar Kembang, jadi Menteri Bonggol bisa menggunakan kesaktian wanita itu untuk menyingkirkan Tebar Kembang tanpa mengotori tangan,” ujar Kirat Ipok.


“Benar juga, Panglima,” setuju Ehajusus.


“Sekarang pergilah menghadap kepada Menteri Bonggol. Sampaikan kondisi di sini dan siapa yang sedang kita hadapi. Sampaikan juga usulanku!” perintah Kirat Ipok.


“Pergilah secepatnya dan kembalilah ke sini secepatnya!”


“Baik, Panglima!”


Maka Ehajusus segera menggebah kudanya dan langsung kencang.


Pada saat yang bersamaan, utusan Kubil Gersang yang bernama Lokngot telah tiba di tempat itu kembali. Namun, dia jadi bingung untuk menyampaikan pesan karena posisi Kubil Gersang di dalam pengepungan Pasukan Keamanan Kotakayu.


Akhirnya Lokngot memutuskan untuk berteriak dari belakang pengepungan.


“Kepala Kubil, aku datang!” teriak Lokngot.


Teriakan itu membuat para prajurit menengok kepada Lokngot. Sebagai seorang pendekar, Lokngot tidak gentar hanya karena dipandangi oleh ratusan mata prajurit kotakayu biasa.


“Pesan apa yang kau bawa, Lokngot?” teriak Kubil Gersang.

__ADS_1


“Raja Betina sedang pergi menemui Majikan Tebar Kembang. Harap bersabar!” sahut Lokngot dari belakang pasukan.


“Baik!” teriak Kubil Gersang, masih dalam kondisi tidak berdaya, tapi masih bisa berteriak. “Panggil semua pasukan ke sini!”


“Tapi di dalam ada kekacauan, Kepala!” teriak Lokngot.


“Kekacauan apa?” tanya Kubil Gersang.


“Pelanggan dan beberapa Betina Ranjang diganggu oleh seorang pendekar yang mengintip mereka!”


“Hahaha!” meledaklah tawa Alma Fatara dan Geladak Badak. Hanya mereka berdua yang berani tertawa lepas di dalam suasana tegang seperti itu.


Alma dan rekan-rekan sudah bisa menerka bahwa pendekar pengintip itu adalah Bungkuk Sakti yang punya kelakuan selalu tidak wajar.


“Tetaplah kalian bersiaga!” teriak Kubil Gersang lagi.


“Baik!” sahut Lokngot.


Panglima Kirat Ipok dan ratusan prajuritnya hanya mendengarkan dialog lintas kepungan itu tanpa melakukan tindakan apa-apa.


Karena jawaban dari dalam Sarang Betina Ranjang membutuhkan proses yang lama dan pasukan pemerintah juga tidak melakukan serangan, maka Alma Fatara dan rekan-rekan harus sabar menunggu pula.


Sementara itu hari semakin menuju ujung senja. Suasana panas mentari yang banyak terhalang oleh pepohonan besar mulai mengurangi teriknya.


Singkat cerita. Setelah menunggu sekitar durasi menonton sepertiga film horor, akhirnya ada orang penting yang datang.


“Raja Betina dataaang!” teriak seseorang dari sisi dalam Sarang Betina Ranjang.


Pasukan keamanan Sarang Betina Ranjang segera menengok ke dalam, demikian pula Panglima Kirat Ipok dan pasukannya. Sementara itu, Alma Fatara dan rekan-rekan hanya menunggu. Posisi mereka yang berada di kawah kering dan terhalang oleh dinding prajurit, membuat mereka belum bisa melihat siapa yang datang.


Orang yang datang ada lima orang berperawakan pendekar dengan satu orang yang begitu mencolok mata, tapi tidak menyakitkan.


Rombongan itu dipimpin oleh seorang pemuda tampan bertubuh ateltis bertelanjang dada bercelana merah. Tubuh yang kekar berotot, berdada bidang dan berperut roti sobek itu hanya mengenakan sebuah jubah tebal berwarna kuning. Namun, jubah itu sekedar ditempelkan di bahu tanpa memasukkan kedua tangan dan tidak berkancing. Pemuda tampan berhidung mancung itu bersisir rapi ke belakang. rambutnya selalu terlihat berminyak. Dialah orang yang berkuasa di Sarang Betina Ranjang, namanya Baling Bangba yang dijuluki Raja Betina.


Ketika berjalan, sangat kental kharisma yang dipancarkannya dengan aroma tubuh yang harum dan lembut. Minyak wanginya bisa diterka produk impor. (RH)

__ADS_1


__ADS_2