Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman
DKT 22: Tarung Mesum Bungkuk Gila


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tombak (DKT)*


 


“Kakek pilih lawan yang mana?” tanya Alma Fatara sambil tetap memandang kepada Baling Bangba dan keempat pendekar utama.


“Yang hidungnya pesek, tapi dadanya mancung. Hehehe!” jawab Bungkuk Gila lalu terkekeh genit.


“Ya ya ya,” ucap Alma Fatara sambil menggut-manggut.


Lalu serunya kepada Baling Bangba yang ganteng.


“Kakang Bagus, kalian memilih cara apa? Mau main keroyokan atau satu lawan satu?” tanya Alma memberi pilihan.


“Hahaha!” tawa Baling Bangba santai. “Kita mulai dengan duel satu pendekar.”


“Baik. Silakan majukan satu pendekarmu, Kakang,” kata Alma Fatara.


“Lirik Lirik!” sebut Baling Bangba.


Si cantik pesek Lirik Lirik Yo bergerak maju beberapa langkah.


“Hihihik!” tawa genit Bungkuk Gila senang.


Clap!


Tiba-tiba sosok Bungkuk Gila sudah berpindah tempat, muncul tepat di belakang Lirik Lirik Yo atau dua langkah di depan Baling Bangba.


Sadar atas tindakan Bungkuk Gila, Lirik Lirik Yo dan Baling Bangba cepat bereaksi. Keduanya cepat bergerak menyerang kakek itu.


“Akk!” pekik Lirik Lirik Yo yang bergerak hendak berputar cepat dengan dua tangan bersinar merah. Namun, bokongnya lebih dulu didorong oleh kedua tangan Bungkuk Gila.


Lirik Lirik Yo tersungkur jatuh ke kawah kering dan bergulingan mendekati potongan kepala Kubil Gersang.


Wess!


Sementara Baling Bangba yang refleks membabatkan sebatang tongkat sinar hijau kecil yang tahu-tahu tergenggam di tangannya, harus terkejut karena senjata sinarnya hanya menghantam sosok hologram, terlihat tapi tidak bisa dijamah.


“Naaa nanananaaa na. Weeek!” ledek Bungkuk Gila yang entah bagaimana bisa masih berdiri di sisi Alma Fatara dan Cantik Gelap.  Seiring itu, sosok Bungkuk Gila yang tadi muncul di depan Baling Bangba sudah hilang.


Lirik Lirik Yo segera bangun dari jatuhnya dan memandang waspada kepada Bungkuk Sakti yang ada di atas. Kedua tangannya masih bersinar merah.


“Tangkap kedatanganku, Pesek Cantiiik!” teriak Bungkuk Gila senang sambil melompat ke tengah-tengah dasar kawah, melemparkan tubuhnya ingin ditangkap oleh Lirik Lirik Yo.


“Rasakan ini, Kakek Mesum!” pekik Lirik Lirik Yo sambil menebaskan kedua telapak tangannya kepada tubuh Bungkuk Gila, seperti menebaskan dua pedang yang ingin memotong tubuh tua itu.


Cup! Blugk!


Namun apa yang didapati oleh Lirik Lirik Yo. Kedua tangannya justru ditahan oleh ranting dan tangan Bungkuk Gila, sehingga tubuh si kakek dengan leluasa menabrak tubuh Lirik Lirik Yo. Apesnya wanita itu, yang lebih dulu menabraknya adalah bibir tua Bungkuk Gila tepat pada wajahnya, barulah badannya.


Lirik Lirik Yo jatuh terjengkang dengan tubuh ditindih oleh Bungkuk Sakti yang menang banyak.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara. “Kakek, bertarunglah dengan benar. Kau mau bertarung atau mau memperkosa?”

__ADS_1


“Hahahak!” tawa terbahak Bungkuk Gila kegirangan dengan setengah badan masih menindih tubuh cantik Lirik Lirik Yo. Dia tidak terpengaruh dengan kedua tangan panas wanita itu.


Blass!


“Akk!” pekik tertahan Bungkuk Gila.


Tiba-tiba ada ledakan sinar merah dari tubuh Lirik Lirik Yo, memaksa tubuh bungkuk lawannya terpental dan jatuh menghantam dinding kawah ciptaan Alma.


“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa melihat tubuh tua itu terpental dan menghantam tanah.


“Aduh aduh, pinggangku!” rintih Bungkuk Gila sambil bangkit dan memegangi pinggannya, membuat Alma kian tertawa.


Semua yang menonton yakin bahwa itu hanyalah keluhan palsu.


Ses ses ses!


Pada saat itu, Lirik Lirik Yo sudah tinggi mengudara dan melesatkan tiga sinar merah berekor panjang.


Clap!


Blar blar blar!


Tiga ledakan keras menghancurkan dinding kawah tempat Bungkuk Gila tadi berdiri mengeluh. Alma Fatara harus melompat mundur demi menghindari tanah hancur yang terpental menjangkau posisinya.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila kegirangan. Dia tahu-tahu muncul memeluk di punggung Lirik Lirik Yo yang masih mengudara. Kakek itu menempel seperti anak monyet yang tua.


“Keparat mesum kau, Kakek Bungkuk!” maki Lirik Lirik Yo panik dan marah dengan tubuh meluncur turun bersama bebannya.


Blass!


“Hahaha!”


Alangkah terkejutnya Lirik Lirik Yo karena kembali merasakan tubuhnya dipeluk kuat dari belakang. Dia mendengar suara tawa Bungkuk Gila sangat dekat di telinganya. Tangan Bungkuk Gila bahkan tambah nakal dengan diletakkan di gundukkan bukit lawannya, tapi masih berlapis pakaian.


“Eek eek eek!” teriak Lidah Untung kepada Baling Bangba sambil menunjuk ke arah pertarungan. Di menunjukkan wajah marah. Sepertinya dia minta izin untuk turun tangan membantu Lirik Lirik Yo.


Sebagai orang yang satu keluarga besar, Lidah Untung merasa sakit hati jika keluarga perempuannya dilecehkan seperti itu, terlebih itu oleh seorang kakek mesum.


“Tenang. Permulaan satu lawan satu. Risiko pertarungan,” kata Baling Bangba santai, meski dia juga sangat ingin menjewer Bungkuk Gila.


“Eek!” ucap Lidah Untung dengan gestur yang kesal.


Blass!


Ses ses ses!


Hanya dengan cara meledakkan sinar merah untuk membuat pelukan Bungkuk Gila lepas. Ketika tubuh tua itu terpental kembali dan berada dalam luncurannya, Lirik Lirik Yo langsung melesatkan tiga sinar merah berekor panjang.


Bress!


Namun, ketiga sinar merah itu dengan cepat lenyap dimusnahkan oleh tepisan ranting berdaun Bungkuk Gila. Jika di-slowmotion-kan, sambil tubuhnya meluncur di udara, Bungkuk Gila dengan gampangnya memukul ketiga sinar merah berekor sekaligus hingga  musnah.


Kesaktian Lirik Lirik Yo seakan-akan tidak ada apa-apanya.

__ADS_1


Jleg! Clap!


Ketika kaki Bungkuk Gila menjejak tanah, tubuhnya langsung hilang dan tahu-tahu muncul satu jangkauan di depan Lirik Lirik Yo.


Lirik Lirik Yo yang kepalanya penuh oleh kemarahan, langsung mengagresi Bungkuk Gila dengan gerakan tercepatnya yang nyaris tidak terlihat. Lirik Lirik Yo mengandalkan dua tangan bersinar merahnya yang panas.


Tak tak tak! Syess!


Namun, Bungkuk Gila dengan tenang dan terampil mementahkan semua serangan Lirik Lirik Yo. Hingga akhirnya, kelima jari tangan kiri si kakek melesat cepat ke depan wajah lawannya.


Lima garis sinar kuning melesat dari kelima jari Bungkuk Gila, menyergap wajah yang tidak bisa dihindari oleh Lirik Lirik Yo. Seketika tubuhnya berdiri mengejang dengan sepasang mata yang mendelik. Dia disengat oleh ilmu Sihir Benang Setia.


Baling Bangba tidak melakukan tindakan apa-apa melihat kondisi Lirik Lirik Yo. Memang pada dasarnya Lirik Lirik Yo bukanlah lawan pendekar tua sakti itu.


“Hahaha!” tawa Bungkuk Gila sambil menghentikan penyaluran tenaga saktinya.


Bungkuk Gila lalu merangkul bahu Lirik Lirik Yo dan menghadap kepada Alma Fatara di atas sana.


“Cucu cantikku, aku dapat satu pelayan lagi! Hahaha!” teriak Bungkuk Gila kepada Alma.


“Asiiik. Lanjutkan, Kek! Hahaha!” sahut Alma Fatara mendukung lalu tertawa sama gilanya.


Bungkuk Gila lalu merangkul pinggang Lirik Lirik Yo dan dengan mudahnya membawanya terbang naik ke atas. Dia mendarat di dekat Cantik Gelap.


“Hahaha! Sama-sama cantik,” ucap Bungkuk Gila senang sambil mengarahkan posisi berdiri Lirik Lirik Yo di sisi Cantik Gelap.


Maka terlihatlah kedua wanita itu berdiri dengan wajah tegak dan pandangan lurus menembus segala sesuatu yang ada di depan sana.


“Pertarungan pertama selesai, Kakang Raja!” seru Alma Fatara. “Apakah masih mau satu lawan satu?”


“Eek!” teriak Lidah Untung dengan ekspresi marah.


“Hah? Siapa yang eek?” tanya Alma Fatara tidak paham.


“Hahahak!” tawa Bungkuk Gila.


“Ya sudah jika ingin eek dulu, silakan!” seru Alma Fatara salah paham.


“Eek!” teriak Lidah Untung lagi, tapi kali ini dia menulis di udara dengan lidi merahnya.


“Wow!” Terpukau Alma Fatara melihat Lidah Untung bisa menulis di udara. Lalu bacanya, “Bertarung bebas sampai mati.”


Lidah Untung menulis kalimat “Bertarung bebas sampai mati”.


“Benar, sekarang kita bertarung bebas sampai mati. Apakah kau siap, Dewi Gigi?” tandas Baling Bangba.


“Siap!” jawab Alma Fatara.


“Eek!” teriak Lidah Untung sambil menunjuk Bungkuk Gila dengan lidi merahnya.


“Aku tidak eek!” bantah Bungkuk Gila.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara sampai-sampai membungkuk memegangi perutnya.

__ADS_1


“Pertaungan kita mulai!” seru Baling Bangba sambil melesat di udara seperti lesatan anak panah melintasi atas kawah.


“Hei! Aku sedang tertawa!” teriak Alma Fatara karena musuh mencuri start. (RH)


__ADS_2