
*Dendam Anak Senopati (DAS)*
Rubi Salangka alias Si Ganteng Tongkat Perkasa yang populer dikenal dengan julukan Pendekar Pengawin ternyata tidak sampai mati, setelah melukai dirinya sendiri demi tidak membahayakan bayi di dalam rahim.
Rubi Salangka hanya pingsan akibat luka dalam parahnya. Setelah kejadian itu, Laris Manis kembali sayang kepada Rubi Salangka yang pernah ingin dibunuhnya tanpa mau peduli dengan segala pertimbangan.
Meski dilanda kesedihan dan kekhawatiran atas keselamatan Rubi Salangka, Laris Manis tetap mendapat hadiah uang atas kemenangannya dalam pertarungan Kolam Merah.
Hasil pertarungan itu membuat bandar menang banyak karena petaruh banyak yang memasang untuk Rubi Salangka, yang akhirnya kalah.
Mempertimbangkan bahwa Laris Manis sudah luluh mau memaafkan Rubi Salangka, ditambah demi si calon bayi memiliki ayah kandung, maka Alma Fatara menawarkan terapi Bola Hitam.
Pengobatan yang Alma Fatara berikan dilakukan di kamar peniduran yang disewa oleh Rubi Salangka.
Butuh waktu dua jam pengobatan karena luka dalam Rubi Salangka memang mengancam jiwanya.
Sambil menunggu pengobatan selesai, Laris Manis bercerita tentang hubungannya dengan Rubi Salangka. Laris Manis bercerita sambil berurai air mata.
Laris Manis menjadi istri ketujuh Rubi Salangka pada tujuh bulan lalu. Ternyata Rubi seorang lelaki yang benihnya ampuh. Sekali dua kali berlayar bersama sang istri, istrinya langsung hamil.
Yang membuat Manila Sari terkejut adalah pada usia muda, Rubi Salangka sudah menikah tujuh kali. Dari cerita Laris Manis, empat istri sebelumnya menceraikan Rubi dan dua lainnya tidak menceraikan, tetapi mati muda karena konflik kependekaran.
Ternyata, Rubi Salangka adalah pendekar dari keluarga bangsawan di salah satu kotabatu di wilayah Kerajaan Ringkik. Meski dia seorang pendekar, tetapi Rubi selalu menginap di peniduran karena memang dia punya banyak uang. Makanya dia tidak berat ketika mentraktir Alma Fatara dan kedua rekannya.
Rubi Salangka sudah memiliki tiga orang anak yang kecil-kecil, semuanya ada di wilayah Kerajaan Ringkik diasuh oleh ibunya masing-masing.
Yang terbaru, Rubi Salangka menikah dengan Dewi Garuk Emas. Jika benar pengakuan Rubi saat di Kolam Merah kepada Laris Manis, berarti Dewi Garuk Emas sudah menjanda.
__ADS_1
“Terima kasih, Alma. Sepertinya kita memang bukan jodoh,” ucap Rubi Salangka setelah pengobatannya selesai. Kondisi Rubi Salangka masih lemah setelah memuntahkan beberapa kali darah hitam.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
Sementara itu di tempat lain, lelaki tua berjubah merah berambut putih lurus sedang murka kepada Rajabali Gali. Sampai-sampai Rajabali dilempar menggunakan angin hingga tubuhnya menghantam sebuah tembikar bagus di sudut ruangan.
Kakek merah putih itu telah memegang kain surat tantangan dari Kolam Merah.
Sebelumnya, kakek itu marah atas dibantainya 13 Buah Kematian, yang berarti tugas dari Tebar Kembang tidak terlaksana dengan utuh. Namun, kemarahan si kakek semakin menjadi setelah tahu bahwa orang yang menantangnya di Kolam Merah adalah pendekar wanita yang masih di bawah umur.
Sebagai guru dan Ketua Kelompok Tombak Iblis, Raja Tombak Iblis merasa tidak layak jika harus bertarung dengan gadis ingusan yang seharusnya diurus oleh murid-muridnya.
Namun, jika sampai Raja Tombak Iblis tidak datang memenuhi tantangan tarung di Kolam Merah, maruahnya akan hancur sebagai pendekar ternama di dunia persilatan. Akan tetapi, jika dia bertarung dengan pendekar muda belia seperti Alma Fatara, harga dirinya juga akan jatuh. Jadi buah simalakama. Apalagi dalam aturan pertarungan Kolam Merah, kedua petarung haram untuk diwakilkan. Jika seandainya boleh diwakilkan, mungkin Raja Tombak Iblis akan menurunkan Rajabali Gali sebagi badalnya.
“Kenapa kau tidak menolak surat ini, Rajabali?!” tanya Raja Tombak Iblis membentak keras.
“Itu hanya alasanmu saja karena kalian semua takut mati di tangan wanita itu!” tukas Raja Tombak Iblis yang tetap duduk bersila di bantalan empuknya. “Kau telah melempar tahi tikus ke wajahku. Aku menang pun di Kolam Merah, tetap memberi malu kepadaku!”
“Ampuni aku, Guru. Murid mengaku salah. Murid siap menerima hukuman,” ucap Rajabali Gali dalam posisi masih bersujud.
“Hukuman untukmu adalah mati!” tegas Raja Tombak Iblis.
Terkejutlah Rajabali Gali mendengar keputusan gurunya, sampai-sampai dia mendongak dengan wajah gemetar dan mata memerah.
“Ampuni aku, Guru! Murid siap dihukum, tapi jangan hukuman mati, Guru. Aku mohon, Guruuu!” teriak Rajabali meratap menangis. “Guruuu!”
Rajabali Gali lalu merangkak mendekati gurunya dan berhenti empat langkah di depannya. Di situ, dia kembali bersujud dengan mengantuk-antukkan dahinya ke lantai batu, tapi tidak kuat.
__ADS_1
“Ampuni aku, Guru. Aku mohon kasihani aku, Guru!” ucap Rajabali begitu memelas.
“Seharusnya kau mati, Rajabali. Namun, jika kau mati, akan sia-sia pengorbananku selama ini dalam mendidikmu menjadi orang sakti!” kata sang guru, yang menjadi nyanyian indah di telinga Rajabali Gali.
“Terima kasih, Guru! Terima kasih, Guru! Guru masih mengasihani aku!” ucap Rajabali Gali begitu bersyukur karena dia selamat dari hukuman mati.
“Sebagai gantinya, pergilah temui Nates Aya dan Silbi Aya malam ini juga. Sampaikan kepada mereka bahwa aku akan memenuhi tantangan murahan itu, tapi pihak Kolam Merah harus memenuhi beberapa syarat dariku. Jika keduanya tidak bersedia memenuhi syarat-syarat itu, aku tidak akan bertanding. Aku lebih baik membunuh bocah itu di luar Kolam Merah.”
“Baik, Guru. Tapi apa saja syarat yang guru minta?” ucap Rajabali Gali patuh.
“Syaratnya yaitu....”
Maka sore itu juga, Rajabali Gali pergi meninggalkan tempat kediaman gurunya yang berada di luar Kotabatu Niwakmaya, tetapi tidak jauh. Dia langsung menuju ke Peniduran Dewi Mimpi untuk menemui dua nyonya besar pemilik arena tarung Kolam Merah. Sementara sang guru nanti akan menunggu di markas Kelompok Tombak Iblis di Pasar Bulieng.
Baru saja waktu magrib berlalu. Rajabali Gali tiba di Peniduran Dewi Mimpi. Dia harus melalui sejumlah tahapan protokoler untuk bisa bertemu kedua wanita penguasa Kolam Merah.
Dengan dikawal oleh seorang juru aman berpakaian jingga, Rajabali dikawal masuk ke sebuah ruangan batu setelah mendapat izin. Ruangan itu sejuk karena lantai dan dinding ruangan terbuat dari batu giok berwarna kuning keputih-putihan, tapi tidak seperti keputihan, melainkan seperti belahan telur rebus. Indah dan asri di mata.
Ternyata Nates Aya dan Silbi Aya sedang baru saja selesai makan malam bersama tamu istimewanya, yaitu Penguasa Nyawa Dari Gunung Monyet.
Nates Aya adalah sosok wanita berusia separuh baya minus lima tahun. Dia suka mengenakan pakaian berbahan dasar warna putih. Sementara kain warna lain selalu jadi pemanis dari warna putih.
Sementara Silbi Aya berusia separuh baya minus tiga belas tahun. Lebih mudanya dia dari sang kakak membuatnya terlihat lebih cantik.
Kakak adik yang sama-sama janda itu selalu tampil cantik dengan pakaian selalu rapi dan tubuh selalu wangi. Meski usia keduanya menuju era keperakan, mereka bisa dibilang cantik untuk level usia yang sedemikian. Dan jangan salah, keduanya adalah wanita yang berkesaktian tinggi. Jika tidak, mungkin mereka sudah akan menjadi korban Penguasa Nyawa yang sudah tua tapi doyan menggoyang perempuan.
Untuk sementara Rajabali Gali menunggu. Kedua nyonya besar melepas dulu kepergian Penguasa Nyawa yang berniat besok akan menonton pertandingan Kolam Merah partai besar, yaitu pertandingan antara Alma Fatara melawan Raja Tombak Iblis. (RH)
__ADS_1